|
Geliat Awal Kebangkitan
Vihara Buddhagaya
BuddhistOnline.com - Setelah sempat
terlantar lebih dari 8 tahun, Vihara Buddhagaya - Watugong,
Semarang mencoba bangkit kembali dengan melakukan berbagai
renovasi dan pembangunan kembali. Dimulai dari tahun
2001, perenovasian itu sudah mulai menunjukkan hasil
awalnya yang ditandai dengan diresmikannya Gedung Dhammasala
oleh Gubernur Jawa Tengah H. Mardiyanto serta peletakan
batu pertama pembangunan Patung Buddha setinggi 36 m
oleh Menteri Agama Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar,
MA pada 3 November 2002 lalu.
Gedung Dhammasala yang berdiri di atas lokasi Dhammasala
yang lama itu terdiri dari dua lantai setinggi 22 meter
dengan ukuran 27 meter kali 27 meter. Lantai I untuk
kegiatan pertemuan dan lantai II yang memiliki tinggi
sekitar 15 meter digunakan untuk upacara keagamaan.
Di lantai II terdapat patung Sang Buddha duduku yang
mirip dengan yang ada di Candi Mendut. Meskipun luasnya
sudah jauh lebih besar dari Dhammasala yang dulu, namun
tetap saja masih tersedia banyak lahan kosong mengingat
total luas area yang tersedia sebesar 2,5 hektar. Asal
tahu saja, untuk pembangunan Gedung Dhammasala dan sarana
penunjangnya yang dimulai sejak Februari 2001 tersebut
diperlukan dana sekitar 3 milyar rupiah yang membengkak
dari anggaran awal karena harga barang-barang naik.
Apalagi jadual peresmiannya sempat tertunda beberapa
bulan.
"Mestinya direncanakan peresmian pada tanggal
11 Februari 2002 (lalu), namun tertunda karena memang
volume pekerjaan yang sangat besar yang tidak memungkinkan
waktu setahun untuk menyelesaikannya," kata Y.M.
Uttamo Thera, Ketua Umum Panitia yang dihubungi BuddhistOnline.com
usai acara.
 |
 |
 |
| Bangunan Dhammasala baru tampak samping. |
"Untuk apa membangun vihara yang megah
tetapi kita tidak melaksanakan Dhamma?" |
Dihadiri tidak kurang dari 2000 orang umat
Buddha berbagai daerah. |
|
Dengan mengambil tempat di lantai I, acara peresmian
pada siang itu dimulai sekitar pukul 12.30 WIB. Seperti
biasa, rangkaian acara diawali dengan sambutan dan laporan
yang masing-masing disampaikan oleh Wirjo Lukito, SH,
CN (ketua panitia kehormatan), Sanghanayaka Sangha Theravada
Indonesia (STI) Y.M. Dhammasubho Thera, Gubernur Jateng,
dan Menteri Agama. Menteri Pariwisata yang dijadualkan
hadir tidak nampak di antara para undangan VIP.
 |
 |
 |
| Rombongan Menteri Agama dan Gubernur Jatim
meninjau lantai utama Gedung Dhammasala. |
Prosesi mengelilingi komplek vihara diikuti
oleh ratusan umat dan para Bhikkhu. |
Peserta prosesi sedang melakukan puja bhakti
di Dhammasala. |
|
Antusias umat Buddha terhadap acara ini cukup besar.
Mereka sudah berdatangan ke lokasi vihara beberapa jam
sebelum acara berlangsung. Jumlahnya pun terlihat mencapai
lebih dari 2000 orang dan mereka tidak hanya berasal
dari Semarang dan sekitarnya saja. Ada yang datang dari
Jakarta, Lasem, Surabaya, Malang, Makassar, Gorontalo,
dan beberapa daerah lainnya. Sementara bhikkhu anggota
STI yang hadir saat itu berjumlah 11 orang. Selain Sanghanayaka,
beberapa bhikkhu lainnya yang juga hadir antara lain
Y.M. Sri Paññavaro Mahathera, Y.M. Uttamo
Thera, Y.M. Jothidhammo Thera, Y.M. Subhapañño
Thera, Y.M. Saddhaviro Thera, Y.M. Sudhammacãro
Thera, dan Y.M. Bhikkhu Cattamano.
 |
 |
| Para Bhikkhu STI bergantian meletakkan batu
pertama pembangunan patung Buddha raksasa. |
Ini dia model miniatur patung Buddha raksasa
yang direncanakan setinggi 36 meter. |
|
Sayangnya kenyamanan dalam mengikuti acara itu sempat
agak terganggu akibat dari perubahan susunan acara yang
sudah disiapkan sebelumnya. Seperti misalnya, penandatanganan
prasasti oleh Menteri Agama, dan Gubernur Jateng yang
sedianya dilakukan di Dhammasala dipindah ke lantai
I. Waktunya juga ikut dimajukan. Yang paling terasa
membingungkan ketika acara prosesi dan peletakan batu
pertama Patung Buddha berjalan sendiri-sendiri pada
waktu hampir bersamaan. Padahal kalau sesuai jadual
seharusnya diawali dulu dengan prosesi, kemudian penandatanganan
prasasti, dan baru dilanjutkan dengan peletakan batu
pertama. Akibatnya konsentrasi umat yang hadir menjadi
terpecah dan bingung, mau mengikuti prosesi sampai tuntas
atau berada di sekitar lokasi bakal pembangunan patung
raksasa bernilai sekitar 16 milyar itu untuk menyaksikan
peletakan bautu pertama. Akhirnya para Bhikkhu yang
tadi mengikuti prosesi baru melakukan pembacaan paritta
sekaligus peletakan batu untuk bakal patung setinggi
36 meter tersebut setelah rombongan pejabat meninggalkan
lokasi. Konon, perubahan acara itu terjadi karena permintaan para pejabat yang ingin segera meninggalkan lokasi.
 |
 |
| Merayakan Kathina pertama di gedung baru. |
Para umat bersuka cita merayakan Kathina
di Dhammasala yang baru. |
|
Meskipun rangkaian acara peresmian sudah selesai, namun
kegiatan di Dhammasala yang baru itu tidak berhenti
sampai di situ. Acara diteruskan dengan perayaan Kathina
2546. Dalam dhammadesananya, Y.M Saddhaviro Thera menekankan
agar perayaan Kathina dapat dijadikan sebagai ajang
introspeksi diri baik bagi umat Buddha maupun para bhikkhu.
"Untuk apa kita membangun vihara yang megah tetapi
kita tidak melaksanakan Dhamma? Untuk apa hidup penuh
dengan kekayaan tetapi tidak ada warna hidup yang baik.
Maka dari itu, introspeksilah diri kita seberapa jauh
pelaksanaan Dhamma kita. Gunakan kesempatan dalam perayaan
Kathina ini untuk membuat warna kehidupan yang baik,"
tutur Bhante Saddhaviro di depan ratusan umat yang hadir.
Iya ya, untuk apa membangun vihara yang megah tetapi
perhatian terhadap masalah pendidikan Agama Buddha masih
kurang? Ups, kalimat terakhir ini bukan lanjutan kata-kata
dari Bhante Saddhaviro lho. Jangan salah. (bch)
FOTO: BEN-CH
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|