|
Pandangan Agama Buddha
Tentang Ekonomi
oleh: Y.M. Bhikkhu Suguno *
PENGANTAR
Dewasa ini, pengertian tentang ekonomi sebagai
suatu disiplin ilmu adalah sangat kompleks. Sehingga
tidak jarang kita dapatkan adanya perbedaan pengertian
ataupun definisi yang diberikan oleh ekonom yang satu
dengan yang lainya. Pada mulanya pengertian ekonomi,
cukup sederhana, yaitu pengaturan administrasi sumber-sumber
penghasilan di rumah tangga. Selanjutnya para ekonom
mendefinisikan ekonomi dalam pengertian "kekayaan".
Sebagai contohnya, Adam Smith dalam bukunya An inquiry
into the Nature and causes of Wealth of Nations
mendefinisikan ekonomi sebagai disiplin ilmu terapan
tentang produksi dan penggunaan kekayaan. Pada saat
sekarang definisi dari ekonomi lebih ditekankan pada
determinasi dari beberapa permasalahan perdagangan.
Sering juga ekonomi didefinisikan dalam pengertian "kesejahteraan"
yang mana ekonomi merupakan sarana atau ilmu tentang
bagaimana menambah produksi sehingga standard kehidupan
atau kesejahteraan masyarakat bisa bertambah.
Para ekonom yang memperhatikan tentang moral akan memberikan
definisi ekonomi dalam pengertian yang cukup berbeda.
Sebagai contohnya, Alfred Marshal mendefinisikan ekonomi
sebagai suatu disiplin ilmu yang tidak hanya mempelajari
tentang kekayaan materi, tetapi juga suatu disiplin
ilmu yang mempelajari tentang manusia dalam hubungannya
dengan pemenuhan kebutuhannya. Lebih lanjut Milton Spenser
dalam bukunya Contemporary Economics mendefinisikan
ekonomi sebagai "Suatu cara masyarakat memilih jalan
yang tepat untuk memperdayagunakan sumber-sumber kekayaan
yang terbatas, yang mana mempunyai beberapa penggunaan
untuk memproduksi barang-barang kebutuhan dan manfaat
lain untuk konsumsi saat sekarang dan yang akan datang".
Mengingat sumber-sumber kekayaan yang sangat terbatas
dan keinginan manusia akan keyaaan yang tidak terbatas,
maka manusia yang bertanggung jawab harus menggunakan
sumber-sumber kekayaan yang ada dengan sebaik-baiknya.
Para ekonom modern menganggap bahwa manusia adalah
mahluk berpikir dan motivasi-motivasi yang ada pada
dirinya berdasar pada faktor-faktor ekonomi. Tidak seperti
hewan yang dalam pemenuhan kebutuhannya sangat sederhana
dan pada umumnya terbatas pada keperluannya; manusia
memiliki keinginan (wants) yang tidak terbatas.
Manusia mempunyai tendensi untuk memenuhi keinginan
akan materi yang lebih banyak, dan pada kenyataannya
keinginan tersebut tidak ada batasnya. Di jaman modern
ini kekayaan materi atau pendapatan pribadi (per
capita income) dijadikan sebagai ukuran kemakmuran
suatu masyarakat atau suatu bangsa. Produksi dipacu
setinggi-tingginya, tanpa memperhatikan harga atau nilai
kemanusiaan, kemasyarakatan, dan lingkungan. Tidak jarang
materi hanya ditujukan untuk pemuasan nafsu-nafsu indera
dari manusia. Suatu hal yang dominan dari para ekonom
di dunia barat adalah adanya kenyataan bahwa motif dari
tindakan-tindakan yang mereka lakukan adalah untuk mencari
keuntungan pribadi dan bukan kemauan mereka untuk menyediakan
solusi terbaik untuk beberapa masalah yang berkaitan
dengan ekonomi dan politik
PEMBAHASAN
I. Kondisi perekonomian di India pada Abad ke 6 SM
Keadaan perekonomian di India pada abad ke 6 SM dalam
masa transisi dari sistem perekonomian yang menitik-beratkan
pada sektor pertanian ke sistem perekonomian yang menitik-beratkan
pada sektor perdagangan. Bisa dikatakan bahwa kedua
sektor, yaitu negara (pemerintah) dan swasta, memegang
peranan yang cukup penting dalam usaha menyediakan lapangan
kerja dan mengembangkan kesejahteraan rakyat banyak.
Pada zaman Sang Buddha, meskipun kedua sektor tersebut
memegang peranan penting dalam pengembangan ekonomi,
tetapi pengaruh sektor swasta adalah cukup besar. Hal
ini bisa dilihat dengan munculnya beberapa multi-milioner
(mahasetthi), seperti Visakha, Anathapindika,
dan sebagainya, yang menguasai sebagian perekonomian
yang ada pada waktu itu. Pada umumnya, tanah yang ada
dikuasai oleh para raja atau pemimpin yang berkuasa,
sedangkan perdagangan dikuasai oleh sektor swasta.
Tentang jenis-jenis pekerjaan yang ada pada waktu itu
bisa dilihat dari Kitab Jataka dan beberapa sutta seperti
Tamo-tama Parayana Sutta, Kutadanta Sutta, dan sebagainya.
Menurut sumber-sumber yang ada, mereka yang bekerja
di bawah raja bisa dikelompokkan menjadi 25 kelompok
yang masing-masing mempunyai tugas yang berbeda-beda.
Di antaranya para prajurit, tukang masak, tukang potong
rambut, pencuci, sekretaris, pembuat barang-barang kerajinan,
akuntan, penjaga gajah, dan sebagainya. Sedangkan masyarakat
yang bekerja diluar kerajaan bisa dibagi menjadi 18
kelompok, seperti tukang kayu, pandai besi, tukang batu,
pengrajin kulit, pot, gading, tukang jagal, pemburu
binatang, pelaut, dan masyarakat yang bekerja dalam
bidang transportasi, perdagangan, dan sebagainya.
Pada abad ke 6 SM, perdagangan barter sudah mulai ditinggalkan
dan perdagangan dengan cara menilai barang dengan uang
sudah mulai populer. Hampir semua transaksi perdagangan
dilakukan dengan dengan alat pembayaran yang disebut
dengan kahapana, sebuah logam (perunggu) yang
beratnya sekitar 146 biji padi. Selain itu para pedagang
menggunakan surat kuasa (seperti cek) yang bisa digunakan
sebagai alat pembayaran. Demikian juga disebutkan bahwa
sistem perbankan sudah dikenal. Mereka menggunakan meminjamkan
uang kepada mereka yang memerlukan, dan interest
(bunganya) ditentukan oleh hukum yang ada pada waktu
itu. Sebagai contohnya, menurut hukum tersebut jika
seseorang menabung, maka dia akan mendapatkan bunga
dengan rate of interest 18 % per tahun.
II. Tinjauan tentang materi atau kekayaan
Dari apa yang telah kita bahas di atas, kita dapat mempunyai
gambaran bahwa definisi ekonomi adalah sangat kompleks.
Dalam pengertian yang luas, ekonomi menyangkut semua
aktivitas untuk mendapatkan kekayaan dan dalam pengertian
yang lebih sempit, ekonomi mempelajari tentang motif
yang digunakan oleh setiap orang untuk melindungi dan
memuaskan segala keinginannya. Dalam hal ini, ekonomi
sebagai suatu disiplin ilmu mempelajari tentang beberapa
sebab di mana adanya ketergantungan materi dan kesejahteraan
manusia dan juga beberapa sebab yang mempengaruhi dan
mengontrol produksi barang-barang kebutuhan, cara penjualannya,
dan sebagainya.
Dikarenakan adanya keterkaitan semua aktivitas dan
motif manusia dalam semua aspek ekonomi, maka ekonomi,
menurut pandangan Agama Buddha, mempunyai hubungan yang
erat dengan ilmu-ilmu etika. Pada dasarnya Agama Buddha
adalah agama yang mementingkan etika dan perkembangan
karakter individu. Menurut Agama Buddha, semua aktivitas
yang dilakukan oleh manusia yang bervariasi, pada akhirnya
harus ditujukan pada perkembangan moral dan perkembangan
batin. Perlu diingat bahwa Agama Buddha tidak menentang
manusia mencari kekayaan untuk memenuhi kebutuhannya.
Sang Buddha dalam beberapa khotbah-Nya menerangkan bahwa
materi adalah penting dalam kehidupan kita. Tetapi materi
bukanlah satu-satunya tujuan yang harus dikejar-kejar
dengan semua cara; materi sebaiknya digunakan sebagai
sarana penunjang untuk mendapatkan kebahagiaan spiritual
yang lebih tinggi. Jadi, materi atau kekayaan bukanlah
satu-satunya tujuan, melainkan sebagai sarana untuk
menciptakan kondisi yang menunjang kehidupan spiritual
seseorang. Hal ini bisa kita lihat dari kisah yang menceritakan
bahwa Sang Buddha tidak mengajarkan Dhamma kepada orang
yang kelaparan. Pada suatu ketika Sang Buddha menerima
murid yang datang dari jauh, yang kelihatan lelah, sehingga
Beliau memerintahkan kepada para Bhikkhu untuk memberi
makanan kepada orang tersebut, baru setelah makan Beliau
mengajarkan Dhamma. Kelaparan sendiri dikategorikan
sebagai salah satu penyakit (dalidda paramam roga).
Jika pengumpulan kekayaan hanya merupakan suatu pekerjaan
yang ditujukan untuk kepentingan diri sendiri, maka
hasilnya sering kita dapatkan ketidak-puasan. Kita seharusnya
menganggap kekayaan sebagai sesuatu untuk dinikmati
dengan orang yang lain. Seandainya manusia dapat menyebarkan
cinta kasihnya kepada mahkluk lain, tanpa adanya anggapan
tentang perbedaan ras, warna kulit, dan sebagainya,
maka dia akan mampu mendapatkan kebahagiaan yang lebih
besar. Dalam hal ini kebahagiaan bukan datang dari tanha,
kebahagiaan yang diliputi oleh self-centred idea
(untuk dirinya sendiri), tetapi hal tersebut merupakan
kebahagiaan yang muncul dari chanda, kebahagiaan
yang muncul dengan harapan orang lain juga ikut bahagia.
Hal ini sangat penting untuk dijadikan pedoman untuk
melaksanakan segala kegiatan yang berhubungan dengan
ekonomi. Sebaiknya semua produksi ditujukan untuk kebahagiaan
orang banyak, bukan untuk tujuan pribadi tanpa mementingkan
kepentingan masyarakat.
Kata STQ = artha (Sansekerta) dapat diartikan
sebagai barang, uang, kekayaan, dan lain-lain. Dalam
bahasa Pali kata attha mempunyai kedekatan arti
dengan kata artha Namun kata attha dalam
bahasa Pali mempunyai beberapa arti, salah satunya adalah
"sesuatu yang didapat"; tentunya kesejahteraan,
baik kesejahteraan fisik (dalam arti kekayaan) dan dalam
pengertian spiritual, supreme arahantship. Selain
itu, kata attha bisa diartikan sebagai sukses,
dan pengertiannya dapat dilihat dari dua level, yaitu:
sukses yang berhubungan dengan beberapa aspek ekonomi
yang merujuk kepada kesejahteraan materi dan sukses
dalam pengertian uttamattha atau kesuksesan tertinggi
dimana perkembangan bathin seseorang, setelah melalui
praktik dan meditasi yang tekun, bisa merealisasi Nibbana.
Menurut Agama Buddha, materi itu sendiri tidak bisa
dianggap jahat atau sebaliknya. Memang pada kenyataannya
uang (materi) bisa menjadi sumber pertengkaran, pertikaian
dan pembunuhan, sehingga banyak orang berpendapat "uang
adalah sumber atau akar dari segala kejahatan"
(money is the root of all evils). Tetapi menurut
pandangan Agama Buddha, materi bersifat netral dan tergantung
pada manusia yang memiliki dan menggunakannya. Jika
digunakan untuk kepentingan-kepentingan keagamaan, atau
sosial - misalnya untuk membantu orang-orang yang memerlukan,
maka materi akan membuahkan manfaat, baik dalam kehidupan
sekarang dan dalam kehidupan yang akan datang. Sebaliknya
jika materi digunakan untuk kepentingan pemuasan nafsu
indera yang berlebihan, maka materi akan membawa kebahagiaan
sementara saja.
Agama Buddha tidak pernah melarang pengikutnya untuk
mengumpulkan kekayaan (materi), tetapi Sang Buddha selalu
mengajarkan bahwa dalam mengumpulkan kekayaan, hendaknya
seseorang melakukannya dengan jalan yang benar. Memang
tidak dapat dipungkiri bahwa memiliki materi atau kekayaan
merupakan salah satu sumber kebahagiaan (atthi sukha).
Demikian juga akan muncul kebahagiaan jika seseorang
dapat menikmati apa yang telah diperolehnya (bhoga
sukha). Jika seseorang bekerja keras dan dapat memenuhi
kebutuhannya sehari-hari, maka dia tidak akan jatuh
ke dalam hutang (anana sukha). Ketiga macam kebahagiaan
tersebut berkaitan erat dengan materi. Lebih lanjut
Sang Buddha menerangkan kebahagiaan yang ke empat, yaitu:
anavajja sukha (kebahagiaan yang didapat jika
seseorang merasa bahwa dirinya telah berbuat sesuai
dengan Dhamma). Dalam hal ini Sang Buddha tidak hanya
mengajarkan bagaimana untuk mendapatkan kebahagiaan
di dunia ini, tetapi juga mengajarkan cara-cara yang
harus dilaksanakan oleh seseorang sesuai dengan Dhamma,
agar setelah ia meninggal bisa terlahir di alam-alam
bahagia. Dalam Kitab Suci Tipitaka, tidak disebutkan
teori-teori ekonomi secara comprehensif, tetapi Kitab
Suci Tipitaka menerangkan beberapa pedoman atau petunjuk
yang sangat penting dalam hubungannya dengan ekonomi.
Meskipun Kitab Suci Tipitaka memuat nasihat-nasihat
yang bersifat kuno, lebih dari 2.500 tahun lalu, tetapi
nasihat-nasihat tersebut mempunyai relevansi dengan
sebagian besar dari teori-teori yang terdapat dalam
ekonomi modern.
Pengalaman melalui pembuktian merupakan ciri khas pendekatan
yang digunakan dalam Agama Buddha untuk melihat suatu
masalah, termasuk beberapa masalah yang berhubungan
dengan ekonomi. Melalui pendekatan empiris inilah Sang
Buddha mengajarkan bahwa "semua mahluk hidup karena
makanan" atau "sabbe satta aharatthitika".
Menyadari akan hal ini, Sang Buddha mengetahui bahwa
setiap orang harus menempuh beberapa cara yang diperlukan
untuk memperoleh makanan. Dalam hal ini Sang Buddha
menganjurkan beberapa jalan dan petunjuk yang sebaiknya
dijalankan oleh seseorang sesuai dengan norma-norma
kemoralan. Misalnya, Sang Buddha menerangkan tentang
norma-norma etika, seperti hukum kamma untuk mengontrol
dan membimbing manusia dalam menjalankan kehidupannya
sehari-hari. Hal ini sangat berguna, karena pada kenyataanya,
keinginan manusia akan pemuasan nafsu-nafsu indera adalah
tidak terbatas. Tidak jarang manusia menggunakan segala
cara untuk mendapatkan kekayaan, sehingga tidak jarang
terjadi konflik, kebencian, pembunuhan dan sebagainya.
Dengan diterangkan ajaran tentang kamma (hukum perbuatan),
maka seseorang menjadi lebih percaya akan dirinya sendiri,
dan tentunya dalam dunia perekonomian akan memberi pengaruh
pada produksi, distribusi, konsumsi, dan semua aktivitas
yang lain.
III. Negara dan perekonomian
Agama Buddha menunjukkan bahwa kekurangan atau ketidak-beresan
dalam pengaturan ekonomi akan menyebabkan perbedaan
yang besar antara si kaya dan si miskin. Cakkavattisihanada
Sutta dan Kutadanta Sutta, Digha Nikaya menyebutkan
bahwa kerusuhan, pencurian, dan permasalahan lain dalam
masyarakat disebabkan salah satunya dari kemiskinan,
dan kemiskinan disebabkan karena ketidak-beresan dalam
pengaturan sistem ekonomi. Sang Buddha menyadari adanya
ketergantungan antara faktor fisik dan psikis, yang
secara umum mempengaruhi perilaku kemasyarakatan. Menurut
sutta tersebut, perlindungan atau penyediaan keamanan
kepada masyarakat, tanpa memperhatikan ekonomi negara
adalah belum cukup untuk mencapai kesejahteraan suatu
bangsa. Sang Buddha menceritakan bagaimana Raja Maha
Vijita yang mempunyai tentara yang kuat, tetapi kerajaaanya
hancur karena dia gagal menyediakan pengaturan ekonomi
yang baik bagi masyarakatnya. Kemiskinan akan mendorong
seseorang untuk mencuri, sebab mereka yang kelaparan
memerlukan makanan untk memelihara tubuhnya. Sehingga
Sang Buddha menasihatkan bahwa untuk menciptakan masyarakat
yang bermoral dan berakhlak, kondisi ekonomi yang ada
dalam suatu masyarakat harus juga ditingkatkan. Oleh
karena itu, jika dalam suatu masyarakat atau suatu bangsa
terjadi kerusuhan, tingkat kejahatan meningkat, maka
raja atau pemerintah mempunyai kewajiban untuk membangun
ekonomi kerajaan atau negara. Raja atau pemerintah sebaiknya
memberi atau menyediakan kapital kepada masyarakat yang
memerlukan bantuan.
Dalam hal penyelesaian suatu masalah negara, misalnya
kerusuhan, pencurian, perampokan dan sebagainya, tidak
dapat dilakukan dengan jalan pemberian secara acak-acakan.
Lebih lanjut Sang Buddha menyatakan bahwa jika pemberian
kapital kepada masyarakat dilakukan dengan jalan yang
tidak tepat, maka akan menimbulkan kemalasan dan kejahatan
tidak semakin berkurang. Orang akan malas dan cenderung
melakukan kejahatan dengan dalih kelaparan agar mendapat
simpati dari raja. Semula Raja Maha Vijita membagi-bagi
kekayaannya dengan bebas kepada mereka yang melakukan
pencurian, dengan harapan agar mereka menghentikan tindakan
hina tersebut. Tetapi pada kenyataannya pencurian berlanjut
dan semakin banyak. Menyadari hal ini, Raja Maha Vijita
tidak lagi membagi-bagi kekayaannya secara bebas, tetapi
melalui hal tersebut harus dilakukan dengan cara dan
pengarahan yang benar. Bagi mereka yang terbukti melakukan
pencurian sebagai suatu pekerjaan, maka hukuman akan
dijatuhkan kepadanya. Tindakan tegas ini dilakukan oleh
Maha Vijita demi kebahagiaan rakyatnya.
Menurut Sang Buddha, penyediaan kapital kepada masyarakat
harus dilakukan secara terarah dan terpadu dan diberikan
kepada mereka yang betul-betul membutuhkan (ye janapadesu
adana tesam dhanam anuppadeyasi), sedangkan pengaturan
ekonomi yang tidak adil akan menyebabkan kemiskinan
(adananam anuppadeyamana daliddam vipula gacchati).
Kembali seperti apa yang telah disebutkan di atas, kemiskinan
akan mendorong seseorang untuk melakukan penjarahan,
pencurian, pembunuhan, dan sebagainya. Jika hal tersebut
terjadi, maka raja atau pemerintah mempunyai kewajiban
untuk menyelesaikannya, yaitu dengan jalan membangun
sistem perekonomian yang cocok di suatu kerajaan atau
negara tersebut.
Kutadanta Sutta dan Cakkavattisihanada Sutta juga menerangkan
bahwa kerusuhan, penjarahan, pencurian, perampokan dan
sebagainya (dhassu-khila), yang disebabkan karena
kemiskinan, tidak dapat diselesaikan dengan jalan menjatuhkan
hukuman kepada para pelaku. Dalam kedua sutta tersebut,
dijelaskan "… jika di dalam lingkungan kerajaaan, masyarakat
menjadi gelisah, tidak aman, karena adanya perampokan
atau kerusuhan di desa, di kota, di pasar, di jalan-jalan
dan di seluruh lingkungan kerajaan, maka raja akan berpikir
untuk menyelesaikanya dengan jalan menghukum, memenjarakan
atau membuang mereka (…etam dhasukhilam vadhena va
bandhena va janiya va garahaya va pabbajanaya samahanissami)".
Cara ini tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang
ada dalam masyarakat. Mereka yang lolos dari hukuman
akan menyusun kekuatan untuk melawan raja atau pemerintah
dan akan berlanjut melakukan penjarahan, pencurian,
perampokan dan sebagainya.
Selanjutnya, kedua sutta tersebut juga menerangkan
bahwa dalam kondisi, di mana keadaan ekonomi masyarakat
yang tidak stabil, raja atau pemerintah tidak dibenarkan
untuk menaikkan pajak dengan alasan apapun (…janapade
sa-upapile balim uddhareyya, akicca-kari). Tidak
dibenarkan pula jika keadaan ekonomi suatu negara masih
dalam keadaan kurang stabil, diadakan pesta besar (berfoya-foya),
yang akan menghabiskan kekayaan negara.
Melalui sistem pengaturan kekayaan yang tepat, suatu
negara atau kerajaan bisa menjamin kemakmuran rakyatnya.
Kedua sutta di atas menyebutkan bahwa bagi masyarakat
yang memerlukan bantuan untuk melanjutkan usahanya,
maka raja sebaiknya mengarahkan dan memberi bantuan
kepada mereka. Bagi masyarakat yang mempunyai pekerjaan
sebagai petani, maka sebaiknya raja memberi bantuan
berupa biji-bijian dan makanan (ye janapade ussahanti
kasi-gorakkhe tesam bhavam raja bija-bhattam anuppadetu),
bagi mereka yang berdagang, kepadanya sebaiknya diberikan
modal atau kapital (...vajijjaya tesam bhavam pabbatam
anuppadetu), sedangkan kepada mereka yang bekerja
sebagai pegawai, kepadanya sebaiknya diberikan nasi
dan gaji (...janapadesu raja-porise tesam bhatta-vettanam
pakappetu). Jika semua lapisan yang ada di masyarakat
mempunyai usaha dan bekerja sesuai dengan pekerjaannya
masing-masing, maka kemakmuran dan kesejahteraan bisa
di dapat. Diceritakan bahwa setelah menerapkan nasihat-nasihat
tersebut di lingkungan kerajaan Maha Jivita tidak ada
orang yang menggangu orang lain dengan dalih kelaparan,
sehingga masyarakat bisa hidup bersama keluarga mereka
dengan bahagia, tenang, sejahtera (khematthita)
dan aman meskipun tinggal dengan pintu terbuka (aparuta-ghara).
Dalam hal ini sangat penting kiranya untuk diperhatikan
bahwa menurut Agama Buddha sistem ekonomi harus ditujukan
sebesar-besarnya untuk kepentingan dan kemakmuran rakyat
dan bukan seballiknya. Oleh karena itu, penyediaan lapangan
kerja kepada masyarakat merupakan faktor yang penting
dalam usaha peningkatan kesejahteraan rakyat. Kutadanta
Sutta menerangkan adanya keterkaitan antara pengangguran,
kemiskinan, kelaparan dan tindakan kriminal yang ada
dalam masyarakat, seperti pencurian, perampokan, dan
sebagainya.
Selanjutnya>>
*Y.M. Bhikkhu Suguno, M.A
adalah anggota Sangha Theravada Indonesia yang saat
ini sedang kuliah di Jepang
Artikel di atas pernah disampaikan dalam sebuah seminar
di UGM, Yogyakarta.
Hak cipta tetap berada pada penulis.
Artikel ini telah diedit seperlunya oleh Editor BuddhistOnline.com.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|