BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 


Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?

   
Sanghanãyaka: "Sampai Sekarang Kita Belum Punya Sekolah dan Rumah Sakit"

 

Sanghanayaka STI 2000-2003BuddhistOnline.com - Seperti telah kita ketahui, sejak 26 Juni 2000 kemarin, dalam tubuh Sangha Theravãda Indonesia (STI) telah terjadi 'suksesi'. Mulai tahun ini hingga 2003, STI dipimpin oleh Sanghanãyaka Dhammasubho Thera. Banyak hal menarik yang perlu digali dari Sanghanayaka STI yang baru ini. Misalnya, soal pandangannya terhadap KASI, konflik MAGABUDHI dan Walubi. Tentunya perlu diketahui juga target apa yang ingin dicapai. Untuk itulah, editor BuddhistOnline.com Chandadhammo Benny Chandra melakukan wawancara dengan Sanghanãyaka Dhammasubho Thera usai rapat penentuan anggota kabinet STI akhir bulan lalu. Inilah petikannya.

Bagaimana proses pemilihan Sanghanãyaka kali ini?
Pemilihan itu merupakan kesepakatan bersama yang sudah dibicarakan sejak tujuh bulan yang lalu. Oleh karena itu, saya kira apapun yang terjadi musti diterima. Prosesnya sangat demokratis karena dalam sejarah STI baru pertama kali memilih pimpinan seperti ini. Dari dulu tidak pernah. Dan kita tidak pernah tahu. Tahu-tahu sudah begitu. Ketika STI didirikan, belum mempunyai struktur organisasi yang lengkap. Untuk menjalankan roda organisasi hanya dijabat oleh seorang Sekjen dan wakilnya. Keadaan itu berlangsung selama kurang lebih empat tahun.

Bagus yang mana, secara aklamasi atau voting?
Kalau dulu karena pilihannya tidak banyak, dalam artian jumlah personilnya, ya mau tidak mau aklamasi. Sesuai dengan perkembangan, mungkin voting itu sudah menjadi kebutuhan. Ya, untuk saat ini cara tersebut sesuai karena memang sedang di dalam era demokrasi yang baru mekar sehingga semua lapisan inginnya pure democracy. Dan ini kan hubungannya bukan hanya dalam kebhikhuan tetapi sebagai organisasi kemasyarakatan. Kalau sebagai kebhikkhuan tetap tidak (dapat) menyimpang dari Dhamma Vinaya. Dhamma Vinaya sudah mempunyai penggarisan-penggarisan sendiri. Dalam menentukan hal yang menyangkut kebhikkhuan biasanya berdasarkan senioritas . Misalnya seremonial, pentahbisan, dan lain sebagainya. Tetapi kalau sebagai organisasi kemasyarakatan rupanya selalu disesuaikan dengan alam yang ada di negara masing-masing. Sehingga meskipun umur kebhikkuannya masih muda tetapi memiliki kemampuan, dia bisa disepakati untuk untuk mengendalikan jalannya organisasi.

Setelah terpilih sebagai Sanghanãyaka yang baru, apa yang akan Bhante lakukan pertama kali?
Tentu kita akan bersama-sama dengan komponen yang lain untuk menangani hal-hal yang paling medesak. Apakah itu yang bersifat intern maupun ekstern. Di samping program yang sudah dirancang atau disusun setiap lima tahun sekali, baik yang jangka panjang maupun jangka pendek. Yang paling dekat, kita akan menata struktur organisasi yang baru karena ini betul-betul baru. Makanya dikatakan restrukturisasi yang berarti perombakan. Sehingga dalam membangun struktur baru ini banyak yang harus dibenahi.

Apakah sudah ada program yang dipikirkan?
Untuk saat ini belum kelihatan. Karena dalam tiga bulan pertama kita akan memilih lalu memprioritaskan mana yang mendesak harus ditangani dari agenda permasalahan. Kalau agenda sih banyak. Seperti sekarang mau tidak mau yang namanya konflik merebak. Karena itu akan dipilih mana yang menjadi prioritas untuk ditangani.

Apakah setelah terpilih menjadi Sanghanãyaka, Bhante akan tetap tinggal di Manado?
Sebagai konsekuensi bagi para Bhikkhu yang memegang jabatan sebelumnya, kalau dia memasuki jabatan struktur yang baru, harus meninggalkan kewajiban yang lama untuk menerima kewajiban yang baru. Misalnya saya. Yang tadinya saya sebagai Padesanayaka, karena sekarang sebagai Sanghanãyaka ya Padesanayaka-nya ditinggal. Masalah tempat tinggal itu akan dipikirkan kemudian tetapi dalam penanganan-penanganan tertentu ya tentu saya akan sering ke Jawa. Saya masih boleh tinggal di Manado.

Bagaimana Bhante memandang kedudukan STI di KASI? Apakah menguntungkan atau merugikan?
(Terdiam sejenak). Kalau diukur dari posisi Sanghanãyaka, saya belum pengalaman. Karena selama ini yang menangani adalah Sanghanãyaka yang lama. Karena itu aktivitasnya di Jawa, saya tidak banyak mengikuti sehingga untung ruginya saya tidak banyak merasakan. Karena jauh.

Bagaimana pula pendapat Bhante mengenai konflik antara MAGABUDHI dengan Walubi?
Karena MAGABUDHI bukan underbouw dari STI, tentu itu menjadi masalah rumah tangganya sendiri. MAGABUDHI dengan STI bukan struktural tapi hubungan moral kemitraan. Sehingga hal-hal yang berurusan dengan MAGABUDHI ya MAGABUDHI sendiri yang menyelesaikan.

Tetapi kan dalam konflik itu juga menyinggung soal STI...
Di mana-mana yang namanya konflik mesti ndak enak. Orang akan membuat ungkapan-ungkapan begitu karena dianggap sama-sama Theravãda. Tetapi MAGABUDHI dan STI lain. Saya umpamakan dengan besi. Ada yang jenis baja dan ada yang tembaga.

Menurut Bhante, apakah konflik itu dapat diselesaikan?
Memang ya membingungkan. Karena kalau sudah kadung pecah itu sama seperti lampu yang sudah kadung pecah. Meskipun tidak remuk tapi sudah retak. Bisa dimaafkan tetapi tidak bisa dilupakan. Mungkin konfliknya bisa selesai tetapi kejadiannya tidak mungkin dilupakan karena sudah kadung tertuang dalam lembaran sejarah. Dalam dunia ini kan tidak ada kawan abadi, tidak ada musuh abadi. Yang ada itu kan kepentingan pribadi yang abadi.

Selama menjabat sebagai Sanghanãyaka, target apa yang ingin Bhante capai?
Dalam pelayanan agama, seharusnya ada tiga aspek yang perlu diperhatikan secara khusus. Yaitu, pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan menuntun ke arah perbaikan mental spiritual. Sampai sekarang kita belum mempunyai (pelayanan) pendidikan. Artinya, sekolah yang bernafaskan Buddhis belum ada. Di samping itu, rumah sakit Buddhis juga belum ada. Nah, hal-hal itu mungkin akan menjadi pertimbangan apakah dalam tempo tiga tahun itu bisa membangun sekolah tinggi atau rumah sakit. Paling tidak, hal itu akan saya usulkan untuk dimasukkan dalam program yang akan dicapai STI. Siapa tahu dalam tempo tiga tahun ini, tiba-tiba bisa membangun rumah sakit. (*) FOTO: BEN-CH

Galeri foto Pemilihan Sanghanãyaka STI 2000-2003? Klik di sini!

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]