|
Dengan Buddhist Wisdom, Kejengkelan Akan Mereda
[24
September 2004]
BuddhistOnline.com
- Perkembangan teknologi membuat semuanya kelihatan
serba lebih baik dan moderen. Namun, benarkah dengan
teknologi, sekarang semuanya menjadi lebih baik? Rupanya
tidak demikian. "Teknologi hanya bisa mengubah
sesuatu yang ada di luar, tetapi tidak mampu untuk membangun
dari dalam diri kita. Teknologi tidak dapat membangun
inner strenght atau kemampuan mental untuk menghadapi
persoalan," tutur Sri Pannavaro Mahathera mengawali
acara talk show "Membangun Kebijaksanaan
untuk Hidup Tentram & Bahagia" yang berlangsung
di Sheraton Hotel, Surabaya pada 16 September 2004.
Lebih lanjut Bhante Panna -demikian ia biasa disapa-
mengatakan, "Selama ini, orang hanya berpikir bahwa
dengan mengubah keadaan yang di luar maka akan bahagia
sementara yang di dalam dirinya sendiri tidak diubah.
Padahal tidak sesederhana itu. Kebahagiaan hanya bisa
tumbuh dari dalam!"
|
|
|
| Salah satu baliho acara yang terpasang di seputar
kota Surabaya. |
Ketua Panitia: Undangan hanya tersisa beberapa
buah saja. |
Bhante Panna: "Sulit ubah diri sendiri
itulah yang sulit dimengerti." |
Menurutnya, semua kebahagiaan berasal dari diri sendiri.
"Itulah buddhist wisdom. Cobalah selalu
melihat ke dalam diri kita sendiri. Berbeda dengan common
wisdom yang menganggap sumber persoalan ada di luar
diri sehingga selalu hanya yang berada di luar diri
kita yang ingin diubah. Padahal dengan membangun yang
ada di dalam, maka akan timbul kedamaian. Dengan memiliki
buddhist wisdom, ketika menghadapi sebuah persoalan,
kita dapat menganggap hal itu terjadi karena kamma jelek
sedang berbuah. Dengan demikian, kejengkelan akan turun
atau mereda," kata bhikkhu penerima penghargaan
dari Raja Thailand itu.
Bhante Panna juga bercerita ketika mengikuti perjalanan
tokoh lintas agama ke desa-desa beberapa waktu lalu,
ia mendapat sebuah pertanyaan menarik. "Saya pernah
ditanya, mana yang lebih baik dilakukan terlebih dahulu,
mengubah pimpinan atau mengubah rakyat? Jangan menuntut
orang lain, diri sendiri dulu yang perlu dituntut. Sudahkah
saya melakukan perbaikan?"
Merasa tidak bisa untuk mengubah diri sendiri? "Kalau
sulit mengubah diri sendiri, itu benar-benar sulit dimengerti!,"
tegas Bhante Panna.
Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta acara talk
show itu menanyakan soal PHK (pemutusan hubungan
kerja) jika dikaitkan dengan penerapan budhist wisdom.
"PHK boleh saja dilakukan, namun tergantung motivasinya.
Bukan dengan kebencian. Bukan langsung buang sekalian
dengan jabatannya," jawab bhikkhu yang sempat menjabat
sebagai Mahanayaka Sangha Theravada Indonesia (STI)
sebelum keluar keputusan kontroversial STI tahun 2004
yang menghapus secara mendadak jabatan Mahanayaka dari
struktur organisasi STI.
|
|
|
| Pembicara dan moderator, bisa saling mengisi
dan 'nyambung'. |
Mr. Poo, sang moderator yang penuh dengan cerita-cerita
menarik nan lucu. |
Peserta tidak hanya dari umat Buddha saja,
namun juga berasal dari umat non-buddhis. |
Dengan dipandu oleh moderator Drs. Ponijan Liaw Cert.Eng.
MBA (yang lebih dikenal dengan sebutan "Mr. Po"),
acara yang dimulai pukul 19.00 WIB itu berlangsung dengan
lancar dan menyenangkan. Apalagi baik Bhante Panna maupun
Mr. Po kerap menyelipkan cerita-cerita menarik yang
sanggup membuat peserta tersenyum lebar sepanjang acara
berlangsung.
Senyum lebarpun menghiasi wajah panitia, yang merupakan
gabungan sejumlah institusi Agama Buddha itu, lantaran
undangan yang disediakan laris terjual. Apalagi peminatnya
bukan hanya datang dari kalangan umat Buddha saja tetapi
juga datang dari umat agama lain. "Dari 500 undangan
yang tersedia, hanya tersisa beberapa saja," kata
Widya Kusuma, Ketua Panitia.
|
|
|
| Tidak kurang dari 500 orang memenuhi Grand
Ballroom Sheraton Hotel Surabaya pada malam itu. |
Terpasangnya 2 giant screen di sisi
kanan dan kiri sangat membantu dalam menyimak penuturan
pembicara. |
"PHK boleh saja, namun bukan langsung
buang sekalian dengan jabatannya" |
Hanya sayangnya, acara itu sedikit ternoda dengan perilaku
sejumlah peserta yang masih dengan sombongnya tidak mau mengecilkan volume ring tone telepon genggamnya
meskipun sudah diingatkan oleh panitia di awal acara.
Hasilnya, konsentrasi para peserta dalam mengikuti penjelasan
dari pembicara pada malam itu menjadi agak terganggu.
Hal lain yang juga membuat sedikit kurang nyaman adalah
pengaturan tempat duduk para peserta, dengan menempatkan
10 peserta per meja bundar seperti layaknya dalam sebuah
perjamuan makan, padahal sesi makan sebenarnya sudah
dilangsungkan satu jam sebelum acara dimulai.
Akan lebih baik jika tempat duduk peserta diatur berjajar
saja sebagaimana di acara talk show pada umumnya.
Untunglah kehadiran 2 giant screen yang terpasang
di sisi kiri dan kanan dekat panggung bisa cukup menutupi
ketidaknyaman tadi. Untunglah yang dipaparkan adalah
soal buddhist wisdom, sehingga semua gangguan
tadi mungkin bisa dinetralisir oleh peserta. Setidaknya sebagai latihan praktek...
(bch) FOTO-FOTO: BEN-CH
Versi cetak / Print this page
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|