|
Ketika Vihara di
Banjarmasin Benah-benah
BuddhistOnline.com - Dalam urusan membangun
dan mempermegah vihãra, semangat umat Buddha
Banjarmasin tidak kalah dengan saudara-saudara mereka
dari daerah lain. Salah satu buktinya adalah usaha mereka
dalam mempermegah Vihara Dhammasoka, Banjarmasin yang
dikepalai oleh Y.M. Saddhaviro Thera.
Dalam waktu tidak terlalu lama sejak pengerjaan renovasi
awal, hasilnya sudah dapat terlihat. Pada 25 Februari
2001 lalu telah dilakukan Peresmian Tahap I dan Peletakan
Batu Pertama Tahap II yang dihadiri oleh Y.M. Sanghanayaka
STI Dhammasubho Thera dan Direktur Agama Buddha Cornelis
Wowor, MA. Selain Sanghanayaka, hadir pula 22 orang
Bhikkhu Sangha. Beberapa diantaranya adalah Y.M. Sukhemo
Mahathera, Y.M. Subalaratano Mahathera, Y.M. Uttamo
Thera, Y.M. Jotidhammo Thera, Y.M. Jagaro Thera, Y.M.
Saddhaviro Thera, dan Y.M. Subhapanno Thera.
Acara baru dapat dimulai pada pukul 09.00 WITA (terlambat
satu jam dari jadual semula jam 08.00 WITA) karena hujan
yang terus mengguyur sejak malam sebelumnya. Karena
hujan pula, jumlah umat yang hadir kira-kira hanya separuh
dari yang diperkirakan sebelumnya. Yaitu, sekitar 300
orang. Namun, mereka tidak hanya berasal dari Banjarmasin
dan sekitarnya saja. Ada juga yang berasal dari Lampung,
Jakarta, Tangerang, Bandung, Surabaya, Makassar, Palu,
dan Manado.
Adapun yang diresmikan pada hari itu adalah Gedung
Kuti yang terdiri dari empat lantai. Meskipun namanya
Gedung Kuti, tetapi hanya lantai IV saja yang digunakan
sebagai kuti atau tempat istirahat para Bhikkhu. Sedangkan
lantai I hingga III, masing-masing dimanfaatkan sebagai
ruang serbaguna (kafe dan parkir sepeda motor), kantor
dan klinik, dan kamar tamu. Sementara ini lantai III
masih dijadikan Dhammasala sambil menunggu pembangunan
Gedung Dhammasala yang peletakan batu pertamanya dilakukan
pada hari itu juga.
Dalam sambutannya, Sanghanayaka STI mengingatkan bahwa
agar umat Buddha tidak melupakan perjalanan sejarah.
"Kita hendaknya mengenakan JAS MERAH. Dalam arti,
jangan melupakan sejarah. Menurut sejarah, ternyata
di Kalimantan Selatan pernah berdiri sebuah kerajaan
Buddhis besar yang bernama Kerajaan Amuntai. Oleh karena
itu pendirian Vihãra Dhammasoka harus dapat terwujud
dengan baik di atas tanah bekas kerajaan Amuntai,"
tutur Sanghanayaka.
Dalam kegiatan pada siang hari itu juga diadakan acara
lelang. Benda-benda yang ditawarkan adalah lima buah
batu marmer berbentuk bulat dengan lima macam warna
dan sebuah Buddharupang. Mereka yang memenangkan lelang
berhak meletakkan benda-benda tersebut di Dhammasala
setelah selesai dibangun. Pelelanganpun berlangsung
cukup meriah. Dari acara lelang tersebut terkumpul dana
sekitar 500 juta. Jumlah yang cukup besar. Adanya acara-acara
seperti itu memang dapat membuat renovasi besar-besaran
itu bakal lebih cepat selesai. Ditunggu ya undangan
'final'nya! (Laporan: Y.M. Utamo Thera & Ir. Shelly Hartono)
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|