BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 
[]

Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?


   
Click Here!

 

Sadari Perbedaan dalam Perayaan Waisak di Garnisun

[30 Juni 2003]

BuddhistOnline.com - Petang itu, 12 Juni 2003, ada pemandangan yang tidak biasa di Gedung Garnisun TNI, Surabaya. Sejak sore hari, terlihat berdatangan para umat Buddha dari berbagai kota di Jawa Timur. Ada yang mengendarai kendaraan pribadi, ada pula beberapa rombongan yang menggunakan bus. Ada apa gerangan? Oh, ternyata mereka yang datang itu akan mengikuti perayaan Waisak Bersama 2547/2003 Umat Buddha, TNI-POLRI, dan Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Meskipun tergolong sangat jarang diadakan, namun antusias umat Buddha untuk menghadiri acara tersebut cukup besar. Hal ini bisa terlihat dari jumlah umat yang hadir pada malam itu mencapai sekitar 500 orang. Sejumlah pimpinan TNI dan pemerintahan kota Surabaya tampak hadir di deretan baris paling depan. Di deretan itu juga terlihat Direktur Urusan Agama Buddha Cornelis Wowor, M.A.

Yang menggembirakan, jumlah bhikkhu yang berkenan hadir dalam acara tersebut tergolong banyak. Yaitu, 10 orang bhikkhu, yang diantaranya terdapat Y.M. Uttamo Thera, Y.M. Jagaro Thera, Y.M. Khantidharo Thera, Y.M. Khantidharo Thera, dan Y.M. Cittaguto. Padahal semula terdengar kabar hanya dua bhikkhu yang bisa hadir. Perwakilan dari agama-agama lain turut hadir dalam acara itu.

Y.M Uttamo Thera
Bhikkhu yang hadir tergolong banyak. Sekitar 500 orang umat Buddha ikut merayakan Waisak Bersama 2547 Pembacaan Ayat-ayat Dhammapada.

Mungkin tidak ada yang mengira bahwa dalam mempersiapkan acara istimewa pada malam itu, panitia hanya punya waktu kurang dari sebulan. Karena bisa dibilang perencanaannya tergolong agak mendadak. "Untuk persiapan acara, kami hanya punya waktu tiga minggu saja," ungkap Pandita Widya Kusuma, Ketua Panitia Perayaan Waisak Bersama 2547/2003 umat Buddha, TNI-POLRI, dan Pegawai Negeri Sipil, dalam laporannya.

Sambil diselingi dengan penyampaian laporan dan sambutan dari berbagai pihak, rangkaian acara pada malam hari itu menampilkan, antara lain, pembacaan ayat-ayat Dhammapada, tari-tarian, nyanyian solo, dan vokal grup. Sebagai hiburan penutup, hadir pertunjukan sendra tari berbentuk monolog yang menggambarkan mengenai proses kelahiran kembali. Di akhir acara, panitia menyerahkan sumbangan hasil dana dari umat Buddha kepada sejumlah panti asuhan setempat.

Penampilan vokal grup dari salah satu vihara di Surabaya. Tari-tarian berbagai variasi turut menyemarakkan acara. Pertunjukan sendra tari monolog hadir dipenghujung acara.

Adapun penyampaian Pesan Waisak dilakukan oleh Y.M. Uttamo Thera. Di bagian awal, ia berharap, "Hendaknya kita mencoba menghayati makna yang terkandung dalam butir-butir Dhamma. Tidak hanya sekedar tahu merayakan acara saja," ujar Bhante Uttamo, demikian ia biasa disapa.

Pada bagian lain, Bhante Uttamo menyinggung soal krisis moral dan kekerasan yang terjadi di mana-mana dewasa ini. "Lingkungan memang sangat berpengaruh terhadap kemoralan sesorang, tetapi kalau mentalnya kuat tidak akan terpengaruh," katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa prinsip dasar dalam mengatasi semua persoalan itu terletak pada cara berpikir. "Mampukah kita melihat yang penting sebagai yang penting dan sebaliknya melihat yang tidak penting sebagai yang tidak penting? Sikap kitalah yang harus diperbaiki agar bisa dihormati. Dicubit sakit, janganlah mencubit. Memberikan kebahagiaan kepada orang lain, maka kebahagiaan juga akan kita dapatkan. Di samping itu, dengan menerima dan menyadari adanya perbedaan, kita bisa duduk rukun bersama-sama walaupun berbeda-beda. Menjadi bijaksana. Itulah makna Waisak," tutur Bhante Uttamo yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Vinaya Sangha Theravada Indonesia periode 2003-2006. (bch). FOTO-FOTO: BEN-CH

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]