|
Afganistan Tega
Hancurkan Patung Kuno Buddha
BuddhistOnline.com - Rupanya Pemerintah
Afganistan bersikeras pada pendiriannya untuk tetap
melenyapkan dua patung kuno Sang Buddha dengan ukuran
besar yang berada di wilayahnya meski ditentang berbagai
pihak termasuk PBB. Seperti diberitakan oleh VOA
News, pihak Afganistan melanjutkan tindakan
penghancuran kedua patung yang terletak di bagian tengah
Propinsi Bamiyan (144 km dari ibukota Kabul) pada Kamis,
8 Maret 2001 setelah liburan hari raya mereka. Dengan
menggunakan tank-tank, senjata-senjata artileri, dan
dinamit, penghancuran dimulai dari bagian atas patung-patung
berukuran raksasa itu.
Serangkaian
dengan tindakan yang diprakarsai oleh gerakan Islam
garis keras Taliban yang menguasai 95% wilayah Afganistan
tersebut, ratusan patung-patung Sang Buddha lainnya
yang berukuran lebih kecil yang terdapat dalam museum
nasional negara itu ikut dihancurkan. Informasi lebih
detil mengenai tindakan tak bertoleransi itu tidak dapat
diperoleh karena tidak satupun wartawan diperbolehkan
meliput jalannya penghancuran tersebut.
Kedua patung Sang Buddha yang terukir pada sebuah sisi
gunung tersebut telah berdiri sejak lebih dari 1500
tahun lalu sebelum Islam menjadi agama yang dominan
di negara tersebut. Patung yang tertinggi berukuran
lebih dari 50 meter sedangkan satunya memiliki tinggi
sekitar 38 meter.
Pemerintah Afganistan telah mengabaikan sejumlah kecaman,
protes, dan himbauan dari berbagai pihak sejak tersiar
kabar akan adanya tindakan peleburan kedua patung sangat
kuno itu. Bahkan tawaran dari India, Iran dan Museum
Metropolitan, New York untuk memindahkan patung dan
mengalihkan tanggung jawab perawatannya ditolak mentah-mentah
oleh Menteri Luar Negeri Afganistan, Wakil Ahmad Mutawakil.
Berita terakhir yang diterbitkan oleh VOA
News kemarin malam (9/3), menyebutkan bahwa
Pakistan telah mengirim delegasi tingkat tingginya ke Afganistan untuk bertemu dengan Pemimpin Taliban, Mulla Omar
dalam usaha menghentikan aksi penghancuran itu. Mesir, salah satu pemimpin diplomatik dalam dunia Arab dan Islam, diberitakan juga akan mengirim delegasi penyelamatan.
Alasan pihak Taliban menghancurkan kedua patung tersebut karena
sisa-sisa kejayaan Agama Buddha di daerah perang itu
dianggap sebagai "un-Islamic Idols"
yang harus dilenyapkan. Selain itu ada alasan lain yang terbilang sangat menggelikan dan kekanak-kanakan. Juru bicara
Taliban untuk Amerika Serikat, Sayed Rahmatullah Hashmi,
mengatakan kepada BBC
bahwa patung-patung itu dihancurkan sebagai balas dendam
dari peruntuhan masjid kuno di Ayodhya, India oleh aktivis
Hindu pada beberapa waktu lalu. Lho, apa hubungannya?
TRAGEDI KEMANUSIAAN
Selain negara-negara Buddhis seperti Thailand, Srilanka,
Nepal, dan Jepang, negara-negara seperti Italia, Pakistan,
Amerika Serikat dan bahkan badan dunia PBB juga turut
mengecam aksi tersebut. Pihak Jepang sempat mengancam
untuk menghentikan bantuan yang diberikan kepada Afganistan
selama ini dalam posisinya sebagai penyumbang terbesar.
Sekretaris Negara Amerika Serikat, Colin Powell menyebut
peristiwa itu sebagai, "Kejahatan terhadap kemanusiaan.
It's horrible, it's a tragedy."
Menteri
Luar Negeri India Jaswant Singh menyebut tindakan penghancuran
itu sebagai "kemunduran ke dalam kekejaman abad
pertengahan" dan sebuah "pelanggaran keramat
terhadap umat manusia."
"Seluruh duta besar dari negara-negara Islam,
baik dari Afrika, Asia, maupun Arab menyatakan mereka
semua sepakat bahwa tindakan dan keputusan itu benar-benar
bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam," kata
Mounir Bouchen, Wakil Direktur UNESCO.
Memang kejadian itu sangat menyedihkan, tidak hanya
bagi umat Buddha seluruh dunia saja. Sebab tindakan
perobohan patung-patung bersejarah itu merupakan pelanggaran
terhadap perlindungan benda-benda bersejarah dan kebudayaan
kuno yang telah menjadi aset dunia. Seperti kata Duta
Besar Italia untuk Pakistan, Angelo Gabriele de Ceglie,
"Itu adalah kehilangan yang sangat besar, tragedi
bagi rakyat Afganistan dan dunia."
(bch) Sumber: VOA
News, BBC,
CNN
FOTO-FOTO: dok. VOANEWS
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|