|
Agama Buddha dan Mahasiswa
oleh: Y.M. Uttamo Thera *
Belajar ilmu pengetahuan hingga lulus niscaya mendapat
kehormatan. Namun, pelatihan diri dalam tingkah laku-lah yang membawa pada
kedamaian. (Khuddaka Nikaya, Jataka I, 842)
PENDAHULUAN
Kemajuan ilmu pengetahuan dikuatirkan akan
memberikan banyak dampak negatif pada perkembangan agama-agama
dunia. Bahkan tidak jarang muncul pandangan sinis bahwa
agama suatu ketika akan ditinggalkan oleh pengikutnya.
Para pengikut agama akan menggantikan agama dengan ilmu
pengetahuan. Pandangan ini juga melanda di kalangan
umat Buddha. Agama Buddha yang telah diajarkan oleh
Sang Buddha Gotama hampir 3000 tahun yang lalu di India
juga sering diragukan kelayakannya dalam menghadapi
tantangan kemajuan jaman. Oleh karena itu, kemudian
banyak umat Buddha yang sibuk berusaha 'menyesuaikan'
Agama Buddha dengan tuntutan jaman. Mereka 'memperbaiki'
Agama Buddha sesuai dengan keinginan pribadinya. Mereka
akhirnya bukan memperbaiki keadaan, malah merusak! Mereka
masing-masing berlomba menjadi 'Buddha Yunior', merasa
memperoleh penerangan sejati dan mandat tertentu untuk
mengubah pengertian Dhamma. Padahal Dhamma telah sempurna
dibabarkan. Tidak perlu diubah lagi. Dhamma juga tidak
akan terpengaruh oleh kemajuan jaman.
AGAMA BUDDHA = BUDDHA DHAMMA + TRADISI
Agama Buddha sebenarnya terdiri dari dua bagian besar. Bagian pertama adalah pelajaran kebenaran yang diberikan oleh Sang Buddha Gotama disebut dengan Buddha Dhamma. Bagian kedua adalah tradisi yang berkembang pada satu masyarakat tertentu tempat tumbuhnya Buddha Dhamma tersebut. Apabila kita berbicara tentang relevansi Agama Buddha dalam menghadapi kemajuan jaman, hendaknya kita dapat membatasi diri membicarakan Buddha Dhamma saja, bukan tentang tradisi. Tradisi dapat berlainan dari satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya. Membahas masalah tradisi akan bertele-tele dan tidak akan menemui titik terang. Masing-masing akan mempertahankan pendapatnya mati-matian. Padahal, kebenaran Dhamma bukan pada tradisi itu. Pembahasan Buddha Dhamma, di mana pun juga, oleh siapa pun juga, hasilnya akan dan harus tetap sama.
Hal paling pokok dalam Buddha Dhamma atau Ajaran Sang Buddha adalah Empat Kesunyataan Mulia. Bila Buddha Dhamma diibaratkan suatu sistem pendidikan tingkat perguruan tinggi maka Empat Kesunyataan Mulia adalah kurikulum dasarnya. Hal ini dapat terjadi karena selama Sang Buddha mengajarkan Dhamma sampai 45 tahun lamanya, pokok ajaran Beliau selalu sama, Empat Kesunyataan Mulia. Sang Buddha mengajar sebanyak 84.000 kali ceramah, isinya sama yaitu Empat Kesunyataan Mulia. Hingga saat inipun pokok pelajaran Agama Buddha tetap dan berlaku universal. Bahkan di masa yang akan datang pun juga sama. Sampai munculnya Buddha yang akan datang pun pasti akan mengajarkan hal yang sama. Semua Buddha ajaranNya sama. Oleh karena itu, jelaslah bahwa Empat Kesunyataan Mulia itu dapat dijadikan tolok ukur untuk membedakan Agama Buddha dengan berbagai macam tradisi. Isi Empat Kesunyataan Mulia yang pertama adalah, hidup sesungguhnya berisikan ketidakpuasan. Artinya berkumpul dengan segala sesuatu yang dibenci dan berpisah dengan segala sesuatu yang dicinta akan menimbulkan ketidakpuasan. Kedua, ketidakpuasan ini ada sebabnya yaitu keinginan atau harapan kita sendiri. Makin besar harapan, makin besar pula kekecewaan yang akan dirasakan. Harapan yang berlebihan ini dapat muncul karena ketidaktahuan kita akan kenyataan hidup yang selalu berubah, tidak kekal. Harapan tidak selalu menjadi kenyataan, sebaliknya, kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan. Biasanya kita mengerti ketidakkekalan hanya berlaku untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri. Akhirnya, kita akan menjadi penasehat ulung tetapi tidak dapat memanfaatkan Buddha Dhamma untuk kehidupan kita sendiri. Inilah yang menjadi penyebab ketidakpuasan. Banyak teori kurang praktek Dhamma. Ketiga, karena penyebab ketidakpuasan sudah diketahui, maka pasti ada jalan untuk mengatasinya. Jalan kebebasan itu telah ditunjukkan oleh Sang Guru Agung. Bila telah ada jalan dan kemudian dilaksanakan, maka pastilah ketidakpuasan dapat segera diatasi. Terbebas dari ketidakpuasan dan memiliki batin seimbang dalam menghadapi perubahan hidup, itulah tujuan seorang umat Buddha. Keempat, cara atau jalan mengatasi dan menguasai diri kita sendiri agar dapat mencapai keadaan batin yang tenang, seimbang. Cara atau jalan yang diajarkan Sang Buddha ini disebut dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Isi Jalan ini adalah Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Cara hidup Benar, Daya Upaya Benar, Konsentrasi Benar dan Samadhi Benar. Jadi, inti Empat Kesunyataan Mulia sebenarnya adalah hukum sebab dan akibat. Ada sebab, muncullah akibat; hilang sebab, hilang pula akibatnya. Hukum ini pula yang mendasari seluruh Ajaran Sang Buddha.
BUDDHA DHAMMA = PENGAJARAN + PENDIDIKAN Dalam makalah ini tidak akan dibahas tentang Empat Kesunyataan Mulia, tetapi akan membahas hubungan Agama Buddha, dalam hal ini Buddha Dhamma, dengan kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar yang berlangsung dalam masyarakat sangatlah dihargai oleh Sang Buddha. Bahkan seperti yang ditulis di atas, kehormatan dalam masyarakat akan dicapai apabila kita mendapatkan pendidikan dan ilmu pengetahuan yang memadai. Beberapa cara mendapatkan pendidikan dan ilmu pengetahuan adalah dengan memilih perguruan tinggi yang baik, rajin mengikuti kegiatan kampus, menerapkan ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah demi kebahagiaan masyarakat dan lingkungan. Apabila kita dapat memanfaatkan kesempatan memperoleh dan mempraktekkan hasil pendidikan ini dengan baik, hal ini akan melegakan hati orangtua. Orangtua akan dapat memenuhi kewajibannya terhadap anak yaitu memberikan pendidikan yang baik (Digha Nikaya III, 188).
Dalam pandangan Buddhis, pengajaran sebagai sarana
memperoleh ilmu pengetahuan saja belumlah cukup. Orang
masih membutuhkan pendidikan. Pendidikan adalah usaha
mengembangkan batin seseorang agar menjadi dewasa. Hasil
pengajaran akan memberikan kehormatan dalam masyarakat.
Hasil pendidikan akan menumbuhkan watak bermoral. Kehormatan
sebagai anggota masyarakat memanglah membanggakan. Namun
itu belumlah cukup. Ilmu pengetahuan yang sedemikian
membanggakan kadang dapat berubah menjadi monster yang
sangat mengerikan. Kita bisa merenungkan hasil penemuan
bom atom yang mungkin tidak terduga oleh si penemu teori
relativitas, Albert Einstein. Dan masih banyak penyalahgunaan
ilmu pengetahuan lainnya. Oleh karena itu, selain memiliki
ilmu pengetahuan sebagai hasil pengajaran dibutuhkan
pula latihan pengendalian tingkah laku atau sering disebut
dengan sila / kemoralan sebagai hasil pendidikan. Dengan
bekal kemoralan inilah, sikap dan perilaku kita akan
terjaga. Kita tidak akan menyalahgunakan kemampuan dan
kepandaian yang kita miliki. Kita justru akan memanfaatkan
semua ilmu pengetahuan kita untuk membantu kesejahteraan
umat manusia. Kita akan selalu memiliki pola pikir,
semoga semua mahluk berbahagia.
SILA (KEMORALAN)
Pendidikan secara Buddhis diawali dengan mengenalkan
perilaku bersusila atau bermoral. Perilaku ini ditumbuhkan
dengan melaksanakan latihan kemoralan. Kemoralan yang
paling dasar dalam Agama Buddha adalah Pancasila Buddhis.
Pancasila Buddhis berisikan lima latihan pengendalian
diri. Latihan untuk tidak melakukan pembunuhan, tidak
melakukan pencurian, tidak melakukan pelanggaran kesusilaan,
tidak berbohong, dan tidak mabuk-mabukan. Pelaksanaan
Pancasila Buddhis ini dengan tekun akan menghasilkan
ketenangan, ketentraman, dan kedamaian dalam masyarakat.
Pancasila Buddhis akan menjadi pagar pengaman lingkungan.
Kemampuan teknologi yang dimiliki seseorang tidak akan
digunakan untuk kejahatan, mencuri atau merampok, misalnya.
Sebab, telah banyak kita dengar maupun saksikan teknologi
sinar laser dapat digunakan untuk membuka lemari besi
tempat penyimpanan harta yang hendak dirampok. Oleh
karena itu, bila semakin banyak orang melaksanakan Pancasila
Buddhis maka kondisi lingkungan masyarakat akan semakin
aman. Semakin banyak anggota masyarakat yang melaksanakannya,
dunia pun menjadi aman.
Setiap umat Buddha hendaknya melaksanakan Pancasila
Buddhis dengan ketat setiap hari. Pada hari-hari tertentu,
misalnya seminggu sekali atau dua minggu sekali, kita
dapat meningkatkan latihan dengan melaksanakan Atthasila
atau delapan aturan kemoralan. Tujuannya jelas, untuk
lebih dapat mengendalikan diri, menguasai emosi. Dalam
Atthasila, salah satunya kita juga dianjurkan berpuasa
setelah tengah hari, kira-kira setelah jam 12.00 siang.
Tujuan berpuasa ini adalah untuk mengalahkan rasa lapar
yang merupakan dorongan universal yang ada dalam diri
kita. Disebut dengan dorongan universal karena ketika
masih di dalam kandungan, mahluk termasuk manusia, telah
mengenal rasa lapar terlebih dahulu sebelum mengenal
segala sesuatu yang ada di dunia ini. Jadi bila orang
telah dapat menundukkan dorongan universal ini, ia akan
lebih mudah menenangkan pikirannya ketika ketidakpuasan
datang menghampirinya. Ia akan dapat dengan segera merenungkan
bahwa dorongan universal yang lebih hebat pun telah
dapat ditundukkan, apalagi hanya ketidakpuasan atas
sesuatu yang tidak dikenalnya ketika masih dalam kandungan.
Batinnya akan lebih mudah tenang, seimbang. Emosi terkendali.
SAMADHI (MEDITASI)
Pendidikan mental dengan melaksanakan latihan kemoralan
sebagai pengimbang kemajuan ilmu pengetahuan, hendaknya
dilengkapi dengan memperbaiki pola pikir. Pola pikir
hendaknya dikendalikan agar seseorang jangan hanya baik
pada ucapan dan perbuatan luarnya saja, namun jahat
dalam pikirannya. Perbaikan pola pikir ini dengan menggunakan
sarana latihan meditasi. Dalam Jalan Mulia Berunsur
Delapan disebutkan tentang Konsentrasi Benar dan Samadhi
Benar. Latihan meditasi digunakan untuk membiasakan
pikiran bergerak dalam bidang yang positif. Dalam latihan
meditasi, seseorang dikondisikan untuk selalu menyadari
setiap saat segala sesuatu yang dikatakan, dilakukan
dan dipikirkan. Latihan ini dilakukan dengan selalu
merenungkan kata-kata: "Saat ini saya sedang apa?"
Latihan ini diperlukan karena dari waktu ke waktu, pikiran
seseorang selalu berlompatan ke masa lampau maupun yang
akan datang. Amat sangat jarang pikiran menyadari kesibukan
yang sedang dilakukan saat ini. Pemikiran tentang masa
lampau yang pahit hanyalah akan menimbulkan penyesalan.
Sebaliknya, bila kenangan manis yang diingat, orang
hanya akan terbuai oleh bayangannya saja. Apabila, pikiran
melihat masa depan yang suram, akhirnya orang stres;
masa depan cerah pun kadang hanya berhenti sampai pada
angan-angan atau mimpi saja. Meditasi membiasakan seseorang
menyadari bahwa hidup adalah saat ini. Tadi kita sudah
pernah hidup, tetapi sudah tidak hidup. Nanti kita akan
hidup, tetapi belum tentu hidup. Saat inilah hidup.
Manfaatkanlah. Kesadaran akan hidup saat ini akan memacu
semangat hidup agar dapat memanfaatkan setiap momen
kehidupan dengan sebaik-baiknya. Tidak akan ada waktu
yang terbuang untuk bermalas-malasan. Setiap waktu sedemikian
berharganya yang akan digunakan untuk membaktikan ilmu
pengetahuan yang dimilikinya demi kesejahteraan dan
kebahagiaan umat manusia. Selain itu, meditasi akan
dapat meningkatkan konsentrasi kerja seseorang sehingga
dengan demikian daya kreatifitas akan dapat muncul.
Ide dan gagasan cemerlang muncul dengan mudah. Penemuan
teknologi dapat ditingkatkan. Dengan demikian, semakin
besar kesempatan berbuat baik kepada dunia. Tentu saja,
pemupukan kamma baik akan terus terjadi. Di samping
itu, keberhasilan seseorang menerapkan hasil pendidikan
dan pengajarannya akan menimbulkan simpati masyarakat.
Inilah manfaat menyatukan ilmu pengetahuan dengan Buddha
Dhamma. Memang, dalam beberapa hal, agama dan ilmu pengetahuan
akan dapat saling melengkapi.
Science without religion is lame, religion without
science is blind. (Albert Einstein , Out of My
Later Years)
KESIMPULAN
Pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan pengajaran.
Pengajaran lebih menekankan perkembangan fisik, sedangkan
pendidikan lebih cenderung mengembangkan batin. Demikian
pula perkembangan ilmu pengetahuan hendaknya dibarengi
dengan perkembangan batin yang sehat. Perkembangan batin
dimulai dengan pelaksanaan kemoralan, minimal Pancasila
Buddhis. Pelaksanaan Pancasila Buddhis akan menghindarkan
penyalahgunaan kemampuan dan kepandaian yang dimiliki.
Selain kemoralan, seorang umat Buddha hendaknya juga
mengembangkan meditasi. Meditasi akan mendorong timbulnya
gagasan baru. Menjadikan seseorang kreatif pada bidangnya.
Dan, meditasi juga akan mengantarkan orang pada satu
tingkat kesadaran bahwa hidup adalah saat ini. Oleh
karena itu, mumpung masih hidup, gunakanlah kesempatan
sebanyak mungkin untuk membaktikan seluruh ilmu yang
dimiliki untuk kebahagiaan dunia.
*Y.M. Uttamo
Thera adalah Ketua Yayasan Dhammadipa Arama cabang
Blitar & Webmaster Samaggi
Phala
Hak cipta tetap berada pada penulis.
Kirim Artikel ini ke Teman Anda!
|