|
Ketika KBBTI Bantu Korban Tsunami di Aceh
[19
Januari 2005]
BuddhistOnline.com
- Bencana gempa disusul gelombang tsunami yang
melanda sejumlah negara di kawasan Asia, termasuk Indonesia
(khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan sekitarnya) pada
26 Desember 2004 telah membuat berbagai pihak ramai-ramai
mengumpulkan dana untuk membantu daerah bencana dan
para korban. Meskipun kurang begitu terekspos di media
massa, salah satu pihak yang ikut membantu korban bencana
adalah Keluarga Besar Buddhis Theravada Indonesia (KBBTI)
yang terdiri dari MAGABUDHI, WANDANI, dan PATRIA.
Dengan mengusung label "Karuna untuk Aceh",
KBBTI telah mengumpulkan bantuan dari umat Buddha dalam
bentuk uang dan barang. Sebagai informasi, dana uang
yang terhimpun di rekening KBBTI mencapai lebih dari
200 juta. Sementara bantuan berbentuk barang bisa disebut
seperti ribuan kantong jenazah, pakaian bekas layak
pakai, pakaian muslim, biskuit, air minum, dan sebagainya.
Penyaluran bantuannya ke lokasi bencana di Aceh dan
Sumatera Utara telah dilakukan dalam beberapa kali pengiriman.
Sedikit menengok ke belakang, program penggalangan
bantuan dari umat Buddha untuk para korban bencana tsunami
di Aceh dan Sumatera Utara itu bermula dari banyaknya
SMS yang masuk ke nomor ponsel para pengurus MAGABUDHI,
WANDANI, dan PATRIA yang menanyakan apa langkah dari
organisasi-organisasi tersebut dalam menyikapi bencana
tersebut. Pihak KBBTI juga menolak kalau program tersebut
hanya sekedar ikut-ikutan saja.
"Bukan ikut-ikutan, karena program ini sudah langsung
digodok sehari setelah terjadinya musibah. Program ini
sudah langsung digodok sehari setelah terjadinya musibah.
Saat itu, kita belum banyak mendengar adanya posko-posko
bantuan. Kita semua tergerak oleh karuna, welas asih
yang ada di dalam diri masing-masing sebagai buah dari
belajar Dhamma selama ini," kata Silakumaro Tonny
Coason, Ketua DPP PATRIA yang bersama Ketua DPP MAGABUDHI
dan Ketua DPP WANDANI bertindak sebagai koordinator
program "Karuna untuk Aceh".
Sebagai langkah awal, diputuskan untuk membuka sebuah
rekening bersama di sebuah bank. Rekening di Bank BCA
Kelapa Gading No. Rek. 227 0134 931 itu atas
nama Lydia Puspayati / Indriana. Jangan
keburu curiga dulu mengenai nama yang dipakai dalam
rekening itu. "Karena terburu-buru, maka rekening
ini tidak sempat diproses atas nama organisasi. Penggunakan
rekening atas nama organisasi memerlukan waktu yang
lebih dalam karena banyaknya persyaratan administrasi,"
ungkap Tonny kepada BuddhistOnline.com dalam
wawancara tertulis belum lama ini.
|
|
|
Anggota PATRIA
dan barang sumbangan
KBBTI di Bandara Halim Perdana Kusuma |
Staf TNI-AU sedang membuat
tanda terima atas sumbangan umat Buddha
melalui program KARUNA UNTUK ACEH |
PATRIA mewakili MAGABUDHI WANDANI PATRIA
menyerahkan
bantuan kantong-kantong jenazah kepada TNI-AU di
Bandara Halim Perdana Kusuma |
Yang menarik dan membanggakan, ternyata semangat umat
Buddha seluruh Indonesia sangat tinggi untuk ikut berdana
via program itu. Sesaat setelah nomor rekening itu tersebar
luas, tidak sedikit umat Buddha yang langsung tergerak
untuk mentransfer dana. Sayangnya, sempat terjadi sedikit
masalah. Seperti yang juga sempat terjadi pada sejumlah
rekening di bank yang sama, rekening tersebut sempat
beberapa saat tidak dikenali. Transaksi transfer dari
orang-orang gagal terus padahal rekening dalam posisi
aktif. "Kami telah berulang kali menyampaikan keluhan
ke BCA dan mereka hanya bisa menjawab bahwa itu problem
banyak pihak, bukan hanya kita. Banyak rekening bantuan
yang jadi masalah, karena satu nomor rekening diakses
beramai-ramai di seluruh Indonesia melalui ATM. Oleh
karena itu, saat menerima SMS dari berbagai kalangan,
kami hanya bisa meminta mereka mencoba dan mencoba lagi,
sampai berhasil. Bukankah dengan terus mencoba, pikiran
kita untuk berdana timbul berulang-ulang kali sehingga
kebajikan kita berlangsung cukup lama?" ujar Tonny
mencoba mengajak berpikir positif mengenai kejadian
itu.
Hambatan lain yang turut mewarnai pelaksanaan program
ini kembali terjadi ketika akan dilakukan penyaluran
bantuan ke wilayah bencana, terutama ketika hendak mengirim
bantuan 1000 kantong jenazah. Saat itu, berbagai pihak
yang berwenang menolak menerima bantuan barang. "Seorang
rekan kami, Sdr. Sigit, tidak kehabisan akal. Dia menghubungi
sahabatnya untuk mendapatkan nomor HP Bapak Alwi Shihab
(Menko Kesra) yang menjadi koordinator di lapangan.
Pak Alwi, dalam balasan SMSnya minta kita menghubungi
Sesmenko. Menurut Sesmenko, kantong jenazah harus mendapat
prioritas pengiriman karena sangat diperlukan. Akhirnya,
pengiriman kantong jenazah sumbangan umat Buddha menjadi
lancar dan diterima langsung oleh TNI AU yang langsung
memberangkatkannya ke Banda Aceh," kenang Tonny.
Menurut rencana yang sudah disepakati, program "Karuna
untuk Aceh" berakhir tanggal 23 Januari 2005. Namun,
menurut Tonny, jadual itu bisa saja berubah. "Kalau
sampai tanggal itu program ini masih perlu dilanjutkan,
kami akan membahasnya lagi bersama-sama."
Bagaimana keadaan umat Buddha di daerah bencana yang
mungkin turut menjadi korban? "Kami belum menerima
informasi mengenai hal tersebut selain Pembimas Buddha
di Aceh yang meninggal bersama istrinya akibat bencana
itu. Isterinya pernah tinggal di Jakarta dan mengasuh
anak-anak Sekolah Minggu di Dhammacakka dan di Sekolah
Triratna. Teman-teman di Jakarta sudah melakukan upacara
patidana buat almarhum dan almahumah. Kalau ada info
mengenai vihara atau umat Buddha yang menjadi korban
bencana, tolong beritahu kami via Posko KBBTI di Vihara
Jakarta Dhammacakka Jaya. Tentu informasi itu akan kita
perhatikan," kata Tonny lebih lanjut.
Oh ya, meskipun beberapa bhikkhu anggota Sangha Theravada
Indonesia (STI) ikut terlibat dalam program ini namun
secara institusi nama STI tidak tercantum bersama MAGABUDHI,
WANDANI, dan PATRIA. Padahal sehari-harinya STI juga
merupakan anggota KBBTI. Ada apa nih? "Sejak awal
hal itu (melibatkan STI -red) sudah kami pikirkan. Namun
kami kesulitan untuk bertemu institusi Sangha. Mungkin
karena anggota pengurus Sangha yang selalu tersebar.
Hingga pada malam kami mengadakan rapat untuk memutuskan
kesepakatan bersama, kami belum bisa mendapatkan informasi
dari pimpinan Sangha. Karena terdesak untuk segera melaksanakan
program bersama ini, maka kami hanya
mengundang bhikkhu Y.M. Sukhemo Mahathera sebagai personal.
Bhante Sukhemo banyak memberi perhatian untuk kegiatan
ini. Beliau ikut membahas surat himbauan bersama kami,
menyediakan kotak dana khusus untuk program ini di Vihara
Dhammacakka, memantau pengumpulan dan pengiriman barang,
dan sebagainya," jelas Tonny panjang lebar. (bch)
FOTO-FOTO: DOK. KBBTI
Versi cetak / Print this page
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|