|
Setialah pada Cinta (dan Topik Seminar)
BuddhistOnline.com - Saat ini, menemukan
seminar bertema iptek atau budaya yang diselenggarakan
oleh kalangan umat Buddha ibarat pungguk merindukan
bulan alias harus bersabar lebih lama dan mesti berpuas
hati mengikuti seminar dengan tema yang itu-itu saja.
Apa boleh buat. Karena, nampaknya, mereka yang punya
kemampuan menggelar acara-acara semacam itu masih gemar
mengusung hal-hal macam feng shui dan seks.
Lihat saja. Salah satu contohnya adalah sebuah seminar
yang digelar pertengahan Februari 2003 lalu di sebuah
hotel berbintang di Jakarta. Dengan mengandalkan Andrie
Wongso, Y.M. Uttamo Thera, dan Dr. Boyke Dian Nugraha
sebagai pembicara, seminar itu memasang judul "Love,
Sex, & Harmony". Nah, ada 'bau' seksnya lagi
kan?
Meskipun tampil dengan topik yang tergolong itu-itu
saja, namun acara yang digelar dari jam 15.00 hingga
22.00 itu berlangsung cukup sukses dan meriah. Tidak
kurang dari 600 orang peserta yang memadati Cengkeh
Ballroom milik Hotel Menara Peninsula, tempat acara
itu berlangsung. Bisa jadi penyebabnya, selain ditunjang
faktor para pembicaranya yang terkenal, juga karena
tema semacam itu masih diminati dan pantas untuk diseminarkan,
setidaknya hingga saat ini.
"Banyak orang yang hanya membicarakan tentang
seks dan cinta tetapi mereka tidak memahami secara utuh
apakah definisi maupun pengertiannya. Selain itu, topik
ini sesuai diseminarkan karena seluruh dunia sedang
dalam masa perayaan Valentine Day," kata Bhante
Uttamo, panggilan Y.M. Uttamo Thera, mengenai topik
tersebut.
Acaranya sendiri dimulai dengan presentasi dari Andrie
Wongso. Meskipun cukup mampu menghangatkan suasana menjadi
segar, sekilas kehadirannya sebagai pembicara dalam
seminar kali ini terkesan yang agak aneh. Kenapa? Karena
selama sekitar 45 menit, sub topik yang dibicarakan
oleh motivator handal itu adalah mengenai "Berani
Membina Hubungan" yang sebagian besar isinya lebih
membahas soal kriteria pasangan yang diinginkan, kelebihan
yang dimiliki sebagai modal percaya diri, dan mengetahui
hambatan dalam memulai membina hubungan dengan lawan
jenis. Kalau dihubungkan langsung dengan topik utama,
nampaknya kurang mewakili. Sudah begini, apakah "Love,
Sex, & Harmony" itu harus dibaca sepotong-sepotong
atau mungkin memang panitia sengaja untuk sedikit tidak
setia pada topik?
Padahal soal kesetiaan merupakan hal utama yang ditekankan
oleh Bhante Uttamo dalam paparannya yang berjudul "Cinta
Inspirasi Kehidupan". "Sesungguhnya, modal
utama untuk memiliki kehidupan suami istri yang harmonis
adalah kesetiaan," kata bhikkhu lulusan IKIP Sanata
Dharma Yogyakarta itu, "Tanpa kesetiaan, rumah
tangga seakan dibangun di atas pondasi yang goyah dan
mudah runtuh ketika diterpa kesulitan hidup."
Namun, "Kesetiaan ternyata kadang sulit dipertahankan,
karena berkaitan dengan watak dasar manusia yang penuh
dengan ketamakan. Salah satunya ditandainya dengan kehadiran
pihak ketiga yang dapat mengakibatkan terjadinya perselingkuhan
dalam perkawinan," ujar Bhante Uttamo mengingatkan.
Agar dapat mengatasi timbulnya dorongan berselingkuh,
ia menyarankan, "Hendaknya melakukan perenungan
terhadap tujuan perkawinan itu sendiri. Apakah hanya
untuk mencari pasangan hidup atau teman hidup? Apakah
sudah menepati janji perkawinan yang diucapkan di depan
pemuka agama yang kita yakini? Karena kalau melanggar,
sesungguhnya kita telah membohongi diri kita sendiri."
Menurutnya, penyebab timbulnya masalah adalah karena,
"Biasanya orang mencari pasangan hanya untuk memuaskan
dan membahagiakan dirinya sendiri. Oleh karena itu,
Dhamma menjabarkan cinta sebagai pelaksanaan kewajiban
yang harus dipenuhi untuk menjaga kelanggengan cinta."
Sedangkan menyangkut seks, Bhante Uttamo mengatakan
bahwa, "Seks bukanlah satu-satunya ekspresi dan
kewajiban cinta, melainkan hanya salah satu kewajiban
yang bahkan tidak tercantum dalam Sigalovada Sutta."
Dalam kesempatan terpisah, ketika ditanya oleh BuddhistOnline.com,
pihak manakah yang pantas dimintai nasihat jika ada
umat Buddha yang mengalami masalah seputar rumah tangga,
apakah bhikkhu atau pandita? "Bisa kepada keduanya.
Karena sebenarnya konsultasi semacam ini membutuhkan
saling percaya pada kedua belah fihak, bukan karena
jabatan atau kedudukannya dalam masyarakat, "jawab
Bhante Uttamo, "Namun untuk sementara ini kebanyakan
para bhikkhu dan pandita cenderung pada otodidak, yaitu
belajar dari banyak buku yang membahas tentang masalah-masalah
semacam ini."
Berkaitan dengan konsultasi itu, maka setiap bhikkhu
dan pandita dianggap perlu mempunyai pengetahuan yang
baik soal kehidupan rumah tangga. "Khususnya para
pandita, agar mereka dapat membantu memecahkan permasalahan
yang timbul dalam rumah tangga para umat Buddha, "tambah
bhikkhu kelahiran Jogjakarta itu.
Sementara pada sesi terakhir setelah makan malam, Dr.
Boyke mengupas mengenai pengaruh hubungan seks dalam
terciptanya suatu keharmonisan rumah tangga. Sambil memaparkan
sejumlah kiat mempertahankan romantisme dan gairah seks
dalam rumah tangga, pengasuh rubrik konsultasi seks pada berbagai media itu berpendapat, "Bagaimanapun
juga hubungan seks merupakan wujud dari rasa kasih sayang
dan cinta kepada pasangan." No love no sex? Makanya, setia dong! (bch) FOTO-FOTO: DOK.
PANITIA.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|