|
Di Ngandat, Enam
Kurang Satu Tetap Enam
BuddhistOnline.com - Bisa dibilang,
Bulan April merupakan bulan yang istimewa bagi Sangha
Theravăda Indonesia (STI) dan umat Buddha Theravăda
di Indonesia. Kenapa begitu? Karena setiap tahun pada
bulan itu hampir selalu diadakan Upasampada Bhikkhu.
Artinya anggota STI bakal bertambah dan umat Buddha
punya guru baru. Begitu pula ketika awal bulan April
2000 kemarin kembali diadakan Upasampada Bhikkhu. Tepatnya
pada 6 April 2000 di Padepokan Dhammadipa Arama, Ngandat,
Batu.
Upasampada kali ini berlangsung lebih istimewa dari
biasanya. Terutama jika dilihat dari jumlah calon Bhikkhu
yang akan ditahbiskan. Yaitu, lima orang. Ini merupakan
pertama kalinya dalam sejarah penahbisan Bhikkhu STI
di Indonesia. Biasanya hanya seputar angka dua atau
tiga orang saja.
Acaranya sendiri dimulai sekitar pukul 08.30 WIB yang
didahului permohonan sila para calon Bhikkhu kepada
Bhikkhu Sangha. Hujan yang cukup lebat sempat mewarnai
pelaksanaan acara penahbisan Bhikkhu pada pagi hari
itu. Meskipun begitu, acara tetap berlangsung lancar.
Yang menarik, ketika kelima calon Bhikkhu akan melakukan
padakkhina, hujan tiba-tiba berhenti. Cuacanya
pun berangsur-angsur menjadi cerah. Sinar matahari yang
tadinya tertutup oleh awan mendung kembali menyeruak.
Alam seakan ikut memeriahkan pelaksanaan penahbisan
kali ini.
Penahbisan tidak dilakukan lima orang sekaligus. Melainkan
dibagi tiga kelompok. Masing-masing per dua orang. Kecuali
yang terakhir memang hanya satu orang saja. Penahbisan
tiap kelompok memakan waktu sekitar 20-25 menit. Seperti
biasa, yang menjadi upajjhăya (penahbis) adalah
Y.M. Sukhemo Mahăthera. Lain halnya ăcăriya (guru
pembimbing) bagi kelima orang Bhikkhu baru itu. Untuk
Y.M. Bhikkhu Khemanando (dulu bernama Samanera
Katapuńńo), Y.M. Bhikkhu Sujano (dulu Samanera
Samadanto), Y.M. Bhikkhu Guttadhammo, dan Y.M.
Bhikkhu Siriratano, ăcăriya-nya adalah Y.M. Jotidhammo
Thera dan Y.M. Bhikkhu Atimedho. Sedangkan Y.M. Sanghanăyaka
Sri Pańńăvaro Mahathera dan Y.M. Subalaratano Mahathera
menjadi ăcăriya bagi Y.M. Bhikkhu Viriyanando.
Pembedaan ăcăriya ini dilakukan agar tidak melelahkan
masing-masing ăcăriya.
Saat itu, para Bhikkhu Sangha yang berkenan hadir cukup
banyak. Jumlahnya 21 orang Bhikkhu. Selain para Bhikkhu
yang menjadi upajjhăya dan ăcăriya, hadir pula diantaranya
Y.M. Uttamo Thera, Y.M. Jagaro Thera, Y.M. Khantidharo
Thera, Y.M. Thitaketuko Thera, Y.M. Bhikkhu Saddhaviro,
dan Y.M. Bhikkhu Suddhimano. Kebetulan sehari sebelumnya
di tempat yang sama diadakan Rapat Pimpinan STI.
Dalam sambutannya, Sanghanăyaka sempat menyinggung
soal turunnya hujan di awal acara. "Dalam kitab-kitab
kuno dikatakan bahwa hujan rintik-rintik yang turun
sebelum sebuah upacara dimulai menandakan seolah-olah
para dewa beranumodana dan menyatakan kegembiraannya.
Karena menganggap suatu peristiwa yang membawa manfaat
yang sangat besar bagi banyak orang sedang terjadi,"
tuturnya.
Di bagian lain, Sanghanăyaka menggambarkan bagaimana
ciri-ciri Bhikkhu yang berkualitas. "Bhikkhu yang berkualitas
adalah Bhikkhu yang mempunyai tingkah laku yang baik
sesuai dengan vinaya dan Dhamma. Kalau misalnya yang
bersangkutan mempunyai kelebihan intelektualitas maka
itu merupakan sesuatu yang menguntungkan sekali dalam
pengabdiannya," tegas Sanghanăyaka.
Sanghanăyaka juga berpesan kepada para Bhikkhu agar
dapat mempertahankan kualitas Sangha. Yaitu dengan mempertahankan
vinaya. Para umat diharapkan dapat mendukung para Bhikkhu
dalam melaksanakan vinaya.
Sementara itu antusias umat Buddha terhadap pelaksanaan
penahbisan tersebut lebih besar dari biasanya. Tidak
kurang dari 100 orang memadati lokasi acara. Sebagian
harus puas menyaksikan lewat layar televisi yang disediakan,
karena tempat yang disediakan di dalam Uposathagara
penuh sesak. Usai acara, mereka bergantian menyerahkan
dana dan berfoto bersama dengan para Bhikkhu baru.
Di antara umat yang hadir, sempat terdengar bisik-bisik
kebingungan soal jumlah Bhikkhu yang ditahbiskan hari
itu. Karena informasi yang beredar, menyebutkan ada
enam orang calon Bhikkhu. Padahal kenyataannya 'hanya'
lima orang saja yang ditahbiskan. Bingung? Mestinya
tidak perlu.
Awalnya memang ada enam orang calon Bhikkhu. Dan semuanya
lulus screening terakhir yang diadakan pada 3
April 2000. Tetapi, "Kami melihat salah satu diantara
mereka memiliki minat yang cukup tinggi terhadap meditasi.
Untuk itu, STI menawarkan dua pilihan. Tetap diupasampada
saat ini atau belajar meditasi dulu di Birma. Ternyata
ia memilih belajar meditasi," jelas Bhante Uttamo, salah
satu anggota tim screening STI.
Tidak diupasampada sekarang tidak membuat Samanera
Vijjanando -demikian namanya - harus mengikuti tahap
screening lagi bila suatu saat akan ditahbiskan.
Karena selesai belajar meditasi di negeri orang, ia
boleh langsung diupasampada. Dengan demikian, meskipun
kali ini yang ditahbiskan 'hanya' lima orang, tetap
saja yang lulus enam orang. Bukan begitu?! (bch, dari Ngandat)
Kirim Artikel ini ke Teman Anda!
|