|
Bhikkhu Pannavaro: Yang Harus Menjawab, Tidak Mampu
Menjawab
[24
September 2004]
BuddhistOnline.com
- Jabatan formalnya di lembaga yang ia banggakan
selama ini boleh dihapuskan secara tiba-tiba dengan alasan
yang tidak masuk akal, namun tidak berarti jalur komunikasinya
dengan umat Buddha terputus. Justru tatap mukanya dengan
umat Buddha jadi meningkat belakangan ini. Ia makin sering
hadir di tengah-tengah umat Buddha di berbagai kesempatan,
baik dalam bentuk Dhammadesana di vihara-vihara maupun
talk show di berbagai tempat pertemuan umum. Bisa
jadi hal itu membuktikan bahwa jabatan bukanlah faktor
utama yang mendukung kedekatan seorang tokoh Agama Buddha
dengan umat Buddha, melainkan kualitas diri orang yang
bersangkutan. Itulah sedikit gambaran mengenai keadaan
Y.M. Sri Pannavaro Mahathera saat ini.
Walaupun kedudukannya sebagai Mahanayaka Sangha Theravada
Indonesia (STI) sudah dihapuskan seiring dengan turunnya
SK dalam Persamuhan Agung STI 2004 lalu, namun hubungan
dan interaksi Bhante Panna --demikian ia kerap dipanggil--
dengan umat Buddha makin erat. Adalah keliru kalau menduga
kepopulerannya akan memudar hanya lantaran sudah tidak
menjadi Kepala Sangha (STI) lagi.
Disela-sela kesibukannya sebagai pembicara dalam sebuah
talk show di Surabaya belum lama ini, Bhante Panna berkenan
menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan oleh Chandadhammo
Benny Chandra dari BuddhistOnline.com. Petikan
wawancara itu dapat disimak berikut ini.
Perkembangan terakhir menyebutkan bahwa mahanayaka
sekarang hanya diakui sebagai ketua Thera Samagama,
bagaimana pendapat Bhante? Apakah Bhante akan tetap
sebagai Ketua Thera Samagama atau bagaimana?
(terdiam sejenak) Pengabdian Dhamma itu sepanjang
masa, tidak akan berakhir meskipun jabatan formal itu
berubah. Pengabdian terhadap Dhamma itu tidak akan berakhir,
pengabdian Dhamma itu sepanjang masa, meskipun jabatan
formal itu
Tetapi apakah Bhante akan tetap menerima jabatan
itu, Mahanayaka sebagai Ketua Thera Samagama?
Para bhante anggota Thera Samagama atau Dewan Sesepuh
meminta itu, karena pada waktu pertemuan terakhir pada
tanggal 27 Agustus di Vihara Dhammacakka itu, Bhante
Sukhemo mengatakan: "Ya, kami tetap sepakat bahwa
Bhante Panna itu adalah ketua dari dewan sesepuh".
Apakah berarti 'diminta ulang'?
Sebetulnya ketua Dewan Sesepuh itu tidak diminta ulangpun,
itu tetap ada. Karena ada satu SK yang
Tapi, di salah satu SK yang tidak dihapus itu menyebutkan
"Mahanayaka sebagai kepala Sangha" ...
Begini saja, apakah tidak lebih baik pertanyaan ini
diajukan ke Bhante Sukhemo? Saya hanya menjawab bahwa
pengabdian kepada Dhamma itu tidak pernah berhenti,
sepanjang masa, meskipun jabatan formal itu berubah.
Kalau saya menjadi Ketua Dewan Sesepuh, itu karena atas
permintaan para bhikkhu-bhikkhu anggota Dewan Sesepuh.
Tetapi, sebetulnya tidak ada kata-kata diminta lagi
atau menegaskan lagi. Sebetulnya tidak ada itu. Karena
itu.. kelewat.. belum terhapus
(sambil tersenyum).
Hanya tadi Saudara Benny menanyakan mahanayaka 'dalam
kurung', nah, itu saya sulit untuk menjawab. Bhante
Sukhemo lebih bijaksana untuk menjawabnya.
Sementara ini, Bhante apakah tetap bertahan dalam
STI atau
Oh, itu belum ada terlintas saya mau mbalelo.
Sedikitpun tidak terlintas hal itu dan bukan cara seorang
bhikkhu. Cara seorang bhikkhu adalah menggunakan inner
wisdom untuk menerima kejadian sebagaimana adanya.
Dan bahkan kalau kejadian yang orang lain menganggapnya
negatif, (yang) orang lain menganggapnya tidak adil
itu, saya bisa menghadapi(nya) dengan baik, (maka) itu
(berarti) kualitas mental saya bisa bertambah. Kita
bisa men-transform persoalan apapun yang negatif
untuk sesuatu yang positif bagi kemajuan mental. Dan
tidak perlu merasa "Oh, dengan demikian bersyukur
mentalku menjadi lebih maju". Itupun menjadi negatif
yang baik.
Sebetulnya pada waktu saya menjadi Mahanayaka, sebelum
tiga butir bab 3 itu dihapuskan, saya bukan CEO. Bukan
Chief Executive Officer yang memimpin rapat,
yang mengatur manajemen, adminstratif Sangha, mengkoordinir
tugas para bhikkhu-bhikkhu di daerah-daerah. Itupun
tidak. Sebetulnya (jabatan) Mahanayaka yang diberikan
kepada saya sebelum tiga butir bab 3 itu dihilangkan,
itu hanya jabatan simbol. Dengan kalimat yang lain,
jabatan seremonial yang saya bisa melakukan itu atas
nama Sangha Theravada Indonesia. Jadi, sebetulnya Chief Executive Officer yang memegang wewenang, mengatur manajemen
Sangha itu adalah sanghanayaka, meskipun saya waktu
itu masih menjadi Mahanayaka sebelum tiga butir bab
3 itu dihapus. Karena itu, sesungguhnya ya pengabdian
jalan.
Apakah Bhante tetap 'bingung' seperti yang Bhante
utarakan dalam surat pernyataan beberapa waktu lalu
menyangkut keputusan penghapusan itu?
Pertanyaan-pertanyaan saya dalam surat itu belum terjawab
sampai hari ini. Saya tidak bisa menjawab dan yang harus
menjawab juga tidak mampu menjawab. Itu boleh ditulis.
Karena memang sulit mencari jawabannya.
Tetapi apakah kita membiarkan prosedur yang tidak pada
tempatnya, prosedur yang sembrono? Ya, tentu kita harus
menunggu waktu yang tepat, menggunakan cara yang bijak
untuk melakukan perbaikan. Bukan dengan emosi. Bukan
dengan marah-marah, apalagi dengan kebencian.
Apakah umat Buddha bisa terlibat dalam usaha perbaikan
itu?
Oh iya! Umat dengan para bhikkhu itu 'kan saling menjaga,
saling menghargai, saling membantu. Tidak hanya umat
kepada para bhikkhu sekarang, masyarakat di jaman Sang
Buddha pun memberikan masukan-masukan, kalau tidak boleh
dikatakan kritik, kepada Sang Buddha dan Sang Buddha
mendengar itu dan melakukan perbaikan, melakukan perubahan
termasuk vinaya yang sudah Beliau gariskan.
Jadi, bukan dianggap mencampuri urusan para bhikkhu?
Sejauh bagaimana kita menyampaikan saran. Kalau menyampaikan
saran dengan ancaman, menyampaikan saran dengan akan
boikot dan segala macam itu bukan the buddhist way.
Kita harus menyampaikan saran keluar dengan metta,
keluar dengan karuna, dengan cara-cara yang wise,
dengan kalimat yang bijak. Kalau misalnya didengar dan
ada perbaikan, syukur. Kalau tidak, silahkanlah ulangi
kembali seberapa jauh yang kita mampu. Kalau sudah tidak
mampu, upekkha. Jangan ingin mengubah dunia,
nanti menderita. Mengubah dunia sendiri dulu... (tersenyum)
Batasannya begitu ya bagi umat untuk bisa membantu
memperbaiki keadaan?
Ya. Ya, memberikan saran, memberikan pandangan, memberikan
bahan-bahan, memberikan contoh-contoh, dan itu dilakukan
sejak jaman Sang Buddha. Bahkan di jaman Sang Buddha
itu ada yang keras.
Bhante, ada beberapa pihak yang kalau mendengar
umat memberikan kritik kepada Sangha menganggap hal
itu memecah belah Sangha
Sekarang begini, memecah belah atau tidak itu kan tergantung
dari cetana (niat -red) yang memberikan
kritik. Cetana-nya apa? Kalau niatnya itu ingin
supaya terjadi dua Sangha atau tiga Sangha, itu memecah
belah. Tetapi kalau cettana-nya baik, 'kan tidak
bisa dikatakan memecah-belah. Siapa yang tahu cetana
itu? Ya, yang memberikan kritik. Tidak bijaksana kalau
saya memberikan penilaian itu mau memecah belah, itu
menghasut. Tidak bijaksana! Andaikata toh cetana-nya
mau memecah belah, kalau saya mendengarnya dan apa yang
baik kemudian saya gunakan, 'kan saya yang akan mendapat
manfaat. Kalau cetana-nya memecah belah, yang
rugi kan dia, bukan saya. Andai kata dia punya cettana
memecah belah, saya kemudian mengambil baikmya, kasarnya
kata, dari kalimat itu kita lebih solid, lebih
rukun, kita 'kan untung. Kalau kita menjadi terpecah-belah,
ya karena kita sendiri yang tidak mempunyai kemampuan
untuk bersatu. Yang memberi kritik juga salah kalau
dia punya cetana memecah-belah. Tapi kalau dia
punya cetana memecah-belah, (dan) kita tidak
terpecah 'kan tidak harus kita menjadi korbannya dia.
Dia membuat akusala kamma, kita mendapat manfaat.
Jadi, yang memberikan tuduhan semacam itu
?
Mungkin beliau sudah bisa membaca pikiran orang... (tersenyum).
(*)
Versi cetak / Print this page
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|