|
Sst..sst, Ada yang
Berpolitik di Pemakaman Bhante Sudhammo
BuddhistOnline.com - Tepat pukul 09.09
WIB hari Selasa 7 Maret 2000, peti jenazah almarhum
Y.M. Sudhammo Mahathera diturunkan hingga menyentuh
liang lahat. Akhirnya, jenazah Bhikkhu kelahiran Sumenep
21 April 1938 itu dimakamkan setelah tujuh malam disemayamkan
di Dhammasala Vihăra Ratanavana Arămă, Lasem. Melihat
peristiwa itu, air mata dari sebagian besar wajah-wajah
umat Buddha yang hadir saat itu semakin deras mengalir.
Alampun seakan turut bersedih akan kepergian seorang
Bhikkhu yang selalu memperjuangkan kemakmuran Desa Sendang
Coyo, Lasem itu. Sesaat usai acara pemakaman, hujan
langsung turun membasahi kaki gunung di mana Vihăra
Ratanavana Arămă berdiri.
Dari Dhammasala, jenazah diberangkatkan pukul 08.00
WIB setelah didahului dengan Puja Bhakti terakhir. Yang
mendapat kesempatan pertama untuk mengangkat peti jenazah
adalah para Pandita anggota MAGABUDHI. Selanjutnya,
umat Buddha secara bergantian membawanya ke lokasi pemakaman
dengan melalui jalur yang agak mendaki dan berkelok-kelok.
Cukup melelahkan dan agak kesulitan memang. Suasana
bisingpun tidak dapat dihindari karena teriakan saling
memperingati terdengar setiap saat.
Sementara lokasi pemakaman yang masih satu kompleks
dengan Vihara Ratanavana Arămă, Lasem telah dipadati
tidak kurang dari 500 orang umat Buddha. Mereka tidak
hanya berasal dari daerah Lasem dan sekitarnya saja.
Ada juga yang berasal dari Semarang, Bali, Surabaya,
Malang, Bogor, dan Jakarta.
Sementara para Bhikkhu yang menghadiri pemakaman itu
tergolong cukup banyak. Semuanya ada 19 orang Bhikkhu
dan seorang Samanera. Bisa disebut diantaranya adalah
Y.M. Phra Rajvaracharn Win Vijano (Dhammaduta dari Thailand),
Y.M. Sanghanayaka Sri Pańńăvaro Mahathera, Y.M. Subalaratano
Mahathera, Y.M. Uttamo Thera, Y.M. Jotidhammo Thera,
Y.M. Jagaro Thera, dan Y.M. Khantidharo Thera. Ada juga
perwakilan dari Lembaga Anagarini Indonesia (LAI), MAGABUDHI,
WANDANI, dan PATRIA. Sedangkan tokoh lainnya yang turut
hadir adalah Direktur Urusan Agama Buddha Cornelis Wowor,
MA dan Ketua Umum WALUBI Baru/Perwakilan Siti Hartati
Murdaya.
Dalam kesempatan saat itu, Sanghanayaka Sangha Theravăda
Indonesia (STI) Sri Pańńăvaro Mahathera menyampaikan
sedikit kesan dan pesan mengenai almarhum Bhikkhu yang
mempunyai 105 orang anak asuh itu. "Perjuangannya selama
ini harus dilanjutkan oleh putra-putrinya. Siapakah
putra-putrinya itu? Adalah kita semua. Para Bhikkhu
dan seluruh umat Buddha," ujar Sanghanayaka.
Di samping Sanghanayaka STI, pihak lain yang turut
menyampaikan kesan-kesan menyangkut almarhum Bhikkhu
salah satu pendiri STI itu adalah Ketua Umum WALUBI
Baru, Direktur Urusan Agama Buddha, dan wakil dari panitia.
Yang memprihatinkan, ketika tiba gilirannya menyampaikan
kesan-kesan, Ketua Umum WALUBI Baru itu malah menyelipkan
hal-hal berbau politik yang rasanya kurang pantas diungkapkan
dalam sebuah acara pemakaman. Apalagi di sebuah acara
pemakaman seorang Bhikkhu yang sangat dihormati baik
oleh para Bhikkhu maupun umat Buddha. Mungkin yang bersangkutan
lupa kalau tempat itu bukanlah mimbar politik. Atau
bisa jadi salah alamat.
Sehari sebelumnya, tepatnya pada malam hari, diadakan
pembacaan paritta-paritta suci yang dihadiri sekitar
200 umat Buddha. Usai Puja Bhakti, acara dilanjutkan
dengan pembacaan riwayat hidup almarhum Bhante Sudhammo
oleh Anagarini Santini. Setelah itu, ada pula penyampaian
kesan-kesan dari perwakilan Bhikkhu Sangha, MAGABUDHI,
dan dayaka almarhum.
Sedikit menengok ke belakang. Sebelum diberangkatkan
ke Lasem, jenazah almarhum sempat disemayamkan di Rumah
Duka ADI JASA Surabaya selama kurang lebih empat jam.
Sekitar 50 orang umat Surabaya dan sekitarnya melakukan
penghormatan terakhir dan membacakan paritta-paritta
suci yang dipimpin oleh Y.M. Dhammavijayo Mahathera.
Almarhum Bhante Sudhammo sempat dirawat di ruang Intensive
Care Unit (ICU) Rumah Sakit Adi Husada, Surabaya sejak
13 Februari 2000. Pembekuan aliran darah di sekitar
otak yang menghambat pasokan oksigen ke otaknya atau
biasa disebut stroke, membuatnya harus menjalani perawatan
medis secara intensif. Beberapa kali operasi dilakukan
terhadap dirinya, terutama pada bagian kepala.
Sejak hari pertama masuk rumah sakit, almarhum harus
diinfus terus menerus. Selang-selang kecil yang terhubung
dengan sejumlah peralatan medis moderen melingkar di
sekujur tubuhnya yang saat itu masih kelihatan kuat.
Beberapa kali ia sempat tidak sadarkan diri secara serius
atau koma. (Baca juga: "Bhante Sudhammo Masuk Rumah
Sakit Lagi" ).
Ketika terakhir kali BuddhistOnline.com menjenguknya,
tepatnya pada 27 Februari 2000, sekilas terlihat keadaannya
lebih membaik dari hari-hari sebelumnya. Banyak peralatan
medis yang telah dilepas dari tubuhnya. Meski di bagian
lehernya harus dilubangi untuk mengeluarkan cairan tubuh,
pernafasannya sudah tidak perlu menggunakan alat bantu.
Tetapi apa mau dikata. Keesokan harinya, tepatnya 28
Februari 2000 pukul 23.09 WIB, detak jantungnya berhenti
untuk selamanya. Memang benar-benar tidak ada sesuatu
yang kekal. Bhikkhu yang dikenal gigih dalam memperjuangkan
pembangunan Vihara di Lasem itu telah meninggalkan kehidupannya
saat ini. SELAMAT JALAN, BHANTE! (Sri Handayani/bch,
dari Lasem)
Kirim Artikel ini ke Teman Anda!
|