|
Di Balik Perombakan Kabinet STI
BuddhistOnline.com - Selama ini, orang
kita terkenal lebih enteng mencetak organisasi dengan
nama baru ketimbang memperbaiki yang sudah ada. Bergembiralah
karena untuk sementara kesan tidak membanggakan itu
akan sedikit mengabur. Itu tercermin dari adanya rencana
restrukturisasi dalam tubuh Sangha Theravăda Indonesia
(STI). Jika tidak ada halangan, sekitar pertengahan
tahun ini struktur organisasi STI yang baru akan mulai
berjalan.
Perihal perombakan kabinet STI yang merupakan salah
satu hasil dari Pasamuan Agung STI akhir tahun lalu
di Saung Nini, Cianjur itu jelas membawa angin segar
sekaligus tanda tanya. Ada apa gerangan sehingga struktur
kabinet STI yang lama harus digusur? Mestinya sih bukan
karena terpengaruh kabar reshuffle di tubuh kabinetnya
Presiden Gus Dur.
"Sebenarnya restrukturisasi kali ini lebih mengarah
pada penyegaran saja. Biar di dalam tubuh STI ada gairah
baru," jelas Bhante Jotidhammo Thera, Sekretariat Jendral
STI, dalam pembicaraan via telepon dengan BuddhistOnline.com.
Lebih lanjut Bhante Joti mengatakan bahwa perombakan
yang dilakukan oleh STI itu juga berkaitan dengan semakin
bertambahnya jumlah Bhikkhu STI sehingga butuh penyesuaian
agar pekerjaan-pekerjaan yang ada bisa lebih merata
pembagiannya. Hingga saat ini, Bhikkhu anggota STI berjumlah
32 orang.
"Harapan kami, dengan struktur yang baru ini bisa membuat
semuanya menjadi lebih efisien dan efektif. Tidak perlu
lagi setiap tindakan yang dilakukan harus selalu dilaporkan
ke atasan yang lebih tinggi. Di samping itu, saya juga
menginginkan agar kerja sama diantara para Bhikkhu bisa
lebih meningkat," ujarnya.
Secara lengkap, bagan dari struktur kabinet STI yang
baru itu bisa diintip dalam surat keputusan Pasamuan
Agung 1999 STI yang bernomor 01/PA/XII/99. Di situ terlihat
sejumlah perubahan yang cukup besar jika dibanding dengan
struktur yang lama (lihat bagian bawah artikel ini).
Ada beberapa posisi yang dihilangkan atau hanya sekedar
berganti nama. Ada pula yang benar-benar baru. Salah
satu perubahan yang mencolok adalah bergesernya posisi
Sanghanăyaka beserta Upa Sanghanăyaka dari Dewan Pimpinan
(Karaka Sangha Sabha) naik ke Dewan Sesepuh (Thera
Samagama). Sempat mencuat kabar bahwa pergeseran
itu akan membuat posisi Sanghanăyaka yang sekarang ini
dijabat oleh Y.M. Sri Pańńăvaro Mahathera tidak dapat
diganti, seperti yang berlaku di Thailand.
"Itu tidak benar. Tetap akan diadakan pemilihan Sanghanăyaka.
Nantinya, kemungkinan besar pemilihannya akan dilakukan
oleh Dewan Sesepuh," bantah Bhante Joti.
Dewan Sesepuh itu sendiri di samping berfungsi sebagai
penasehat (Sangha Anusasanacariya) juga diharapkan
dapat menjadi panutan bagi Bhikkhu Sangha lainnya. "Sebagai
Board of Elders, mereka diharapkan dapat memberikan
contoh yang baik kepada Bhikkhu yang lain. Makanya kriteria
untuk dapat masuk ke dewan ini, selain harus sudah Thera
atau Mahăthera, juga memiliki perilaku yang dapat diteladani,"
tutur Bhikkhu yang sudah menjabat posisi Sekretariat
Jendral STI sejak tahun 1995 hingga sekarang.
Dengan pindahnya posisi Sanghanăyaka, maka selanjutnya
Dewan Pimpinan (Karaka Sangha Sabha) akan dipimpin
oleh Ketua Dewan Pimpinan (Sangha Sabhăpati)
dan Wakil Ketua Dewan Pimpinan (Upa Sangha Sabhăpati).
Bagaimana dengan tugasnya? "Hingga saat ini belum diputuskan.
Saya kira mungkin mirip-mirip dengan tugas yang dulu.
Bisa juga akan ada pembagian tugas dengan Sanghanăyaka.
Semua itu akan diputuskan dalam rapat mendatang," kata
Bhante Joti.
Posisi lain yang termasuk baru adalah Badan Pemeriksa
Sanghadana (BPS) yang bertanggung jawab kepada Dewan
Pimpinan. Melihat namanya, tugasnya pasti tidak jauh-jauh
dari urusan keuangan. Biar begitu, mengikuti sepak terjang
badan serupa milik negara yang tugasnya sekalian memeriksa
kasus penyelewengan uang, tetap saja tercetus rasa ingin
tahu di balik pembentukan BPS itu.
"Selama ini tidak ada masalah kok. Pembentukan badan
itu hanya untuk pembagian tugas saja. Karena selama
ini tugas untuk memeriksa bukti pengiriman dana yang
masuk semuanya dilimpahkan ke Sekjen. Repot sekali.
Apalagi pas masa Kathina. Makin sibuk saja. Padahal
tugas Sekjen sudah banyak. Makanya saya mengusulkan
untuk membentuk badan itu. Dananya sendiri tetap diurus
oleh salah seorang umat," jelas Bhikkhu yang menyandang
gelar Magister Humaniora itu panjang lebar.
Untuk Biro-Biro yang masih tetap di bawah pengawasan
Sekjen terjadi sedikit perubahan. Selengkapnya, Biro
Bantuan Sarana Vihara (Y.M. Bhikkhu Cattamano), Biro
Hubungan Antar Lembaga (Y.M. Bhikkhu Dhiranando), Biro
Pendidikan Bhikkhu dan Samanera (Y.M. Bhikkhu Dhammakaro),
dan Biro Registrasi (Y.M. Bhikkhu Candakaro). Sedangkan
posisi Biro Penelitian hingga kini masih kosong. Terakhir,
jabatan itu dipegang oleh Y.M. Uttamo Thera.
Ngomong-ngomong, perombakan itu berpengaruh nggak
ya dalam pembinaan umat Buddha di Indonesia? Kalau tidak,
berarti sami mawon dong dengan yang terjadi di
panggung politik sana saat ini. "Jelas ada. Dengan struktur
baru itu para Bhikkhu diminta lebih aktif dan bertanggung
jawab. Masing-masing kepala wilayah pembinaan harus
punya otonomi. Kalau dulu sifatnya sentralisasi, maka
sekarang ini menjadi desentralisasi. Sudah tidak bisa
lagi hanya menunggu perintah dari pusat. Dalam penyelengaraan
Pabbajja Samanera, misalnya. Masing-masing daerah bisa
bikin sendiri. Urusan kekurangan dana, bisa diajukan
ke pusat. Yang penting inisiatifnya!," tegas Bhante
Jotidhammo.(bch)
Struktur Baru STI?
Klik
di sini!
Kirim Artikel ini ke Teman Anda!
|