|
Menanti
Saat Upajjhãya Baru Bersertifikat
Rabu,
18 Juni 2003
BuddhistOnline.com
- Jika berpatokan pada Keputusan Maha Sangha
Sabha (Pasamuan Agung) Tahun 2002 Sangha Theravada Indonesia
Nomor 03/PA/VII/2002, seharusnya sejak 1 Juli 2002 lalu,
Y.M. Sri Paññãvaro Mahãthera
dan Y.M. Sri Subalaratano Mahãthera sudah bisa
bertugas sebagai upajjhãya baru yang dapat memimpin
upasampada bhikkhu dalam lingkungan Sangha Theravada
Indonesia (STI). Yang berarti juga akhirnya Y.M. Sukhemo
Mahathera tidak sendirian lagi bertugas sebagai upajjhãya.
Namun, rupanya kenyataan yang ada tidaklah demikian.
Ketika dikonfirmasi mengenai adanya pengangkatan dua
upajjhãya baru itu, jawaban yang diberikan oleh Y.M.
Sukhemo Mahathera cukup mengejutkan. "(Pengangkatan
itu) Belum direalisasikan. Memang sudah disetujui, tetapi
belum ada realisasinya. Karena harus ikut latihannya
dulu. Realisasinya saya tidak tahu kapan," ujar
Bhante Sukhemo ketika dihubungi BuddhistOnline.com
via sambungan interlokal belum lama ini.
Pernyataan itu didukung oleh Y.M Jagaro Thera yang
ikut menetapkan keputusan pengangkatan upajjhãya itu
saat menjadi Ketua Pasamuan Agung 2002 di Cisarua, Bogor.
"Penetapan itu secara Dhamma Vinaya memang belum
sah, tetapi secara organisasi sudah. Prosedurnya belum
dijalani lebih lanjut. Saya akan coba menyinggung soal
itu dalam rapat nanti agar ada tindak lanjutnya,"
kata Bhante Jagaro sebelum berangkat ke Banjarmasin
untuk mengikuti Pasamuan Agung STI.
Seperti pernah dikatakan oleh Bhante Sukhemo dalam
wawancara beberapa waktu lalu (baca: Siapa
Takut Jadi Upajjhãya), salah satu syarat penting
untuk menjadi seorang upajjhãya adalah mengikuti
pendidikan secara formal sebagai upajjhãya di
Thailand di mana setelah dites dan lulus, pesertanya
akan memperoleh semacam sertifikat yang menerangkan
bahwa dia telah mengikuti pendidikan upajjhãya.
"Di Thailand, pendidikannya komplit, sementara
kita di sini belum ada pendidikan khusus untuk upajjhãya,"
jawab Bhante Sukhemo yang sudah lebih dari 12 tahun
memegang 'lisensi' uppajhãya, ketika ditanya mengenai
kemungkinan para upajjhãya baru tidak perlu pergi belajar
ke Thailand.
Bagaimana dengan kabar bahwa hubungan STI dengan Sangha
di Thailand sedang kurang harmonis? "Tidak ada
apa-apa soal hubungan dengan Sangha Thailand. Baik-baik
saja. Lihat saja, para bhikkhu Thai bebas berkunjung
ke vihara-vihara. Umatlah yang bikin gosip-gosip,"
bantahnya.
Sementara itu, Bhante Sukhemo kembali mengingatkan,
bahwa bagaimanapun seorang upajjhãya harus tergolong
mahir dalam penguasaan Bahasa Pali, karena hal itu memegang
peranan penting dalam pelaksanaan pentahbisan bhikkhu
baru. "Kalau dilakukan secara sembarangan, nantinya
bisa kacau balau. Apa yang harus diucapkan oleh seorang
upajjhãya berbeda-beda sesuai jumlah bhikkhu baru yang
akan ditahbiskan. Kalau tidak mengerti, 'kan susah.
Pentahbisannya bisa batal atau bhikkhu yang baru ditahbiskan
bisa dianggap cacat vinaya," kata bhikkhu yang
menjabat sebagai ketua bidang vinaya di STI itu.
Jadi, marilah kita menanti saat kedua upajjhãya baru
STI tadi bersertifikat. Semoga ada kabarnya dalam waktu
dekat ini. (bch).
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|