BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 
[]

Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?


   
Click Here!

 

Bhikkhu Pannavaro: Yang Harus Menjawab, Tidak Mampu Menjawab

[24 September 2004]

Pannavaro
BuddhistOnline.com - Jabatan formalnya di lembaga yang ia banggakan selama ini boleh dihapuskan secara tiba-tiba dengan alasan yang tidak masuk akal, namun tidak berarti jalur komunikasinya dengan umat Buddha terputus. Justru tatap mukanya dengan umat Buddha jadi meningkat belakangan ini. Ia makin sering hadir di tengah-tengah umat Buddha di berbagai kesempatan, baik dalam bentuk Dhammadesana di vihara-vihara maupun talk show di berbagai tempat pertemuan umum. Bisa jadi hal itu membuktikan bahwa jabatan bukanlah faktor utama yang mendukung kedekatan seorang tokoh Agama Buddha dengan umat Buddha, melainkan kualitas diri orang yang bersangkutan. Itulah sedikit gambaran mengenai keadaan Y.M. Sri Pannavaro Mahathera saat ini.

Walaupun kedudukannya sebagai Mahanayaka Sangha Theravada Indonesia (STI) sudah dihapuskan seiring dengan turunnya SK dalam Persamuhan Agung STI 2004 lalu, namun hubungan dan interaksi Bhante Panna --demikian ia kerap dipanggil-- dengan umat Buddha makin erat. Adalah keliru kalau menduga kepopulerannya akan memudar hanya lantaran sudah tidak menjadi Kepala Sangha (STI) lagi.

Disela-sela kesibukannya sebagai pembicara dalam sebuah talk show di Surabaya belum lama ini, Bhante Panna berkenan menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan oleh Chandadhammo Benny Chandra dari BuddhistOnline.com. Petikan wawancara itu dapat disimak berikut ini.

Perkembangan terakhir menyebutkan bahwa mahanayaka sekarang hanya diakui sebagai ketua Thera Samagama, bagaimana pendapat Bhante? Apakah Bhante akan tetap sebagai Ketua Thera Samagama atau bagaimana?
(terdiam sejenak) Pengabdian Dhamma itu sepanjang masa, tidak akan berakhir meskipun jabatan formal itu berubah. Pengabdian terhadap Dhamma itu tidak akan berakhir, pengabdian Dhamma itu sepanjang masa, meskipun jabatan formal itu …

Tetapi apakah Bhante akan tetap menerima jabatan itu, Mahanayaka sebagai Ketua Thera Samagama?
Para bhante anggota Thera Samagama atau Dewan Sesepuh meminta itu, karena pada waktu pertemuan terakhir pada tanggal 27 Agustus di Vihara Dhammacakka itu, Bhante Sukhemo mengatakan: "Ya, kami tetap sepakat bahwa Bhante Panna itu adalah ketua dari dewan sesepuh".

Apakah berarti 'diminta ulang'?
Sebetulnya ketua Dewan Sesepuh itu tidak diminta ulangpun, itu tetap ada. Karena ada satu SK yang …

Tapi, di salah satu SK yang tidak dihapus itu menyebutkan "Mahanayaka sebagai kepala Sangha" ...
Begini saja, apakah tidak lebih baik pertanyaan ini diajukan ke Bhante Sukhemo? Saya hanya menjawab bahwa pengabdian kepada Dhamma itu tidak pernah berhenti, sepanjang masa, meskipun jabatan formal itu berubah. Kalau saya menjadi Ketua Dewan Sesepuh, itu karena atas permintaan para bhikkhu-bhikkhu anggota Dewan Sesepuh. Tetapi, sebetulnya tidak ada kata-kata diminta lagi atau menegaskan lagi. Sebetulnya tidak ada itu. Karena itu.. kelewat.. belum terhapus… (sambil tersenyum). Hanya tadi Saudara Benny menanyakan mahanayaka 'dalam kurung', nah, itu saya sulit untuk menjawab. Bhante Sukhemo lebih bijaksana untuk menjawabnya.

Sementara ini, Bhante apakah tetap bertahan dalam STI atau…
Oh, itu belum ada terlintas saya mau mbalelo. Sedikitpun tidak terlintas hal itu dan bukan cara seorang bhikkhu. Cara seorang bhikkhu adalah menggunakan inner wisdom untuk menerima kejadian sebagaimana adanya. Dan bahkan kalau kejadian yang orang lain menganggapnya negatif, (yang) orang lain menganggapnya tidak adil itu, saya bisa menghadapi(nya) dengan baik, (maka) itu (berarti) kualitas mental saya bisa bertambah. Kita bisa men-transform persoalan apapun yang negatif untuk sesuatu yang positif bagi kemajuan mental. Dan tidak perlu merasa "Oh, dengan demikian bersyukur mentalku menjadi lebih maju". Itupun menjadi negatif yang baik.

Sebetulnya pada waktu saya menjadi Mahanayaka, sebelum tiga butir bab 3 itu dihapuskan, saya bukan CEO. Bukan Chief Executive Officer yang memimpin rapat, yang mengatur manajemen, adminstratif Sangha, mengkoordinir tugas para bhikkhu-bhikkhu di daerah-daerah. Itupun tidak. Sebetulnya (jabatan) Mahanayaka yang diberikan kepada saya sebelum tiga butir bab 3 itu dihilangkan, itu hanya jabatan simbol. Dengan kalimat yang lain, jabatan seremonial yang saya bisa melakukan itu atas nama Sangha Theravada Indonesia. Jadi, sebetulnya Chief Executive Officer yang memegang wewenang, mengatur manajemen Sangha itu adalah sanghanayaka, meskipun saya waktu itu masih menjadi Mahanayaka sebelum tiga butir bab 3 itu dihapus. Karena itu, sesungguhnya ya pengabdian jalan.

Apakah Bhante tetap 'bingung' seperti yang Bhante utarakan dalam surat pernyataan beberapa waktu lalu menyangkut keputusan penghapusan itu?
Pertanyaan-pertanyaan saya dalam surat itu belum terjawab sampai hari ini. Saya tidak bisa menjawab dan yang harus menjawab juga tidak mampu menjawab. Itu boleh ditulis. Karena memang sulit mencari jawabannya.

Tetapi apakah kita membiarkan prosedur yang tidak pada tempatnya, prosedur yang sembrono? Ya, tentu kita harus menunggu waktu yang tepat, menggunakan cara yang bijak untuk melakukan perbaikan. Bukan dengan emosi. Bukan dengan marah-marah, apalagi dengan kebencian.

Apakah umat Buddha bisa terlibat dalam usaha perbaikan itu?
Oh iya! Umat dengan para bhikkhu itu 'kan saling menjaga, saling menghargai, saling membantu. Tidak hanya umat kepada para bhikkhu sekarang, masyarakat di jaman Sang Buddha pun memberikan masukan-masukan, kalau tidak boleh dikatakan kritik, kepada Sang Buddha dan Sang Buddha mendengar itu dan melakukan perbaikan, melakukan perubahan termasuk vinaya yang sudah Beliau gariskan.

Jadi, bukan dianggap mencampuri urusan para bhikkhu?
Sejauh bagaimana kita menyampaikan saran. Kalau menyampaikan saran dengan ancaman, menyampaikan saran dengan akan boikot dan segala macam itu bukan the buddhist way. Kita harus menyampaikan saran keluar dengan metta, keluar dengan karuna, dengan cara-cara yang wise, dengan kalimat yang bijak. Kalau misalnya didengar dan ada perbaikan, syukur. Kalau tidak, silahkanlah ulangi kembali seberapa jauh yang kita mampu. Kalau sudah tidak mampu, upekkha. Jangan ingin mengubah dunia, nanti menderita. Mengubah dunia sendiri dulu... (tersenyum)

Batasannya begitu ya bagi umat untuk bisa membantu memperbaiki keadaan?
Ya. Ya, memberikan saran, memberikan pandangan, memberikan bahan-bahan, memberikan contoh-contoh, dan itu dilakukan sejak jaman Sang Buddha. Bahkan di jaman Sang Buddha itu ada yang keras.

Bhante, ada beberapa pihak yang kalau mendengar umat memberikan kritik kepada Sangha menganggap hal itu memecah belah Sangha…
Sekarang begini, memecah belah atau tidak itu kan tergantung dari cetana (niat -red) yang memberikan kritik. Cetana-nya apa? Kalau niatnya itu ingin supaya terjadi dua Sangha atau tiga Sangha, itu memecah belah. Tetapi kalau cettana-nya baik, 'kan tidak bisa dikatakan memecah-belah. Siapa yang tahu cetana itu? Ya, yang memberikan kritik. Tidak bijaksana kalau saya memberikan penilaian itu mau memecah belah, itu menghasut. Tidak bijaksana! Andaikata toh cetana-nya mau memecah belah, kalau saya mendengarnya dan apa yang baik kemudian saya gunakan, 'kan saya yang akan mendapat manfaat. Kalau cetana-nya memecah belah, yang rugi kan dia, bukan saya. Andai kata dia punya cettana memecah belah, saya kemudian mengambil baikmya, kasarnya kata, dari kalimat itu kita lebih solid, lebih rukun, kita 'kan untung. Kalau kita menjadi terpecah-belah, ya karena kita sendiri yang tidak mempunyai kemampuan untuk bersatu. Yang memberi kritik juga salah kalau dia punya cetana memecah-belah. Tapi kalau dia punya cetana memecah-belah, (dan) kita tidak terpecah 'kan tidak harus kita menjadi korbannya dia. Dia membuat akusala kamma, kita mendapat manfaat.

Jadi, yang memberikan tuduhan semacam itu… ?
Mungkin beliau sudah bisa membaca pikiran orang... (tersenyum).
(*)

 

 

Versi cetak / Print this page

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]