BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 


Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?

   
'Surat Cinta' Walubi untuk Umat Buddha Theravăda

 

BuddhistOnline.com - Wahai umat Buddha Theravăda di Indonesia. Berbahagialah karena Anda sedang menjadi 'kembang' yang bakal mendapat banyak rayuan dan tawaran yang menggiurkan dari sana sini. Karena nampaknya Walubi benar-benar jadi kalang-kabut setelah ditinggal MAGABUDHI (Baca pula: "MAGABUDHI cabut, WALUBI kalang-kabut"). Tidak lama setelah surat pengunduran MAGABUDHI terbit, pada 28 Maret 2000 pihak Dewan Pengurus Pusat Walubi buru-buru mengeluarkan surat himbauan ditujukan kepada seluruh umat Buddha Theravăda Indonesia yang ditandatangani oleh Biro Penerangan Walubi Letkol (Purn) Drg. Nakulianto K.

Meskipun disebut sebagai surat himbauan, tetapi secara keseluruhan isi surat itu lebih mirip sebuah surat cinta seseorang yang kelabakan karena baru ditinggal pergi sang kekasih. Habis, surat yang dikeluarkan di Jakarta itu lebih banyak memuat 'rayuan maut' dan 'janji surga' yang cukup menggelikan ketimbang himbauan yang menenangkan. Apalagi masih kurang jelas umat Buddha Theravăda mana yang perlu ditenangkan seperti yang dimaksud dalam suratnya itu. Karena mestinya urusan "menenangkan" umat Buddha Theravăda itu sudah bukan wewenang Walubi lagi. Bukankah di Walubi sudah tidak ada lagi Majelis Agama Buddha Theravăda Indonesia yang mengurusi soal pembinaan umat Buddha Theravăda di Indonesia? Membingungkan sekaligus menggelikan memang.

Apa saja isi 'surat cinta' itu? Sejak poin pertama, rayuan sudah dilancarkan. Walubi mengharapkan agar umat Buddha Theravăda di seluruh Indonesia tetap tenang dan tetap menjaga persatuan dan kerukunan di dalam Walubi, tidak perlu ikut keluar dari kepengurusan dan keanggotaan Walubi baik pusat maupun daerah. Pada bagian lain surat itu, dikatakan pula bahwa "Walubi adalah wadah kebersamaan umat Buddha yang menjadi mitra pemerintah dengan tujuan untuk menciptakan kerukunan, persaudaraan dan persahabatan diantara organisasi dan umat Buddha Indonesia yang berbeda-beda sekte atau alirannya dalam rangka pengabdian pada Agama, Masyarakat, Bangsa dan Negara Republik Indonesia tercinta."

Salah satu isi dari surat itu yang menggelikan adalah ketika Walubi mengatakan bahwa "Umat Buddha Theravăda Indonesia adalah penganut ajaran Buddha Dharma Theravada sehingga tetap bisa berkembang walaupun berada di luar Magabudhi dan tetap mendapat legitimasi dari Walubi." Kenapa menggelikan? Lha, bagaimana umat Buddha Theravăda bisa berkembang kalau belum-belum kata "Dhamma" (Bahasa Pali, yang digunakan oleh aliran Theravăda) sudah 'diganti' dengan kata "Dharma" (Bahasa Sansekerta)?!

Yang menarik sekaligus tetap menggelikan, masih dari surat yang sama, organisasi yang mengaku sebagai Perwakilan Umat Buddha Indonesia itu juga mengajak umat Buddha Theravăda yang setia dengannya untuk mendirikan organisasi Theravăda tandingan. Rupanya aliran Theravăda benar-benar lagi 'naik daun'. Ajakan itu lengkapnya begini: "Dalam rangka memenuhi kepentingan hukumnya, maka dihimbau kepada Umat Buddha Theravăda Indonesia yang berada didalam Walubi untuk membentuk wadah Theravăda Indonesia yang baru, dan akan tetap mendapat dukungan dan bantuan dari Walubi". Sebagai 'kayu bakar'-nya, dalam poin selanjutnya, Walubi menambahkan "Perlu disadari bahwa umat Buddha Theravăda Indonesia tidaklah identik dengan institusi, misalnya Magabudhi atau STI."

Apa boleh buat, alih-alih menenangkan umat Buddha Theravăda (seperti yang tercantum di awal suratnya), surat itu malah terkesan akan memperparah kebingungan umat Buddha di Indonesia. Atau apakah memang itulah tujuan sebenarnya? Ayo, ngaku dong! (bch)

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]