BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 


Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?

 
Henry Basuki: "Benar, Umat Buddha Kurang Perlu Pandita"

 

BuddhistOnline.com - Dalam Poll Buddhis bulan Januari-Februari 2000 yang diadakan oleh situs IBC (nama yang digunakan oleh BuddhistOnline.com sebelumnya -red) dimasukkan sejumlah elemen seperti Bhikkhu, Buku Dhamma, Kursus Dhamma, Pandita, Sekolah Buddhis, dan Vihara sebagai pilihan. Tujuannya adalah untuk mengetahui manakah yang paling dibutuhkan oleh umat Buddha pada saat ini.

Grafik Hasil PolingDari hasil akhir yang dikumpulkan hingga awal Februari, menunjukkan bahwa ternyata Bhikkhu masih dominan dibutuhkan oleh umat Buddha. Rata-rata alasan yang dikemukakan oleh responden/pemilih adalah karena Bhikkhu bisa diajak berdiskusi, bertukar pikiran, dan dapat dijadikan panutan. Meskipun demikian, pendidikan Buddhis (yang terwakili oleh elemen Sekolah Buddhis) juga termasuk yang cukup dibutuhkan. Suara yang memilih Sekolah Buddhis hanya beda tipis dengan yang diperoleh Bhikkhu. Salah satu alasannya adalah agar dapat menyiapkan "generasi muda Buddhis yang tangguh, mapan, dan terpadu".

Yang mengenaskan adalah terpuruknya posisi Pandita hingga urutan paling akhir dengan hanya satu suara yang memilihnya. Agak di luar dugaan memang. Apalagi jumlah suara yang diperoleh itu terpaut cukup jauh dengan yang satu tingkat di atasnya. Tentu hal itu patut ditelusuri penyebabnya. Memang tidak dapat disangkal terdapat beberapa Pandita yang bertingkah laku kurang sesuai dengan posisinya sebagai seseorang yang mestinya menjadi panutan bagi umat Buddha di lingkungannya. Tetapi, apakah sudah separah itu 'ketidakbutuhan' umat Buddha terhadap Pandita? Apakah memang Pandita kurang dibutuhkan oleh umat Buddha?

Tentunya jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu lebih pas jika keluar dari pihak yang terkait. Nah, inilah jawaban langsung dari Ketua Umum PC MAGABUDHI Kodya Semarang dan Ketua I PD MAGABUDHI Jawa Tengah Pandita D. Henry Basuki yang diwawancarai oleh Chandadhammo Benny Chandra via e-mail Maret 2000 silam.

Hasil Poll Buddhis belum lama ini menunjukkan bahwa "Pandita" ternyata kurang diperlukan umat Buddha. Khususnya pada saat ini. Hanya ada satu suara. Bagaimana komentar Bapak Henry selaku salah satu Pandita anggota MAGABUDHI? Apakah betul demikian?
Benar, bahwa umat Buddha kurang memerlukan Pandita. Karena mereka tidak tahu (bahwa) fungsi Pandita (adalah) sebagai "bapak" sedangkan fungsi Bhikkhu sebagai "guru".

Jika memang Pandita kurang dibutuhkan oleh umat Buddha pada umumnya (dibanding dengan Bhikkhu, Buku Dhamma, Sekolah Buddhis, Kursus Dhamma, dan Vihara), kira-kira apa penyebabnya?
Penyebab Pandita kurang dibutuhkan oleh umat Buddha di Indonesia pada kenyataannya adalah karena umat Buddha tidak paham fungsi Pandita. Apalagi eksistensi Pandita muncul sebagai penerapan sosial kemasyarakatan umat Buddha. Orang yang (ingin) mencari tahu tentang Agama Buddha bukannya mencari Pandita, namun mencari Bhikkhu. Orang Buddhis sendiri (terutama yang malas berkumpul sesama umat Buddha) ada yang tidak tahu bahwa eksistensi Bhikkhu, karena kehidupannya meninggalkan keduniawian, tidak dapat melaksanakan fungsi yang menyangkut perdata. Mereka baru tahu fungsi Pandita setelah mendapat keterangan dari Bhikkhu.

Saat ini sejauh mana peranan Pandita dalam lingkungan umat Buddha di Indonesia?
Peran Pandita dalam lingkungan umat Buddha sebagai "bapak" seringkali dinikmati karyanya oleh umat Buddha tanpa diketahui. Pandita sebagai pemimpin umat Buddha pada saat ini seolah-olah sebagai 'alat pemadam kebakaran'. Pada saat umat Buddha sedang kritis, Lembaga Kepanditaan tampak berperan menyelesaikannya. Bila keadaan lancar, aktivitas Lembaga Kepanditaan banyak menyusun masa depan bersama Bhikkhu Sangha.

Sejauh yang Bapak ketahui, bagaimana langkah-langkah MAGABUDHI dalam meningkatkan kualitas dari para Pandita anggotanya agar dapat sesuai dengan kebutuhan umat Buddha? Termasuk peningkatan kualitas dari para Pandita yang tergolong (atau menggolongkan sendiri sebagai) Pandita senior.
MAGABUDHI sebagai Lembaga Kepanditaan siap setiap saat untuk melaksanakan tugas pembabaran Dhamma serta mengasuh umat. Untuk itu refreshing dilaksanakan secara periodik. Penataran bagi para Pandita (senior), dinamakan upgrading Pandita, dilaksanakan oleh Pengurus Pusat di Jakarta. Untuk refreshing Pandita junior dan calon Pandita dilaksanakan Penataran Pandita oleh Pengurus Pusat. Namun kegiatan ini lebih diutamakan dilaksanakan tidak di Jakarta. Untuk calon Pembabar Dhamma dilaksanakan Kursus Dhamma Duta oleh Pengurus Daerah.

Sebenarnya bagaimana seleksi yang dilakukan terhadap calon Pandita?
Calon Pandita diusulkan oleh vihara atau kelompok umat Buddha melalui Pengurus Cabang. Kemudian diajukan dalam Pasamuan Dewan Pertimbangan Pandita Daerah Tingkat I. Setelah mendapat rekomendasi dari Dewan Pertimbangan Pandita dan Padesanayaka Sangha Theravăda Indonesia (STI) setempat, calon Pandita diuji oleh Pengurus Pusat. Bilamana lulus, (maka yang bersangkutan) divisudhi oleh Bhikkhu STI.

Pernah salah satu umat menjumpai bahwa masih ada Pandita yang tidak hapal dengan Tata Cara Perkawinan Agama Buddha. Apalagi Pandita yang bersangkutan bukanlah termasuk Pandita yang baru dilantik. Bagaimana? Apa tindakan dari MAGABUDHI terhadap Pandita model begini?
Sebelum MAGABUDHI menertibkan tata cara menjadi Pandita, para Bhikkhu membutuhkan ‘asisten’ untuk melaksanakan tugas bilamana Bhikkhu belum sempat datang ke suatu daerah. Di tempat itulah Bhikkhu mevisudhi seseorang menjadi Pandita di hadapan umat. Dari sinilah lahir dua kategori Pandita. Yang pertama, bila Pandita tersebut "sang aku"-nya dapat dikendalikan, maka ia menggabungkan diri dalam MAGABUDHI. Kategori kedua, bila "sang aku"-nya tidak terkendali, maka ia tidak mau menggabungkan diri dalam MAGABUDHI serta 'menggolongkan' dirinya sendiri, bahkan kalau mungkin membentuk ‘siswa’ sendiri. Pandita dalam kategori ke-2 inilah yang memungkinkan seorang Pandita tdak paham tata cara perkawinan, dan lain-lain. Terhadap Pandita model begini, Pengurus Cabang MAGABUDHI-lah yang perlu segera mengambil tindakan dengan mengisolasi fungsinya. Pada hakekatnya ‘predikat’ Pandita dibawa sampai mati, kecuali yang bersangkutan melepaskan predikatnya atau dilepaskan melalui Dewan Pertimbangan Pandita Daerah.

Bagaimanakah caranya jika umat Buddha ingin mengajukan saran, kritik menyangkut perilaku Pandita yang ada di wilayahnya?
Umat Buddha dapat mengajukan saran dan kritik menyangkut Pandita kepada Bhikkhu STI serta kepada Pengurus MAGABUDHI di setiap daerah.

Seberapa dekat sih umat Buddha (terutama yang awam) dengan MAGABUDHI? Apa saja langkah sosialisasi yang sudah dilakukan terhadap umat Buddha menyangkut MAGABUDHI dan Pandita?
Berfungsi sebagai 'bapak', para Pandita MAGABUDHI dengan dibantu upacarika (pemimpin upacara - asisten Pandita) diminta atau tidak selalu melaksanakan pelayanan terhadap umat Buddha. Untuk menunjukkan eksistensinya, pada Upacara Keagamaan, para Pandita dan Upacarika tampil dalam 'busana upacara' MAGABUDHI.(*)

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]