|
Sadari
Perbedaan dalam Perayaan Waisak di Garnisun
[30
Juni 2003]
BuddhistOnline.com
- Petang itu, 12 Juni 2003, ada pemandangan yang
tidak biasa di Gedung Garnisun TNI, Surabaya. Sejak
sore hari, terlihat berdatangan para umat Buddha dari
berbagai kota di Jawa Timur. Ada yang mengendarai kendaraan
pribadi, ada pula beberapa rombongan yang menggunakan
bus. Ada apa gerangan? Oh, ternyata mereka yang datang
itu akan mengikuti perayaan Waisak Bersama 2547/2003
Umat Buddha, TNI-POLRI, dan Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Meskipun tergolong sangat jarang diadakan, namun antusias
umat Buddha untuk menghadiri acara tersebut cukup besar.
Hal ini bisa terlihat dari jumlah umat yang hadir pada
malam itu mencapai sekitar 500 orang. Sejumlah pimpinan
TNI dan pemerintahan kota Surabaya tampak hadir di deretan
baris paling depan. Di deretan itu juga terlihat Direktur
Urusan Agama Buddha Cornelis Wowor, M.A.
Yang menggembirakan, jumlah bhikkhu yang berkenan hadir
dalam acara tersebut tergolong banyak. Yaitu, 10 orang
bhikkhu, yang diantaranya terdapat Y.M. Uttamo Thera,
Y.M. Jagaro Thera, Y.M. Khantidharo Thera, Y.M. Khantidharo
Thera, dan Y.M. Cittaguto. Padahal semula terdengar
kabar hanya dua bhikkhu yang bisa hadir. Perwakilan
dari agama-agama lain turut hadir dalam acara itu.
 |
 |
 |
| Bhikkhu yang hadir tergolong
banyak. |
Sekitar 500 orang umat Buddha
ikut merayakan Waisak Bersama 2547 |
Pembacaan Ayat-ayat Dhammapada. |
|
Mungkin tidak ada yang mengira bahwa dalam mempersiapkan
acara istimewa pada malam itu, panitia hanya punya waktu
kurang dari sebulan. Karena bisa dibilang perencanaannya
tergolong agak mendadak. "Untuk persiapan acara,
kami hanya punya waktu tiga minggu saja," ungkap
Pandita Widya Kusuma, Ketua Panitia Perayaan Waisak
Bersama 2547/2003 umat Buddha, TNI-POLRI, dan Pegawai
Negeri Sipil, dalam laporannya.
Sambil diselingi dengan penyampaian laporan dan sambutan
dari berbagai pihak, rangkaian acara pada malam hari
itu menampilkan, antara lain, pembacaan ayat-ayat Dhammapada,
tari-tarian, nyanyian solo, dan vokal grup. Sebagai
hiburan penutup, hadir pertunjukan sendra tari berbentuk
monolog yang menggambarkan mengenai proses kelahiran
kembali. Di akhir acara, panitia menyerahkan sumbangan
hasil dana dari umat Buddha kepada sejumlah panti asuhan
setempat.
 |
 |
 |
| Penampilan vokal
grup dari salah satu vihara di Surabaya. |
Tari-tarian berbagai
variasi turut menyemarakkan acara. |
Pertunjukan sendra
tari monolog hadir dipenghujung acara. |
|
Adapun penyampaian Pesan Waisak dilakukan oleh Y.M.
Uttamo Thera. Di bagian awal, ia berharap, "Hendaknya
kita mencoba menghayati makna yang terkandung dalam
butir-butir Dhamma. Tidak hanya sekedar tahu merayakan
acara saja," ujar Bhante Uttamo, demikian ia biasa
disapa.
Pada bagian lain, Bhante Uttamo menyinggung soal krisis
moral dan kekerasan yang terjadi di mana-mana dewasa
ini. "Lingkungan memang sangat berpengaruh terhadap
kemoralan sesorang, tetapi kalau mentalnya kuat tidak
akan terpengaruh," katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa prinsip dasar dalam
mengatasi semua persoalan itu terletak pada cara berpikir.
"Mampukah kita melihat yang penting sebagai yang
penting dan sebaliknya melihat yang tidak penting sebagai
yang tidak penting? Sikap kitalah yang harus diperbaiki
agar bisa dihormati. Dicubit sakit, janganlah mencubit.
Memberikan kebahagiaan kepada orang lain, maka kebahagiaan
juga akan kita dapatkan. Di samping itu, dengan menerima
dan menyadari adanya perbedaan, kita bisa duduk rukun
bersama-sama walaupun berbeda-beda. Menjadi bijaksana.
Itulah makna Waisak," tutur Bhante Uttamo yang
kini menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Vinaya Sangha
Theravada Indonesia periode 2003-2006. (bch).
FOTO-FOTO: BEN-CH
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|