|
MAGABUDHI Minta
Pemerintah Bentuk Dirjen Bimas Buddha
BuddhistOnline.com - Kepada pemerintah,
MAGABUDHI (Majelis Agama Buddha Theravăda Indonesia)
mengusulkan agar dapat segera membentuk Dirjen Bimas
Buddha. Di samping itu, pemerintah juga diharapkan dapat
meninjau kembali SKB Menteri no. 01/1979 tentang ijin
pendirian tempat ibadah dan mempercepat pemulihan keamanan
dan kestabilan politik sehingga seluruh rakyat dapat
lebih merasakan ketentraman.
Demikian hasil Pasamuan Agung VI MAGABUDHI yang dilaporkan
oleh mantan Ketua Umum MAGABUDHI Pandita Herman Satrio
Endro, S.H. dalam acara pertemuan Presiden RI Abdurrahman
Wahid dengan peserta Pasamuan Agung VI pada 6 November
2000 di Istana Negara. Pasamuan Agung VI telah dilaksanakan
pada 22-26 Oktober lalu di Malang.
Pada pertemuan yang dimulai pukul 17.20 WIB itu, selain
200 orang peserta pasamuan (termasuk pengurus pusat
MAGABUDHI periode 2000-2005), hadir pula 18 orang Bhikkhu
Sangha Theravăda Indonesia (STI), serta perwakilan dari
Lembaga Anagarini Indonesia (LAI), Wanita Theravada
Indonesia (WANDANI), Pemuda Theravăda Indonesia (PATRIA),
dan tokoh-tokoh agama lain yang tergabung dalam Indonesian
Conference on Religion and Peace (ICRP).
Dalam kesempatan itu, disampaikan juga pernyataan sikap
MAGABUDHI tentang hubungan eksternal, intern umat Buddha,
dan intern umat Buddha mazhab Theravăda. Mengenai hubungan
eksternal, antara lain, MAGABUDHI mengharapkan para
rohaniawan lebih mendorong masyarakat untuk berani mengemukakan
kebenaran dihadapan forum manapun juga.
Sementara menyangkut urusan intern umat Buddha, dinyatakan
bahwa adanya lembaga tunggal umat Buddha tidak lagi
harus dipaksakan namun kemanunggalan yang tumbuh atas
kebutuhan bersama sangatlah dihormati. Di samping itu,
pihak MAGABUDHI memperingatkan agar lahirnya organisasi
Buddhis yang baru hendaknya tidak berlanjut dengan merebut
umat apalagi dengan iming-iming materi. "Sikap
pluralisme dan toleransi diantara pimpinan dan kader
Buddhis perlu dikembangkan dalam menyikapi perkembangan
globalisasi dan demokratisasi, " ujar Herman S.
Endro yang menjabat Ketua Umum MAGABUDHI periode 1995-2000.
Adapun dalam kaitannya dengan hubungan intern umat
Buddha mazhab Theravăda, diharapkan para pandita dan
pimpinan organisasi mazhab Theravăda dapat berpartisipasi
aktif dalam upaya-upaya perdamaian melalui dialog, seminar,
atau lokakarya antar agama. Pihak MAGABUDHI juga mengusulkan
pendirian Pusdiklat Theravăda dan sekretariat bersama
dari organisasi dan lembaga yang berada dibawah asuhan
Dhamma STI.
Menanggapi apa yang disampaikan oleh wakil MAGABUDHI
itu, Presiden mengharapkan agar dapat bersabar menunggu
Dirjen Bimas Buddha karena masalah birokrasi. Kepada
umat Buddha, Presiden menganjurkan umat Buddha tetap
giat dalam kegiatan keagamaan dan tidak mencampuradukkannya
dengan masalah politik. (bch/laporan:
Anya Kariko ASP)
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|