BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 
[]

Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?


   
Click Here!

 

Tak Ada Cerita Sekuel Meski Pengunjung Antri

[31 Juli 2003]

BuddhistOnline.com - Tidak hanya film dan sinetron yang bisa dibuat sekuel atau lanjutan serinya sampai berjilid-jilid. Belakangan, sejumlah acara seperti pameran mobil dan komputer juga sudah biasa dibuat berseri saban tahun. Umumnya tergantung jumlah penonton atau pengunjungnya. Kalau banyak, bisa dipastikan bakal ada seri berikut tahun depannya. Namun rupanya tradisi seperti itu, sayangnya, tidak berlaku untuk acara Festival Seni & Budaya Buddhist yang digelar akhir Juni 2003 lalu di Convention Hall, Plaza Tunjungan, Surabaya.

Oleh penyelenggaranya, jauh-jauh hari acara yang memamerkan berbagai pernik Agama Buddha itu sudah dipastikan tidak akan dibikin sekuelnya. Setidaknya untuk 1-2 tahun mendatang. "Kalau tahun depan jelas tidak. Kita tidak akan bikin rutin. Dua tahun sekali? Kita belum ada rencana. Acara seperti ini butuh waktu dan tenaga yang cukup banyak. Padahal acara ini adalah kegiatan sosial di mana orang-orang yang terlibat punya pekerjaan sendiri," tegas Sutanto Adi, Ketua Panitia.

Mengherankan dan menyayangkan memang keputusan itu. Padahal kalau dilihat dari jumlah pengunjungnya, acara yang diadakan oleh Yayasan Dharma Rangsi itu tergolong cukup sukses dalam menarik minat orang untuk datang. Lihat saja. Selama enam hari digelar, rata-rata pengunjungnya perhari sekitar 3000 orang. Bahkan pada hari Sabtu dan Minggu, jumlahnya lebih banyak lagi. "Dalam empat hari pertama total pengunjungnya mencapai 13 ribu orang," kata Sutanto mengenai animo pengunjung terhadap acara yang bertujuan menginformasikan kegiatan-kegiatan umat Buddha maupun ajaran Sang Buddha kepada masyarakat umum itu.

Y.M Uttamo Thera
Replika relief riwayat Sang Buddha Gotama. Buddharuppang dari berbagai negara. Kitab Suci Agama Buddha berbagai bahasa.

Padahal lagi, festival yang menghabiskan biaya lebih dari 400 juta rupiah itu sudah disematkan slogan promosi sebagai yang "pertama dan terbesar di Indonesia". "Di Jakarta memang pernah diadakan acara serupa tapi bukan di tempat umum seperti ini melainkan di dalam kampus. Itupun yang menyelenggarakan bukan organisasi umum seperti kami," jelas Sutanto yang sengaja memilih lokasi pusat perbelanjaan agar umat Buddha dan simpatisan tertarik untuk datang sambil membawa anggota keluarga jalan-jalan.

Sementara materi yang ditawarkan dalam acara itu sebenarnya cukup menarik dan bervariasi, kendati beberapa diantaranya terkesan agak aneh. Begitu masuk kita langsung disuguhi dengan dekorasi hutan-hutanan. Sayangnya suasana saat Pertapa Gotama bertapa di Hutan Uruvela selama 6 tahun yang hendak dihadirkan terkesan memaksa. Karena suasana itu langsung hilang begitu pengunjung memasuki area selanjutnya yang berupa replika relief Candi Borobodur mengenai riwayat Sang Buddha Gotama. Mengenai dekorasi hutan tadi, ternyata, "Dari awal kami memang mengkonsepkannya begitu. Kalau tidak, ruangan sepanjang 8 meter jadi kosong," ungkap Sutanto.

Y.M Uttamo Thera
Memahami ajaran Sang Buddha melalui poster. Rela mengantri untuk melihat relik. Inilah suasana di ruang relik.

Adalah relik yang nampaknya menjadi primadona dalam acara yang disiapkan hanya dalam tiga bulan itu. Setiap hari, terlihat banyak pengunjung dengan rela mengantri cukup panjang untuk dapat melihat sejumlah relik yang dipajang di atas altar dalam sebuah ruang tertutup. Yang ingin melihat memang harus bergantian.

Di samping replika relief dan relik, pengunjung yang telah membayar tanda masuk seharga 3000 rupiah bisa melihat poster-poster mengenai ajaran Sang Buddha, Buddharupang dari berbagai negara, Kitab Suci Tipitaka berbagai bahasa, dan mengikuti talk show yang diadakan setiap hari dengan menghadirkan sejumlah pembicara terkenal seperti Cornelis Wowor dan Andre Wongso. Ada juga stan dari berbagai organisasi Agama Buddha seperti Manggala, umat Theravada, Buddhayana, Sekber PMVBI, Tsu Chi, Walubi, Sangje Dorje Ling, dan KVMI. "Untuk organisasi Buddhis kami sediakan gratis sedangkan sebanyak lebih dari 70 stan merupakan stan komersial yang kita kenakan biaya sewa," kata Sutanto.

Pengunjung bisa juga mengikuti talkshow. Ada 8 stan organisasi Agama Buddha yang hadir. Hanya satu Sangha yang ikut berpartisipasi?

Yang cukup mengherankan, dari sejumlah Sangha yang ada di Indonesia, yang benar-benar terlibat langsung dalam acara itu hanya Sangha Agung Indonesia dari Buddhayana. "Mahayana kita sudah undang tapi kebetulan para bhikshunya mengadakan suatu upacara di Singapura. Theravada sendiri tidak ikut. Kita undang, tapi mereka tidak mengisi. Yang ikut bukan Sanghanya (melainkan) beberapa umat Theravada yang mau mengenalkan kegiatan mereka," jelas Sutanto.

Ketika dikonfirmasi dengan salah satu pihak Sangha yang dimaksud, ternyata "Tidak ada undangan secara resmi dari pihak panitia kepada STI. Sanghanayaka juga tidak dapat undangan resmi," kata Y.M. Jotidhammo Thera yang belum lama terpilih sebagai Upa Sanghanayaka Sangha Theravada Indonesia 2003-2006. Lho? (bch). FOTO-FOTO: BEN-CH

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]