|
'Surat Cinta' Walubi
untuk Umat Buddha Theravăda
BuddhistOnline.com - Wahai umat Buddha Theravăda di Indonesia. Berbahagialah
karena Anda sedang menjadi 'kembang' yang bakal mendapat
banyak rayuan dan tawaran yang menggiurkan dari sana
sini. Karena nampaknya Walubi benar-benar jadi kalang-kabut
setelah ditinggal MAGABUDHI (Baca pula: "MAGABUDHI
cabut, WALUBI kalang-kabut"). Tidak lama setelah
surat pengunduran MAGABUDHI terbit, pada 28 Maret 2000
pihak Dewan Pengurus Pusat Walubi buru-buru mengeluarkan
surat himbauan ditujukan kepada seluruh umat Buddha
Theravăda Indonesia yang ditandatangani oleh Biro Penerangan
Walubi Letkol (Purn) Drg. Nakulianto K.
Meskipun disebut sebagai surat himbauan, tetapi secara
keseluruhan isi surat itu lebih mirip sebuah surat cinta
seseorang yang kelabakan karena baru ditinggal pergi
sang kekasih. Habis, surat yang dikeluarkan di Jakarta
itu lebih banyak memuat 'rayuan maut' dan 'janji surga'
yang cukup menggelikan ketimbang himbauan yang menenangkan.
Apalagi masih kurang jelas umat Buddha Theravăda mana
yang perlu ditenangkan seperti yang dimaksud dalam suratnya
itu. Karena mestinya urusan "menenangkan" umat Buddha
Theravăda itu sudah bukan wewenang Walubi lagi. Bukankah
di Walubi sudah tidak ada lagi Majelis Agama Buddha
Theravăda Indonesia yang mengurusi soal pembinaan umat
Buddha Theravăda di Indonesia? Membingungkan sekaligus
menggelikan memang.
Apa saja isi 'surat cinta' itu? Sejak poin pertama,
rayuan sudah dilancarkan. Walubi mengharapkan agar umat
Buddha Theravăda di seluruh Indonesia tetap tenang dan
tetap menjaga persatuan dan kerukunan di dalam Walubi,
tidak perlu ikut keluar dari kepengurusan dan keanggotaan
Walubi baik pusat maupun daerah. Pada bagian lain surat
itu, dikatakan pula bahwa "Walubi adalah wadah kebersamaan
umat Buddha yang menjadi mitra pemerintah dengan tujuan
untuk menciptakan kerukunan, persaudaraan dan persahabatan
diantara organisasi dan umat Buddha Indonesia yang berbeda-beda
sekte atau alirannya dalam rangka pengabdian pada Agama,
Masyarakat, Bangsa dan Negara Republik Indonesia tercinta."
Salah satu isi dari surat itu yang menggelikan adalah
ketika Walubi mengatakan bahwa "Umat Buddha Theravăda
Indonesia adalah penganut ajaran Buddha Dharma
Theravada sehingga tetap bisa berkembang walaupun berada
di luar Magabudhi dan tetap mendapat legitimasi dari
Walubi." Kenapa menggelikan? Lha, bagaimana umat
Buddha Theravăda bisa berkembang kalau belum-belum kata
"Dhamma" (Bahasa Pali, yang digunakan oleh aliran Theravăda)
sudah 'diganti' dengan kata "Dharma" (Bahasa
Sansekerta)?!
Yang menarik sekaligus tetap menggelikan, masih dari
surat yang sama, organisasi yang mengaku sebagai Perwakilan
Umat Buddha Indonesia itu juga mengajak umat Buddha
Theravăda yang setia dengannya untuk mendirikan organisasi
Theravăda tandingan. Rupanya aliran Theravăda benar-benar
lagi 'naik daun'. Ajakan itu lengkapnya begini: "Dalam
rangka memenuhi kepentingan hukumnya, maka dihimbau
kepada Umat Buddha Theravăda Indonesia yang berada didalam
Walubi untuk membentuk wadah Theravăda Indonesia yang
baru, dan akan tetap mendapat dukungan dan bantuan dari
Walubi". Sebagai 'kayu bakar'-nya, dalam poin selanjutnya,
Walubi menambahkan "Perlu disadari bahwa umat Buddha
Theravăda Indonesia tidaklah identik dengan institusi,
misalnya Magabudhi atau STI."
Apa boleh buat, alih-alih menenangkan umat Buddha Theravăda
(seperti yang tercantum di awal suratnya), surat itu
malah terkesan akan memperparah kebingungan umat Buddha
di Indonesia. Atau apakah memang itulah tujuan sebenarnya?
Ayo, ngaku dong! (bch)
Kirim Artikel ini ke Teman Anda!
|