BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 
[]

Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?


   
Click Here!

 

Ketika KBBTI Bantu Korban Tsunami di Aceh

[19 Januari 2005]

BuddhistOnline.com - Bencana gempa disusul gelombang tsunami yang melanda sejumlah negara di kawasan Asia, termasuk Indonesia (khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan sekitarnya) pada 26 Desember 2004 telah membuat berbagai pihak ramai-ramai mengumpulkan dana untuk membantu daerah bencana dan para korban. Meskipun kurang begitu terekspos di media massa, salah satu pihak yang ikut membantu korban bencana adalah Keluarga Besar Buddhis Theravada Indonesia (KBBTI) yang terdiri dari MAGABUDHI, WANDANI, dan PATRIA.

Dengan mengusung label "Karuna untuk Aceh", KBBTI telah mengumpulkan bantuan dari umat Buddha dalam bentuk uang dan barang. Sebagai informasi, dana uang yang terhimpun di rekening KBBTI mencapai lebih dari 200 juta. Sementara bantuan berbentuk barang bisa disebut seperti ribuan kantong jenazah, pakaian bekas layak pakai, pakaian muslim, biskuit, air minum, dan sebagainya. Penyaluran bantuannya ke lokasi bencana di Aceh dan Sumatera Utara telah dilakukan dalam beberapa kali pengiriman.

Sedikit menengok ke belakang, program penggalangan bantuan dari umat Buddha untuk para korban bencana tsunami di Aceh dan Sumatera Utara itu bermula dari banyaknya SMS yang masuk ke nomor ponsel para pengurus MAGABUDHI, WANDANI, dan PATRIA yang menanyakan apa langkah dari organisasi-organisasi tersebut dalam menyikapi bencana tersebut. Pihak KBBTI juga menolak kalau program tersebut hanya sekedar ikut-ikutan saja.

"Bukan ikut-ikutan, karena program ini sudah langsung digodok sehari setelah terjadinya musibah. Program ini sudah langsung digodok sehari setelah terjadinya musibah. Saat itu, kita belum banyak mendengar adanya posko-posko bantuan. Kita semua tergerak oleh karuna, welas asih yang ada di dalam diri masing-masing sebagai buah dari belajar Dhamma selama ini," kata Silakumaro Tonny Coason, Ketua DPP PATRIA yang bersama Ketua DPP MAGABUDHI dan Ketua DPP WANDANI bertindak sebagai koordinator program "Karuna untuk Aceh".

Sebagai langkah awal, diputuskan untuk membuka sebuah rekening bersama di sebuah bank. Rekening di Bank BCA Kelapa Gading No. Rek. 227 0134 931 itu atas nama Lydia Puspayati / Indriana. Jangan keburu curiga dulu mengenai nama yang dipakai dalam rekening itu. "Karena terburu-buru, maka rekening ini tidak sempat diproses atas nama organisasi. Penggunakan rekening atas nama organisasi memerlukan waktu yang lebih dalam karena banyaknya persyaratan administrasi," ungkap Tonny kepada BuddhistOnline.com dalam wawancara tertulis belum lama ini.

Anggota PATRIA dan barang sumbangan
KBBTI di Bandara Halim Perdana Kusuma
Staf TNI-AU sedang membuat tanda terima atas sumbangan umat Buddha
melalui program KARUNA UNTUK ACEH
PATRIA mewakili MAGABUDHI WANDANI PATRIA menyerahkan
bantuan kantong-kantong jenazah kepada TNI-AU di Bandara Halim Perdana Kusuma

Yang menarik dan membanggakan, ternyata semangat umat Buddha seluruh Indonesia sangat tinggi untuk ikut berdana via program itu. Sesaat setelah nomor rekening itu tersebar luas, tidak sedikit umat Buddha yang langsung tergerak untuk mentransfer dana. Sayangnya, sempat terjadi sedikit masalah. Seperti yang juga sempat terjadi pada sejumlah rekening di bank yang sama, rekening tersebut sempat beberapa saat tidak dikenali. Transaksi transfer dari orang-orang gagal terus padahal rekening dalam posisi aktif. "Kami telah berulang kali menyampaikan keluhan ke BCA dan mereka hanya bisa menjawab bahwa itu problem banyak pihak, bukan hanya kita. Banyak rekening bantuan yang jadi masalah, karena satu nomor rekening diakses beramai-ramai di seluruh Indonesia melalui ATM. Oleh karena itu, saat menerima SMS dari berbagai kalangan, kami hanya bisa meminta mereka mencoba dan mencoba lagi, sampai berhasil. Bukankah dengan terus mencoba, pikiran kita untuk berdana timbul berulang-ulang kali sehingga kebajikan kita berlangsung cukup lama?" ujar Tonny mencoba mengajak berpikir positif mengenai kejadian itu.

Hambatan lain yang turut mewarnai pelaksanaan program ini kembali terjadi ketika akan dilakukan penyaluran bantuan ke wilayah bencana, terutama ketika hendak mengirim bantuan 1000 kantong jenazah. Saat itu, berbagai pihak yang berwenang menolak menerima bantuan barang. "Seorang rekan kami, Sdr. Sigit, tidak kehabisan akal. Dia menghubungi sahabatnya untuk mendapatkan nomor HP Bapak Alwi Shihab (Menko Kesra) yang menjadi koordinator di lapangan. Pak Alwi, dalam balasan SMSnya minta kita menghubungi Sesmenko. Menurut Sesmenko, kantong jenazah harus mendapat prioritas pengiriman karena sangat diperlukan. Akhirnya, pengiriman kantong jenazah sumbangan umat Buddha menjadi lancar dan diterima langsung oleh TNI AU yang langsung memberangkatkannya ke Banda Aceh," kenang Tonny.

Menurut rencana yang sudah disepakati, program "Karuna untuk Aceh" berakhir tanggal 23 Januari 2005. Namun, menurut Tonny, jadual itu bisa saja berubah. "Kalau sampai tanggal itu program ini masih perlu dilanjutkan, kami akan membahasnya lagi bersama-sama."

Bagaimana keadaan umat Buddha di daerah bencana yang mungkin turut menjadi korban? "Kami belum menerima informasi mengenai hal tersebut selain Pembimas Buddha di Aceh yang meninggal bersama istrinya akibat bencana itu. Isterinya pernah tinggal di Jakarta dan mengasuh anak-anak Sekolah Minggu di Dhammacakka dan di Sekolah Triratna. Teman-teman di Jakarta sudah melakukan upacara patidana buat almarhum dan almahumah. Kalau ada info mengenai vihara atau umat Buddha yang menjadi korban bencana, tolong beritahu kami via Posko KBBTI di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya. Tentu informasi itu akan kita perhatikan," kata Tonny lebih lanjut.

Oh ya, meskipun beberapa bhikkhu anggota Sangha Theravada Indonesia (STI) ikut terlibat dalam program ini namun secara institusi nama STI tidak tercantum bersama MAGABUDHI, WANDANI, dan PATRIA. Padahal sehari-harinya STI juga merupakan anggota KBBTI. Ada apa nih? "Sejak awal hal itu (melibatkan STI -red) sudah kami pikirkan. Namun kami kesulitan untuk bertemu institusi Sangha. Mungkin karena anggota pengurus Sangha yang selalu tersebar. Hingga pada malam kami mengadakan rapat untuk memutuskan kesepakatan bersama, kami belum bisa mendapatkan informasi dari pimpinan Sangha. Karena terdesak untuk segera melaksanakan program bersama ini, maka kami hanya
mengundang bhikkhu Y.M. Sukhemo Mahathera sebagai personal. Bhante Sukhemo banyak memberi perhatian untuk kegiatan ini. Beliau ikut membahas surat himbauan bersama kami, menyediakan kotak dana khusus untuk program ini di Vihara Dhammacakka, memantau pengumpulan dan pengiriman barang, dan sebagainya," jelas Tonny panjang lebar. (bch) FOTO-FOTO: DOK. KBBTI

 

Versi cetak / Print this page

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]