|
Tak
Ada Cerita Sekuel Meski Pengunjung Antri
[31
Juli 2003]
BuddhistOnline.com
- Tidak hanya film dan sinetron yang bisa dibuat
sekuel atau lanjutan serinya sampai berjilid-jilid. Belakangan, sejumlah acara
seperti pameran mobil dan komputer juga sudah biasa
dibuat berseri saban tahun. Umumnya tergantung
jumlah penonton atau pengunjungnya. Kalau banyak, bisa
dipastikan bakal ada seri berikut tahun depannya. Namun
rupanya tradisi seperti itu, sayangnya, tidak berlaku
untuk acara Festival Seni & Budaya Buddhist yang
digelar akhir Juni 2003 lalu di Convention Hall, Plaza
Tunjungan, Surabaya.
Oleh penyelenggaranya, jauh-jauh hari acara yang memamerkan
berbagai pernik Agama Buddha itu sudah dipastikan tidak
akan dibikin sekuelnya. Setidaknya untuk 1-2 tahun mendatang.
"Kalau tahun depan jelas tidak. Kita tidak akan
bikin rutin. Dua tahun sekali? Kita belum ada rencana.
Acara seperti ini butuh waktu dan tenaga yang cukup
banyak. Padahal acara ini adalah kegiatan sosial di
mana orang-orang yang terlibat punya pekerjaan sendiri,"
tegas Sutanto Adi, Ketua Panitia.
Mengherankan dan menyayangkan memang keputusan itu. Padahal kalau
dilihat dari jumlah pengunjungnya, acara yang diadakan
oleh Yayasan Dharma Rangsi itu tergolong cukup sukses
dalam menarik minat orang untuk datang. Lihat saja.
Selama enam hari digelar, rata-rata pengunjungnya perhari
sekitar 3000 orang. Bahkan pada hari Sabtu dan Minggu,
jumlahnya lebih banyak lagi. "Dalam empat hari
pertama total pengunjungnya mencapai 13 ribu orang,"
kata Sutanto mengenai animo pengunjung terhadap acara
yang bertujuan menginformasikan kegiatan-kegiatan umat
Buddha maupun ajaran Sang Buddha kepada masyarakat umum
itu.
 |
 |
 |
| Replika relief riwayat Sang
Buddha Gotama. |
Buddharuppang dari berbagai
negara. |
Kitab Suci Agama Buddha berbagai
bahasa. |
|
Padahal lagi, festival yang menghabiskan biaya lebih
dari 400 juta rupiah itu sudah disematkan slogan promosi
sebagai yang "pertama dan terbesar di Indonesia".
"Di Jakarta memang pernah diadakan acara serupa
tapi bukan di tempat umum seperti ini melainkan di dalam
kampus. Itupun yang menyelenggarakan bukan organisasi
umum seperti kami," jelas Sutanto yang sengaja
memilih lokasi pusat perbelanjaan agar umat Buddha dan
simpatisan tertarik untuk datang sambil membawa anggota
keluarga jalan-jalan.
Sementara materi yang ditawarkan dalam acara itu sebenarnya
cukup menarik dan bervariasi, kendati beberapa diantaranya
terkesan agak aneh. Begitu masuk kita langsung disuguhi
dengan dekorasi hutan-hutanan. Sayangnya suasana saat
Pertapa Gotama bertapa di Hutan Uruvela selama 6 tahun
yang hendak dihadirkan terkesan memaksa. Karena suasana
itu langsung hilang begitu pengunjung memasuki area
selanjutnya yang berupa replika relief Candi Borobodur
mengenai riwayat Sang Buddha Gotama. Mengenai dekorasi
hutan tadi, ternyata, "Dari awal kami memang mengkonsepkannya
begitu. Kalau tidak, ruangan sepanjang 8 meter jadi
kosong," ungkap Sutanto.
 |
 |
 |
| Memahami ajaran Sang Buddha
melalui poster. |
Rela mengantri untuk melihat
relik. |
Inilah suasana di ruang relik. |
|
Adalah relik yang nampaknya menjadi primadona dalam
acara yang disiapkan hanya dalam tiga bulan itu. Setiap
hari, terlihat banyak pengunjung dengan rela mengantri
cukup panjang untuk dapat melihat sejumlah relik yang
dipajang di atas altar dalam sebuah ruang tertutup.
Yang ingin melihat memang harus bergantian.
Di samping replika relief dan relik, pengunjung yang
telah membayar tanda masuk seharga 3000 rupiah bisa
melihat poster-poster mengenai ajaran Sang Buddha, Buddharupang
dari berbagai negara, Kitab Suci Tipitaka berbagai bahasa,
dan mengikuti talk show yang diadakan setiap hari dengan
menghadirkan sejumlah pembicara terkenal seperti Cornelis
Wowor dan Andre Wongso. Ada juga stan dari berbagai
organisasi Agama Buddha seperti Manggala, umat Theravada,
Buddhayana, Sekber PMVBI, Tsu Chi, Walubi, Sangje Dorje
Ling, dan KVMI. "Untuk organisasi Buddhis kami
sediakan gratis sedangkan sebanyak lebih dari 70 stan
merupakan stan komersial yang kita kenakan biaya sewa,"
kata Sutanto.
 |
 |
 |
| Pengunjung bisa juga mengikuti
talkshow. |
Ada 8 stan organisasi Agama
Buddha yang hadir. |
Hanya satu Sangha yang ikut
berpartisipasi? |
|
Yang cukup mengherankan, dari sejumlah Sangha yang
ada di Indonesia, yang benar-benar terlibat langsung
dalam acara itu hanya Sangha Agung Indonesia dari Buddhayana.
"Mahayana kita sudah undang tapi kebetulan para
bhikshunya mengadakan suatu upacara di Singapura. Theravada
sendiri tidak ikut. Kita undang, tapi mereka tidak mengisi.
Yang ikut bukan Sanghanya (melainkan) beberapa umat
Theravada yang mau mengenalkan kegiatan mereka,"
jelas Sutanto.
Ketika dikonfirmasi dengan salah satu pihak Sangha
yang dimaksud, ternyata "Tidak ada undangan secara
resmi dari pihak panitia kepada STI. Sanghanayaka juga
tidak dapat undangan resmi," kata Y.M. Jotidhammo
Thera yang belum lama terpilih sebagai Upa Sanghanayaka
Sangha Theravada Indonesia 2003-2006. Lho? (bch). FOTO-FOTO: BEN-CH
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|