|
Antara Lidah dan Sendok
oleh: Y.M. Uttamo Thera *
Bagaikan lidah yang dapat merasakan
setiap rasa sayur yang melewatinya, demikian pula orang
bijaksana dapat mengerti Dhamma walaupun baru sejenak
mengenalnya (Dhammapada Bala Vagga 65)
Di dalam Dhammapada dikatakan ada dua jenis perkenalan
dengan Dhamma. Yang pertama adalah perkenalan biasa-biasa,
selanjutnya tetap biasa-biasa saja. Diibaratkan seperti
sendok. Sendok tidak pernah kepedasan. Tidak pernah
begitu menyentuh lombok langsung berteriak kepedasan.
Kenapa? Karena sendok tidak punya rasa. Menyendok sambal
bisa, kuah juga mau. Apa saja boleh diambil dengan sendok.
Menyendok yang baik dan menyendok yang jelek bisa pula.
Sendok tidak bereaksi, karena dia tidak pernah merasakan
rasa apapun yang menempel di tubuhnya.
Begitu juga dengan umat yang termasuk jenis ini. Datang
ke vihara, ikut puja-bhakti, baca paritta, dan meditasi.
Termasuk ngantuk dan melamunnya... Satu kali, dua kali,
tiga kali, empat kali, satu bulan, dua bulan, setahun,
dua tahun sampai sepuluh tahun mengenal Dhamma tetapi
masih tetap biasa-biasa.
Ketika ditanya, setelah mengenal Dhamma selama sepuluh
tahun apakah masih emosi? Jawabnya, masih. Apakah setelah
mengenal Dhamma sudah bisa meditasi? Belum. Beginilah
jenis yang pertama, selalu mengantarkan sayur ke dalam
mulut, tapi tiada pernah merasakan.
Namun ada jenis perkenalan dengan Dhamma yang mulanya
biasa-biasa, selanjutnya makin menggebu-gebu. Ibaratnya
lidah. Lidah itu luar biasa. Seandainya satu butir nasi
dimasukkan ke dalam hamburger yang kita makan,
pasti kita akan dapat merasakan nasi itu. Karena lidah
kita sudah terbiasa dengan rasanya, meskipun cuma satu
butir. Itulah kehebatan lidah. Luar biasa!
Demikian pula dalam mengenal Dhamma. Menjadi umat Buddha
bukan dilihat sudah berapa lama sudah jadi umat Buddha.
Itu bukan jaminan. Tetapi, yang penting adalah sudah
seberapa jauh kita merasakan nikmatnya Dhamma.
Sabbam rasam dhammaraso jinati. Dari seluruh rasa,
rasa Dhammalah yang paling unggul (Dhammapada Tanha
Vagga 354)
HANYALAH OBJEK
Sudahkah kita merasakan Dhamma? Sudahkah kita merasakan
manfaat Dhamma dalam kehidupan kita sehari-hari? Perkenalan
dengan Dhamma kadang hanya sejenak, perkenalan dengan
Dhamma kadang hanya sepintas, kesannya itu. Nah, kita
termasuk lidah ataukah sendok?
Kalau salah satu dari kita setelah mengenal Dhamma
langsung merasakan manfaatnya, maka berbahagialah dia.
Karena dia adalah "lidah" yang bermanfaat. Tetapi kalau
sampai sudah duduk capek, namakara sampai dahinya hafal,
ketika ditanya mengenai Agama Buddha masih tidak mengerti,
kita mesti memperbaikinya karena masih kualitas sendok.
Darimanakah kita bisa mendapatkan Dhamma? Sebetulnya
Dhamma ada di dalam kehidupan kita sehari-hari. Dhamma
bukan hanya ada di buku-buku. Dhamma bukan hanya yang
dibagikan oleh para bhikkhu. Satu contoh, kalau kita
pergi ke vihara lalu melihat Buddharupang, maka itu
sebetulnya adalah pelajaran Dhamma. Banyak orang yang
sudah bernamakara berkali-kali kepada Sang Buddha tetapi
nggak mengerti maksudnya. Kebiasaan? Wah, itu
salah total!
Kebiasaan sebetulnya sering menimbulkan penyimpangan.
Pernah di sebuah vihara terdapat kebiasaan aneh, setiap
puja-bhakti harus ada anjing hitam yang diikat di bawah
pohon bodhi di halaman vihara. Padahal, asal mulanya
hanya karena Bhikkhu kepala vihara senang memelihara
anjing hitam dan selalu mengikatnya ketika sang Bhikkhu
melaksanakan puja-bhakti. Ketika Bhikkhu itu meninggal,
kebiasaan tersebut diteruskan tanpa tahu alasannya.
Itulah kebiasaan yang menyimpang. Kita juga sering begitu.
Misalnya, ketika ditanya, kenapa bernamakara? Biar dapat
berkah Sang Buddha? Oh....
Tidak ada pelajaran dalam Agama Buddha yang mengatakan
bahwa dengan namakara bisa dapat berkahnya Sang Buddha.
Tidak ada. Kita bernamakara, Sang Buddha tidak tersenyum.
Kita tidak namakara, Sang Buddha tidak apa-apa. Tetapi
bernamakara atau tidak, itu berhubungan dengan diri
kita sendiri.
Pada saat kita bernamakara, sebetulnya pikiran, ucapan,
dan perbuatan kita diarahkan kepada hal positif. Kita
berusaha berkonsentrasi sehingga bernamakara tiga kali.
Dengan bernamakara, kita membutuhkan waktu minimal setengah
sampai satu menit untuk punya pikiran, ucapan, dan perbuatan
benar. Kalau tiap hari melakukan kegiatan namakara,
maka dalam satu bulan kita bisa punya tiga puluh menit
pikiran, ucapan dan perbuatan benar. Satu tahun tiga
ratus enam puluh menit.
Makin banyak kita namaskara, makin banyak kita menanam
kamma baik. Patung Sang Buddha hanyalah sebagai obyek,
sasaran, atau sarana kita untuk menanam pikiran, ucapan
dan perbuatan benar. Begitu pula bernamakara pada seorang
Bhikkhu. Itu bukan namakara buat Bhikkhunya. Bukan namakara
sama jubahnya. Tetapi Bhikkhunya sebagai obyek untuk
menanam kamma baik lewat pikiran, ucapan, dan perbuatan.
Ketika kita bernamakara pada Buddharupang, yang posisinya
bumisparsa mudra, sebetulnya ini menunjukkan
bahwa kita harus bertekad jangan sampai patah semangat
sebelum mencapai cita-cita. Apapun yang menghalangi
harus kita hadapi untuk mencapai tujuan akhir. Sebelum
cita-cita tercapai jangan pantang mundur. Sekolah mau
men-DO, tidak bisa. Kita harus berjuang keras sampai
tidak ada kesempatan men-DO kita.
Kita harus bertekad, harus teguh, harus kuat. Kenapa?
Karena kita melihat contohnya, Sang Buddha guru kita.
Kalau guru kita berani bertekad kuat tidak akan beranjak
dari meditasinya sebelum mencapai cita-cita (kesucian
-red), maka kita pun juga sebagai murid-muridnya harus
bisa. Ini adalah salah satu mudra. Ada banyak
mudra, tapi yang diterangkan hanya satu mudra.
Supaya kita sebagai umat Buddha tidak ada kata patah
semangat. Harus selalu bersemangat. Kalau punya cita-cita,
tetaplah teguh. Seperti yang dilakukan Sang Buddha.
SEKOLAH KEDUKUNAN
Lalu soal baca paritta. Tidak jarang di antara kita
ada yang mau membaca paritta untuk hal yang aneh-aneh.
Bhante, paritta apa supaya tidak digigit anjing? Baca
saja "Semoga semua makhluk hidup berbahagia." Kalau
supaya nggak dicopet? "Semoga semua makhluk hidup berbahagia."
Itulah parittanya.
Kenapa? Kadang-kadang kita suka aneh-aneh. Supaya tidak
digigit anjing pakai paritta ini, agar tidak dicopet
baca paritta itu. Jadinya kita seperti menghapal "mantra-mantra".
Seperti sekolah kedukunan saja. Padahal Agama Buddha
bukan begitu.
Sebenarnya membaca paritta juga mengarahkan kita supaya
punya pikiran baik, ucapan baik, dan perbuatan baik.
Sama seperti namakara tadi. Ini kalau kita tidak mengerti
artinya. Tapi kalau mengerti, lain lagi.
Misalnya dalam paritta Abhinhapaccavekkhana
disebutkan aku akan mengalami usia tua, aku belum bisa
mengatasi usia tua, aku akan mati, dan aku belum bisa
mengatasi kematian. Berarti kita bisa tua dan bisa meninggal.
Padahal sekarang masih muda, masih belum meninggal.
Mumpung masih muda, masih belum meninggal, kita harus
mengembangkan kebaikan, belajar banyak paritta, belajar
Dhamma, dan melaksanakannya dengan baik. Semangat hidup
akan muncul untuk memanfaatkan setiap momen kehidupan
dalam mengembangkan diri.
Inilah salah satu manfaat menjadi "lidah-lidah" Dhamma.
Sebagai lidah, kita langsung bisa merasakan rasa asin,
manis, dan asam. Demikian pula sebagai umat Buddha,
walaupun baru sekali kita mengenal Dhamma tetapi kalau
kita mengerti intinya bahwa Dhamma adalah pembawa semangat
kehidupan, sehingga tidak akan pernah ragu, tidak pernah
patah semangat, maka hidup kita akan selalu diisi dengan
prestasi, hasil gemilang dari usaha dan perjuangan kita.
Jadilah lidah yang baik. Janganlah menjadi sendok yang
tidak pernah mengetahui rasa makanan. Sehingga biar
hanya sebentar mengenal Dhamma, bisa memanfaatkannya
dengan baik. Semoga kita berbahagia di dalam Dhamma.
Semoga semua makhluk baik yang tampak maupun yang tidak
tampak memperoleh kebaikan dan kebahagiaan sesuai dengan
kondisi kammanya masing-masing.
*Y.M. Uttamo
Thera adalah Ketua Yayasan Dhammadipa Arama cabang
Blitar & Webmaster Samaggi
Phala
Naskah disampaikan di Cetiya Karuna Dipa,
Surabaya dan pernah dimuat di Lembaran VIJJA KUMARA
No. 3/I/97.
Hak cipta tetap berada pada penulis.
Kirim Artikel ini ke Teman Anda!
|