Jika Surat Ijin Orangtua
Tidak Sampai ke Padepokan
BuddhistOnline.com - Bagaimanapun juga,
yang namanya ijin dari orang tua tetap saja diperlukan
sampai kapanpun. Terutama untuk sejumlah urusan tertentu.
Termasuk di dalamnya adalah untuk menjadi Samanera.
Padahal kalau dilihat dari batasan umur minimum yang
disyaratkan oleh Sangha Theravada Indonesia (STI) untuk
menjadi Samanera, tergolong sudah cukup dewasa. Yaitu,
17 tahun ke atas. Tetapi nampaknya peraturan yang satu
ini sudah 'harga mati' dari STI. Tak ada surat ijin
ortu, sori aja. Status sebagai Samanera belum bolehlah
disandang.
Hal seperti itulah yang ikut mewarnai pelaksanaan Pabbajja
Samanera Tetap 1999. Jumlah peserta yang mendaftar untuk
ikut upacara yang berlangsung pada 28 November 1999
di Padepokan Dhammadipa Arama, Ngandat, Malang itu mestinya
ada delapan orang. Tetapi hingga batas waktu yang ditentukan,
yang hadir di Padepokan lengkap dengan surat ijin dari
ortu hanya empat orang calon Samanera. "Mereka yang
tidak jadi ikut, rata-rata karena tidak boleh sama orang
tua," kata Y.M. Bhikkhu Adhikusalo, Ketua Panitia Pabbajja
Samanera Tetap 1999.
Meskipun sudah mengantongi ijin dari ortu, bukan berarti
keempat peserta itu bisa melenggang santai. Mereka masih
harus melewati tahap screening atau penyaringan
yang salah satu bagiannya adalah wawancara yang dilakukan
oleh tim screening STI pada 26 November 1999.
Rupanya tidak sia-sia perjuangan para peserta yang
datang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali itu agar
dapat diterima sebagai Samanera. Melalui sebuah rapat,
akhirnya diputuskan bahwa mereka berempat dapat diterima
oleh STI sebagai Samanera tetap untuk tahun 1999.
Upacaranya sendiri yang dimulai sekitar pukul sembilan
pagi berjalan khidmat dengan mengambil tempat di Gedung
Uposathagara yang masih berada di komplek Padepokan.
Cuacanya pun begitu cerah. Padahal beberapa jam sebelumnya
sempat terlihat awan mendung menggantung di langit.
Acara diawali dengan pelaksanaan padakkhina (cara
penghormatan tinggi dalam tradisi Agama Buddha) oleh
keempat calon Samanera diikuti para ortu/wali dengan
mengelilingi Gedung Uposathagara sebanyak tiga kali.
Bertindak selaku upajjhăya (penahbis) merangkap
ăcăriya (guru pembimbing) adalah Y.M. Sukhemo
Mahăthera. Adapun Y.M. Uttamo Thera, Y.M. Khantidharo
Thera, dan Y.M. Thitaketuko Thera hadir sebagai ăcăriya.
Dalam kesempatan itu, kepada para Samanera baru, Bhante
Sukhemo menceritakan kembali riwayat hidup Sang Buddha
Gotama beserta makna yang terkandung di dalamnya. Sedangkan
penyampaian sambutan dari Sanghanăyaka STI diwakili
oleh Bhante Thita. Sanghanayaka Y.M. Pańńăvaro Mahathera
berhalangan hadir karena masih berada di Jordania untuk
mengikuti pertemuan pemuka-pemuka agama sedunia.
Dalam sambutannya, Bhante Titha mengatakan bahwa untuk
dapat meninggalkan keduniawian perlu perjuangan yang
berat. Oleh karena itu, ia mengucapkan selamat kepada
keempat Samanera yang telah berhasil melakukannya. Namun
Bhante Thita juga mengingatkan agar para Samanera baru
jangan bersenang dulu. Karena, " Perjuangan dalam kehidupan
ini tidak berakhir sampai di situ saja," ujar Bhante
Thita.
Usai 'dilantik', para Samanera baru itu akan berlatih
meditasi selama sebulan di Padepokan Dhammadipa Arama
(dibimbing oleh Y.M. Khantidharo Thera). Kemudian dilanjutkan
dengan mengikuti pendidikan khusus Samanera di Vihara
Mendut, Mungkid dengan dipimpin oleh Y.M. Jotidhammo
Thera. Setelah itu baru menjalankan tugas mendampingi
para Bhikkhu dalam mengajarkan Dhamma.
Agak disayangkan, upacara yang diadakan kali ini hanya
dihadiri oleh segelintir umat. Kalau dihitung-hitung,
jumlahnya tidak lebih dari duapuluh orang. Kurang informasi?
Bisa jadi begitu.
Oh ya, tak lupa kita ucapkan selamat kepada keempat
Samanera baru yang masing-masing adalah Samanera I Ketut
Sukarsa, Samanera Ruwah Budiyanto, Samanera Bejo, dan
Samanera Dato Dananjaya. Jangan lupa jurus buat mendapatkan
surat ijin ortu yang dipakai kemarin ya. Kalau besok-besok
mau jadi Bhikkhu, kayaknya butuh lagi tuh!(bch)
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|