|
Kitab Suci Tipitaka
Kitab Suci Agama Buddha adalah Tipitaka, khususnya
dalam mazhab Therãvada. (bedakan dengan Tripitaka).
Tipitaka berasal dari kata Ti (=tiga) dan pitaka (=keranjang)
dalam bahasa Pali. Tipitaka merupakan kumpulan naskah
utama ajaran Sang Buddha dalam bahasa Pali yang menjadi
dokrin dasar bagi Agama Buddha, khususnya mazhab Therãvada.
Therãvada berarti ajaran para sesepuh.
Hingga kini semakin banyak bagian-bagian dari Kitab
Suci Tipitaka yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa
Inggris maupun bahasa-bahasa lainnya, termasuk Bahasa
Indonesia. Bahkan sudah ada yang menyediakannya dalam
bentuk CD-ROM, di samping versi online di Internet.
Bagaimana Kitab Suci Tipitaka itu disusun pada awalnya?
Berikut ini sekilas sejarahnya.
Kira-kira tiga bulan setelah Sang Buddha Mahaparinibbana,
lima ratus Arahat siswa-siswa terkemuka Sang Buddha,
yang memikirkan pemeliharaan kemurnian AjaranNya, menyelenggarakan
suatu pasamuan / konsili untuk mengulang kembali ajaran
Sang Buddha, Sang Bhagava. Dalam Konsili Pertama yang
berlangsung di Rajagaha, India itu, Y.M Ananda yang
berkesempatan istimewa selalu dapat mendengarkan pembabaran
Sang Buddha, bertugas untuk membaca kembali Dhamma (ajaran
kebenaran) yang telah didengar langsung dariNya. Sedangkan
untuk bidang Vinaya (tata tertib/disiplin) dipercayakan
kepada Y.M Upali Thera.
Konsili itu berhasil menghimpun dan menyusun Tipitaka
dalam bentuk seperti sekarang ini, yang merupakan gambaran
menyeluruh mengenai ajaran Sang Buddha.
Dua pasamuan agung berikutnya yang diadakan berturut-turut
100 dan 296 tahun kemudian, digunakan untuk mengulang
kembali ajaran Sang Buddha karena ada usaha-usaha mengotori
kemurnian ajaran.
Sekitar tahun 444 BE (Buddhist Era) /100 SM, pada
waktu Raja Vattagamani Abhaya memerintah di Srilangka,
diadakan Konsili ke empat. Dari konsili ini dihasilkan
penulisan Tipitaka Pali untuk pertama kali di atas daun
lontar (palm leaves).
Perlu diketahui, Kitab Suci Tipitaka yang berisikan
intisari ajaran Sang Buddha Gotama ini terdiri dari
berpuluh ribu jilid. Seandainya ingin dibandingkan,
ketebalannya bisa mencapai lebih dari sebelas kali Bibel.
Suatu perbedaan yang jelas antara Kitab Suci Tipitaka
dan Bibel adalah yang pertama bukan merupakan suatu
perkembangan yang berangsur-angsur seperti yang terakhir!
Sesuai dengan makna yang terkandung maka tiga keranjang
yang dimaksud adalah:
- Vinaya Pitaka (peraturan kebhikkhuan/tata tertib)
- Sutta Pitaka (babaran Dhamma Sang Buddha dan beberapa
Siswa UtamaNya)
- Abhidhamma Pitaka (analisa mendalam ajaran Sang
Buddha yang mencakup ilmu fisika dasar, ilmu jiwa,
logika, dan etika).
Dari tiga bagian utama tersebut, masing-masing terdiri
dari beberapa bagian lagi. Selengkapnya bisa dilihat
pada susunan berikut ini.
|
|
|
|
|
|
| Pãrãjika
Pãli |
| Pãcittiya
Pãli |
|
|
|
| Mahãvagga
Pãli |
| Cullavagga
Pãli |
|
|
Parivara
Pãli |
|
|
|
|
|
Digha
Nikãya |
|
|
Majjhima
Nikãya |
|
| Samyutta
Nikãya |
|
|
Anguttara
Nikãya |
|
|
| Khuddaka
Pãtha |
| Dhammapada |
| Udãna |
| Itivuttaka |
| Sutta
Nipãta |
| Vimãna
Vatthu |
| Peta
Vatthu |
| Theragãthã |
| Therigãthã |
| Jãtaka |
| Niddesa |
| Patisambhidãmagga |
| Apadãna |
| Buddhavamsa |
| Cariyãpitaka |
|
|
|
|
|
|
Dhammasangani |
|
Vibhanga |
|
Kathã
Vatthu |
|
Puggala
Pannatti |
|
Dhãtu
Katha |
|
Yamaka |
|
Patthana |
|
|
|
Sumber:
- Intisari Agama Buddha, Narada Mahathera.
- Pedoman Penghayatan dan Pembabaran Agama Buddha
Mazhab Theravada di Indonesia, Yayasan Dhammadipa
Arama, Oktober 1992.
- Tipitaka, John Built, Access
to Insight.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|