BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 
[]

Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?


   
Click Here!

 

Dengan Buddhist Wisdom, Kejengkelan Akan Mereda

[24 September 2004]

BuddhistOnline.com - Perkembangan teknologi membuat semuanya kelihatan serba lebih baik dan moderen. Namun, benarkah dengan teknologi, sekarang semuanya menjadi lebih baik? Rupanya tidak demikian. "Teknologi hanya bisa mengubah sesuatu yang ada di luar, tetapi tidak mampu untuk membangun dari dalam diri kita. Teknologi tidak dapat membangun inner strenght atau kemampuan mental untuk menghadapi persoalan," tutur Sri Pannavaro Mahathera mengawali acara talk show "Membangun Kebijaksanaan untuk Hidup Tentram & Bahagia" yang berlangsung di Sheraton Hotel, Surabaya pada 16 September 2004.

Lebih lanjut Bhante Panna -demikian ia biasa disapa- mengatakan, "Selama ini, orang hanya berpikir bahwa dengan mengubah keadaan yang di luar maka akan bahagia sementara yang di dalam dirinya sendiri tidak diubah. Padahal tidak sesederhana itu. Kebahagiaan hanya bisa tumbuh dari dalam!"

Salah satu baliho acara yang terpasang di seputar kota Surabaya. Ketua Panitia: Undangan hanya tersisa beberapa buah saja. Bhante Panna: "Sulit ubah diri sendiri itulah yang sulit dimengerti."

Menurutnya, semua kebahagiaan berasal dari diri sendiri. "Itulah buddhist wisdom. Cobalah selalu melihat ke dalam diri kita sendiri. Berbeda dengan common wisdom yang menganggap sumber persoalan ada di luar diri sehingga selalu hanya yang berada di luar diri kita yang ingin diubah. Padahal dengan membangun yang ada di dalam, maka akan timbul kedamaian. Dengan memiliki buddhist wisdom, ketika menghadapi sebuah persoalan, kita dapat menganggap hal itu terjadi karena kamma jelek sedang berbuah. Dengan demikian, kejengkelan akan turun atau mereda," kata bhikkhu penerima penghargaan dari Raja Thailand itu.

Bhante Panna juga bercerita ketika mengikuti perjalanan tokoh lintas agama ke desa-desa beberapa waktu lalu, ia mendapat sebuah pertanyaan menarik. "Saya pernah ditanya, mana yang lebih baik dilakukan terlebih dahulu, mengubah pimpinan atau mengubah rakyat? Jangan menuntut orang lain, diri sendiri dulu yang perlu dituntut. Sudahkah saya melakukan perbaikan?"

Merasa tidak bisa untuk mengubah diri sendiri? "Kalau sulit mengubah diri sendiri, itu benar-benar sulit dimengerti!," tegas Bhante Panna.

Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta acara talk show itu menanyakan soal PHK (pemutusan hubungan kerja) jika dikaitkan dengan penerapan budhist wisdom. "PHK boleh saja dilakukan, namun tergantung motivasinya. Bukan dengan kebencian. Bukan langsung buang sekalian dengan jabatannya," jawab bhikkhu yang sempat menjabat sebagai Mahanayaka Sangha Theravada Indonesia (STI) sebelum keluar keputusan kontroversial STI tahun 2004 yang menghapus secara mendadak jabatan Mahanayaka dari struktur organisasi STI.

Pembicara dan moderator, bisa saling mengisi dan 'nyambung'. Mr. Poo, sang moderator yang penuh dengan cerita-cerita menarik nan lucu. Peserta tidak hanya dari umat Buddha saja, namun juga berasal dari umat non-buddhis.

Dengan dipandu oleh moderator Drs. Ponijan Liaw Cert.Eng. MBA (yang lebih dikenal dengan sebutan "Mr. Po"), acara yang dimulai pukul 19.00 WIB itu berlangsung dengan lancar dan menyenangkan. Apalagi baik Bhante Panna maupun Mr. Po kerap menyelipkan cerita-cerita menarik yang sanggup membuat peserta tersenyum lebar sepanjang acara berlangsung.

Senyum lebarpun menghiasi wajah panitia, yang merupakan gabungan sejumlah institusi Agama Buddha itu, lantaran undangan yang disediakan laris terjual. Apalagi peminatnya bukan hanya datang dari kalangan umat Buddha saja tetapi juga datang dari umat agama lain. "Dari 500 undangan yang tersedia, hanya tersisa beberapa saja," kata Widya Kusuma, Ketua Panitia.

Tidak kurang dari 500 orang memenuhi Grand Ballroom Sheraton Hotel Surabaya pada malam itu. Terpasangnya 2 giant screen di sisi kanan dan kiri sangat membantu dalam menyimak penuturan pembicara. "PHK boleh saja, namun bukan langsung buang sekalian dengan jabatannya"

Hanya sayangnya, acara itu sedikit ternoda dengan perilaku sejumlah peserta yang masih dengan sombongnya tidak mau mengecilkan volume ring tone telepon genggamnya meskipun sudah diingatkan oleh panitia di awal acara. Hasilnya, konsentrasi para peserta dalam mengikuti penjelasan dari pembicara pada malam itu menjadi agak terganggu. Hal lain yang juga membuat sedikit kurang nyaman adalah pengaturan tempat duduk para peserta, dengan menempatkan 10 peserta per meja bundar seperti layaknya dalam sebuah perjamuan makan, padahal sesi makan sebenarnya sudah dilangsungkan satu jam sebelum acara dimulai. Akan lebih baik jika tempat duduk peserta diatur berjajar saja sebagaimana di acara talk show pada umumnya. Untunglah kehadiran 2 giant screen yang terpasang di sisi kiri dan kanan dekat panggung bisa cukup menutupi ketidaknyaman tadi. Untunglah yang dipaparkan adalah soal buddhist wisdom, sehingga semua gangguan tadi mungkin bisa dinetralisir oleh peserta. Setidaknya sebagai latihan praktek... (bch) FOTO-FOTO: BEN-CH

 

 

Versi cetak / Print this page

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]