|
Ketika Upa Sanghanayaka STI Dicecar Soal Mahanayaka
[30 Juli 2004]
BuddhistOnline.com
- Sayangnya orang yang sempat dengan congkak
mengatakan bahwa umat Buddha akan segera melupakan begitu
saja persoalan jabatan Mahanayaka yang ditiadakan secara
tiba-tiba dan juga menuduh umat Buddha telah mencampuri
urusan Sangha, justru tidak ikut hadir dalam pertemuan
di Vihara Saddhapala, Jakarta pada 1 Juli 2004 lalu.
Padahal itulah saat yang tepat bagi si congkak untuk
membuktikan langsung sangkaannya yang sangat tidak cerdas
dan bernada merendahkan tingkat kekritisan umat Buddha
itu, dan sekalian bisa menunjukkan tingkat kecerdasannya
ketika dicecar berbagai pertanyaan oleh PP MAGABUDHI,
PP WANDANI, DPP PATRIA, dan sejumlah aktivisi buddhis
dari Jakarta dan Tangerang yang hadir pada malam itu
menyangkut penghapusan jabatan Mahanayaka. Namun akhirnya,
dari Sangha Theravada Indonesia (STI) yang hadir pada
malam itu adalah Y.M. Jotidhammo Thera (Upa Sanghanayaka
STI) dan Y.M. Bhikkhu Dhammakaro (Wakil Sekjen STI).
Pertemuan malam itu memang khusus membahas mengenai
kabar dihapusnya posisi Mahanayaka dari struktur organisasi
STI. Tanya jawab pun berlangsung cukup seru selama kurang
lebih 1 jam, mulai pukul 20.15 hingga 21.30 WIB. Apa
saja yang ditanyakan dan bagaimana tanggapan dari kedua
bhikkhu, terutama dari Bhante Joti? Semuanya dilaporkan
oleh Dharmanadi Chandra dari Jakarta seperti
berikut ini.
Dalam pengantarnya, Bhante Jotidhammo mengatakan
bahwa sampai hari itu ia belum mendapat mandat resmi
dari Sanghanayaka untuk menjelaskan atas nama Sangha
(STI). Jadi, kehadiran para bhikkhu pada malam itu adalah
dalam kapasitas pribadi (saat itu Sanghanayaka masih
berada di luar negeri).
Mengenai berita penghapusan posisi Mahanayaka:
Memang benar ada penghapusan posisi Mahanayaka dalam
struktur organisasi Sangha (STI), karena dirasakan ada
kerancuan pada kedua posisi itu, yaitu: Mahanayaka (Kepala
Sangha) dan Sanghanayaka (Ketua Umum Sangha). Karena
kerancuan ini, kemudian Sangha mengambil keputusan menghapus
butir 1, 2, dan 3 dari Piagam STI yang mencantumkan
posisi Mahanayaka sebagai Kepala Sangha.
Meskipun butir 1, 2, dan 3 itu dihapus, sebetulnya
masih ada ketentuan tentang Thera Samagama (Dewan Sesepuh)
yang masih berlaku. Thera Samagama bisa mengadakan rapat,
menunjuk siapa yang menjadi Mahanayaka di antara mereka;
namun Mahanayaka disini harus dibuatkan uraian tugasnya
di mana Mahanayaka hanya mengepalai Thera Samagama (Dewan
Sesepuh). Hal ini memang berbeda dengan keadaan umum
di luar negeri, di mana pimpinan tertinggi Sangha adalah
Mahanayaka. Penyempurnaan struktur ini dimaksudkan untuk
regenerasi.
(Dilanjutkan dengan pembacaan isi SK Persamuhan
Agung 2004 oleh Bhante Dhammakaro dan memang benar telah
terjadi penghapusan posisi Mahanayaka).
Ada bhikkhu yang ketika dikonfirmasikan mengenai
kebenaran berita ini oleh PP MAGABUDHI, ia menjawab:
"... kok percaya?" Ada juga beberapa bhikkhu
yang mengatakan kepada para umat maupun aktivis Buddhis
bahwa "Ini urusan Sangha, umat tidak perlu mencampuri."
Memang tidak sepantasnya bhikkhu berkata demikian. Umat
dan bhikkhu saling membutuhkan.
Beberapa bhikkhu yang ditanyakan oleh umat mengatakan
bahwa Buku Dhammapada Atthakatha terbitan Vidyasena
menjadi bukti penyalahgunaan stempel STI oleh Mahanayaka.
Sedangkan wawancara BuddhistOnline.com dengan
Bhante Jagaro yang saat Pasamuan Agung menjadi Pimpinan
Sidang mengatakan bahwa buku yang menjadi masalah adalah
Angutara Nikaya. Mana yang benar?
Yang menjadi permasalahan adalah buku Dhammapada
Atthakatha. Di situ memang tercantum sambutan Bhante
Pannavaro dengan jabatan Maha Sanghanayaka dan stempel
STI. Padahal stempel hanya untuk (dipakai) Karaka Sangha
Sabha. Semua ini sebetulnya kekeliruan dari Vidyasena
selalu penerbit. Pada cetakan pertama, tahun 1997, buku
itu memang mencantumkan Sambutan Bhante Pannavaro selaku
Sanghanayaka, lengkap dengan stempel STI (karena memang
saat itu Bhante Pannavaro adalah Sanghanayaka dan berwenang
menggunakan stempel STI). Kemudian pada terbitan kedua,
tahun ini, sambutan yang sama dimuat apa adanya, tetapi
tanggal sambutan dibuang, jabatan Bhante Pannyavaro
ditulis sebagai Maha Sanghanayaka dan ada stempel STI
(karena memang diambil dari cetakan pertama). Seharusnya
Vidyasena tetap memuat sambutan seperti semula, tidak
menghapus tanggal sambutan, tidak menggantikan jabatan
Bhante Pannavaro, sehingga penggunaan stempel tidak
bermasalah.
(Dari penjelasan ini, jelas Sangha telah mengangkat
bukti yang keliru. Sayangnya, bukti ini dijadikan salah
satu alasan yang cukup kuat untuk menghapus Mahanayaka.
Padahal, Vidyasena dengan penuh itikad baik telah mengirim
surat kepada Sangha untuk menjelaskan duduk persoalan
yang sebenarnya.)
Banyak beredar pendapat bahwa ada 'sesuatu' dibalik
pengambilan keputusan ini mengingat keputusan menghapus
posisi Mahanayaka terkesan sangat mendadak, terlalu
dipaksakan, mengambil bukti yang keliru. Apakah tidak
ada konspirasi di balik semua ini?
(Atas pertanyaan ini, Bhante Jotidhammo memilih tidak
menjawab dan mencatat dulu pertanyaannya untuk diteruskan
kepada Sangha.)
Membela individu:
Keputusan ini dinilai umat sebagai kurang wajar, karena
menghapuskan suatu posisi pada saat masa bakti belum
berakhir. Berita ini menjadi besar, karena terkait dengan
tokoh yang menduduki jabatan tersebut
(Menanggapi hal ini, seorang umat menyahut: "Bhante,
karena ada ketidakwajaran, maka kami membela Bhante
Pannyavaro. Begitu pula kalau suatu saat Bhante Jotidhammo
yang diturunkan dengan cara tidak wajar, kami akan membela.
Termasuk juga kalau Bhante Dhammasubho diturunkan dengan
cara demikian, kami semua pasti akan membela. Jadi jangan
berpikir ini hanya karena Bhante Pannyavaro. Ketidakwajaran
itulah yang keliru.")
Mengenai cara pemungutan suara untuk keputusan penghapusan
Mahanayaka:
Pengambilan keputusan ini sudah sesuai mekanisme
organisasi, yaitu pemungutan suara. Sanghanayaka itu
dipilih secara langsung oleh persamuhan, sedangkan Mahanayaka
dipilih oleh Thera Samagama. Tetapi Thera Samagama inipun
dipilih oleh persamuhan. Memang tidak semua bhikkhu
punya hak suara. Suara itu ada pada bhikkhu perwakilan
daerah.
(Sayangnya, para bhikkhu senior kita sekarang kekurangan
hak suara. Dari 5 bhikkhu Thera Samagama, hanya punya
1 hak suara. Bandingkan dengan bhikkhu muda lainnya,
yang punya hak suara masing-masing. Mengenai hal ini,
ada yang mengusulkan agar organisasi Sangha benar-benar
menjadi organisasi moral religius, dan tidak harus meniru
organisasi massa atau politik yang selalu mengutamakan
perhitungan suara atau demokrasi. Sangha perlu mengutamakan
kemufakatan di atas pemungutan suara. Di berbagai belahan
bumi, pemimpin agama berlangsung selamanya, karena pimpinan
agama itu figur. Misalnya, Paus bagi umat Katholik,
Khomeini di Iran, Dalai Lama di Tibet, Sangharaja di
Thailand, dsb. Mereka tidak pernah diturunkan dengan
dalih demokrasi. Mengapa Sangha tidak melihat bentuk
organisasi agama di luar STI? Kalau pemungutan suara
menjadi cara utama, suatu ketika bisa saja terjadi penyusupan
pada organisasi STI, beberapa orang menjadi bhikkhu
sementara, lalu para bhikkhu muda itu ikut pasamuan
dan karena jumlahnya lebih banyak maka suaranya menentukan
kebijaksanaan. Hal ini bisa menimbulkan dampak kurang
baik bagi perkembangan Sangha. Bhante Jotidhammo menerima
saran ini dengan baik, dan mencatat. Beliau berpendapat
memang seyogyanya lamanya masa kebhikkhuan diperhatikan.)
Ada berita bahwa setelah jabatan Mahanayaka dihapuskan,
nanti tahun depan Sanghanayaka naik menjadi Mahanayaka,
apakah benar?
Bhante Jotidhammo mengatakan bahwa Sanghanayaka akan
tetap disebut Sanghanayaka, tidak menjadi Mahanayaka.
(*)
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|