BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 
[]

Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?


   
[an error occurred while processing this directive]

 

Dicari: Hubungan Antara Tujuh Posisi Sang Buddha dan Hari Lahir Umat

 

BuddhistOnline.com - Belakangan ini, kalangan pengurus vihãra di Indonesia seakan berlomba-lomba untuk menampilkan hal yang aneh-aneh di hadapan para umat Buddha. Dalam 'adu aneh' itu, ada yang mewujudkannya dalam bentuk acara perayaan, ada pula yang mengusungnya dalam bentuk objek pemujaan. Salah satunya adalah seperti yang digelar oleh pengurus Vihãra Eka Dharma Loka, Surabaya pada 15 Juli 2001 dengan meresmikan "Bentuk-bentuk Tujuh Posisi Sang Buddha" (seperti yang tercantum di undangan).

Peresmian dilakukan oleh 6 orang Bhikkhu Sangha Theravãda Indonesia (STI) yang dipimpin oleh Y.M. Dhammavijayo Mahathera. Dimulai pukul 11.30 WIB, acara tersebut diikuti sekitar 100 orang umat Buddha. Peresmian ditandai dengan penyiraman air ketujuh patung itu oleh Bhikkhu Sangha diikuti para umat.

Menurut keterangan yang disampaikan oleh pihak pengurus, keberadaan ketujuh Buddha rupang dalam berbagai posisi itu merupakan yang pertama Indonesia. Ini sudah jadi satu 'keanehan' tersendiri. Namun, ada lagi hal yang lebih aneh. Yaitu, dikaitkannya ketujuh posisi Buddha rupang itu dengan hari lahir umat. Di bawah masing-masing Buddha rupang tersebut ada kotak dana yang tertulis nama-nama hari, mulai dari Minggu sampai Sabtu. "Umat cukup memuja pada posisi patung Sang Buddha yang sesuai dengan hari lahirnya. Tapi kalau ada yang mau memuja semuanya tidak apa-apa. Itu hanya sebagai variasinya saja kok," kata Eko Kartio, Ketua Dayaka Sabha Vihãra Eka Dharma Loka, Surabaya.

"Idenya dari saya. Saya melihat di negara-negara Buddhis ada kebiasaan di mana umat Buddha melakukan puja bhakti kepada tujuh posisi patung Sang Buddha sesuai hari lahirnya masing-masing. Jadi, saya ingin menirunya, " ujar Ir. Shelly Hartono, Ketua Yayasan Eka Dharma Loka, Surabaya.

Apakah pengkaitan seperti itu bukan sesuatu yang salah kaprah? "Mengenai hal itu, saya menunggu penjelasan atau komentar dari Sangha Theravãda Indonesia. Tetapi sebenarnya tidak ada maksud apa-apa. Ketika diperlihatkan kepada pengurus lain, semua setuju," jawab Pandita Shelly yang membeli ketujuh patung itu di Bangkok seharga 685 Bath.

Klik! Klik! Klik!
Ternyata Hasil Pelelangan yang Diadakan Tidak Sebesar yang Diharapkan.
Peresmian Dilakukan oleh 6 Orang Bhikkhu Sangha.
Memuja Posisi yang Sesuai Hari Lahir Umat?

 

Memperhatikan penjelasan yang diberikan mengenai kaitannya antara tujuh posisi itu dengan tujuh hari lahir, terkesan kalau peresmian itu dilakukan terburu-buru sehingga tidak menyiapkan referensi yang baku atau lebih jelas. Lihat saja, penjelasan mengenai arti masing-masing posisi Sang Buddha itu banyak ketidaksamaannya baik yang disampaikan oleh Bhante Dhammavijayo (ketika peresmian) maupun Shelly (sebelum peresmian) kepada umat yang hadir. Malah cenderung bertentangan.

Sikap terburu-buru itu diakui oleh Eko Kartio. "Kami memang ingin menjadikannya yang pertama di Indonesia. Jadi, kita 'mengejar' soal (vihãra) mana yang duluan (meresmikan)," ungkapnya.

Bagaimana tanggapan STI? "Itu hanya merupakan bagian dari kebudayaan Thailand yang kurang jelas referensinya, bukan Theravada. Sehingga kurang sesuai untuk diterapkan di sini," kata Y.M. Uttamo Thera, Upa Sanghanãyaka STI, via telepon.

Namun, "Sikap resmi STI mengenai hal itu dan yang sejenisnya akan dibicarakan dalam rapat STI mendatang," lanjut Bhante Uttamo yang menolak untuk ikut dalam peresmian itu ketika diundang.

Hal yang senada juga diungkapkan oleh Y.M. Sukhemo Mahathera dalam pembicaraan panjang dengan Chandadhammo Benny Chandra dari BuddhistOnline.com melalui SLJJ. "Mereka memang sudah tanya saya. Saya bilang belum tahu referensinya. Saya tidak mengerti soal itu. Pemujaan seperti itu banyak terdapat di Thailand. Tetapi masih lebih mending daripada yang dipuja itu bukan patung Sang Buddha. Karena kalau hal itu dipersoalkan, mestinya hal lainnya harus persoalkan juga. Seperti adanya patung Kwan Im, Kwan Kong, dan sebagainya di vihãra ," tutur Bhante Sukhemo panjang lebar.

Sementara jika dikaitkan dengan urusan 'perklenikan', "Terserah umatnya. Toh lelang-lelang relik juga bisa termasuk klenik juga. Termasuk juga acara lelang patung Sang Buddha. Masak Sang Buddha dilelang?," ujar Ketua Dewan kehormatan STI itu.

Menurut Bhante Sukhemo, seharusnya patung-patung dengan tinggi 30 cm itu ditaruh begitu saja agar tidak mengundang perhatian seperti sekarang. "Kalau sekedar pajangan, boleh saja. Dengan diresmikan seperti itu malah akan mengundang pertanyaan umat. Padahal referensinya belum jelas," katanya. Nah lho! (bch) FOTO-FOTO: BEN-CH

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]