|
Menanti Si Sirik Minggat dari Surabaya
BuddhistOnline.com - Tahun 2000 bakal
ada Bhikkhu anggota Sangha Theravada Indonesia (STI)
yang (akhirnya) menetap di Surabaya. Begitulah sepotong
informasi yang disampaikan oleh sumber IBC sekitar akhir
tahun 1999 lalu. Bahkan masih menurut sumber BuddhistOnline.com
itu, siapa Bhikkhunya pun sudah jelas. Yaitu, Y.M. Bhikkhu
Candakaro. Apalagi dalam surat keputusan rapat Karaka
Sangha Sabha III/1999 STI No. 01/ RAPIM-III/XII/99 Bab
III tercantum bahwa tahun ini tempat pengabdian Bhante
Candakaro memang di Padepokan Dhammadipa Arama, Batu
yang notabene tidak terlalu jauh dari Surabaya. Adanya
surat keputusan itu membuat semakin yakin saja bahwa
informasi tersebut bukan sekedar bisik-bisik tidak jelas.
Bagi umat Buddha di Surabaya kabar bakal adanya Bhikkhu
yang tinggal di kota pahlawan itu jelas menggembirakan
sekaligus melegakan. Asal tahu saja, meskipun disebut-sebut
sebagai kota metropolis kedua setelah Jakarta, dari
dulu kota Surabaya - anehnya - belum pernah 'kebagian'
Bhikkhu satu orang pun. Padahal jumlah tempat ibadah
umat Buddha yang bernaung di bawah mazhab Theravăda
tidak hanya satu. Saat ini terhitung ada empat buah,
dua vihăra dan dua cetiya (vihăra kecil).
Kalaupun disebut-sebut beberapa tahun lalu sempat ada
seorang Bhikkhu yang mengetuai salah satu yayasan Buddhis
di Surabaya, bisa dibilang itu hanya sekedar 'pinjam'
nama saja. Sebab, kabarnya Bhikkhu yang bersangkutan
tidak pernah singgah dalam waktu yang lama untuk mengurusi
pembinaan arek-arek Suroboyo yang beragama Buddha,
khususnya mazhab Theravada.
Adanya kebutuhan Bhikkhu yang menetap dalam waktu
lama itu juga diakui oleh sejumlah tokoh dari keempat
vihăra Theravăda di Surabaya ketika diwawancarai IBC
secara terpisah. Pada umumnya mereka mengatakan bahwa
kota Surabaya memang perlu seorang Bhikkhu (selengkapnya
baca juga boks: Siapa Sih yang Sirik?).
Nah, untuk memastikan kebenaran informasi penempatan
Bhikkhu di Surabaya itu, maka BuddhistOnline.com
berusaha mengkorfirmasikannya dengan Ketua Bhikkhu Pembina
Jawa Timur, Y.M. Khantidharo Thera. Ternyata, di luar
dugaan, jawabannya cukup mengejutkan. "Tidak bisa. Surabaya
belum bisa dikasih Bhikkhu," tegas Bhante Khanti ketika
ditemui di Surabaya belum lama ini.
Menurutnya, Surabaya belum bisa dikasih Bhikkhu karena
"Surabaya perlu empat Bhikkhu. Saat ini, kami belum
sanggup menyediakan Bhikkhu sebanyak itu," kata Bhante
Khanti.
Yang menarik, rupanya Bhante Khanti punya alasan sendiri
mengapa Surabaya butuh empat orang Bhikkhu. "Karena
kalau cuma diberi satu Bhikkhu saja (untuk menetap di
salah satu vihăra -red), nanti yang lain akan iri,"
jawab Bhante Khanti sambil tersenyum.
Untuk sementara, lanjut Bhikkhu yang berusia 68 tahun
ini, adalah berupa kunjungan rutin seorang Bhikkhu (secara
bergantian) ke Surabaya. Secara bergiliran, Bhikkhu
yang bersangkutan akan menginap di empat vihara/cetiya.
Masing-masing selama seminggu. "Seperti sekarang ini
ada Bhikkhu Dhiranando," kata Bhante Khanti mengakhiri
pembicaraan.
Meskipun tidak sepenuhnya sesuai harapan umat Buddha
Surabaya pada umumnya, namun alternatif itu tergolong
lumayan. Paling tidak, jika berjalan lancar, umat Buddha
di Surabaya tetap dapat lebih sering mendapat pembinaan
dari Bhikkhu secara terjadual. Para tokoh dari masing-masing
vihăra/cetiya pun menanggapinya dengan positif. Mereka
cenderung lebih setuju dengan pola seperti itu ketimbang
Bhikkhunya menetap terus di salah satu vihăra/cetiya.
Kalaupun ada yang masih belum puas dengan program alternatif
itu dan tetap bermimpi bakal ada Bhikkhu yang benar-benar
menetap di Surabaya, ya bersabar sajalah. Mungkin perlu
menunggu si sirik yang suka iri itu minggat dulu dari
kota pahlawan.(bch)
|
Siapa Sih yang Sirik?
Sudah menjadi semacam rahasia umum kalau para
pemimpin dari keempat vihăra/cetiya di Surabaya
agak kurang 'mesra'. Tetapi, apakah betul ada
yang bakalan sirik kalau rencana penempatan Bhikkhu
itu jadi dilaksanakan. Nah, mungkin akan lebih
menarik dan lebih seru kalau menyimak langsung
tanggapan para tokoh dari empat vihăra/cetiya
mazhab Theravăda di Surabaya. (bch)
dr. Arya Tjahjadi, DSA (tokoh dari
Cetiya Dhamma Dipa d/h Cetiya Karuna Dipa,
Surabaya):
Kita tidak berpikir begitu. Iri itu 'kan
terlalu kekanak-kanakan. Kalau memang dirasa
Bhikkhunya masih belum cukup ya tidak apa-apa.
Kita bisa mengerti. Surabaya memang perlu
Bhikkhu. Tetapi kita tidak bisa memaksakan
kepentingan Surabaya begitu saja. Menurut
saya, dibanding dengan menetap terus di salah
satu vihăra, mungkin program kunjungan rutin
yang bergiliran seminggu-seminggu itu lebih
baik. |
Khemawati (tokoh dari Vihăra Buddha
Kirti, Surabaya):
Saya sih setuju saja ada Bhikhu berdomisili
di Surabaya. Cuma, yang menjadi tempat menginap
itu harus bijaksana. Harus dikelilingkan ke
empat vihăra. Bergiliran begitu. Kalau tidak
bisa begitu, berarti menunjukkan kita tidak
bisa kerja sama. Iri? Kalau saya tidak punya
sifat iri. Tempat saya dikasih Bhikkhu atau
tidak, itu bukan masalah. Silahkan ada Bhikkhu
tetapi bersainglah secara sehat. Jangan kita
wariskan budaya 'gegeran' terus ke generasi
muda kita. Hanya empat vihăra saja tetapi
nggak bisa kompak. Kapan kita bisa berkembang?
Surabaya memang sudah butuh Bhikkhu. Asal
Bhikkhu yang bersangkutan jangan membeda-bedakan.
Soal program yang sekarang ini, nggak ada
masalah. Perlu dan bagus. Dengan program itu
bisa menjajaki bagaimana pendirian masing-masing
vihăra. Saya tahu ini bertujuan untuk penjajakan.
Saya usul agar sebaiknya dibikin per tiga
hari saja. Jum'at, Sabtu, dan Minggu. Kalau
seminggu, mungkin Bhantenya bisa jenuh kalau
tidak ada umat. Untuk jangka panjangnya bisa
diganti pervassa. |
Ir. Shelly Hartono, M.B.A. (tokoh
dari Vihăra Eka Dharma Loka, Surabaya):
Bhikkhu di Surabaya? Itu sangat perlu.
Masak sih di Surabaya tidak ada. Terus terang,
saya yang minta ada Bhikkhu di Surabaya. Jika
Bhikkhunya tinggal di Eka Dharma Loka (Edaka),
saya tidak akan memonopoli. Karena sejauh
ini yang dikuatirkan seperti itu. Padahal
itu hanya masalah tidurnya saja. Bhikkhunya
bukan hanya untuk Edaka saja. Masak yang lain
tidak boleh. Soal iri itu manusiawilah. Program
seminggu-seminggu seperti sekarang sudah bagus.
Lebih baik dibanding menetap hanya di salah
satu vihara. Idealnya sih memang masing-masing
vihăra dapat satu Bhikkhu. |
Widya Kusuma (tokoh dari Cetiya Dhamma
Jaya, Surabaya):
Kalau saya lebih setuju program yang sekarang.
Supaya adil. Perlu ada evaluasi mengenai program
yang sudah berjalan itu. Kalau di tempat saya,
saya berusaha memaksimalkan kehadiran Bhikkhu
dengan berbagai acara. Hasilnya, selama seminggu
umatnya penuh terus. Mengenai ada Bhikkhu
menetap di Surabaya atau tidak, Sanghalah
yang menentukan. Memang Surabaya butuh Bhikkhu,
tetapi saya tidak berharap. Di samping itu
yang perlu dipertanyakan, apakah vihăra bersangkutan
bisa memanfaatkan kehadiran Bhikkhu itu semaksimal
mungkin? Apa nantinya Bhikkhu itu tidak malah
'terbengkalai'? Lantas, kira-kira manakah
yang benar-benar pantas disebut vihăra? Mengenai
hal ini, mungkin bisa disebut Vihăra Eka Dharma
Loka (Edaka). Tapi, Edaka itu punya siapa?
Meski yang lain sama-sama berada di bawah
pembinaan Theravăda, tetapi yang milik STI
hanya Pandegiling (Cetiya Dhamma Dipa -red).
Bagi saya, kalau Bhantenya tinggal di Pandegiling
atau lainnya, tidak masalah. Saya tidak tersinggung.
Menurut saya, kemajuan umat Buddha bukan tergantung
pada Bhikkhu. Jika berpikir ada Bhikkhu baru
ada umat. Itu namanya umat Bhikkhu. Bukan
umat Buddha. |
|
Kirim Artikel ini ke Teman Anda!
|