|
Relik Sang Buddha
dalam Stupa Bodhiratana
BuddhistOnline.com - Di awal tahun 2001,
bisa jadi kebahagiaan dan kegembiraan yang diperoleh
oleh umat Buddha Indonesia bakal lebih besar ketimbang
mereka yang sedang merayakan tahun baru dan milenium
baru. Mengapa demikian? Karena pada 1 Januari 2001 pukul
13.00 WIB akan diresmikan Stupa Bodhiratana yang merupakan
stupa tertinggi dan terbesar yang telah dibangun di
masa pembinaan Sangha Theravăda Indonesia (yang sampai
saat ini sudah berusia 24 tahun).
Yang istimewa, dalam stupa yang dibangun di Panti Semedi
Balerejo, Wlingi itu ditempatkan relik dari Sang Buddha.
Relik merupakan sisa pembakaran jasad dari orang yang
mencapai kesucian tertentu. Selama ini, sungguh sukar
untuk menemukan relik yang benar-benar berasal dari
sisa pembakaran jasad Sang Buddha.
"Jumlahnya sembilan butir. Relik itu merupakan
pemberian dari Sangharaja Thailand," ungkap Y.M.
Uttamo Thera, penggagas pembangunan stupa tersebut,
kepada BuddhistOnline.com
via e-mail.
Rupanya,
nama yang disandang oleh stupa itu ada hubungannya dengan
keberadaan relik tersebut. "Bodhiratana artinya
'Permata Penerangan Sempurna', karena memang di dalam
stupa itu ditempatkan relik Sang Buddha yang telah mencapai
Penerangan Sempurna," kata Bhante Uttamo.
Tujuan pendirian stupa itu sendiri adalah untuk menghormat
kepada Sang Buddha (yang berupa relik) dan meningkatkan
semangat dan mengingatkan para umat Buddha bahwa apabila
kita dapat berhasil melaksanakan Ajaran Sang Buddha
yaitu Jalan Mulia Berunsur Delapan, maka dalam diri
kitapun kelak akan muncul relik.
"Selain untuk pemujaan, stupa tersebut dapat dijadikan
bahan perenungan untuk meningkatkan semangat hidup sesuai
dengan Buddha Dhamma," tutur Bhikkhu yang menjabat
Wakil Ketua Umum STI 2000-2003 itu.
Balik soal ukurannya. Dibandingkan dengan candi-candi
kuno yang ada di Jawa Timur, Stupa Bodhiratana juga
masih lebih tinggi meskipun bukan yang terbesar. Jelasnya,
stupa yang terbuat dari batu putih itu memiliki tinggi
9,56 meter dan lebar 5,50 meter. Sedangkan bobotnya
secara keseluruhan lebih dari 40 ton.
Keunikan lain dari stupa itu terletak pada bentuknya
yang kelihatan 'tidak biasa'. Bentuk yang 'tidak biasa'
itu, menurut Bhante Uttamo karena, "Merupakan gabungan
dari berbagai bentuk candi yang ada di Jawa Timur, mengingat
Stupa Bodhiratana terletak di daerah yang sama."
Adapun pembangunannya hanya memakan waktu kurang dari
empat bulan. Selama tiga bulan, pengerjaan fisik bangunan
stupa itu dilakukan di tempat pemahatnya di Jawa Tengah,
dekat Candi Borobudur. Setelah selesai, potongan-potongan
dari stupa itu dikirim ke lokasi. Pemasangannya membutuhkan
waktu sekitar tiga minggu. Total biaya yang diperlukan
untuk pengerjaan stupa itu adalah 130 juta rupiah. Dari
informasi yang ada, hingga saat ini masih terdapat kekurangan
biaya sebesar 45 juta rupiah.
Asal tahu saja, awalnya stupa tersebut sempat mendapat
julukan "stupa milenium' karena tanggal peresmiannya
yang unik itu (1 Januari 2001 pukul 1 siang) merupakan
permulaan dari milenium ketiga.
Dalam peresmiannya nanti, bakal ada beberapa Bhikkhu
yang hadir. Selain Bhante Uttamo sendiri, ada dua Bhikkhu
yang sudah memastikan diri untuk hadir yaitu Y.M. Mahanayaka
STI Sri Paññavaro Mahathera (arsitek sekaligus
perancang bentuk Stupa Bodhiratana) dan Y.M. Dhammavijayo
Mahathera.
Tertarik untuk hadir dalam peresmiannya? Silahkan saja...
Wong tanpa undangan kok! (bch)
FOTO: Dok. Samaggi
Phala
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|