|
Eliminasi
oleh: Dhammacaro
Eliminasi, itulah istilah yang sering kita dengar akhir-akhir
ini. Istilah ini sedang popular gara-gara ajang AFI
(Akademi Fantasi Indosiar). Dalam ajang tersebut, kita
bisa melihat ada peserta yang tereliminasi setiap minggu.
Satu demi satu dari kesepuluh akademia akan tersingkir
dan tidak boleh mengikuti ajang selanjutnya. Ada hal
yang menarik dari proses eliminasi tersebut. Peserta
yang tereliminasi adalah yang memiliki dukungan paling
sedikit dari para penggemarnya. Dukungan bisa diberikan
melalui sms atau premium call. Yang lebih menarik
lagi, kalau ada salah satu akademia yang harus tereliminasi,
maka rekan-rekan akademia yang lain akan sangat kehilangan,
bahkan ada yang sampai menangis. Demikian pula para
pemirsanya, ikut hanyut terbawa emosi kesedihan akibat
peristiwa eliminasi tersebut. Para komentator yang biasanya
memberikan kritik dan saran, dari yang ringan sampai
paling pedas pun ikut larut dalam suasana haru. Apalagi
para pengajar, yang sehari-hari membimbing para akademia,
mereka seakan-akan tidak mau berpisah dari anak didiknya.
Tentunya dalam tulisan ini, penulis tidak ingin mengupas
tentang dunia seni atau entertaiment; karena BuddhistOnline.com
adalah suatu media yang mengupas tentang dunia keagamaan,
khususnya Agama Buddha dan peristiwa-peristiwa yang
terjadi di dalamnya. Penulis memang sengaja mengambil
ilustrasi di atas, karena ada suatu kemiripan dan sekaligus
perbedaan antara eliminasi yang terjadi di AFI dan eliminasi
yang telah terjadi pada posisi Mahanayaka di Sangha
Theravada Indonesia (STI). Istilah eliminasi ini terpaksa
diambil untuk memenuhi saran agar istilah pencopotan,
pelengseran, atau bahkan ada yang menyebut pelongsoran
tidak digunakan. Padahal sebetulnya intinya sama saja,
posisi Mahanyaka sebagai kepala Sangha memang sudah
tidak ada di organisasi STI dengan dikeluarkannya Surat
Keputusan (SK) tentang hal tersebut.
Dasar Pertimbangan Eliminasi
Berdasarkan hasil pertemuan antara ketiga organisasi
Buddhis, yaitu: MAGABUDHI, PATRIA, dan WANDANI serta
beberapa umat Buddha lainnya untuk meminta klarifikasi
kepada STI akhirnya terjawab sudah alasan adanya eliminasi
terhadap posisi Mahanayaka selaku kepala STI. Apalagi
pada pertemuan yang diadakan pada 1 Juli 2004 itu juga
dibacakan SK tentang penghapusan jabatan Mahanayaka
oleh wakil sekjen STI, Bhikkhu Dhammakaro. Dengan dihapusnya
posisi Mahanayaka maka otomatis orang yang menjabat
juga tereliminasi. Dengan demikian terjawab sudah teka-teki
dan isu yang berkembang sebelumnya di kalangan umat
Buddha bahwa tidak benar Pannavaro Mahathera selaku
pejabat Mahanayaka pada waktu itu telah menundurkan
diri pada Pasamuan STI pada awal Mei lalu. Bahkan mungkin
ada yang mengkaitkan dengan kasus pertanggungjawaban
dana umat sebesar ratusan juta rupiah yang katanya raib
di Jawa Timur. Jadi jelas kedua masalah ini adalah dua
hal yang sama sekali berbeda! Keluarnya SK tersebut
juga bisa menjawab keterangan beberapa bhikkhu pengurus
STI yang menyatakan: "Kok percaya?" Maksudnya
percaya terhadap kabar telah dihapusnya posisi Mahanayaka.
Dengan adanya pertemuan tersebut, juga merupakan suatu
hal positif dan bisa menghapus kesan seolah-olah umat
tidak boleh turut campur terhadap apa yang terjadi di
tubuh Sangha. Sebegitu ekstrimkah jurang pemisah antara
umat dan Sangha? Padahal kita tahu, bahwa sejak zaman
Sang Buddha, umat juga banyak memberikan masukan-masikan
positif kepada Sangha dan dalam beberapa hal Sang Buddha
juga telah mengeluarkan peraturan-peraturan Sangha (Vinaya)
demi kemajuan Sangha itu sendiri. Jadi, agaknya terkesan
aneh kalau ada bhikkhu yang berpandangan seperti itu.
Mudah-mudahan hal ini hanya merupakan pendapat orang-perorang,
bukan STI selaku lembaga.
Dalam SK tersebut, seperti yang dijelaskan Bhante Jotidhammo
Thera; pada intinya disebutkan bahwa penghapusan posisi
Mahanyaka berdasarkan pertimbangan adanya kerancuan
antara Mahanayaka adalah kepala Sangha dan Sanghanayaka
adalah pemimpin Sangha. Jadi substansinya ada pada kata
'kepala" dan "pemimpin". Mungkin maksudnya
tidak baik bila dalam satu perahu ada dua nahkoda. Namun
tidak dijelaskan, mengapa yang dipilih adalah mengeliminasi
Mahanayaka ketimbang Sanghanayaka. Anehnya, posisi Mahanayaka
sebagai ketua Thera Samagama yang anggotanya adalah
lima bhikkhu senior yang minimal Thera itu tidak ikut
dihapus? Tetapi, fungsi Thera Samagama ini hanyalah
sebagai dewan pertimbangan, yang boleh didengar juga
boleh tidak oleh pimpinan dan anggota STI. Yang lebih
aneh, walaupun jumlah anggota Thera Samagama ada lima
orang thera, namun mereka hanya mempunyai satu hak suara.
Sedangkan para peserta pasamuan yang lain masing-masing
memiliki satu hak suara!
Dalam tanya jawab pada pertemuan dengan STI, juga dijelaskan
bagaimana proses pengambilan keputusan eliminasi posisi
Mahanayaka. Ternyata, proses eliminasinya sangat mirip
dengan AFI. Hanya bedanya kalau di AFI melalui sms atau
premium call, di pasamuan STI dilakukan melalui
voting. Yang lebih liberal, tidak perlu dilakukan musyawarah
atau mufakat terlebih dahulu, tapi langsung voting dan
ketok palu, dan
urusan selesai. Bila proses eliminasinya
mirip AFI, maka kejadian setelah eliminasi mungkin berbeda
dengan AFI. Kalau di AFI, kita bisa melihat akademia
yang tereliminasi diberi kesempatan untuk memberikan
komentar dan ucapan terakhir, sebelum dia pulang kampung.
Para akademia lain yang belum tereliminasi pun banyak
yang merasa kehilangan teman yang tereliminasi tadi.
Kita juga tidak tahu bagaimana perasaan para peserta
Pasamuan STI pada waktu itu?
Antara Kepala dan Pemimpin
Jika penggunaan kata kepala untuk Mahanayaka dan pemimpin
untuk Sanghanayaka dianggap rancu, maka sebetulnyab
terasa aneh. Kalau memang rancu, mengapa piagam Pasamuan
Agung itu diputuskan empat tahun lalu dan baru sekarang
dipermasalahkan? Sebagai perbandingan, di dunia ketatanegaraan
juga ada istilah raja atau presiden sebagai kepala negara
dan perdana menteri sebagai pemimpin pemerintahan. Nah,
apakah penggunaan kata kepala dan pemimpin di organisasi
Sangha juga mengacu pada istilah raja/presiden dan perdana
menteri? Asalkan pembagian tugas dan tanggung jawabnya
jelas, maka sebetulnya hubungan antara raja/presiden
dan perdana menterinya akan harmoni. Sebagai contoh
seperti yang terjadi di Thailand. Perdana menterinya
boleh berganti-ganti setiap beberapa tahun atau bahkan
sering dikudeta, tapi raja tetap tidak diganti sebagai
simbol negara. Di beberapa negara seperti Singapura,
Inggris, Belanda, dan lain-lain, tugas dan tanggung
jawab raja dan perdana menterinya juga berjalan dengan
harmoni. Pertanyaannya, mengapa di organisasi STI yang
begitu kecil antara kepala dan pemimpin dianggap rancu.
Jangan-jangan hanya pembagian tugas dan tanggung jawabnya
saja yang masih rancu. Kalau ini masalahnya, maka ini
yang harus dibenahi, bukan salah satu posisi harus meniadakan
yang lain. Janganlah hanya karena ingin memberhentikan
orangnya, maka posisinya yang dihapus.
Sebetulnya sah-sah saja apabila ada seorang pemimpin
atau kepala yang terpaksa harus diberhentikan dari jabatannya
bila memang dinilai sudah tidak mampu atau membahayakan
bagi kelangsungan suatu organisasi. Tapi yang menjadi
masalah apakah sudah dilakukan dengan cara yang benar
dan sesuai prosedur organisasi? Apalagi ada juga yang
menyebutkan, salah satu alasan penghapusan posisi Mahanayakan
adalah (hanya) karena adanya kesalahan 'kecil' dalam
urusan stempel STI dan tercantumnya jabatan Maha Sanghanayaka
pada sebuah buku terbitan sebuah organisasi Buddhis
di Yogyakarta. Sebetulnya masalah ini tidak perlu dibesar-besarkan
karena jabatan Maha Sanghanayaka kan sebetulnya tidak
ada, mengapa dipersoalkan? Lagipula organisasi tersebut
kabarnya juga sudah membuat penjelasan secara tertulis
kepada STI. Kalau memang ada beberapa "kesalahan"
yang telah dibuat Mahanayaka pada waktu itu, apakah
alasan tersebut cukup kuat? Kalau memang ada suatu pelanggaran
besar atau fatal sehingga dapat membahayakan kelangsungan
organisasi STI secara keseluruhan, barangkali keluarnya
SK tersebut bisa diterima.
Jadi, yang masih belum terungkap secara transparan
adalah apa sesungguhnya alasan dibalik penghapusan posisi
Mahanayaka, selain alasan-alasan yang telah disebutkan
di atas? Hal ini tentunya terlepas dari siapapun orangnya
yang menjabat sebagai Mahanayaka.
Menafikan Para Sesepuh
Suatu organisasi, atau bahkan negara tidak akan pernah
ada tanpa para pendiri organisasi atau negara tersebut.
Tidak ada satupun negara di dunia ini yang paling jelek
sekalipun, yang tidak menghormati para pahlawannya atau
para pendahulu yang telah sangat berjasa bagi organisasi
atau negara tersebut. Sehingga, rasanya agak janggal
bila fungsi Thera Samagama dalam STI hanya berfungsi
sebagai dewan pertimbangan. Bahkan mereka pun hanya
mempunyai satu hak suara dalam pasamuan. Patut diingat
bahwa STI adalah organisasi keagamaan yang seharusnya
menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan tidak menafikan
para sesepuhnya. Bagaimanapun juga STI tidak akan berkembang
seperti sekarang ini tanpa bantuan mereka.
Diakui atau tidak diakui, sebetulnya banyak juga jasa
yang telah diberikan para sesepuh dalam membesarkan
STI. Dalam hal ini khususnya Pannavaro Mahathera selaku
Mahanayaka juga telah banyak jasanya bagi STI dan perkembangan
Agama Buddha di tanah air, bahkan manca negara. Selain
itu, beliau juga bisa diterima oleh umat agama lain
di luar Agama Buddha dan kalangan pemerintahan. Apakah
faktor-faktor ini tidak ikut diperhitungkan dalam proses
pengambilan keputusan?
Ambilah contoh bagaimana agama lain menempatkan para
sesepuhnya pada tempat yang betul-betul terhormat dan
mempunyai peranan penting, seperti di Nahdatul Ulama
(NU) ada Dewan Syuro atau Kyai Khos. Agama Katholik
tetap mempertahankan Paus Yohannes Paulus yang sudah
renta dan sakit-sakitan, tetapi tetap dihormati dan
dipakai sebagai simbol. Contoh yang lebih dekat, adalah
bagaimana Sangha di Thailand mempertahankan Somdej sampai
kini, walaupun beliau juga telah berusia uzur. Sedangkan
contoh yang paling dekat, adalah bagaimana saudara kita
dari Sangha Agung Indonesia tetap mempertahankan jabatan
Mahanayaka yang dibiarkan tetap lowong hingga kini semenjak
Maha Stavira Ashin Jinarakkhita tiada.
Solusi Damai
Tulisan ini dibuat tanpa ada pretensi untuk mendeskriditkan
suatu organisasi tertentu atau bahkan orang-perorang.
Tulisan ini bukan pula dimaksudkan untuk membela person
tertentu, tetapi lebih banyak didasari untuk tujuan
yang lebih besar, yaitu persatuan dikalangan umat Buddha
dan STI. Yang jelas, saat ini keputusan sudah diambil.
Reaksi umat pun bermacam-macam. Jangan sampai hal ini
menimbulkan benturan yang dapat merugikan semua pihak.
Perlu juga dipikirkan apa dampak yang akan terjadi bila
hal ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang
dapat merugikan persatuan dan kesatuan umat Buddha Theravada
dan STI sendiri. Jadi, masalah ini sebaiknya jangan
hanya dipandang sebagai persoalan hilangnya jabatan
seorang Pannavaro Mahathera sebagai Mahanayaka, dengan
berpikir toh yang bersangkutan masih tetap seorang
bhikkhu yang dihormati umat. Apalagi kemudian persoalan
ini dibandingkan dengan kejadian beberapa orang bhikkhu
yang telah lepas jubah di masa lalu. Umat merasa kecewa
dan tidak bisa menerima pada awalnya, namun kemudian
lambat laun mulai melupakannya. Persoalannya ini jelas
berbeda! Kehilangan posisi Mahanayaka mungkin bukanlah
segalanya bagi seorang Pannavaro Mahathera, tapi lebih
daripada itu yang patut disayangkan adalah hal ini dapat
menjadi catatan sejarah hitam serta contoh yang kurang
baik bagi generasi penerus!
Memang ada yang mengatakan bahwa keluarnya keputusan
tersebut karena adanya hukum sebab akibat. Tetapi, juga
jangan lupa bahwa keputusan yang telah diambil dapat
menjadi sebab baru yang juga dapat menimbulkan suatu
akibat baru pula. Masih belum terlambat untuk mengoreksi
keputusan yang sudah diambil dan mengakui dengan jiwa
besar bahwa keputusan itu adalah keliru dan segera melakukan
koreksi. Masih ada jalan keluar untuk mengoreksi keputusan
tersebut, yaitu dengan cara Thera Samagama memanggil
Karaka Sangha Sabha untuk mengadakan Pasamuan Agung
kembali, misalnya. Semoga tulisan ini bermanfaat dan
dapat memberikan suatu pemahaman dan langkah nyata bagi
terwujudnya solusi damai bagi semua pihak. Semoga STI
dan umat Buddha tetap jaya.
Catatan: penulis tidak mewakili organisasi apapun
dan atas nama siapapun, tetapi penulis hanya mewakili
hati nurani
Hak cipta tetap berada pada penulis.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|