BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 


Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?


   
[an error occurred while processing this directive]

 

Malu dan Takut, Tanda Spiritualitas Matang

 

BuddhistOnline.com - Setidaknya ada dua tanda dari manusia yang matang spiritualitasnya. Keduanya adalah mempunyai rasa malu melakukan perbuatan negatif dan takut akan akibat dari perbuatan negatif. Di antara keduanya, yang paling baik adalah yang kedua, takut terhadap akibat melakukan perbuatan negatif. Sebab jika hanya mempunyai rasa malu saja ada kemungkinan akan membuat seseorang menjadi munafik. Seseorang malu berbuat tidak baik hanya ketika ada orang lain.

Demikian disampaikan oleh Y.M. Uttamo Thera dalam talk show "Sentuhan Spiritual dalam pengelolaan SDM" yang diadakan Perhimpunan manajemen Sumberdaya Manusia Indonesia (PMSM Indonesia) pada 21 Desember 2000. Dalam dialog yang diadakan di Hotel Santika, Surabaya itu tampil pula pembicara lain, Drs. Ahmad Mundzir, Msi dan Drs. Agustinus Mangunhardjana, N Ed.

Menurut Bhante Uttamo, untuk menjadi manusia yang matang ada beberapa hal yang harus dilakukan. Yaitu, menghindari hal-hal atau tindakan-tindakan negatif, mengembangkan hal-hal positif, dan melatih pikiran agar selalu berpikir positif.

"Dalam pikirannya, manusia menentukan pilihan. Oleh karena itu, manusia harus dididik agar dapat berpikir positif," kata Bhante Uttamo lebih lanjut.

Di bagian lain, berkaitan dengan pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang peserta mengenai training keagamaan untuk SDM perusahaan, Bhante Uttamo menyarankan agar materinya tidak khusus dari agama tertentu.

"Sebaiknya mengambil nilai-nilai kebenaran universal dari agama sehingga tidak menimbulkan rasa curiga para karyawan," saran Wakil Ketua Umum Sangha Theravăda Indonesia itu yang disetujui bersama oleh para peserta dan pembicara lain. (bch)

 

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]