BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 


Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?

[an error occurred while processing this directive]
 

 

Jika Surat Ijin Orangtua Tidak Sampai ke Padepokan

 

BuddhistOnline.com - Bagaimanapun juga, yang namanya ijin dari orang tua tetap saja diperlukan sampai kapanpun. Terutama untuk sejumlah urusan tertentu. Termasuk di dalamnya adalah untuk menjadi Samanera. Padahal kalau dilihat dari batasan umur minimum yang disyaratkan oleh Sangha Theravada Indonesia (STI) untuk menjadi Samanera, tergolong sudah cukup dewasa. Yaitu, 17 tahun ke atas. Tetapi nampaknya peraturan yang satu ini sudah 'harga mati' dari STI. Tak ada surat ijin ortu, sori aja. Status sebagai Samanera belum bolehlah disandang.

Hal seperti itulah yang ikut mewarnai pelaksanaan Pabbajja Samanera Tetap 1999. Jumlah peserta yang mendaftar untuk ikut upacara yang berlangsung pada 28 November 1999 di Padepokan Dhammadipa Arama, Ngandat, Malang itu mestinya ada delapan orang. Tetapi hingga batas waktu yang ditentukan, yang hadir di Padepokan lengkap dengan surat ijin dari ortu hanya empat orang calon Samanera. "Mereka yang tidak jadi ikut, rata-rata karena tidak boleh sama orang tua," kata Y.M. Bhikkhu Adhikusalo, Ketua Panitia Pabbajja Samanera Tetap 1999.

Meskipun sudah mengantongi ijin dari ortu, bukan berarti keempat peserta itu bisa melenggang santai. Mereka masih harus melewati tahap screening atau penyaringan yang salah satu bagiannya adalah wawancara yang dilakukan oleh tim screening STI pada 26 November 1999.

Rupanya tidak sia-sia perjuangan para peserta yang datang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali itu agar dapat diterima sebagai Samanera. Melalui sebuah rapat, akhirnya diputuskan bahwa mereka berempat dapat diterima oleh STI sebagai Samanera tetap untuk tahun 1999.

Upacaranya sendiri yang dimulai sekitar pukul sembilan pagi berjalan khidmat dengan mengambil tempat di Gedung Uposathagara yang masih berada di komplek Padepokan. Cuacanya pun begitu cerah. Padahal beberapa jam sebelumnya sempat terlihat awan mendung menggantung di langit. Acara diawali dengan pelaksanaan padakkhina (cara penghormatan tinggi dalam tradisi Agama Buddha) oleh keempat calon Samanera diikuti para ortu/wali dengan mengelilingi Gedung Uposathagara sebanyak tiga kali.

Bertindak selaku upajjhăya (penahbis) merangkap ăcăriya (guru pembimbing) adalah Y.M. Sukhemo Mahăthera. Adapun Y.M. Uttamo Thera, Y.M. Khantidharo Thera, dan Y.M. Thitaketuko Thera hadir sebagai ăcăriya. Dalam kesempatan itu, kepada para Samanera baru, Bhante Sukhemo menceritakan kembali riwayat hidup Sang Buddha Gotama beserta makna yang terkandung di dalamnya. Sedangkan penyampaian sambutan dari Sanghanăyaka STI diwakili oleh Bhante Thita. Sanghanayaka Y.M. Pańńăvaro Mahathera berhalangan hadir karena masih berada di Jordania untuk mengikuti pertemuan pemuka-pemuka agama sedunia.

Dalam sambutannya, Bhante Titha mengatakan bahwa untuk dapat meninggalkan keduniawian perlu perjuangan yang berat. Oleh karena itu, ia mengucapkan selamat kepada keempat Samanera yang telah berhasil melakukannya. Namun Bhante Thita juga mengingatkan agar para Samanera baru jangan bersenang dulu. Karena, " Perjuangan dalam kehidupan ini tidak berakhir sampai di situ saja," ujar Bhante Thita.

Usai 'dilantik', para Samanera baru itu akan berlatih meditasi selama sebulan di Padepokan Dhammadipa Arama (dibimbing oleh Y.M. Khantidharo Thera). Kemudian dilanjutkan dengan mengikuti pendidikan khusus Samanera di Vihara Mendut, Mungkid dengan dipimpin oleh Y.M. Jotidhammo Thera. Setelah itu baru menjalankan tugas mendampingi para Bhikkhu dalam mengajarkan Dhamma.

Agak disayangkan, upacara yang diadakan kali ini hanya dihadiri oleh segelintir umat. Kalau dihitung-hitung, jumlahnya tidak lebih dari duapuluh orang. Kurang informasi? Bisa jadi begitu.

Oh ya, tak lupa kita ucapkan selamat kepada keempat Samanera baru yang masing-masing adalah Samanera I Ketut Sukarsa, Samanera Ruwah Budiyanto, Samanera Bejo, dan Samanera Dato Dananjaya. Jangan lupa jurus buat mendapatkan surat ijin ortu yang dipakai kemarin ya. Kalau besok-besok mau jadi Bhikkhu, kayaknya butuh lagi tuh!(bch)

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]