BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 


Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?

   
Di Ngandat, Enam Kurang Satu Tetap Enam

 

BuddhistOnline.com - Bisa dibilang, Bulan April merupakan bulan yang istimewa bagi Sangha Theravăda Indonesia (STI) dan umat Buddha Theravăda di Indonesia. Kenapa begitu? Karena setiap tahun pada bulan itu hampir selalu diadakan Upasampada Bhikkhu. Artinya anggota STI bakal bertambah dan umat Buddha punya guru baru. Begitu pula ketika awal bulan April 2000 kemarin kembali diadakan Upasampada Bhikkhu. Tepatnya pada 6 April 2000 di Padepokan Dhammadipa Arama, Ngandat, Batu.

Upasampada kali ini berlangsung lebih istimewa dari biasanya. Terutama jika dilihat dari jumlah calon Bhikkhu yang akan ditahbiskan. Yaitu, lima orang. Ini merupakan pertama kalinya dalam sejarah penahbisan Bhikkhu STI di Indonesia. Biasanya hanya seputar angka dua atau tiga orang saja.

Acaranya sendiri dimulai sekitar pukul 08.30 WIB yang didahului permohonan sila para calon Bhikkhu kepada Bhikkhu Sangha. Hujan yang cukup lebat sempat mewarnai pelaksanaan acara penahbisan Bhikkhu pada pagi hari itu. Meskipun begitu, acara tetap berlangsung lancar.

Yang menarik, ketika kelima calon Bhikkhu akan melakukan padakkhina, hujan tiba-tiba berhenti. Cuacanya pun berangsur-angsur menjadi cerah. Sinar matahari yang tadinya tertutup oleh awan mendung kembali menyeruak. Alam seakan ikut memeriahkan pelaksanaan penahbisan kali ini.

Penahbisan tidak dilakukan lima orang sekaligus. Melainkan dibagi tiga kelompok. Masing-masing per dua orang. Kecuali yang terakhir memang hanya satu orang saja. Penahbisan tiap kelompok memakan waktu sekitar 20-25 menit. Seperti biasa, yang menjadi upajjhăya (penahbis) adalah Y.M. Sukhemo Mahăthera. Lain halnya ăcăriya (guru pembimbing) bagi kelima orang Bhikkhu baru itu. Untuk Y.M. Bhikkhu Khemanando (dulu bernama Samanera Katapuńńo), Y.M. Bhikkhu Sujano (dulu Samanera Samadanto), Y.M. Bhikkhu Guttadhammo, dan Y.M. Bhikkhu Siriratano, ăcăriya-nya adalah Y.M. Jotidhammo Thera dan Y.M. Bhikkhu Atimedho. Sedangkan Y.M. Sanghanăyaka Sri Pańńăvaro Mahathera dan Y.M. Subalaratano Mahathera menjadi ăcăriya bagi Y.M. Bhikkhu Viriyanando. Pembedaan ăcăriya ini dilakukan agar tidak melelahkan masing-masing ăcăriya.

Saat itu, para Bhikkhu Sangha yang berkenan hadir cukup banyak. Jumlahnya 21 orang Bhikkhu. Selain para Bhikkhu yang menjadi upajjhăya dan ăcăriya, hadir pula diantaranya Y.M. Uttamo Thera, Y.M. Jagaro Thera, Y.M. Khantidharo Thera, Y.M. Thitaketuko Thera, Y.M. Bhikkhu Saddhaviro, dan Y.M. Bhikkhu Suddhimano. Kebetulan sehari sebelumnya di tempat yang sama diadakan Rapat Pimpinan STI.

Dalam sambutannya, Sanghanăyaka sempat menyinggung soal turunnya hujan di awal acara. "Dalam kitab-kitab kuno dikatakan bahwa hujan rintik-rintik yang turun sebelum sebuah upacara dimulai menandakan seolah-olah para dewa beranumodana dan menyatakan kegembiraannya. Karena menganggap suatu peristiwa yang membawa manfaat yang sangat besar bagi banyak orang sedang terjadi," tuturnya.

Di bagian lain, Sanghanăyaka menggambarkan bagaimana ciri-ciri Bhikkhu yang berkualitas. "Bhikkhu yang berkualitas adalah Bhikkhu yang mempunyai tingkah laku yang baik sesuai dengan vinaya dan Dhamma. Kalau misalnya yang bersangkutan mempunyai kelebihan intelektualitas maka itu merupakan sesuatu yang menguntungkan sekali dalam pengabdiannya," tegas Sanghanăyaka.

Sanghanăyaka juga berpesan kepada para Bhikkhu agar dapat mempertahankan kualitas Sangha. Yaitu dengan mempertahankan vinaya. Para umat diharapkan dapat mendukung para Bhikkhu dalam melaksanakan vinaya.

Sementara itu antusias umat Buddha terhadap pelaksanaan penahbisan tersebut lebih besar dari biasanya. Tidak kurang dari 100 orang memadati lokasi acara. Sebagian harus puas menyaksikan lewat layar televisi yang disediakan, karena tempat yang disediakan di dalam Uposathagara penuh sesak. Usai acara, mereka bergantian menyerahkan dana dan berfoto bersama dengan para Bhikkhu baru.

Di antara umat yang hadir, sempat terdengar bisik-bisik kebingungan soal jumlah Bhikkhu yang ditahbiskan hari itu. Karena informasi yang beredar, menyebutkan ada enam orang calon Bhikkhu. Padahal kenyataannya 'hanya' lima orang saja yang ditahbiskan. Bingung? Mestinya tidak perlu.

Awalnya memang ada enam orang calon Bhikkhu. Dan semuanya lulus screening terakhir yang diadakan pada 3 April 2000. Tetapi, "Kami melihat salah satu diantara mereka memiliki minat yang cukup tinggi terhadap meditasi. Untuk itu, STI menawarkan dua pilihan. Tetap diupasampada saat ini atau belajar meditasi dulu di Birma. Ternyata ia memilih belajar meditasi," jelas Bhante Uttamo, salah satu anggota tim screening STI.

Tidak diupasampada sekarang tidak membuat Samanera Vijjanando -demikian namanya - harus mengikuti tahap screening lagi bila suatu saat akan ditahbiskan. Karena selesai belajar meditasi di negeri orang, ia boleh langsung diupasampada. Dengan demikian, meskipun kali ini yang ditahbiskan 'hanya' lima orang, tetap saja yang lulus enam orang. Bukan begitu?! (bch, dari Ngandat)

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]