|
Pandangan Agama Buddha
Tentang Ekonomi
(bagian 2)
oleh: Y.M. Bhikkhu Suguno *
IV. Beberapa petunjuk Sang Buddha tentang cara mengumpulkan
kekayaan
Pattakamma Sutta, Samyutta Nikaya menyebutkan bahwa
terdapat empat hal di dunia ini yang dicita-citakan,
diagung-agungkan, dan diharapkan oleh setiap orang,
tetapi sangat susah untuk mendapatkannya. Empat hal
tersebut adalah harapan untuk mendapatkan kekayaan dengan
jalan Dhamma, cita-cita agar menjadi orang terpandang
dalam masyarakat, harapan agar mempunyai umur panjang
dan selalu sehat, serta setelah meninggal bisa terlahir
di alam-alam bahagia, yaitu terlahir di alam surga.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataanya keempat
hal hal tersebut memang diharapkan oleh setiap orang.
Perlu diingat bahwa untuk mendapatkan kekayaan adalah
cukup mudah didapat, tetapi untuk mendapatkan kekayaan
dengan jalan Dhamma merupakan hal yang sulit didapat.
Demikian juga setelah mendapatkan kekayaan kita mempunyai
harapan agar kita menjadi orang yang terpandang. Jika
seseorang mengumpulkan kekayaan dengan jalan yang benar,
maka dia akan dihormati masyarakat, dan tentunya akan
membawa efek kepada keluarga dan juga para gurunya.
Perbuatan baik yang telah kita tanam menyebabkan orang
bisa mendapatkan kesehatan dan umur panjang, tetapi
menurut Agama Buddha tidak ada sesuatu yang terbentuk
bersifat kekal. Oleh karena itu, setelah mendapatkan
hal-hal tersebut di atas, maka harapan terahkir adalah
kelahiran di alam-alam yang membahagiakan. Jadi, sudah
jelas bahwa Sang Buddha menasihatkan kepada kita bahwa
kekayaan atau materi bukanlah satu-satunya tujuan dalam
hidup kita, dan dalam mengumpulkan materi seseorang
diharapkan untuk memperhatikan norma-norma etika dan
norma-norma keagamaan, sesuai dengan Dhamma.
Lebih lanjut, sutta tersebut menerangkan bahwa dalam
mengumpulkan kekayaan, sebaiknya seseorang mengumpulkannya
dengan usaha dan semangat yang tinggi (utthanaviriyadhigatehi),
dengan keringat sendiri (sedavakkhitehi), dan
dengan jalan Dhamma (dhammikehidhammaladdhehi).
Hal ini diterangkan lebih lanjut oleh Sang Buddha dalam
Vyagghapajja Sutta, di mana setelah seorang milyuner
yang bernama Dighajanu bertanya kepada Sang Buddha untuk
mendapatkan beberapa nasihat agar dia bisa berbuat untuk
kebahagiaan di dunia ini dan dunia berikutnya. Kemudian
Sang Buddha mengajarkan bahwa hendaknya untuk mendapatkan
kemajuan materi atau kekayaan, seseorang diharapkan
melakukan segala pekerjaan dengan penuh usaha (utthana
sampada), menjaga kekayaan yang telah ia dapat (arakkha
sampada), hidup seimbang (samajivikata),
dan bergaul dengan para sahabat yang bisa hidup bersama
baik dalam keadaan susah dan senang.
Sedangkan untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia-dunia
berikutnya, Pattakamma Sutta dan Vyagghapajja Sutta
menerangkan empat syarat yang diperlukan agar seseorang
bisa mendapatkan kebahagiaan di alam-alam berikutnya,
yaitu:
- Saddha: seseorang mempunyai keyakinan kepada
penerangan sempurna yang telah dicapai oleh Sang Buddha
(Tathagatassa bodhi saddha), dimana Sang Buddha
adalah seorang yang mendapat sebutan Bhagava, Arahat,
Sammasambuddho, sempurna dalam pengetahuan serta tindak-tanduk-Nya,
Sugato, pengenal segenap alam, pembimbing manusia
yang tiada taranya untuk mencapai pembebasan, guru
para dewa dan manusia, dan Beliau adalah seorang Buddha.
- Sila: seorang yang telah menyatakan dirinya
sebagai upasaka atau upasika diharapkan untuk melaksanakan
Pancasila, yaitu menghindari diri dari pembunuhan,
pencurian, perzinaan, berbohong, dan minum-minuman
keras yang memabukkan.
- Caga: praktik kemurahan hati, misalnya dengan
jalan berdana yang ditujukan untuk mengurangi kemelekatan
kepada materi.
- Pabba: pengembangan kebijaksanaan yang ditujukan
untuk pembebasan dari penderitaan. Dalam hal ini seseorang
akan bebas dari nafsu-nafsu keserakahan akan materi,
keinginan jahat, kelambanan, kemalasan dan keragu-raguan.
Keempat hal ini adalah sangat penting, di mana seseorang
tidak hanya mengejar materi belaka atau memandang materi
sebagai tujuan yang harus dikumpulkan untuk pribadi,
tetapi seseorang akan berpikir bahwa materi seharusnya
digunakan sebagai salah satu sarana untuk melenyapkan
penderitaan.
Dalam usaha mengumpulkan kekayaan, hendaknya seseorang
harus melakukan segala kegiatannya dengan jalan yang
benar. Misalnya, kepada para pedagang, Sang Buddha telah
menasihati untuk menghindari penipuan dengan jalan menipu
alat pengukur timbangan (tulakuta), dan menipu
dalam dengan memalsu uang dan sebagainya. Selanjutnya,
Angguttara Nikaya menjelaskan seseorang seharusnya menghindari
diri dari lima macam perdagangan yang bisa membahayakan
bagi dirinya sendiri dan juga mahkluk lain, seperti
satta vanijja (perdagangan perbudakan), sattha
vanijja (perdagangan persenjataan), mamsa vanijja
(perdagangan mahluk hidup), majja vanijja (perdagangan
minum-minuman keras), dan visa vanijja (perdagangan
racun, termasuk ganja, morfin, dan sebagainya). Ambalatthika
Rahulovada Sutta menegaskan kriteria tentang pekerjaan
terbaik yang dilakukan oleh para pengikut Sang Buddha.
Jika suatu pekerjaan yang dilakukan adalah menimbulkan
manfaat untuk dirinya sendiri dan bermanfaat untuk orang
lain serta bermanfaat untuk kedua-duanya maka pekerjaan
tersebut adalah pekerjaan yang terpuji. Beberapa jenis
pekerjaan seperti kerajinan, pertanian dan sebagainya
merupakan pekerjaan yang terpuji.
V. Penggunaan kekayaan
Setelah seseorang mengumpulkan materi atau kekayaan,
maka dia mempunyai kewajiban yang sangat penting, baik
bagi dirinya sendiri dan orang lain. Pattakamma Sutta
menjelaskan adanya empat hal yang harus di perhatikan
bagi seorang perumah tangga dalam hal kekayaan yang
telah dikumpulkanya (cattari kammani katta).
Keempat hal tersebut adalah sebagai berikut:
- Dia sebaiknya mempergunakan kekayaannya untuk kepentingan
diri sendiri dan untuk pemenuhan kewajiban keluarga.
Secara singkat dia harus menggunakan kekayaanya untuk
dinikmati sebagai hasil jerih payahnya (attanam
sukheti pineti sammasukham pariharati), sebagian
kekayaan digunakan untuk merawat orang tua (matapitaro
sukheti pineti sammasukham pariharati), dia juga
harus merawat putra-putrinya, pembantu-pembantunya
dan para pekerja yang telah membantu dalam usaha (puttadaradasakammakaraporise
sukheti pineti sammasukham pariharati), serta
dia mempunyai kewajiban untuk menjamu teman dan para
pendatang dengan cara yang benar (mittamacce sukheti
pineti sammasukham pariharati). Perlu diperhatikan
bahwa istilah "sammasukham pariharati"
atau "penggunaan secara benar" adalah sangat
penting. Jadi sudah jelas bahwa kekayaan menurut Pattakamma
Sutta sebaiknya digunakan untuk kepentingan diri sendiri
dan juga untuk kebahagiaan orang lain.
- Dia mempunyai kewajiban untuk menjaga kekayaan yang
telah dikumpulkanya dari bahaya-bahaya yang mungkin
terjadi, seperti kebakaran (aggito), kebanjiran
(udakato), pencurian (corato), dan dari pewaris
yang tidak diinginkan (dayadato), serta orang-orang
lain yang tidak diinginkan (tatharupasu apadasu
bhogehi pariyodhaya vattanti).
- Dia mempunyai lima kewajiban yang lain (pabcabalim),
yaitu: kewajiban kepada raja, misalnya membayar pajak
(rajabali), kewajiban untuk menjamu tamu-tamu
yang datang (atithibali), kewajiban kepada
para deva (devatabali), dan kewajiban kepada
para leluhur yang telah meninggal (pubbapetabali).
- Seorang perumah tangga juga mempunyai kewajiban
kepada para samana dan brahmana yang telah melenyapkan
kekotoran bathin, penuh perhatian, dan kesabaran (samanabrahmana
madappamada pativirata khanti soracce vivattha attanam
damenti). Dana, jika diberikan kepada para samana
dan brahmana yang berpraktik sila dan penuh perhatian
serta kesabaran akan membuahkan hasil yang baik, akan
membuahkan kebahagian dan menghantarkan seseorang
terlahir ke alam-alam yang bahagia (sukhavipakam
saggasamvattanikam). Dana yang demikian, menurut
agama Buddha, dikatakan sebagai kekayaan yang tidak
dapat dicuri oleh siapapun. Kekayaan yang digunakan
dengan cara tersebut di atas dikatakan sebagai kekayaan
yang telah menuju ke tempat yang tepat (thanam gatam
hoti pattagatam ayatanaso paribhuttam).
Dari apa yang telah diterangkan di atas, sudah jelas
bahwa meskipun seseorang menggunakan kekayaan miliknya
sendiri, dia diharapkan agar mempergunakannya untuk
kepentingannya sendiri dan untuk kepentingan orang lain
secara benar.
Pengaturan tentang kekayaan yang telah kita dapat,
dapat dilihat di dalam Sigalovada Sutta yang terdapat
dalam kitab Digha Nikaya sebagai berikut:
"ekena bhoge bhubjeyya (satu bagian untuk
dinikmati) dvihi kammam payojaye (dua bagian
untuk ditanamkan kembali ke dalam modalnya) catutabca
nidhapeyya (bagian ke empat disimpan) apadasu
bhavissanti (untuk menghadapi masa depan yang
sulit)".
Menurut kitab ini bahwa kekayaan yang telah kita dapatkan
dengan jalan yang benar, sebaiknya dibagi dalam empat
kelompok, yaitu seperempat bagian untuk dinikmati sebagai
hasil jerih payah, duaperempat bagian untuk diinvestasikan
ke modalnya, dan seperempat bagian lagi disimpan sebagai
cadangan jika mengalami kesulitan di masa yang akan
datang. Mengenai bagian yang keempat, kata "nidhapeyya"
dapat diartikan sebagai "disimpan" dalam pengertian
yang lebih luas, misalnya disimpan di bank ataupun digunakan
untuk menanam pubba kamma (kebajikan), misalnya
untuk diberikan kepada tempat ibadah, para pertapa,
dan sebagainya. Nasihat yang demikian ditegaskan dalam
beberapa sutta yang ada dalam Tipitaka, misalnya Sangarava
Sutta menyebutkan adanya tiga jenis orang, yang dikelompokkan
berdasarkan pada tindakan mereka dalam penggunakan kekayaan
yang telah ia dapatkan. Jenis pertama adalah mereka
yang tidak menggunakan kekayaannya, baik untuk dirinya
sendiri dan tidak membagi-bagi kekayaanya kepada orang
lain untuk mendapatkan kebajikan (na attanam sukheti
pineti na vibhajati na puññakaroti).
Jenis orang yang kedua adalah ia yang menggunakan kekayaan
untuk kebahagiaan dirinya sendiri, tetapi tidak untuk
memanam kebajikan (attanam sukheti pineti na samvibhajati
na puññam karoti). Sedangkan jenis
orang ketiga adalah ia yang bisa menggunakan kekayaan
untuk dinikmati bagi dirinya sendiri dan untuk kepentingan
orang lain, demi memanam kebajikan (attanam sukheti
pineti samvibhajati puññam karoti).
Jenis orang yang ketiga adalah orang yang dipuji, karena
ia tidak melekat pada kekayaan (adinnavadassanani)
dan tahu penggunaan kekayaan untuk jalan kebebasan (nissaranapabba).
Tentunya nasihat yang telah diberikan oleh Sang Buddha
lebih dari duaribu limaratus tahun yang lampau ini,
masih berguna bagi kehidupan yang kita sekarang. Pembagian
tersebut adalah cara pembagian yang sangat sederhana,
tetapi memiliki daya guna yang sangat efektif untuk
mengembangkan ekonomi. Menurut kitab ini, separuh (duaperempat)
bagian digunakan untuk pengembangan usaha, yang berarti
bahwa Sang Buddha menekankan bahwa dalam dunia bisnis,
faktor modal adalah sangat penting.
Sebagai seorang perumah tangga yang baik, sebaiknya
dia harus bisa hidup dengan seimbang, tahu akan berapa
banyak uang atau kekayaan yang telah didapatkan dan
tahu berapa banyak kekayaan yang bisa digunakan (samajivikata).
Hendaknya dia tidak hidup dengan kikir (ajjadumarika)
dan juga sebaliknya, dia tidak jatuh dalam gaya hidup
yang bersifat konsumerisme, hidup dengan glamour, dan
penuh dengan foya-foya (udumbarakhadika). Seseorang
yang hidup dalam dunia konsumerisme yang berlebihan,
diibaratkan oleh Sang Buddha sebagai seseorang yang
ingin memetik sebuah apel untuk dimakan, tetapi menyebabkan
jatuhnya semua apel yang ada di pohon tersebut. Sebaiknya,
orang yang terlalu kikir diibaratkan sebagai seekor
ayam yang hidup di timbunan padi, tetapi mati kelaparan
dikarenakan kekurangan makanan. Jadi, penggunaan dan
konservasi yang tepat dari kekayaan individu yang telah
di dapat akan mempengaruhi kualitas hidupnya dan juga
mempengaruhi ekonomi nasional.
Dalam kaitannya dengan penggunaan kekayaan, Sang Buddha
memuji mereka yang mengetahui berapa banyak uang yang
didapat oleh seseorang dan mengetahui berapa banyak
uang yang harus dikeluarkan, baik untuk kepentingan
diri sendiri dan untuk kepentingan orang lain. Andha
Sutta; Anguttara Nikaya menyebutkan bahwa orang yang
tidak tahu cara mengumpulkan kekayaan dan juga cara
menggunakan kekayaan diibaratkan sebagai orang buta
(andha), orang yang hanya tahu cara mengumpulkan
uang, tetapi tidak tahu cara menggunakannya diibaratkan
sebagai orang yang mempunyai mata satu (ekacakkhu)
dan seseorang yang mengetahuhi cara menggumpulkan dan
menggunakan kekayaan yang telah didapatkannya dengan
jalan yang benar diibaratkan sebagai orang yang bisa
melihat dengan kedua matanya (dvecakkhu).
Menurut Agama Buddha peningkatan ekonomi suatu masyarakat
ditujukan untuk menciptakan kondisi di mana mereka bisa
meningkatkan kualitas hidupnya. Sang Buddha juga menyadari
sepenuhnya bahwa setiap orang mempunyai peranan yang
besar dalam peningkatan perkembangan ekonomi negara.
Oleh karena itu untuk mencipatakan kondisi ekonomi yang
baik, Beliau memberikan tuntunan untuk mengatur secara
tepat tentang ekonomi, terutama di rumah tangga, sehingga
tingkat kehidupan masyarakat semakin baik. Mengingat
adanya kecenderungan dari setiap orang untuk mengumpulkan
kekayaan dengan segala cara, maka sering terjadi persaingan
yang tidak sehat, pertengkaran, berlomba-lomba untuk
mendapatkan kedudukan dan sebagainya. Oleh karena itu,
maka Sang Buddha menasihatkan untuk mengumpulkan dan
menggunakan kekayaan dengan jalan yang benar, sesuai
dengan Dhamma. Hal ini semua ditujukan demi kesejahteraan
manusia, baik di alam ini dan alam-alam berikutnya.
Tamotama Parayana Sutta menjelaskan bahwa orang yang
kaya, bisa mengerti akan kegunaan kekayaan dan menggunakannya
dengan jalan yang benar akan terlahir di alam-alam yang
membahagiakan (joti joti parayano). Demikian
juga Sang Buddha memuji seseorang yang meskipun tidak
kaya, tetapi menggunakan kekayaannya dengan benar akan
terlahir di alam-alam yang membahagiakan (tamo joti
parayano). Sebaliknya, seseorang yang menggunakan
kekayaannya hanya untuk kepentingan dirinya sendiri,
misalnya untuk berfoya-foya, maka setelah meninggal
akan terlahir di alam-alam yang menyedihkan (joti
tamo parayano). Tentunya jenis orang yang keempat
yaitu "tamotama parayano" atau orang
yang pergi dari tempat yang gelap menuju ke tempat yang
gelap tidak dianjurkan. Memang orang yang miskin cenderung
untuk melakukan kejahatan, tetapi seperti yang telah
diterangkan oleh Sang Buddha, dia bisa menjadi orang
yang selamat dan bahagia di alam-alam berikutnya dengan
berusaha dan berjuang keras. Menurut Agama Buddha kondisi
ekonomi dan status sosial seseorang bisa berubah-ubah
sesuai dengan usaha dan tindakan yang telah dilakukannya.
Seorang perumah tangga, juga diharapkan untuk menghindari
dari beberapa sebab yang membuat hilangnya kekayaan
(apayamukha). Sigalovada Sutta menjelaskan adanya
enam alasan yang menyebabkan hilangnya harta kekayaan,
yaitu kecanduan akan minuman atau obat-obatan yang memabukkan,
pergi ke jalan-jalan pada waktu yang tidak sesuai, terlalu
sering pergi ke tempat-tempat pertunjukan, berjudi,
bergaul dengan teman-teman yang tidak baik, dan kebiasaan
bermalas-malasan. Lebih lanjut Anguttara Nikaya menerangkan
bahwa pergi ke tempat-tempat pelacuran adalah salah
satu sebab hilangnya kekayaan dan nama baik seseorang.
Demikian juga Parabhava Sutta menjelaskan bahwa hal-hal
tersebut di atas merupakan sebab-sebab keruntuhan seseorang.
Penutup
Dalam situasi perkembangan perekonomian yang semakin
memuncak, di mana para pengusaha real estate,
pemegang saham, pedagang dan hampir setiap orang bersaing
untuk memenangkan pertandingan perebutan uang, manusia
cenderung semakin serakah dan menjadi mahluk yang mementingkan
kepentingannya sendiri (egois). Banyak perusahaan dan
para konglomerat menguasai perekonomian dan memainkan
permainan serta menentukan ataupun menjatuhkan pihak-pihak
lain yang dianggap menghalangi kemajuan mereka. Tidak
jarang pula terjadi penindasan kepada orang-orang kecil
(si miskin) yang menyebakan jurang pemisah antara mereka
semakin tinggi. Bagi mereka yang berhasil menjadi kaya,
cenderung untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya
tanpa memperhatikan lingkungan dan orang-orang lain
di sekitarnya. Sebagian masyarakat kaya, karena produksinya
melimpah, untuk menjaga kestabilan harga yang ada, mereka
harus memusnahkan apa yang dianggapnya tidak perlu.
Padahal sebagian dari masyarakat yang lain hidup kelaparan.
Orang yang kurang berhasil cenderung melakukan segala
cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Hal yang
demikian menyebabkan masalah-masalah sosial yang harus
kita pecahkan bersama. Setelah mengetahui bahwa kekayaan
yang ada bukanlah satu-satunya tolok ukur kebahagiaan,
maka sebagian masyarakat mulai berpikir melalui cara
pandang yang lain. Seperti yang telah diterangkan di
atas, Sang Buddha setelah melihat akan bahaya dari paham
materialisme, menerangkan tentang berbagai cara untuk
mendapatkan kekayaan dan setelah itu menggunakannya
dengan jalan yang benar demi manfaat kehidupan ini dan
kehidupan-kehidupan yang akan datang. Boleh dikatakan
bahwa Sang Buddha adalah seorang ekonom yang mementingan
rakyat banyak, terutama rakyat kecil.
Agama Buddha memberikan anjuran kepada para umat untuk
mengembangkan kesejahteraannya, baik kesejahteraan materi
maupun kesejahteraan batin. Seorang ekonom barat bernama
E.F. Schumacher dalam bukunya "Small is Beautiful"
setuju dengan Agama Buddha yang mengajarkan bahwa lobha
(keserakahan) dan dosa (kebencian) akan menghambat
seseorang untuk mengembangkan pandangan yang menitik-beratkan
pada nilai-nilai kemanusiaan. Demikian juga Kuji Nakano
dalam bukunya "Seihin no Shiso" atau "The
Philosophy of Honest Poverty" menekankan bahwa
hidup sederhana (apicchata), yang disebut "seihin"
atau "kejujuran dalam kesederhanaan (honest
poverty)" akan muncul jika seseorang menjalankan
kehidupannya dengan hidup bersih tanpa adanya keinginan-keinginan
pribadi. Pandangan hidup yang demikian membuat orang
tidak lagi berlomba-lomba untuk saling menjatuhkan dan
akan menyadari akan pentingnya hidup bersama. Pandangan
yang tidak menitikberatkan tujuan-tujuan pribadi, membuat
rakyat Jepang bisa saling membantu.
Dalam pandangan Agama Buddha, manusia bukanlah sebagai
penguasa alam yang berkuasa untuk mengatur alam ini
sesuai dengan apa yang diinginkannya. Kedudukan manusia
di alam semesta ini tidaklah tertinggi (supreme),
tetapi manusia adalah bagian dari alam; sehingga dia
harus berusaha menyesuaikan diri dengan alam dan berusaha
untuk menggunakan sumber-sumber kekayaan alam dengan
sebaik-baiknya. Pandangan yang demikian tentunya cukup
berbeda dengan teori yang mengatakan bahwa binatang
dan segala sesuatu yang ada di dunia ini diciptakan
oleh Tuhan untuk kepentingan manusia; dan kedudukan
manusia di dunia adalah tertinggi (supreme).
Pandangan yang demikian membuat manusia lebih agresif
untuk menguras sumber-sumber kekayaan alam dan menaklukkan
alam. Tetapi pada kenyataannya mereka mulai menyadari
bahwa di satu sisi manusia boleh merasa bangga atas
kemenangan dalam perang melawan alam, tetapi di sisi
yang lain, setelah terjadi penipisan lapisan ozon, adanya
berbagai jenis polusi, musnahnya beberapa spesis binatang
dan tumbuhan dan sebagainya, mereka semua termasuk mahluk
yang tidak berdosa harus menanggung akibat dari kemenangan
tersebut. Oleh karena itu, introspeksi dan evaluasi
diri adalah sangat penting.
Seperti yang telah diterangkan di atas, bahwa menurut
Agama Buddha, kekayaan bisa dibagi menjadi dua bagian,
yaitu: kekayaan materi yang bisa dicuri dan kekayaan
batin yang tidak bisa dicuri oleh siapapun. Sangiti
Sutta menyebutkan kekayaan yang tidak bisa dicuri adalah
kekayaan ariya yang disebut "satta ariya dhana"
atau "tujuh kekayaan ariya" yaitu keyakindan
(saddha), kemoralan (sila), malu untuk
berbuat jahat (hiri), takut untuk melakukan perbuatan
jahat (ottapa), pengetahuan Dhamma atau pendidikan
(suta), kemurahan hati (caga) dan kebijaksanaan
(pabba). Ketujuh macam kekayaan ariya tersebut
jauh lebih baik daripada kekayaan materi dan satta
ariya dhana merupakan kekayaan yang terbaik dan
tertinggi (anuttaram uttamam dhanaggam)
Mendut, June 1, 1998
<<Sebelumnya
*Y.M. Bhikkhu Suguno, M.A
adalah anggota Sangha Theravada Indonesia yang saat
ini sedang kuliah di Jepang
Artikel di atas pernah disampaikan dalam sebuah seminar
di UGM, Yogyakarta.
Hak cipta tetap berada pada penulis.
Artikel ini telah diedit seperlunya oleh Editor BuddhistOnline.com.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|