BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 


Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?

[an error occurred while processing this directive]
 

 

Agama Buddha dan Kekuasaan
oleh: Dhammacaro Andrianto *

 

Pada 3 Juni umat Buddha di seluruh dunia dan khususnya di Indonesia merayakan Hari Tri Suci Waisak 2548. Perayaan Waisak, seperti kita ketahui adalah untuk memperingati saat kelahiran, pencapaian Penerangan Sempurna, dan mangkatnya Buddha pada bulan yang sama, yaitu bulan Waisak. Sebulan lagi, atau tepatnya pada 5 Juli rakyat Indonesia juga akan memilih pemimpin Indonesia yang akan berkuasa untuk masa lima tahun mendatang. Berkaitan dengan hal itu, maka kita perlu mencari makna Waisak yang dikaitkan dengan kekuasaan.

Mundurnya Sonia Gandhi dari pencalonannya sebagai perdana menteri India, dan digantikan oleh seorang ekonom terkenal bernama Manmohan Singh membuat banyak orang tercengang. Ternyata masih ada orang yang menolak kekuasaan demi tujuan yang lebih besar. Bahkan majalah Economist membandingkan apa yang dilakukan oleh Sonia Gandhi tersebut dengan apa yang pernah dilakukan Buddha dan Mahatma Gandhi.

Mungkin Buddha tidak akan pernah dikenal hingga kini kalau saja pangeran Siddharta lebih memilih menjadi seorang raja ketimbang menjadi seorang pertapa untuk mencari "obat" yang dapat membebaskan manusia dari penderitaan. Mungkin sampai saat ini orang tidak akan mengenal Buddha. Bahkan nama kerajaan Kapilavastu di India juga tidak banyak diingat lagi. Justru karena pangeran Siddharta tidak ingin berkuasa, maka namanya masih harum hingga kini. Ajarannya pun masih banyak diiikuti orang sampai sekarang, bahkan semakin relevan bagi kahidupan manusia modern saat ini. Padahal ketika itu, pangeran Siddharta begitu mudahnya untuk meraih puncak kekuasaan dan menjadi raja sebagai pengganti ayahnya, yaitu raja Suddhodana. Beliau tidak perlu repot untuk ikut kampanye atau pemilu. Ketika itu kekuasaan telah berada di
depan matanya, tapi malah beliau tinggalkan begitu saja. Tentu saja Beliau bukanlah orang yang bodoh. Tetapi demi tujuan yang lebih tinggi, Beliau rela mengorbankan semuanya demi cita-cita yang lebih luhur, yaitu membebaskan manusia dari penderitaan.

Beliau rela berkorban untuk meninggalkan kesenangan duniawi demi satu tujuan mulia. Harta dan tahta, bahkan keluarga rela Beliau tinggalkan demi mengejar cita-cita luhur untuk mencapai kebuddhaan. Tapi ternyata pengorbanan yang telah Beliau berikan tidaklah sia-sia. Setelah menderita-sengsara selama enam tahun di hutan Uruvela, Beliau berhasil menemukan obat yang dapat menyembuhkan manusia dari lingkaran lahir, sakit, tua dan mati. Buddha telah menunjukan kepada dunia bahwa pilihannya tidak keliru. Kalau saja waktu itu, Beliau lebih memilih menjadi raja maka nama dan ajaranya tidak akan ada lagi hingga kini. Kekuasaan memang bukanlah segala-galanya. Kekuasaan akan memberikan makna bagi kehidupan bila digunakan dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan banyak orang, untuk kepentingan rakyat
yang dipimpinnya. Walaupun Buddha tidak tergiur oleh kekuasaan, tetapi sebetulnya Beliau telah membuktikan sebagai orang yang paling berkuasa atas dirinya sendiri. Dengan kekuasaannya tersebut, Beliau telah membebaskan dirinya dari kemelekatan duniawi. Pada masa kehidupann-Nya, Buddha juga banyak mengajarkan Dharma kepada para raja yang berkuasa di masa itu untuk memanfaatkan kekuasaan yang dimilikinya itu demi kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya. Contoh para raja yang menjadi pengikut setia pada masa kehidupan Buddha adalah Raja Bimbisara, raja Pasenadi Kosala, dll. Buddha pernah bersabda bahwa kekuasaan itu seperti pedang bermata dua. Bila tidak digunakan dengan baik, maka dapat mencelakakan si pemegang kekuasan itu sendiri. Banyak contoh nyata orang yang telah berkuasa selama sekian puluh tahun harus mengalami sesuatu yang tragis di akhir kekuasaannya. Namanya masih tetap dikenang, tetapi lebih banyak pada hal-hal yang kurang baik dibandingkan hal-hal bermanfaat.. Pengorbanan adalah kata kunci bila seseorang ingin berkuasa dan menjadi pemimpin
yang sesungguhnya. Para pemimpin saat ini seharusnya banyak belajar pada pandangan Buddha tentang kekuasaan.

Setelah menjadi Buddha, atau dalam ajaran Buddha dapat dikatakan sebagai orang yang telah "berkuasa" sepenuhnya atas dirinya. Tidak ada kelahiran, tidak ada tumimbal lahir lagi. Namun demikian, Buddha telah memberikan pengabdian kepada umat manusia, bagi dunia, bahkan seluruh alam semesta agar mereka pun dapat mencapai tingkat kebuddhaan seperti apa yang telah diraih-Nya. Inilah contoh keteladanan nyata dari seorang pemimpin yang telah berkuasa dalam arti yang sesungguhnya. Selama 35 tahun secara terus menerus, Beliau pergi dari satu kota ke kota yang lainnya, dari satu desa ke desa lainnya untuk mengajarkan Dharma kepada umat-Nya. Banyak orang-orang yang tadinya kurang dipandang di masyarakat, seperti tukang pembersih jalan, pelacur, tukang cukur bahkan sampai orang-orang yang sangat memuja-muja
harta dan kekuasaan telah berhasil disadarkannya sehingga mau mengikuti ajaran-Nya, bahkan berhasil mencapai tingkat- tingkat kesucian tertinggi. Inilah yang seharusnya dilakukan orang-orang yang telah berkuasa. Mereka bukannya mencampakan orang-orang yang dianggap tidak berguna, tetapi sebaliknya dapat mengangkat harkat dan martabatnya sehingga dapat menjadi manusia yang lebih berguna. Demikian pula kepada orang-orang terlalu memuja harta dan tahta, bukannya dimusuhi atau dibenci, melainkan mereka disadarkan akan pentingnya untuk menggunakan harta dan tahta yang dimilikinya bukan hanya untuk kepentingan dirinya dan keluarganya saja, tapi juga bisa bermanfaat bagi banyak orang. Inilah pengabdian luhur yang telah dilakukan Buddha dalam hidup-Nya yang membuat nama dan ajaran-Nya tetap hidup di tengah-tengah kita hingga kini.

Dalam ajaran Dharma, untuk menuju kesucian batin, seseorang harus dapat menjalankan ajaran Sila (kemoralan), Samadhi (perhatian), dan Panna (kebijaksanaan) dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan memiliki Sila, Samadhi, dan Panna, seorang pemimpin akan dapat menggunakan kekuasaannya dengan baik. Kekuasaan dipandang sebagai suatu pengabdian, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan msyarakat luas. Kekuasaan yang dilandasi dengan niat pengabdian yang tulus akan menjadikan kekuasaan itu langgeng dan akan dikenang sepanjang masa, bahkan setelah dirinya tidak berkuasa lagi.

Dalam kurun waktu 35 tahun setelah tercapainya kebuddhaan, hingga wafat-Nya pada usia 80 tahun, Buddha terus melayani umat-Nya. Dengan telaten dan tekun Beliau ajarkan ajaran-Nya kepada umat-Nya dari ajaran yang sangat sederhana hingga yang sangat sulit. Setelah mencapai tingkat kebuddhaan, Beliau juga tidak lupa untuk membalas jasa dan melayani kedua orang tuanya. Diajarkan-Nya Dharma kepada kedua orang tuanya sehingga mereka berhasil mencapai kesucian. Bila ada para bhikkhu murid-Nya yang sakit, tidak segan-segan Beliau juga ikut merawat mereka dengan tangannya sendiri. Dengan terus melayani Buddha menjadikan ajaran-Nya lebih nyata dan dapat dipraktikan. Hal ini mungkin dapat diteladani oleh pemimpin yang ingin terus berkuasa. Dengan melayani, kekuasaan sang pemimpin menjadi lebih nyata dan berguna bagi rakyat yang dipimpinnya. Dengan melayani seolah tidak ada jurang yang menganga antara sang pemimpin dengan yang dipimpin. Pemimpin yang dapat melayni bukanlah pemimpin yang ada di awang-awang atau tempat yang tinggi, tetapi membumi bersama rakyat yang dipimpinnya, sehingga segala masalah dapat diselesaikan secara bersama-sama.

Inilah makna Waisak yang perlu untuk kita renungkan bersama. Masing-masing kta sebetulnya adalah penguasa bagi diri kita sendiri. Dalam skala yang lebih besar, kita juga sebagai penguasa di tengah keluarga, masyarakat, perusahaan, pemerintahan, dan lain-lain. Bila kita ingin menjadi seorang penguasa yang baik dan dapat menggunakan kekuasaan yang kita miliki dengan sebaik-baiknya, maka teladan yang telah diberikan Buddha perlu kita contoh. Kekuasaan yang kita miliki harus dibangun atas dasar pengorbanan, pengabdian, dan melayani. Mudah-mudahan makna Waisak 2548 dapat memberikan insipirasi bagi masyarakat, khususnya umat Buddha tentang makna kekuasaan. Dengan demikian, sebagai umat Buddha yang baik, kita juga harus berperan serta dalam menentukan siapa yang akan berkuasa dalam Pemilu Presiden mendatang. Selamat Waisak 2548 dan selamat mengikuti Pemilu 5 Juli

 

*Dhammacaro Andrianto adalah mantan aktivis Buddhis, pernah menjadi dosen Akademi Buddhis Nalanda, menjabat Pemimpin Umum / Redaksi Majalah Buddha Cakkhu, wakil ketua Yayasan Dhammadipa Surabaya, dan sejumlah jabatan organisasi lain.

Hak cipta tetap berada pada penulis.

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]