|
Kalau MAGABUDHI dan
Walubi Rebutan Jadi Petani
BuddhistOnline.com - Urusan serobot-menyerobot
atau rebutan lahan biasanya hanya terjadi di kalangan
petani dan pengembang properti saja. Bagaimana kalau
yang terlibat soal itu adalah MAGABUDHI dan Walubi?
Apakah mereka bakal banting setir jadi petani? Kurang
jelas sih. Yang pasti, gara-gara masalah lahan,
perseteruan mantan dua sobat karib itu bakal lebih hangat.
Setidaknya hal tersebut tergambar dari isi surat-suratan
antara MAGABUDHI dan Walubi belum lama ini yang salinannya
berhasil diperoleh oleh BuddhistOnline.com.
Mengenai lahan yang dipermasalahkan oleh kedua pihak
yang termasuk 'pengembang organisasi' itu, janganlah
membayangkan sepetak sawah atau sebidang tanah yang
luasnya berhektar-hektar. Karena yang dimaksud, tidak
lain adalah umat Buddha Theravăda di Indonesia. Agak
sadis juga ya. Masa disamakan dengan tanah garapan petani.
Awalnya, pihak MAGABUDHI yang berkirim surat duluan
ke Ketua Umum DPP Walubi, Siti Hartati Murdaya. Dalam
suratnya, mereka menganggap Ketua Umum DPP Walubi itu
telah mengobok-obok lahan mereka. Bak seorang petani
pemilik lahan, mereka protes keras. "Janganlah
memetik panen dari lahan yang sudah ditanami dengan
susah payah oleh kami. Masih lebih luas lahan yang belum
tergarap, " kata Ketua Umum MAGABUDHI Herman S.
Endro, S.H dalam surat yang ditandatangani bersama Sekretaris
Jendral Ir. Ariya Chandra.
Menurut pihak MAGABUDHI, daripada merebut umat asuhan
mereka lebih baik kalau Walubi mengkonsentrasikan diri
pada usaha "mengembalikan ex umat Buddha yang pindah
ke agama lain untuk kembali ke pangkuan Agama Buddha."
Selanjutnya, mereka menyebutkan bahwa setidaknya ada
tiga tindakan dari Walubi yang mereka anggap sebagai
bentuk intervensi dari Walubi. Yaitu, merekrut dharmaduta
dan pandita MAGABUDHI dengan berbagai insentif, aktif
berjam-jam menelepon PD dan PC MAGABUDHI agar bergabung
dengan organisasi Theravăda yang dibentuk dan didanainya,
dan melontarkan berbagai isu negatif serta memutarbalikkan
informasi yang dapat menyesatkan orang banyak yang ditujukan
kepada Grup Theravăda (STI dan MAGABUDHI) baik di media
cetak maupun elektronik.
Kepada Ketua Umum Walubi, pihak MAGABUDHI mengingatkan
agar ia dapat memposisikan dirinya sebagai Ketua Umum
yang arif dan bijaksana dalam membina umat Buddha. "Bukan
membinasakan. Mohon diingat (juga) bahwa Ny. Siti Hartati
Murdaya bukan pengurus organisasi Theravăda," ujar
Herman S. Endro, S.H.
Rupanya surat dari MAGABUDHI itu membuat emosi pihak
Walubi meninggi. Dalam surat balasannya, selain menolak
tuduhan sebagai tukang serobot lahan orang, Ketua Umum
Walubi Siti Hartati Murdaya malah balik melontarkan
sejumlah tuduhan kepada pihak MAGABUDHI. "Umat
Buddha Theravăda Indonesia bukan umat MAGABUDHI juga
bukan umat STI. Tetapi adalah umat Theravăda yang dapat
dilayani oleh semua organisasi Theravăda termasuk MAGABUDHI,
" tulisnya dalam surat balasan yang ditujukan kepada
PP MAGABUDHI itu.
Ia menyebut MAGABUDHI sebagai pihak yang tidak mengenal
balas budi dan rasa terima kasih karena, "Telah
banyak memojokkan para Dharmaduta asing yang
sangat berjasa bagi umat Buddha Theravăda Indonesia,"
ujar Siti Hartati Murdaya.
Kemudian, dikatakan olehnya bahwa, "Anda hanya
banyak membuat peraturan-peraturan organisasi dan menghambat
majunya perkembangan Agama Buddha Theravăda Indonesia.
Anda tidak banyak berbuat nyata bagi kemajuan umat Theravăda,
melainkan maju di depan setelah semua pekerjaan dikerjakan
oleh orang lain."
Yang agak menggelikan, pada beberapa poin lain dalam
surat tersebut ia malah mengungkit keberadaan dirinya
sebagai sponsor yang banyak berjasa. "Sejak tahun
1974, saya telah menjadi sponsor perkembangan umat Buddha
Theravăda Indonesia di bawah bimbingan seorang Dharmaduta
Thai di Indonesia. Tidak sedikit perjuangan dan kontribusi
saya pada kemajuan Agama Buddha Theravăda Indonesia,"
papar Ketua Umum Walubi sejak 1998 itu.
Wah, repot dah kalau semua sponsor Buddhis kayak
begini... (bch)
Kirim Artikel ini ke Teman Anda!
|