BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 


Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?

 
Menanti Si Sirik Minggat dari Surabaya

 

BuddhistOnline.com - Tahun 2000 bakal ada Bhikkhu anggota Sangha Theravada Indonesia (STI) yang (akhirnya) menetap di Surabaya. Begitulah sepotong informasi yang disampaikan oleh sumber IBC sekitar akhir tahun 1999 lalu. Bahkan masih menurut sumber BuddhistOnline.com itu, siapa Bhikkhunya pun sudah jelas. Yaitu, Y.M. Bhikkhu Candakaro. Apalagi dalam surat keputusan rapat Karaka Sangha Sabha III/1999 STI No. 01/ RAPIM-III/XII/99 Bab III tercantum bahwa tahun ini tempat pengabdian Bhante Candakaro memang di Padepokan Dhammadipa Arama, Batu yang notabene tidak terlalu jauh dari Surabaya. Adanya surat keputusan itu membuat semakin yakin saja bahwa informasi tersebut bukan sekedar bisik-bisik tidak jelas.

Bagi umat Buddha di Surabaya kabar bakal adanya Bhikkhu yang tinggal di kota pahlawan itu jelas menggembirakan sekaligus melegakan. Asal tahu saja, meskipun disebut-sebut sebagai kota metropolis kedua setelah Jakarta, dari dulu kota Surabaya - anehnya - belum pernah 'kebagian' Bhikkhu satu orang pun. Padahal jumlah tempat ibadah umat Buddha yang bernaung di bawah mazhab Theravăda tidak hanya satu. Saat ini terhitung ada empat buah, dua vihăra dan dua cetiya (vihăra kecil).

Kalaupun disebut-sebut beberapa tahun lalu sempat ada seorang Bhikkhu yang mengetuai salah satu yayasan Buddhis di Surabaya, bisa dibilang itu hanya sekedar 'pinjam' nama saja. Sebab, kabarnya Bhikkhu yang bersangkutan tidak pernah singgah dalam waktu yang lama untuk mengurusi pembinaan arek-arek Suroboyo yang beragama Buddha, khususnya mazhab Theravada.

Adanya kebutuhan Bhikkhu yang menetap dalam waktu lama itu juga diakui oleh sejumlah tokoh dari keempat vihăra Theravăda di Surabaya ketika diwawancarai IBC secara terpisah. Pada umumnya mereka mengatakan bahwa kota Surabaya memang perlu seorang Bhikkhu (selengkapnya baca juga boks: Siapa Sih yang Sirik?).

Nah, untuk memastikan kebenaran informasi penempatan Bhikkhu di Surabaya itu, maka BuddhistOnline.com berusaha mengkorfirmasikannya dengan Ketua Bhikkhu Pembina Jawa Timur, Y.M. Khantidharo Thera. Ternyata, di luar dugaan, jawabannya cukup mengejutkan. "Tidak bisa. Surabaya belum bisa dikasih Bhikkhu," tegas Bhante Khanti ketika ditemui di Surabaya belum lama ini.

Menurutnya, Surabaya belum bisa dikasih Bhikkhu karena "Surabaya perlu empat Bhikkhu. Saat ini, kami belum sanggup menyediakan Bhikkhu sebanyak itu," kata Bhante Khanti.

Yang menarik, rupanya Bhante Khanti punya alasan sendiri mengapa Surabaya butuh empat orang Bhikkhu. "Karena kalau cuma diberi satu Bhikkhu saja (untuk menetap di salah satu vihăra -red), nanti yang lain akan iri," jawab Bhante Khanti sambil tersenyum.

Untuk sementara, lanjut Bhikkhu yang berusia 68 tahun ini, adalah berupa kunjungan rutin seorang Bhikkhu (secara bergantian) ke Surabaya. Secara bergiliran, Bhikkhu yang bersangkutan akan menginap di empat vihara/cetiya. Masing-masing selama seminggu. "Seperti sekarang ini ada Bhikkhu Dhiranando," kata Bhante Khanti mengakhiri pembicaraan.

Meskipun tidak sepenuhnya sesuai harapan umat Buddha Surabaya pada umumnya, namun alternatif itu tergolong lumayan. Paling tidak, jika berjalan lancar, umat Buddha di Surabaya tetap dapat lebih sering mendapat pembinaan dari Bhikkhu secara terjadual. Para tokoh dari masing-masing vihăra/cetiya pun menanggapinya dengan positif. Mereka cenderung lebih setuju dengan pola seperti itu ketimbang Bhikkhunya menetap terus di salah satu vihăra/cetiya.

Kalaupun ada yang masih belum puas dengan program alternatif itu dan tetap bermimpi bakal ada Bhikkhu yang benar-benar menetap di Surabaya, ya bersabar sajalah. Mungkin perlu menunggu si sirik yang suka iri itu minggat dulu dari kota pahlawan.(bch)

Siapa Sih yang Sirik?

Sudah menjadi semacam rahasia umum kalau para pemimpin dari keempat vihăra/cetiya di Surabaya agak kurang 'mesra'. Tetapi, apakah betul ada yang bakalan sirik kalau rencana penempatan Bhikkhu itu jadi dilaksanakan. Nah, mungkin akan lebih menarik dan lebih seru kalau menyimak langsung tanggapan para tokoh dari empat vihăra/cetiya mazhab Theravăda di Surabaya. (bch)

dr. Arya Tjahjadi, DSA (tokoh dari Cetiya Dhamma Dipa d/h Cetiya Karuna Dipa, Surabaya):
Kita tidak berpikir begitu. Iri itu 'kan terlalu kekanak-kanakan. Kalau memang dirasa Bhikkhunya masih belum cukup ya tidak apa-apa. Kita bisa mengerti. Surabaya memang perlu Bhikkhu. Tetapi kita tidak bisa memaksakan kepentingan Surabaya begitu saja. Menurut saya, dibanding dengan menetap terus di salah satu vihăra, mungkin program kunjungan rutin yang bergiliran seminggu-seminggu itu lebih baik.

Khemawati (tokoh dari Vihăra Buddha Kirti, Surabaya):
Saya sih setuju saja ada Bhikhu berdomisili di Surabaya. Cuma, yang menjadi tempat menginap itu harus bijaksana. Harus dikelilingkan ke empat vihăra. Bergiliran begitu. Kalau tidak bisa begitu, berarti menunjukkan kita tidak bisa kerja sama. Iri? Kalau saya tidak punya sifat iri. Tempat saya dikasih Bhikkhu atau tidak, itu bukan masalah. Silahkan ada Bhikkhu tetapi bersainglah secara sehat. Jangan kita wariskan budaya 'gegeran' terus ke generasi muda kita. Hanya empat vihăra saja tetapi nggak bisa kompak. Kapan kita bisa berkembang? Surabaya memang sudah butuh Bhikkhu. Asal Bhikkhu yang bersangkutan jangan membeda-bedakan. Soal program yang sekarang ini, nggak ada masalah. Perlu dan bagus. Dengan program itu bisa menjajaki bagaimana pendirian masing-masing vihăra. Saya tahu ini bertujuan untuk penjajakan. Saya usul agar sebaiknya dibikin per tiga hari saja. Jum'at, Sabtu, dan Minggu. Kalau seminggu, mungkin Bhantenya bisa jenuh kalau tidak ada umat. Untuk jangka panjangnya bisa diganti pervassa.

Ir. Shelly Hartono, M.B.A. (tokoh dari Vihăra Eka Dharma Loka, Surabaya):
Bhikkhu di Surabaya? Itu sangat perlu. Masak sih di Surabaya tidak ada. Terus terang, saya yang minta ada Bhikkhu di Surabaya. Jika Bhikkhunya tinggal di Eka Dharma Loka (Edaka), saya tidak akan memonopoli. Karena sejauh ini yang dikuatirkan seperti itu. Padahal itu hanya masalah tidurnya saja. Bhikkhunya bukan hanya untuk Edaka saja. Masak yang lain tidak boleh. Soal iri itu manusiawilah. Program seminggu-seminggu seperti sekarang sudah bagus. Lebih baik dibanding menetap hanya di salah satu vihara. Idealnya sih memang masing-masing vihăra dapat satu Bhikkhu.

Widya Kusuma (tokoh dari Cetiya Dhamma Jaya, Surabaya):
Kalau saya lebih setuju program yang sekarang. Supaya adil. Perlu ada evaluasi mengenai program yang sudah berjalan itu. Kalau di tempat saya, saya berusaha memaksimalkan kehadiran Bhikkhu dengan berbagai acara. Hasilnya, selama seminggu umatnya penuh terus. Mengenai ada Bhikkhu menetap di Surabaya atau tidak, Sanghalah yang menentukan. Memang Surabaya butuh Bhikkhu, tetapi saya tidak berharap. Di samping itu yang perlu dipertanyakan, apakah vihăra bersangkutan bisa memanfaatkan kehadiran Bhikkhu itu semaksimal mungkin? Apa nantinya Bhikkhu itu tidak malah 'terbengkalai'? Lantas, kira-kira manakah yang benar-benar pantas disebut vihăra? Mengenai hal ini, mungkin bisa disebut Vihăra Eka Dharma Loka (Edaka). Tapi, Edaka itu punya siapa? Meski yang lain sama-sama berada di bawah pembinaan Theravăda, tetapi yang milik STI hanya Pandegiling (Cetiya Dhamma Dipa -red). Bagi saya, kalau Bhantenya tinggal di Pandegiling atau lainnya, tidak masalah. Saya tidak tersinggung. Menurut saya, kemajuan umat Buddha bukan tergantung pada Bhikkhu. Jika berpikir ada Bhikkhu baru ada umat. Itu namanya umat Bhikkhu. Bukan umat Buddha.

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]