|
Dicari: Hubungan
Antara Tujuh Posisi Sang Buddha dan Hari Lahir Umat
BuddhistOnline.com - Belakangan ini,
kalangan pengurus vihãra di Indonesia seakan
berlomba-lomba untuk menampilkan hal yang aneh-aneh
di hadapan para umat Buddha. Dalam 'adu aneh' itu, ada
yang mewujudkannya dalam bentuk acara perayaan, ada
pula yang mengusungnya dalam bentuk objek pemujaan.
Salah satunya adalah seperti yang digelar oleh pengurus
Vihãra Eka Dharma Loka, Surabaya pada 15 Juli
2001 dengan meresmikan "Bentuk-bentuk Tujuh Posisi
Sang Buddha" (seperti yang tercantum di undangan).
Peresmian dilakukan oleh 6 orang Bhikkhu Sangha Theravãda
Indonesia (STI) yang dipimpin oleh Y.M. Dhammavijayo
Mahathera. Dimulai pukul 11.30 WIB, acara tersebut diikuti
sekitar 100 orang umat Buddha. Peresmian ditandai dengan
penyiraman air ketujuh patung itu oleh Bhikkhu Sangha
diikuti para umat.
Menurut keterangan yang disampaikan oleh pihak pengurus,
keberadaan ketujuh Buddha rupang dalam berbagai posisi
itu merupakan yang pertama Indonesia. Ini sudah jadi
satu 'keanehan' tersendiri. Namun, ada lagi hal yang
lebih aneh. Yaitu, dikaitkannya ketujuh posisi Buddha
rupang itu dengan hari lahir umat. Di bawah masing-masing
Buddha rupang tersebut ada kotak dana yang tertulis
nama-nama hari, mulai dari Minggu sampai Sabtu. "Umat
cukup memuja pada posisi patung Sang Buddha yang sesuai
dengan hari lahirnya. Tapi kalau ada yang mau memuja
semuanya tidak apa-apa. Itu hanya sebagai variasinya
saja kok," kata Eko Kartio, Ketua Dayaka Sabha
Vihãra Eka Dharma Loka, Surabaya.
"Idenya dari saya. Saya melihat di negara-negara
Buddhis ada kebiasaan di mana umat Buddha melakukan
puja bhakti kepada tujuh posisi patung Sang Buddha sesuai
hari lahirnya masing-masing. Jadi, saya ingin menirunya,
" ujar Ir. Shelly Hartono, Ketua Yayasan Eka Dharma
Loka, Surabaya.
Apakah pengkaitan seperti itu bukan sesuatu yang salah
kaprah? "Mengenai hal itu, saya menunggu penjelasan
atau komentar dari Sangha Theravãda Indonesia.
Tetapi sebenarnya tidak ada maksud apa-apa. Ketika diperlihatkan
kepada pengurus lain, semua setuju," jawab Pandita
Shelly yang membeli ketujuh patung itu di Bangkok seharga
685 Bath.
 |
 |
 |
|
Ternyata Hasil Pelelangan yang
Diadakan Tidak Sebesar yang Diharapkan.
|
Peresmian Dilakukan oleh 6 Orang
Bhikkhu Sangha.
|
Memuja Posisi yang Sesuai Hari
Lahir Umat?
|
Memperhatikan penjelasan yang diberikan mengenai kaitannya
antara tujuh posisi itu dengan tujuh hari lahir, terkesan
kalau peresmian itu dilakukan terburu-buru sehingga
tidak menyiapkan referensi yang baku atau lebih jelas.
Lihat saja, penjelasan mengenai arti masing-masing posisi
Sang Buddha itu banyak ketidaksamaannya baik yang disampaikan
oleh Bhante Dhammavijayo (ketika peresmian) maupun Shelly
(sebelum peresmian) kepada umat yang hadir. Malah cenderung
bertentangan.
Sikap terburu-buru itu diakui oleh Eko Kartio. "Kami
memang ingin menjadikannya yang pertama di Indonesia.
Jadi, kita 'mengejar' soal (vihãra) mana yang
duluan (meresmikan)," ungkapnya.
Bagaimana tanggapan STI? "Itu hanya merupakan
bagian dari kebudayaan Thailand yang kurang jelas referensinya,
bukan Theravada. Sehingga kurang sesuai untuk diterapkan
di sini," kata Y.M. Uttamo Thera, Upa Sanghanãyaka
STI, via telepon.
Namun, "Sikap resmi STI mengenai hal itu dan yang
sejenisnya akan dibicarakan dalam rapat STI mendatang,"
lanjut Bhante Uttamo yang menolak untuk ikut dalam peresmian
itu ketika diundang.
Hal yang senada juga diungkapkan oleh Y.M. Sukhemo
Mahathera dalam pembicaraan panjang dengan Chandadhammo
Benny Chandra dari BuddhistOnline.com
melalui SLJJ. "Mereka memang sudah tanya saya.
Saya bilang belum tahu referensinya. Saya tidak mengerti
soal itu. Pemujaan seperti itu banyak terdapat di Thailand.
Tetapi masih lebih mending daripada yang dipuja itu
bukan patung Sang Buddha. Karena kalau hal itu dipersoalkan,
mestinya hal lainnya harus persoalkan juga. Seperti
adanya patung Kwan Im, Kwan Kong, dan sebagainya di
vihãra ," tutur Bhante Sukhemo panjang lebar.
Sementara jika dikaitkan dengan urusan 'perklenikan',
"Terserah umatnya. Toh lelang-lelang relik juga
bisa termasuk klenik juga. Termasuk juga acara lelang
patung Sang Buddha. Masak Sang Buddha dilelang?,"
ujar Ketua Dewan kehormatan STI itu.
Menurut Bhante Sukhemo, seharusnya patung-patung dengan
tinggi 30 cm itu ditaruh begitu saja agar tidak mengundang
perhatian seperti sekarang. "Kalau sekedar pajangan,
boleh saja. Dengan diresmikan seperti itu malah akan
mengundang pertanyaan umat. Padahal referensinya belum
jelas," katanya. Nah lho! (bch) FOTO-FOTO:
BEN-CH
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|