|
Agama Buddha Sebagai
Semangat Hidup
oleh: Y.M. Uttamo Thera *
Diri sendiri sesungguhnya adalah
pelindung bagi diri sendiri, karena siapa pula yang
akan menjadi pelindung bagi dirinya? Setelah dapat mengendalikan
dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan
yang sungguh amat sukar dicari. (Dhammapada XII,
4)
PENDAHULUAN
Kehidupan yang selalu berubah serta penuh dengan
perbedaan antara keadaan seseorang dengan orang yang
lain, seringlah menimbulkan kejengkelan, kecemburuan
dan putus asa. Sering kali kita menyesali, mengapa orang
lain lebih bahagia daripada kita, padahal tingkah laku
mereka tidak lebih baik daripada kita. Kita yang telah
berusaha berbuat baik, penderitaan malah sering mengikuti
seperti bayangan kita sendiri. Apakah ada kesalahan
kita? Mengapa pula di dunia ini ada orang yang kaya-miskin,
sehat-sakit-sakitan, umur panjang-umur pendek, cantik-jelek,
pandai-bodoh, dan masih panjang lagi daftar ini bila
semua dituliskan. Perasaan kita kadang lebih hancur
bila kita mengingat penderitaan seakan lebih sering
terjadi pada kita dibandingkan pada orang lain. Hal
semacam ini juga terjadi dalam kehidupan kampus, rasanya
kita telah lebih banyak belajar untuk persiapan ujian,
kenapa orang yang lebih tidak siap menghadapi ujian
sering memperoleh nilai yang hampir sama, bahkan kadang
sama atau malah melebihi nilai kita. Kita kecewa. Kita
kemudian bertanya dalam hati, apakah kesalahan kita?
Apakah benar ini cobaan hidup? Siapakah yang mencoba?
Kita terus berusaha mencari 'kambing hitam' atas kesulitan
yang dialami.
Namun, sebagai seorang umat Buddha, kita tidak diajar
oleh Sang Guru Agung untuk menyalahkan pihak lain atas
kesulitan kita. Semua penderitaan dan masalah kehidupan
pasti ada penyebabnya. Setiap orang memiliki penyebabnya
masing-masing.
Oleh karena itu, sungguh tidak tepat bila dalam diri
kita masih juga muncul kejengkelan, iri hati terhadap
kebahagiaan orang lain, bahkan amat keliru kalau kita
sampai putus asa, patah semangat hidup dalam menghadapi
perubahan yang terus terjadi dalam kehidupan. Buddha
Dhamma telah sempurna dibabarkan. Buddha Dhamma memberikan
jalan untuk memperoleh kebahagiaan. Buddha Dhamma juga
menguraikan cara untuk mempertahankan kebahagiaan yang
kita alami.
SETIAP MAHLUK MEMILIKI KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Sang Buddha sejak hampir tiga ribu tahun yang lalu
telah mengerti dan menyadari bahwa kehidupan ini memang
selalu berisikan perbedaan, saling bertolak belakang.
Perbedaan dalam dunia ini malah sering diibaratkan sebagai
saudara kembar. Artinya, kita tidak mungkin hanya menerima
satu sisi dan menolak sisi yang lainnya. Kita hanya
mau menerima sisi kebahagiaan saja dan menolak sisi
yang berisikan penderitaan. Tidak bisa. Tidak mungkin.
Kita pasti menerima keduanya. Menerima kedua kenyataan
hidup ini sering membuat pikiran kita menjadi tidak
seimbang. Kadang pikiran merasa senang, tetapi tidak
jarang pikiran menjadi sedih. Sungguh sulit untuk bertahan
pada pikiran yang penuh kebahagiaan. Permasalahannya
sekarang, adakah sistem yang dapat mempertahankan pikiran
akan selalu bahagia walaupun kita harus menerima kenyataan
bagaimanapun juga? Ada. Buddha Dhamma yang telah dibabarkan
sempurna oleh Sang Guru Agung Buddha Gotama mampu memberikan
jalan kebebasan menuju kebahagiaan sejati.
Bila diamati, kondisi bahwa segala sesuatu selalu berubah
ini adalah merupakan hakekat kehidupan. Perubahan itu
sendiri adalah netral, tidak menyedihkan maupun menggembirakan.
Munculnya perasaan suka maupun duka dalam menghadapi
perubahan itu adalah hasil pikiran kita sendiri.
Oleh karena itu, tidak mungkin kita mampu mengubah
dunia. Tidak mungkin kita mengubah kenyataan. Hal yang
mampu kita lakukan adalah mengubah cara berpikir kita
sendiri. Siap menerima kenyataan sebagai kenyataan,
bukan seperti yang kita harapkan menjadi kenyataan.
Cara berpikir yang salahlah yang membuat kita menderita.
Cara berpikir yang salah ini karena kita terlalu mengharapkan
kenyataan dapat berubah sesuai dengan keinginan kita.
Makin besar keinginan mengubah kenyataan, makin besar
pula penderitaan dan kekecewaan yang akan dirasakan.
Kita ingin selalu berkumpul dengan segala sesuatu yang
dicinta. Sebaliknya, kita selalu berusaha menolak untuk
bertemu dengan apapun yang kita benci. Kenyataannya,
kita pasti akan berpisah dengan segala yang dicinta
dan bertemu dengan hal-hal yang dibenci. Karena itu,
kita hendaknya mengubah cara berpikir agar mampu menerima
kehidupan ini sebagaimana adanya.
Dalam pergaulan dengan sesama manusia, sering muncul
benturan dan ketidakselarasan. Masalah ini juga timbul
karena harapan tidak selalu sesuai dengan keinginan.
Untuk mengatasi masalah ini kita hendaknya mengembangkan
pola pikir bahwa semua orang selalu memilki kelebihan
dan kekurangan. Kita memiliki kekurangan, tetapi juga
pasti ada kelebihannya; sebaliknya orang lain di samping
kelebihannya, dia pasti mempunyai kekurangan pula. Kita
semua sama. Punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Ada orang yang memiliki kelebihan di bidang penampilan
fisik tetapi mungkin memiliki kekurangan dalam bidang
kecerdasan. Orang lain yang memiliki kekurangan dalam
kecerdasan, mungkin ia adalah orang yang sukses dalam
berniaga. Serta masih banyak contoh lainnya. Dengan
memiliki cara berpikir seperti ini membuat kita dapat
lebih menerima perbedaan-perbedaan itu. Dalam kehidupan
ini, sesungguhnya orang hanya saling memperhatikan antara
satu dengan yang lainnya. Apabila ia melihat orang lain
memiliki sesuatu yang ia sendiri belum memiliki maka
ia katakan orang itu berbahagia. Kenyataannya, kebahagiaan
relatif sifatnya. Kebahagiaan adalah urusan pribadi,
tidak dapat diukur oleh orang lain.
KAMMA BURUK DILAWAN KAMMA BAIK
Apabila kita sudah mengerti adanya kekurangan dan kelebihan
pada setiap mahluk, maka kita hendaknya mulai merenungkan
penyebab perbedaan ini muncul. Perbedaan ini muncul
karena adanya Hukum Karma/Kamma atau hukum perbuatan.
Dalam Samyutta Nikaya telah disebutkan bahwa
sesuai dengan benih yang ditanam demikian pula buah
yang akan dipetik, pembuat kebajkan akan memperoleh
kebahagiaan, sebaliknya pembuat kejahatan akan mendapatkan
penderitaan. Jadi, orang yang memiliki penampilan menarik
adalah karena buah kebajikannya dari kehidupan lampaunya,
sedangkan bila dia tidak pandai di kampus adalah bagian
dari buah kamma buruknya di masa lampau pula.
Membahas masa lampau memang sulit. Dibahaspun tidak
akan menyelesaikan masalah, malah mungkin menimbulkan
masalah baru. Debat kusir. Oleh karena itu, sekarang
yang paling penting adalah bagaimana menyelesaikan masalah
atau kesulitan yang timbul dalam kehidupan kita, tanpa
harus mencari 'kambing hitam'.
Karena kesulitan dan permasalahan adalah bagian dari
buah kamma buruk kita, maka untuk mengatasinya, kita
dapat menambah kamma baik. Penambahan kamma baik dapat
dilakukan melalui perbuatan badan, ucapan dan juga pikiran.
Semakin banyak kamma baik kita lakukan, semakin besar
kondisi hidup kita untuk mencapai kebahagiaan. Ibarat
pada segelas air dimasukkan satu sendok garam, lalu
diaduk, terasa sangat asin. Untuk mengurangi rasa asin
itu, kita dapat menambah air sedikit demi sedikit. Apabila
air sudah sebanyak lima atau sepuluh gelas maka satu
sendok garam yang ada di dalam air itu sudah tidak terasa
lagi asinnya. Demikian pula dengan hukum perbuatan,
garam diibaratkan sebagai perbuatan buruk kita; air
adalah perbuatan baik kita. Jika seseorang mengalami
kesulitan hidup, hal ini disebabkan karena jumlah garam
atau kamma buruknya cukup banyak sehingga ia harus terus
menambah air kebajikan sekaligus menghentikan kejahatannya.
Sebaliknya, orang yang telah berbahagia dalam kehidupan
ini diibaratkan seperti orang yang memiliki air dalam
jumlah banyak dengan sedikit garam. Asinnya hampir tidak
terasa. Meskipun demikian, hendaknya ia tidak dengan
seenaknya saja menyia-nyiakan kebahagiaan dan kesempatan
dalam hidupnya dengan melakukan kamma buruk, atau digambarkan
seperti menambah jumlah garam ke dalam air. Sebab, meskipun
memiliki air kebajikan dalam jumlah yang banyak, apabila
terus ditambah dengan garam kejahatan, lambat laun perbandingannya
pun semakin kecil dan buah kejahatan akan menimbulkan
penderitaan padanya.
CARA MENCAPAI KEBAHAGIAAN
Dalam Agama Buddha, terdapat tiga perbuatan baik yang
dapat digunakan untuk memperbaiki tingkat kehidupan
kita. Ketiga perbuatan itu adalah kerelaan (dana),
kemoralan (sila) dan konsentrasi (samadhi).
Ketiga jalan Ajaran Sang Buddha ini jika dilaksanakan
terus dalam kehidupan akan membuat hidup kita lebih
baik dan bahagia di dunia ini. Bahkan, di kehidupan
yang akan datang pun dapat terlahir di salah satu dari
dua puluh enam alam surga.
Kerelaan (dana) adalah awal kebajikan. Kerelaan
dapat berupa materi dan juga bukan materi. Pokok pemikiran
latihan kerelaan ini adalah agar orang dapat memilki
pola pikir: Semoga semua mahluk berbahagia. Sebab, dengan
pemikiran awal ini saja, kebencian, iri hati maupun
kecemburuan akibat perbedaan dalam kehidupan akan dapat
dilenyapkan. Kita bahkan ikut berbahagia atas kebahagiaan
mahluk lain. Kita bersimpati dengan kebahagiaan orang
lain. Kita menjadi orang yang mempunyai tingkat toleransi
yang tinggi terhadap lingkungan. Dengan latihan kerelaan,
kita berusaha menurunkan tingkat keinginan kita - bila
memang tidak mampu mencapainya - agar sesuai dengan
kenyataan yang sedang kita hadapi. Apabila kita bertemu
dengan orang yang menjengkelkan, kita bisa menghindarinya
sambil merenungkan, mungkin memang tingkah semacam itulah
yang membuatnya bahagia.
Kemoralan berintikan kedisiplinan. Latihan ini diawali
dengan pelaksanaan Pancasila Buddhis. Isi Pancasila
Buddhis adalah latihan pengendalian diri untuk tidak
melakukan pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan,
berbohong dan mabuk-mabukan. Inti latihan ini adalah
agar kita dapat meningkatkan kualitas diri kita. Meningkatkan
disiplin diri. Menumbuhkembangkan disiplin diri diperlukan
agar kita mampu mencapai harapan kita. Jadi apabila
kedermawanan ditujukan untuk menurunkan harapan, disiplin
diri ditujukan untuk meningkatkan sistem kerja agar
tercapai target yang diharapkan.
Peningkatan sistem kerja ini dengan merenungkan dua
hal yang telah diajarkan dalam Dhamma (Anguttara
Nikaya II, 16). Pertama, menganalisa kelebihan dan
kekurangannya sendiri. Faktor kelebihan hendaknya kita
kembangkan terus sehingga kebahagiaan akan semakin sering
dirasakan. Sebaliknya, unsur kekurangan, hendaknya kita
hindari agar penderitaan tidak lagi datang pada diri
kita. Kedua, menganalisa kelebihan dan kekurangan orang
lain. Apabila kita dapat menemukan kekurangan orang,
segera hindarilah sikap buruk semacam itu karena kita
memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukannya. Sedangkan
apabila kita melihat kelebihannya, segera tirulah agar
kita juga memperoleh keberhasilan yang sama. Dengan
demikian, bila kita melihat keberhasilan orang lain,
tidak akan muncul rasa iri hati, justru kita akan bersemangat
untuk meneladaninya. Kalau orang lain mampu melakukan,
kita pun harus berusaha untuk melakukannya pula.
Konsentrasi atau latihan meditasi ditujukan untuk mencapai
ketenangan pikiran. Meditasi tidak akan menyelesaikan
masalah yang sedang dihadapi. Meditasi adalah sarana
untuk menenangkan pikiran agar dapat menyelesaikan masalah.
Dengan memiliki ketenangan pikiran, kita dapat menentukan
kapankah kita harus menurunkan harapan kita; atau kapankah
kita harus meningkatkan sistem kerja kita. Ataukah,
kapan saatnya untuk melakukan keduanya sekaligus, menurunkan
harapan dan meningkatkan kinerja. Pemilihan ini membutuhkan
ketenangan dan keseimbangan batin. Dengan memiliki kemampuan
memberikan pilihan yang tepat, kita akan dapat meningkatkan
kebahagiaan dalam hidup.
KESIMPULAN
- Semua mahluk memang selalu memiliki kelebihan dan
kekurangan.
- Perbedaan yang ada pada mahluk hidup adalah karena
setiap mahluk memiliki kammanya sendiri-sendiri.
- Kita dapat memperbaiki kehidupan kita dengan melaksanakan
kerelaan, kemoralan dan samadhi setiap hari.
- Kerelaan digunakan untuk menyesuaikan harapan kita
agar sama dengan kenyataan. Dapat menerima kenyataan.
- Kemoralan ditujukan agar kita dapat memperbaiki
kualitas diri dan sistem kerja kita agar harapan dapat
tercapai.
- Samadhi dimanfaatkan untuk menentukan apakah keinginan
ataukah sistem kerja yang harus kita perbaiki. Atau
menentukan tindakan yang tepat untuk menghadapi masalah.
RENUNGAN
Segala suka dan duka sesungguhnya adalah karena buah
perbuatan kita sendiri. Karena itu bila kita sedang
berbahagia tambahlah terus kebajikan agar dapat terus
mempertahankan kebahagiaan yang sedang kita rasakan.
Bila sedang mengalami penderitaan, maka jangan bosan-bosan
untuk menambah kebajikan pula agar kamma buruk yang
kita alami segera berlalu.
*Y.M. Uttamo
Thera adalah Upa Sanghanãyaka STI 2000-2003, Ketua
Yayasan Dhammadipa Arama cabang Blitar & Webmaster
Samaggi
Phala
Hak cipta tetap berada pada penulis.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|