|
Agama Buddha dan Kekuasaan
oleh: Dhammacaro Andrianto *
Pada 3 Juni umat Buddha di seluruh dunia dan khususnya
di Indonesia merayakan Hari Tri Suci Waisak 2548. Perayaan
Waisak, seperti kita ketahui adalah untuk memperingati
saat kelahiran, pencapaian Penerangan Sempurna, dan
mangkatnya Buddha pada bulan yang sama, yaitu bulan
Waisak. Sebulan lagi, atau tepatnya pada 5 Juli rakyat
Indonesia juga akan memilih pemimpin Indonesia yang
akan berkuasa untuk masa lima tahun mendatang. Berkaitan
dengan hal itu, maka kita perlu mencari makna Waisak
yang dikaitkan dengan kekuasaan.
Mundurnya Sonia Gandhi dari pencalonannya sebagai perdana
menteri India, dan digantikan oleh seorang ekonom terkenal
bernama Manmohan Singh membuat banyak orang tercengang.
Ternyata masih ada orang yang menolak kekuasaan demi
tujuan yang lebih besar. Bahkan majalah Economist membandingkan
apa yang dilakukan oleh Sonia Gandhi tersebut dengan
apa yang pernah dilakukan Buddha dan Mahatma Gandhi.
Mungkin Buddha tidak akan pernah dikenal hingga kini
kalau saja pangeran Siddharta lebih memilih menjadi
seorang raja ketimbang menjadi seorang pertapa untuk
mencari "obat" yang dapat membebaskan manusia
dari penderitaan. Mungkin sampai saat ini orang tidak
akan mengenal Buddha. Bahkan nama kerajaan Kapilavastu
di India juga tidak banyak diingat lagi. Justru karena
pangeran Siddharta tidak ingin berkuasa, maka namanya
masih harum hingga kini. Ajarannya pun masih banyak
diiikuti orang sampai sekarang, bahkan semakin relevan
bagi kahidupan manusia modern saat ini. Padahal ketika
itu, pangeran Siddharta begitu mudahnya untuk meraih
puncak kekuasaan dan menjadi raja sebagai pengganti
ayahnya, yaitu raja Suddhodana. Beliau tidak perlu repot
untuk ikut kampanye atau pemilu. Ketika itu kekuasaan
telah berada di
depan matanya, tapi malah beliau tinggalkan begitu saja.
Tentu saja Beliau bukanlah orang yang bodoh. Tetapi
demi tujuan yang lebih tinggi, Beliau rela mengorbankan
semuanya demi cita-cita yang lebih luhur, yaitu membebaskan
manusia dari penderitaan.
Beliau rela berkorban untuk meninggalkan kesenangan
duniawi demi satu tujuan mulia. Harta dan tahta, bahkan
keluarga rela Beliau tinggalkan demi mengejar cita-cita
luhur untuk mencapai kebuddhaan. Tapi ternyata pengorbanan
yang telah Beliau berikan tidaklah sia-sia. Setelah
menderita-sengsara selama enam tahun di hutan Uruvela,
Beliau berhasil menemukan obat yang dapat menyembuhkan
manusia dari lingkaran lahir, sakit, tua dan mati. Buddha
telah menunjukan kepada dunia bahwa pilihannya tidak
keliru. Kalau saja waktu itu, Beliau lebih memilih menjadi
raja maka nama dan ajaranya tidak akan ada lagi hingga
kini. Kekuasaan memang bukanlah segala-galanya. Kekuasaan
akan memberikan makna bagi kehidupan bila digunakan
dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan banyak orang,
untuk kepentingan rakyat
yang dipimpinnya. Walaupun Buddha tidak tergiur oleh
kekuasaan, tetapi sebetulnya Beliau telah membuktikan
sebagai orang yang paling berkuasa atas dirinya sendiri.
Dengan kekuasaannya tersebut, Beliau telah membebaskan
dirinya dari kemelekatan duniawi. Pada masa kehidupann-Nya,
Buddha juga banyak mengajarkan Dharma kepada para raja
yang berkuasa di masa itu untuk memanfaatkan kekuasaan
yang dimilikinya itu demi kesejahteraan rakyat yang
dipimpinnya. Contoh para raja yang menjadi pengikut
setia pada masa kehidupan Buddha adalah Raja Bimbisara,
raja Pasenadi Kosala, dll. Buddha pernah bersabda bahwa
kekuasaan itu seperti pedang bermata dua. Bila tidak
digunakan dengan baik, maka dapat mencelakakan si pemegang
kekuasan itu sendiri. Banyak contoh nyata orang yang
telah berkuasa selama sekian puluh tahun harus mengalami
sesuatu yang tragis di akhir kekuasaannya. Namanya masih
tetap dikenang, tetapi lebih banyak pada hal-hal yang
kurang baik dibandingkan hal-hal bermanfaat.. Pengorbanan
adalah kata kunci bila seseorang ingin berkuasa dan
menjadi pemimpin
yang sesungguhnya. Para pemimpin saat ini seharusnya
banyak belajar pada pandangan Buddha tentang kekuasaan.
Setelah menjadi Buddha, atau dalam ajaran Buddha dapat
dikatakan sebagai orang yang telah "berkuasa"
sepenuhnya atas dirinya. Tidak ada kelahiran, tidak
ada tumimbal lahir lagi. Namun demikian, Buddha telah
memberikan pengabdian kepada umat manusia, bagi dunia,
bahkan seluruh alam semesta agar mereka pun dapat mencapai
tingkat kebuddhaan seperti apa yang telah diraih-Nya.
Inilah contoh keteladanan nyata dari seorang pemimpin
yang telah berkuasa dalam arti yang sesungguhnya. Selama
35 tahun secara terus menerus, Beliau pergi dari satu
kota ke kota yang lainnya, dari satu desa ke desa lainnya
untuk mengajarkan Dharma kepada umat-Nya. Banyak orang-orang
yang tadinya kurang dipandang di masyarakat, seperti
tukang pembersih jalan, pelacur, tukang cukur bahkan
sampai orang-orang yang sangat memuja-muja
harta dan kekuasaan telah berhasil disadarkannya sehingga
mau mengikuti ajaran-Nya, bahkan berhasil mencapai tingkat-
tingkat kesucian tertinggi. Inilah yang seharusnya dilakukan
orang-orang yang telah berkuasa. Mereka bukannya mencampakan
orang-orang yang dianggap tidak berguna, tetapi sebaliknya
dapat mengangkat harkat dan martabatnya sehingga dapat
menjadi manusia yang lebih berguna. Demikian pula kepada
orang-orang terlalu memuja harta dan tahta, bukannya
dimusuhi atau dibenci, melainkan mereka disadarkan akan
pentingnya untuk menggunakan harta dan tahta yang dimilikinya
bukan hanya untuk kepentingan dirinya dan keluarganya
saja, tapi juga bisa bermanfaat bagi banyak orang. Inilah
pengabdian luhur yang telah dilakukan Buddha dalam hidup-Nya
yang membuat nama dan ajaran-Nya tetap hidup di tengah-tengah
kita hingga kini.
Dalam ajaran Dharma, untuk menuju kesucian batin, seseorang
harus dapat menjalankan ajaran Sila (kemoralan), Samadhi
(perhatian), dan Panna (kebijaksanaan) dalam kehidupan
sehari-harinya. Dengan memiliki Sila, Samadhi, dan Panna,
seorang pemimpin akan dapat menggunakan kekuasaannya
dengan baik. Kekuasaan dipandang sebagai suatu pengabdian,
bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga
dan msyarakat luas. Kekuasaan yang dilandasi dengan
niat pengabdian yang tulus akan menjadikan kekuasaan
itu langgeng dan akan dikenang sepanjang masa, bahkan
setelah dirinya tidak berkuasa lagi.
Dalam kurun waktu 35 tahun setelah tercapainya kebuddhaan,
hingga wafat-Nya pada usia 80 tahun, Buddha terus melayani
umat-Nya. Dengan telaten dan tekun Beliau ajarkan ajaran-Nya
kepada umat-Nya dari ajaran yang sangat sederhana hingga
yang sangat sulit. Setelah mencapai tingkat kebuddhaan,
Beliau juga tidak lupa untuk membalas jasa dan melayani
kedua orang tuanya. Diajarkan-Nya Dharma kepada kedua
orang tuanya sehingga mereka berhasil mencapai kesucian.
Bila ada para bhikkhu murid-Nya yang sakit, tidak segan-segan
Beliau juga ikut merawat mereka dengan tangannya sendiri.
Dengan terus melayani Buddha menjadikan ajaran-Nya lebih
nyata dan dapat dipraktikan. Hal ini mungkin dapat diteladani
oleh pemimpin yang ingin terus berkuasa. Dengan melayani,
kekuasaan sang pemimpin menjadi lebih nyata dan berguna
bagi rakyat yang dipimpinnya. Dengan melayani seolah
tidak ada jurang yang menganga antara sang pemimpin
dengan yang dipimpin. Pemimpin yang dapat melayni bukanlah
pemimpin yang ada di awang-awang atau tempat yang tinggi,
tetapi membumi bersama rakyat yang dipimpinnya, sehingga
segala masalah dapat diselesaikan secara bersama-sama.
Inilah makna Waisak yang perlu untuk kita renungkan
bersama. Masing-masing kta sebetulnya adalah penguasa
bagi diri kita sendiri. Dalam skala yang lebih besar,
kita juga sebagai penguasa di tengah keluarga, masyarakat,
perusahaan, pemerintahan, dan lain-lain. Bila kita ingin
menjadi seorang penguasa yang baik dan dapat menggunakan
kekuasaan yang kita miliki dengan sebaik-baiknya, maka
teladan yang telah diberikan Buddha perlu kita contoh.
Kekuasaan yang kita miliki harus dibangun atas dasar
pengorbanan, pengabdian, dan melayani. Mudah-mudahan
makna Waisak 2548 dapat memberikan insipirasi bagi masyarakat,
khususnya umat Buddha tentang makna kekuasaan. Dengan
demikian, sebagai umat Buddha yang baik, kita juga harus
berperan serta dalam menentukan siapa yang akan berkuasa
dalam Pemilu Presiden mendatang. Selamat Waisak 2548
dan selamat mengikuti Pemilu 5 Juli
*Dhammacaro Andrianto
adalah mantan aktivis Buddhis, pernah menjadi dosen
Akademi Buddhis Nalanda, menjabat Pemimpin Umum / Redaksi
Majalah Buddha Cakkhu, wakil ketua Yayasan Dhammadipa
Surabaya, dan sejumlah jabatan organisasi lain.
Hak cipta tetap berada pada penulis.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|