|
Ayo, Bikin Buddharupang
Paling Tinggi
BuddhistOnline.com - Mirip dengan dunia
mode dan bisnis properti, nampaknya 'dunia' pembangunan
vihara juga mengenal tren. Lihat saja, hingga tahun
2000 kemarin, tren yang berkembang di antara para 'pengembang'
vihara adalah vihara dengan lahan yang megah dan luas.
Bahkan beberapa diantaranya super luas sehingga kalau
ada yang mau mengukurnya sendirian mungkin butuh waktu
sehari. Sejalan dengan pergantian tahun, sepertinya
tren itu mulai tergeser. Ada tren baru yang mulai menggeliat
di awal tahun 2001 ini. Apakah itu? Vihara dengan Buddharupang
atau patung Sang Buddha yang lebih tinggi dan model
atau gaya yang lain dari biasanya.
Bendera start sudah dikibarkan dari Surabaya.
Adalah Vihãra Dhamma Jaya, Surabaya yang memulainya
dengan membangun Buddharupang setinggi 5,9 meter.
Bandingkan dengan patung Sang Buddha di kebanyakan vihara
di Indonesia yang rata-rata tingginya tidak lebih dari
dua meter. Hal lain yang tidak kalah uniknya dari patung
berberat sekitar 4 ton itu adalah model Sang Buddha
berdiri yang sering disebut Buddha Mandala atau Buddhamonthon.
Dengan spesifikasi seperti itu, membuat Buddharupang
milik vihãra yang berlokasi di bagian Barat kota
Surabaya tersebut menjadi paling tinggi dan unik di
Indonesia. Setidaknya jika dibandingkan dengan sesama
vihara mazhab Theravãda untuk saat ini.
"Bentuk
itu adalah unik, belum ada duanya di Indonesia, dalam
arti, yang dipergunakan di Dhammasala dengan ukuran
yang sedemikian besar," kata Y.M. Uttamo Thera,
Kepala Vihãra Dhamma Jaya, Surabaya.
Peresmian penggunaannya sendiri telah dilakukan pada
21 Januari 2001 lalu yang ditandai dengan pemberkahan
rupang untuk pertama kalinya (Buddhabisekha)
oleh Bhikkhu Sangha. Sebagai upacara tambahan, dilakukan
pembukaan selubung kain yang menutupi Buddharupang.
Saat itu, Bhikkhu Sangha yang hadir berjumlah 6 orang
Bhikkhu. Selain Y.M. Uttamo Thera, hadir pula Y.M. Dhammavijayo
Mahathera, dan Y.M. Thitaketuko Thera.
Menurut informasi yang diperoleh BuddhistOnline.com,
pembuatan patung tersebut menghabiskan biaya tidak kurang
dari 100 juta rupiah. Itu belum ditambah dengan biaya
pengangkutan via laut ke Surabaya. Pembuatannya dikerjakan
di Bangkok, Thailand dengan menghabiskan waktu sekitar
3-4 bulan.
Sementara vihãra tempat patung itu berada, hingga
kini masih dalam tahap penyelesaian. Saat ini, proses
pembangunan sudah mencapai sekitar 60%. Meski demikian,
jalannya pembangunan bakal terus dikebut siang malam
karena "Direncanakan, paling lambat pada Magha
Puja tahun 2002 nanti, semuanya sudah selesai dan sudah
bisa diresmikan," kata Bhante Uttamo.
Dalam Dhammadesananya di hadapan sekitar 600 umat yang
hadir pada siang hari itu, Bhante Uttamo mengingatkan
bahwa lebih sulit dan lebih penting mempertahankan daripada
mencari atau membangun patung dengan besar seperti itu.
Menurut beliau, setidaknya ada empat hal penting yang
harus dimiliki oleh umat agar dapat mempertahankan sesuatu
yang sudah diperjuangkan dengan susah payah. "Punyailah
rasa senang, semangat, perhatian, dan selalu rajin mengevaluasi
hasil kerja," tutur Upa Sanghanãyaka 2000-2003
lebih lanjut.
Pesan yang disampaikan oleh Bhante Uttamo itu penting
untuk diingat-ingat atau malah mungkin ditulis besar-besar
di buku agenda, terutama buat mereka yang sudah punya
rencana proyek serupa, agar tidak mengundang celaan
di belakang hari. Karena nampaknya tren membangun patung
super besar seperti itu bakal ramai dan seru deh.
Dari Jawa Tengah, misalnya, diperoleh informasi bahwa
rencana renovasi sebuah vihãra di ibukota provinsi
itu menyertakan juga pembangunan Buddharupang model
Buddha Mandala dengan ukuran super raksasa. Tingginya
saja 35 meter. Hayo, siapa nih yang mau menandingi?
(bch) FOTO: BEN-CH
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|