|
Henry Basuki: "Benar, Umat Buddha Kurang Perlu Pandita"
BuddhistOnline.com - Dalam Poll Buddhis
bulan Januari-Februari 2000 yang diadakan oleh situs
IBC (nama yang digunakan oleh BuddhistOnline.com
sebelumnya -red) dimasukkan sejumlah elemen seperti
Bhikkhu, Buku Dhamma, Kursus Dhamma, Pandita, Sekolah
Buddhis, dan Vihara sebagai pilihan. Tujuannya adalah
untuk mengetahui manakah yang paling dibutuhkan oleh
umat Buddha pada saat ini.
Dari
hasil akhir yang dikumpulkan hingga awal Februari, menunjukkan
bahwa ternyata Bhikkhu masih dominan dibutuhkan oleh
umat Buddha. Rata-rata alasan yang dikemukakan oleh
responden/pemilih adalah karena Bhikkhu bisa diajak
berdiskusi, bertukar pikiran, dan dapat dijadikan panutan.
Meskipun demikian, pendidikan Buddhis (yang terwakili
oleh elemen Sekolah Buddhis) juga termasuk yang cukup
dibutuhkan. Suara yang memilih Sekolah Buddhis hanya
beda tipis dengan yang diperoleh Bhikkhu. Salah satu
alasannya adalah agar dapat menyiapkan "generasi muda
Buddhis yang tangguh, mapan, dan terpadu".
Yang mengenaskan adalah terpuruknya posisi Pandita
hingga urutan paling akhir dengan hanya satu suara yang
memilihnya. Agak di luar dugaan memang. Apalagi jumlah
suara yang diperoleh itu terpaut cukup jauh dengan yang
satu tingkat di atasnya. Tentu hal itu patut ditelusuri
penyebabnya. Memang tidak dapat disangkal terdapat beberapa
Pandita yang bertingkah laku kurang sesuai dengan posisinya
sebagai seseorang yang mestinya menjadi panutan bagi
umat Buddha di lingkungannya. Tetapi, apakah sudah separah
itu 'ketidakbutuhan' umat Buddha terhadap Pandita? Apakah
memang Pandita kurang dibutuhkan oleh umat Buddha?
Tentunya jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu lebih
pas jika keluar dari pihak yang terkait. Nah, inilah
jawaban langsung dari Ketua Umum PC MAGABUDHI Kodya
Semarang dan Ketua I PD MAGABUDHI Jawa Tengah Pandita
D. Henry Basuki yang diwawancarai oleh Chandadhammo
Benny Chandra via e-mail Maret 2000 silam.
Hasil Poll Buddhis belum lama ini menunjukkan bahwa
"Pandita" ternyata kurang diperlukan umat Buddha. Khususnya
pada saat ini. Hanya ada satu suara. Bagaimana komentar
Bapak Henry selaku salah satu Pandita anggota MAGABUDHI?
Apakah betul demikian?
Benar, bahwa umat Buddha kurang memerlukan Pandita.
Karena mereka tidak tahu (bahwa) fungsi Pandita (adalah)
sebagai "bapak" sedangkan fungsi Bhikkhu sebagai "guru".
Jika memang Pandita kurang dibutuhkan oleh umat
Buddha pada umumnya (dibanding dengan Bhikkhu, Buku
Dhamma, Sekolah Buddhis, Kursus Dhamma, dan Vihara),
kira-kira apa penyebabnya?
Penyebab Pandita kurang dibutuhkan oleh umat Buddha
di Indonesia pada kenyataannya adalah karena umat Buddha
tidak paham fungsi Pandita. Apalagi eksistensi Pandita
muncul sebagai penerapan sosial kemasyarakatan umat
Buddha. Orang yang (ingin) mencari tahu tentang Agama
Buddha bukannya mencari Pandita, namun mencari Bhikkhu.
Orang Buddhis sendiri (terutama yang malas berkumpul
sesama umat Buddha) ada yang tidak tahu bahwa eksistensi
Bhikkhu, karena kehidupannya meninggalkan keduniawian,
tidak dapat melaksanakan fungsi yang menyangkut perdata.
Mereka baru tahu fungsi Pandita setelah mendapat keterangan
dari Bhikkhu.
Saat ini sejauh mana peranan Pandita dalam lingkungan
umat Buddha di Indonesia?
Peran Pandita dalam lingkungan umat Buddha sebagai "bapak"
seringkali dinikmati karyanya oleh umat Buddha tanpa
diketahui. Pandita sebagai pemimpin umat Buddha pada
saat ini seolah-olah sebagai 'alat pemadam kebakaran'.
Pada saat umat Buddha sedang kritis, Lembaga Kepanditaan
tampak berperan menyelesaikannya. Bila keadaan lancar,
aktivitas Lembaga Kepanditaan banyak menyusun masa depan
bersama Bhikkhu Sangha.
Sejauh yang Bapak ketahui, bagaimana langkah-langkah
MAGABUDHI dalam meningkatkan kualitas dari para Pandita
anggotanya agar dapat sesuai dengan kebutuhan umat Buddha?
Termasuk peningkatan kualitas dari para Pandita yang
tergolong (atau menggolongkan sendiri sebagai) Pandita
senior.
MAGABUDHI sebagai Lembaga Kepanditaan siap setiap saat
untuk melaksanakan tugas pembabaran Dhamma serta mengasuh
umat. Untuk itu refreshing dilaksanakan secara periodik.
Penataran bagi para Pandita (senior), dinamakan upgrading
Pandita, dilaksanakan oleh Pengurus Pusat di Jakarta.
Untuk refreshing Pandita junior dan calon Pandita dilaksanakan
Penataran Pandita oleh Pengurus Pusat. Namun kegiatan
ini lebih diutamakan dilaksanakan tidak di Jakarta.
Untuk calon Pembabar Dhamma dilaksanakan Kursus Dhamma
Duta oleh Pengurus Daerah.
Sebenarnya bagaimana seleksi yang dilakukan terhadap
calon Pandita?
Calon Pandita diusulkan oleh vihara atau kelompok umat
Buddha melalui Pengurus Cabang. Kemudian diajukan dalam
Pasamuan Dewan Pertimbangan Pandita Daerah Tingkat I.
Setelah mendapat rekomendasi dari Dewan Pertimbangan
Pandita dan Padesanayaka Sangha Theravăda Indonesia
(STI) setempat, calon Pandita diuji oleh Pengurus Pusat.
Bilamana lulus, (maka yang bersangkutan) divisudhi oleh
Bhikkhu STI.
Pernah salah satu umat menjumpai bahwa masih ada
Pandita yang tidak hapal dengan Tata Cara Perkawinan
Agama Buddha. Apalagi Pandita yang bersangkutan bukanlah
termasuk Pandita yang baru dilantik. Bagaimana? Apa
tindakan dari MAGABUDHI terhadap Pandita model begini?
Sebelum MAGABUDHI menertibkan tata cara menjadi Pandita,
para Bhikkhu membutuhkan ‘asisten’ untuk melaksanakan
tugas bilamana Bhikkhu belum sempat datang ke suatu
daerah. Di tempat itulah Bhikkhu mevisudhi seseorang
menjadi Pandita di hadapan umat. Dari sinilah lahir
dua kategori Pandita. Yang pertama, bila Pandita tersebut
"sang aku"-nya dapat dikendalikan, maka ia menggabungkan
diri dalam MAGABUDHI. Kategori kedua, bila "sang aku"-nya
tidak terkendali, maka ia tidak mau menggabungkan diri
dalam MAGABUDHI serta 'menggolongkan' dirinya sendiri,
bahkan kalau mungkin membentuk ‘siswa’ sendiri. Pandita
dalam kategori ke-2 inilah yang memungkinkan seorang
Pandita tdak paham tata cara perkawinan, dan lain-lain.
Terhadap Pandita model begini, Pengurus Cabang MAGABUDHI-lah
yang perlu segera mengambil tindakan dengan mengisolasi
fungsinya. Pada hakekatnya ‘predikat’ Pandita dibawa
sampai mati, kecuali yang bersangkutan melepaskan predikatnya
atau dilepaskan melalui Dewan Pertimbangan Pandita Daerah.
Bagaimanakah caranya jika umat Buddha ingin mengajukan
saran, kritik menyangkut perilaku Pandita yang ada di
wilayahnya?
Umat Buddha dapat mengajukan saran dan kritik menyangkut
Pandita kepada Bhikkhu STI serta kepada Pengurus MAGABUDHI
di setiap daerah.
Seberapa dekat sih umat Buddha (terutama yang awam)
dengan MAGABUDHI? Apa saja langkah sosialisasi yang
sudah dilakukan terhadap umat Buddha menyangkut MAGABUDHI
dan Pandita?
Berfungsi sebagai 'bapak', para Pandita MAGABUDHI dengan
dibantu upacarika (pemimpin upacara - asisten Pandita)
diminta atau tidak selalu melaksanakan pelayanan terhadap
umat Buddha. Untuk menunjukkan eksistensinya, pada Upacara
Keagamaan, para Pandita dan Upacarika tampil dalam 'busana
upacara' MAGABUDHI.(*)
Kirim Artikel ini ke Teman Anda!
|