|
Kiat Mengatasi Kenakalan
Remaja
oleh: Y.M. Uttamo Thera *
Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan,
oleh diri sendiri pula seseorang ternoda. Oleh diri
sendiri kejahatan tidak dilakukan, oleh diri sendiri
pula seseorang menjadi suci. Suci atau tidak suci tergantung
pada diri sendiri; tak seorang pun yang dapat mensucikan
orang lain. (Dhammapada XII, 9)
PENDAHULUAN
Masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan kemudian
menjadi orangtua, tidak lebih hanyalah merupakan suatu
proses wajar dalam hidup yang berkesinambungan dari
tahap-tahap pertumbuhan yang harus dilalui oleh seorang
manusia. Setiap masa pertumbuhan memiliki ciri-ciri
tersendiri. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Demikian pula dengan masa remaja. Masa remaja sering
dianggap sebagai masa yang paling rawan dalam proses
kehidupan ini. Masa remaja sering menimbulkan kekuatiran
bagi para orangtua. Masa remaja sering menjadi pembahasan
dalam banyak seminar. Padahal bagi si remaja sendiri,
masa ini adalah masa yang paling menyenangkan dalam
hidupnya. Oleh karena itu, para orangtua hendaknya berkenan
menerima remaja sebagaimana adanya. Jangan terlalu membesar-besarkan
perbedaan. Orangtua para remaja hendaknya justru menjadi
pemberi teladan di depan, di tengah membangkitkan semangat,
dan di belakang mengawasi segala tindak tanduk si remaja.
Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa.
Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah
mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18
tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan
sebagai kanak-kanak, namun masih belum cukup matang
untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka sedang mencari
pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering
dilakukan melalui metoda coba-coba walaupun melalui
banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukan sering menimbulkan
kekuatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi
lingkungan dan orangtuanya. Kesalahan yang diperbuat
para remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya.
Hal ini karena mereka semua memang sama-sama masih dalam
masa mencari identitas. Kesalahan-kesalahan yang menimbulkan
kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai
kenakalan remaja.
PEMBAHASAN
Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian yang
khusus sejak dibentuknya suatu peradilan untuk anak-anak
nakal atau juvenile court pada tahun 1899 di
Cook County, Illinois, Amerika Serikat. Pada waktu itu,
peradilan tersebut berfungsi sebagai pengganti orangtua
si anak - in loco parentis - yang memutuskan
perkara untuk kepentingan si anak dan masyarakat. Dalam
pandangan umum, kenakalan anak dibawah umur 13 tahun
masih dianggap wajar, sedangkan kenakalan anak di atas
usia 18 tahun dianggap merupakan salah satu bentuk kejahatan.
Dalam tulisan ini hanya akan dibahas kenakalan yang
dilakukan oleh para remaja dalam usia 13 sampai dengan
18 tahun.
Kenakalan remaja dapat ditimbulkan oleh beberapa hal,
sebagian di antaranya adalah:
- PENGARUH KAWAN SEPERMAINAN
Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan adalah merupakan
satu bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak kawan,
makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya.
Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan
terbatas. Misalnya, anak orang yang paling kaya di
kota itu, anak pejabat pemerintah setempat bahkan
mungkin pusat atau pun anak orang terpandang lainnya.
Di jaman sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan
hanya membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga
pada orangtuanya. Orangtua juga senang dan bangga
kalau anaknya mempunyai teman bergaul dari kalangan
tertentu tersebut. Padahal, kebanggaan ini adalah
semu sifatnya. Malah kalau tidak dapat dikendalikan,
pergaulan itu akan menimbulkan kekecewaan nantinya.
Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga mempunyai
gaya hidup yang tertentu pula. Apabila si anak akan
berusaha mengikuti tetapi tidak mempunyai modal ataupun
orangtua tidak mampu memenuhinya maka anak akan menjadi
frustrasi. Apabila timbul frustrasi, maka remaja kemudian
akan melarikan rasa kekecewaannya itu pada narkotik,
obat terlarang, dan lain sebagainya.
Pengaruh kawan ini memang cukup besar. Dalam Mangala
Sutta, Sang Buddha bersabda: "Tak bergaul
dengan orang tak bijaksana, bergaul dengan mereka
yang bijaksana, itulah Berkah Utama". Pengaruh
kawan sering diumpamakan sebagai segumpal daging busuk
apabila dibungkus dengan selembar daun maka daun itupun
akan berbau busuk. Sedangkan bila sebatang kayu cendana
dibungkus dengan selembar kertas, kertas itu pun akan
wangi baunya. Perumpamaan ini menunjukkan sedemikian
besarnya pengaruh pergaulan dalam membentuk watak
dan kepribadian seseorang ketika remaja, khususnya.
Oleh karena itu, orangtua para remaja hendaknya berhati-hati
dan bijaksana dalam memberikan kesempatan anaknya
bergaul. Jangan biarkan anak bergaul dengan kawan-kawan
yang tidak benar. Memiliki teman bergaul yang tidak
sesuai, anak di kemudian hari akan banyak menimbulkan
masalah bagi orangtuanya.
Untuk menghindari masalah yang akan timbul akibat
pergaulan, selain mengarahkan untuk mempunyai teman
bergaul yang sesuai, orangtua hendaknya juga memberikan
kesibukan dan mempercayakan sebagian tanggung jawab
rumah tangga kepada si remaja. Pemberian tanggung
jawab ini hendaknya tidak dengan pemaksaan maupun
mengada-ada. Berilah pengertian yang jelas dahulu,
sekaligus berilah teladan pula. Sebab dengan memberikan
tanggung jawab dalam rumah akan dapat mengurangi waktu
anak ‘kluyuran’ tidak karuan dan sekaligus dapat melatih
anak mengetahui tugas dan kewajiban serta tanggung
jawab dalam rumah tangga. Mereka dilatih untuk disiplin
serta mampu memecahkan masalah sehari-hari. Mereka
dididik untuk mandiri. Selain itu, berilah pengarahan
kepada mereka tentang batasan teman yang baik.
Dalam Digha Nikaya III, 188, Sang Buddha memberikan
petunjuk tentang kriteria teman baik yaitu mereka
yang memberikan perlindungan apabila kita kurang hati-hati,
menjaga barang-barang dan harta kita apabila kita
lengah, memberikan perlindungan apabila kita berada
dalam bahaya, tidak pergi meninggalkan kita apabila
kita sedang dalam bahaya dan kesulitan, dan membantu
sanak keluarga kita.
Sebaliknya, dalam Digha Nikaya III, 182 diterangkan
pula kriteria teman yang tidak baik. Mereka adalah
teman yang akan mendorong seseorang untuk menjadi
penjudi, orang yang tidak bermoral, pemabuk, penipu,
dan pelanggar hukum.
- PENDIDIKAN
Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan
salah satu tugas orangtua kepada anak seperti yang
telah diterangkan oleh Sang Buddha dalam Digha
Nikaya III, 188. Agar anak dapat memperoleh pendidikan
yang sesuai, pilihkanlah sekolah yang bermutu. Selain
itu, perlu dipikirkan pula latar belakang agama pengelola
sekolah. Hal ini penting untuk menjaga agar pendidikan
Agama Buddha yang telah diperoleh anak di rumah tidak
kacau dengan agama yang diajarkan di sekolah. Berilah
pengertian yang benar tentang adanya beberapa agama
di dunia. Berilah pengertian yang baik dan bebas dari
kebencian tentang alasan orangtua memilih agama Buddha
serta alasan seorang anak harus mengikuti agama orangtua,
Agama Buddha.
Ketika anak telah berusia 17 tahun atau 18 tahun yang
merupakan akhir masa remaja, anak mulai akan memilih
perguruan tinggi. Orangtua hendaknya membantu memberikan
pengarahan agar masa depan si anak berbahagia. Arahkanlah
agar anak memilih jurusan sesuai dengan kesenangan
dan bakat anak, bukan semata-mata karena kesenangan
orang tua. Masih sering terjadi dalam masyarakat,
orangtua yang memaksakan kehendaknya agar di masa
depan anaknya memilih profesi tertentu yang sesuai
dengan keinginan orangtua. Pemaksaan ini tidak jarang
justru akan berakhir dengan kekecewaan. Sebab, meski
memang ada sebagian anak yang berhasil mengikuti kehendak
orangtuanya tersebut, tetapi tidak sedikit pula yang
kurang berhasil dan kemudian menjadi kecewa, frustrasi
dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama sekali. Mereka
malah pergi bersama dengan kawan-kawannya, bersenang-senang
tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian menjadi
salah satu pengguna obat-obat terlarang.
Anak pasti juga mempunyai hobi tertentu. Seperti yang
telah disinggung di atas, biarkanlah anak memilih
jurusan sekolah yang sesuai dengan kesenangan ataupun
bakat dan hobi si anak. Tetapi bila anak tersebut
tidak ingin bersekolah yang sesuai dengan hobinya,
maka berilah pengertian kepadanya bahwa tugas utamanya
adalah bersekolah sesuai dengan pilihannya, sedangkan
hobi adalah kegiatan sampingan yang boleh dilakukan
bila tugas utama telah selesai dikerjakan.
- PENGGUNAAN WAKTU LUANG
Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada
kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan
di rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan.
Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak,
pada si remaja akan timbul gagasan untuk mengisi waktu
luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. Apabila
si remaja melakukan kegiatan yang positif, hal ini
tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika ia melakukan
kegiatan yang negatif maka lingkungan dapat terganggu.
Seringkali perbuatan negatif ini hanya terdorong rasa
iseng saja. Tindakan iseng ini selain untuk mengisi
waktu juga tidak jarang dipergunakan para remaja untuk
menarik perhatian lingkungannya. Perhatian yang diharapkan
dapat berasal dari orangtuanya maupun kawan sepermainannya.
Celakanya, kawan sebaya sering menganggap iseng berbahaya
adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat
membanggakan. Misalnya, ngebut tanpa lampu dimalam
hari, mencuri, merusak, minum minuman keras, obat
bius, dan sebagainya.
Munculnya kegiatan iseng tersebut selain atas inisiatif
si remaja sendiri, sering pula karena dorongan teman
sepergaulan yang kurang sesuai. Sebab dalam masyarakat,
pada umunya apabila seseorang tidak mengikuti gaya
hidup anggota kelompoknya maka ia akan dijauhi oleh
lingkungannya. Tindakan pengasingan ini jelas tidak
mengenakkan hati si remaja, akhirnya mereka terpaksa
mengikuti tindakan kawan-kawannya. Akhirnya ia terjerumus.
Tersesat.
Oleh karena itu, orangtua hendaknya memberikan pengarahan
yang berdasarkan cinta kasih bahwa sikap iseng negatif
seperti itu akan merugikan dirinya sendiri, orangtua,
maupun lingkungannya. Dalam memberikan pengarahan,
orangtua hendaknya hanya membatasi keisengan mereka.
Jangan terlalu ikut campur dengan urusan remaja. Ada
kemungkinan, keisengan remaja adalah semacam ‘refreshing’
atas kejenuhannya dengan urusan tugas-tugas sekolah.
Dan apabila anak senang berkelahi, orangtua dapat
memberikan penyaluran dengan mengikutkannya pada satu
kelompok olahraga beladiri.
Mengisi waktu luang selain diserahkan kepada kebijaksanaan
remaja, ada baiknya pula orangtua ikut memikirkannya
pula. Orangtua hendaknya jangan hanya tersita oleh
kesibukan sehari-hari. Orangtua hendaknya tidak hanya
memenuhi kebutuhan materi remaja saja. Orangtua hendaknya
juga memperhatikan perkembangan batinnya. Remaja,
selain membutuhkan materi, sebenarnya juga membutuhkan
perhatian dan kasih sayang. Oleh karena itu, waktu
luang yang dimiliki remaja dapat diisi dengan kegiatan
keluarga sekaligus sebagai sarana rekreasi. Kegiatan
keluarga ini hendaknya dapat diikuti oleh seluruh
anggota keluarga. Kegiatan keluarga dapat berupa pembacaan
Paritta bersama di Cetiya dalam rumah ataupun melakukan
berbagai bentuk permainan bersama, misalnya scrabble,
monopoli, dan lain sebagainya. Kegiatan keluarga dapat
pula berupa tukar pikiran dan berbicara dari hati
ke hati. Misalnya, dengan makan malam bersama atau
duduk santai di ruang keluarga. Pada hari Minggu seluruh
anggota keluarga dapat diajak kebaktian di Vihăra
setempat. Mengikuti kebaktian, selain memperbaiki
pola pikir agar lebih positif sesuai dengan Buddha
Dhamma juga dapat menjadi sarana rekreasi. Hal ini
dapat terjadi karena di Vihăra kita dapat berjumpa
dengan banyak teman dan juga dapat berdiskusi Dhamma
dengan para Bhikkhu maupun pandita yang dijumpai.
Selain itu, dihari libur, seluruh anggota keluarga
dapat bersama-sama pergi berenang, jalan-jalan ke
taman ria atau mal, dan lain sebagainya.
- UANG SAKU
Orangtua hendaknya memberikan teladan untuk menanamkan
pengertian bahwa uang hanya dapat diperoleh dengan
kerja dan keringat. Remaja hendaknya dididik agar
dapat menghargai nilai uang. Mereka dilatih agar mempunyai
sifat tidak suka memboroskan uang tetapi juga tidak
terlalu kikir. Anak diajarkan hidup dengan bijaksana
dalam mempergunakan uang dengan selalu menggunakan
prinsip hidup ‘Jalan tengah’ seperti yang diajarkan
oleh Sang Buddha.
Ajarkan pula anak untuk mempunyai kebiasaan menabung
sebagian dari uang sakunya. Menabung bukanlah pengembangan
watak kikir, melainkan sebagai bentuk menghargai uang
yang didapat dengan kerja dan semangat.
Pemberian uang saku kepada remaja memang tidak dapat
dihindarkan. Namun, sebaiknya uang saku diberikan
dengan dasar kebijaksanaan. Jangan berlebihan. Uang
saku yang diberikan dengan tidak bijaksana akan dapat
menimbulkan masalah. Yaitu:
- Anak menjadi boros
- Anak tidak menghargai uang, dan
- Anak malas belajar, sebab mereka pikir tanpa
kepandaian pun uang gampang.
- PERILAKU SEKSUAL
Pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada
tingkat yang menguatirkan. Para remaja dengan bebas
dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan
di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan
mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. Mereka
sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa remaja.
Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi
yang membanggakan. Akibatnya, di kalangan remaja kemudian
terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Pengertian
pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah
sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun
yang lalu. Akibatnya, di jaman ini banyak remaja yang
putus sekolah karena hamil. Oleh karena itu, dalam
masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang
idealisme dan kenyataan. Anak hendaknya ditumbuhkan
kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan
kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan.
Demikian pula dengan pacaran. Keindahan dan kehangatan
masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung
selamanya.
Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap
remaja yang sedang jatuh cinta, orangtua hendaknya
bersikap seimbang, seimbang antar pengawasan dengan
kebebasan. Semakin muda usia anak, semakin ketat pengawasan
yang diberikan tetapi anak harus banyak diberi pengertian
agar mereka tidak ketakutan dengan orangtua yang dapat
menyebabkan mereka berpacaran dengan sembunyi-sembunyi.
Apabila usia makin meningkat, orangtua dapat memberi
lebih banyak kebebasan kepada anak. Namun, tetap harus
dijaga agar mereka tidak salah jalan. Menyesali kesalahan
yang telah dilakukan sesungguhnya kurang bermanfaat.
Penyelesaian masalah dalam pacaran membutuhkan kerja
sama orangtua dengan anak. Misalnya, ketika orangtua
tidak setuju dengan pacar pilihan si anak. Ketidaksetujuan
ini hendaknya diutarakan dengan bijaksana. Jangan
hanya dengan kekerasan dan kekuasaan. Berilah pengertian
sebaik-baiknya. Bila tidak berhasil, gunakanlah pihak
ketiga untuk menengahinya. Hal yang paling penting
di sini adalah adanya komunikasi dua arah antara orangtua
dan anak. Orangtua hendaknya menjadi sahabat anak.
Orangtua hendaknya selalu menjalin dan menjaga komunikasi
dua arah dengan sebaik-baiknya sehingga anak tidak
merasa takut menyampaikan masalahnya kepada orangtua.
Dalam menghadapi masalah pergaulan bebas antar jenis
di masa kini, orangtua hendaknya memberikan bimbingan
pendidikan seksual secara terbuka, sabar, dan bijaksana
kepada para remaja. Remaja hendaknya diberi pengarahan
tentang kematangan seksual serta segala akibat baik
dan buruk dari adanya kematangan seksual. Orangtua
hendaknya memberikan teladan dalam menekankan bimbingan
serta pelaksanaan latihan kemoralan yang sesuai dengan
Buddha Dhamma. Sang Buddha telah memberikan pedoman
untuk bergaul yang tentunya juga sesuai untuk pegangan
hidup para remaja. Mereka hendaknya dididik selalu
ingat dan melaksanakan Pancasila Buddhis. Pancasila
Buddhis atau lima latihan kemoralan ini adalah latihan
untuk menghindari pembunuhan, pencurian, pelanggaran
kesusilaan, kebohongan, dan mabuk-mabukan. Dengan
memiliki latihan kemoralan yang kuat, remaja akan
lebih mudah menentukan sikap dalam bergaul. Mereka
akan mempunyai pedoman yang jelas tentang perbuatan
yang boleh dilakukan dan perbuatan yang tidak boleh
dikerjakan. Dengan demikian, mereka akan menghindari
perbuatan yang tidak boleh dilakukan dan melaksanakan
perbuatan yang harus dilakukan.
KIAT POKOK MENGATASI KENAKALAN REMAJA
Sebagian besar orangtua di jaman sekarang sangat sibuk
mencari nafkah. Mereka sudah tidak mempunyai banyak
kesempatan untuk dapat mengikuti terus kemana pun anak-anaknya
pergi. Padahal, kenakalan remaja banyak bersumber dari
pergaulan. Oleh karena itu, orangtua hendaknya dapat
memberikan inti pendidikan kepada para remaja. Inti
pendidikan adalah sebuah pedoman dasar pergaulan yang
singkat, padat, dan mudah diingat serta mudah dilaksanakan.
Pedoman ini telah diberikan oleh Sang Buddha dalam Kitab
Suci Tipitaka, Anguttara Nikaya I, 51.
Dengan memberikan inti pendidikan ini, kemana saja
anak pergi ia akan selalu ingat pesan orangtua dan dapat
menjaga dirinya sendiri. Anak menjadi mandiri dan dapat
dipercaya, karena dirinya sendirinyalah yang akan mengendalikan
dirinya sendiri. Selama seseorang masih memerlukan pihak
lain untuk mengendalikan dirinya sendiri, selama itu
pula ia akan berpotensi melanggar peraturan bila si
pengendali tidak berada di dekatnya.
Inti pendidikan ini terdiri dari dua hal yaitu :
- HIRI = MALU BERBUAT JAHAT
Benteng penjaga pertama agar remaja tidak salah langkah
dalam hidup ini adalah menumbuhkan hiri atau
rasa malu melakukan perbuatan yang tidak benar atau
jahat.
Dalam memberikan pendidikan, orangtua hendaknya dengan
tegas dapat menunjukkan kepada anak perbedaan dan
akibat dari perbuatan baik dan tidak baik atau perbuatan
benar dan tidak benar. Kejelasan orangtua menerangkan
hal ini akan dapat menghilangkan keraguan anak dalam
mengambil keputusan. Keputusan untuk memilih kebaikan
dan meninggalkan kejahatan. Penjelasan akan hal ini
sebaiknya diberikan sejak dini. Semakin awal semakin
baik.
Berikanlah pengertian dan teladan tentang latihan
kemoralan. Berikanlah kesempatan anak agar dapat meniru
perilaku kebajikan orangtuanya. Ajarkan dan didiklah
mereka untuk tidak melakukan pembunuhan, pencurian,
pelanggaran kesusilaan, kebohongan, dan mabuk-mabukan.
Gunakanlah acara-acara di televisi sebagai alat pengajaran.
Tunjukkan kepada mereka bahwa kejahatan tidak akan
pernah menang. Kejahatan akan musnah pada akhirnya.
Sebaliknya, walaupun kebaikan kadang menderita di
awalnya akhirnya akan memperoleh kebahagiaan juga.
Apabila anak sudah dapat dengan jelas membedakan kebaikan
dan keburukan, tahap berikutnya adalah menumbuhkan
rasa malu untuk melakukan kejahatan. Kondisikanlah
pikiran anak punya rasa malu, merasa tidak pantas
melakukan pelanggaran peraturan kemoralan baik yang
diberikan oleh Sang Buddha maupun oleh masyarakat
lingkungan. Mengkondisikan munculnya rasa malu dapat
menggunakan cara seperti ketika orangtua mengenalkan
pakaian kepada anak-anaknya. Orangtua selalu berusaha
memberikan pakaian yang layak untuk anak-anaknya.
Namun, apabila suatu saat anak mengenakan pakaian
dengan tidak pantas atau mungkin tersingkap sedikit,
orangtua segera membenahinya dan mengatakan, menegaskan
bahwa hal itu memalukan. Sikap itu masih berkenaan
dengan masalah pakaian fisik. Pakaian batin pun juga
demikian. Orangtua bila mengetahui bahwa anaknya melakukan
suatu perbuatan yang tidak pantas maka katakan segera
bahwa hal itu memalukan. Kemudian berikanlah saran
agar dia tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Bila
perbuatan itu masih diulang, berilah sanksi. Berilah
hukuman yang mendidik bila perbuatan itu tetap diulang.
Usahakan dengan berbagai cara agar anak tidak lagi
mengulang perbuatan yang tidak baik itu.
- OTTAPPA = TAKUT AKIBAT PERBUATAN JAHAT
Apabila anak bertambah besar, orangtua selain menunjukkan
bahwa suatu perbuatan tertentu tidak pantas, memalukan
untuk dilakukan oleh anaknya, maka orangtua dapat
meningkatkannya dengan memberikan uraian tentang akibat
perbuatan buruk yang dilakukan anaknya. Akibat buruk
terutama adalah yang diterima oleh si anak sendiri,
kemudian terangkan pula dampak negatif yang akan diterima
pula oleh orangtua, keluarganya serta lingkungannya.
Orangtua dapat memberikan perumpamaan bahwa bila diri
sendiri tidak ingin dicubit, maka janganlah mencubit
orang lain. Artinya, apabila kita tidak senang terhadap
suatu perbuatan tertentu, sebenarnya hampir semua
orang pun bahkan semua mahluk cenderung tidak suka
pula dengan hal itu. Rata-rata semua mahluk, dalam
hal ini, manusia memiliki perasaan serupa. Penjelasan
seperti ini akan membangkitkan kesadaran anak bahwa
perbuatan buruk yang tidak ingin dialaminya akan menimbulkan
perasaan yang sama bagi orang lain. Dan apalagi bila
telah tiba waktunya nanti, kamma buruk berbuah, penderitaan
akan mengikuti si pelaku kejahatan.
Menumbuhkembangkan perasaan malu dan takut melakukan
perbuatan yang tidak baik ataupun berbagai bentuk kejahatan
inilah yang akan menjadi 'pengawas setia' dalam diri
setiap orang, khususnya para remaja. Selama dua puluh
empat jam sehari, 'pengawas' ini akan melaksanakan tugasnya.
Kemanapun anak pergi, ia akan selalu dapat mengingat
dan melaksanakan kedua hal sederhana ini. Ia akan selalu
dapat menempatkan dirinya sendiri dalam lingkungan apapun
juga sehingga akan mampu membahagiakan dirinya sendiri,
orangtua dan juga lingkungannya. Orangtua sudah tidak
akan merasa kuatir lagi menghadapi anak-anaknya yang
beranjak remaja. Orangtua tidak akan ragu lagi menyongsong
era globalisasi. Orangtua merasa mantap dengan persiapan
mental yang telah diberikan kepada anak-anaknya. Oleh
karena itu, pendidikan anak di masa kecil yang sedemikian
rumit tampaknya, akan dapat dinikmati hasilnya di hari
tua.
Sesungguhnya memang diri sendiri itulah pelindung bagi
diri sendiri. Suka dan duka yang kita alami adalah hasil
perbuatan kita sendiri. Sebab, oleh diri sendiri kejahatan
dilakukan; oleh diri sendiri pula kejahatan dapat dihindarkan.
Oleh karena itu, dengan memberikan pengertian yang baik
tentang inti pendidikan tersebut kepada anak-anak, diharapkan
anak akan dapat membawa diri dan menjaga dirinya sendiri
agar dapat tercapai kebahagiaan. Kebahagiaan bagi dirinya
sendiri. Kebahagiaan bagi orangtuanya. Kebahagiaan bagi
lingkungannya.
DAFTAR PUSTAKA
- Soerjono Soekanto, SH, MA, Prof. Dr., Remaja
dan masalah-masalahnya, Penerbit PT BPK Gunung
Mulia dan Yayasan Kanisius, Cetakan kelima, Jakarta,
1985
- Vajiranyanavarorasa, H.R.H. The Late Supreme Patriarch,
Prince, Navakoda, alih bahasa: Bhikkhu
Jeto, Yayasan Dhammadipa Arama, Cetakan kedua, Jakarta,
Agustus 1989
- -----, Paritta Suci, Yayasan Dhammadipa
Arama, Cetakan Ketujuh, Jakarta, 1994
*Y.M. Uttamo Thera adalah
Upa Sanghanăyaka STI 2000-2003, Ketua Yayasan Dhammadipa
Arama cabang Blitar & Webmaster Samaggi
Phala
Hak cipta tetap berada pada penulis.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|