![[]](images/space.gif) |

Renungan Waisak 2546/2002
DENGAN TEKAD MAWAS DIRI, KITA WUJUDKAN HIDUP DAMAI
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa
3x
Setiap tahun makna Tri Suci Waisak kembali mengingatkan semua
insan, terutama insan Buddhis di mana pun mereka berada. Tiga
peristiwa penting yang terkandung di dalam bulan Waisak adalah,
Pangeran Siddharta Gotama lahir 623 SM, Pertapa Siddharta
Gotama mencapai Penerangan Agung 588 SM, dan Buddha Gotama
wafat, Parinibbana 543 SM. Bulan Waisak tahun berikut, setelah
Sang Buddha Parinibbana, Tahun Buddhis mulai dihitung satu.
Ajaran Sang Buddha dalam kepentingan masyarakat disebut dan
dikenal juga sebagai agama. Di setiap saat Tri Suci Waisak
tiba, yang selalu menjadi perenungan tentang ajaran Sang Buddha
sebagai agama adalah bahwa umur agama berbeda dengan umur
manusia. Perbedaannya, manusia tambah lama umurnya, bertambah
tua usianya, semakin lemah kekuatannya, semakin dekat saat
kematiannya. Akan tetapi umur agama, tambah lama, tambah tua
usia, semakin bertambah kuat, kokoh keberadaannya, semakin
banyak pengikutnya, dan semakin luas jangkauan perkembangannya.
Hingga saat ini, ajaran Sang Buddha masih dikenal, bahkan
semakin terkenal di berbagai muka bumi belahan dunia. Pesan-pesan
Sang Buddha secara rinci ditujukan ke semua mahluk untuk mencapai
kedamaian dalam hidupnya. Maka, meskipun Sang Buddha telah
meninggalkan dunia dua puluh lima abad yang lampau, namun
suara Sang Buddha masih jelas didengar, petunjuknya masih
bisa diikuti, perilakunya masih memberi tauladan agung dalam
sejarah kemanusiaan di segala zaman.
Tujuan ajaran Buddha mencapai kedamaian dengan cara menghapus
penderitaan. Kini ajaran Buddha semakin diminati, oleh karena
setiap makhluk pasti tidak ingin dirinya hidup menderita.
Sedangkan telah jutaan tahun manusia mencari jawaban pasti
kapan penderitaan berakhir. Namun. meskipun telah tak terhitung
berapa banyak cara dicurahkan hanya untuk mencari jawaban
pasti untuk mengakhiri penderitaan, toh tetap penderitaan
tidak mau dilebur dan dikubur begitu saja oleh manusia. Sebab
hampir setiap orang selalu memberi jawaban, bahwa penderitaan
datang dari luar diri sendiri. Sehingga harus mencari kekuatan
dari luar diri sendiri cara mengakhiri penderitaan.
Dari ketergantungan seseorang pada kekuatan di luar diri
sendiri, secara tidak disadari akan berakibat semakin melemahkan
potensi diri sendiri. Yang sebenarnya potensi diri sungguh
luar biasa mengagumkan bilamana seseorang dapat memberdayakan.
Hanya karena ketidaktahuan bahwa setiap pribadi memiliki potensi
diri, maka banyak orang selalu menyandarkan diri pada kekuatan
lain di luar dirinya sendiri. Tidak tahu kalau objek itu pasif,
yang aktif subjek. Tidak tahu bahwa barang siapa suka menggantungkan
diri kepada yang lain, suatu ketika akan menggantung dirinya
sendiri jika tidak ada yang lain. Tidak tahu bahwa siapapun
tidak akan merubah dirnya selama diri sendiri tidak mau berubah.
Dari ketidaktahuannya itu sehingga menjadi kebiasaan seseorang
selalu mencari pelindung dari luar diri sendiri, agar aman
tidak diganggu orang lain, tetapi tidak melindungi dirinya
sendiri yang lebih sering mengganggu orang lain.
Oleh karena hampir semua orang sangat tidak biasa dengan
cara berpikir Buddhis, ajaran Sang Buddha yaitu mawas diri
sendiri dengan sebuah perenungan. Kini dunia merana, di muka
bumi tempat kita lahir, hidup, dan mati, setiap hari tidak
pernah kosong dari tindak kekerasan yang berujung penderitaan.
Akibat dari ulah manusia masa kini yang tidak pernah mengawasi
dirinya sendiri dengan perenungan, sebaliknya hanya biasa
mengawasi diri orang lain disertai tuduhan. Padahal menuduh,
mengiri, mengeluh, menuding, hanyalah menambah deretan jumlah
masalah muncul. Untuk itu, dari hari ke hari, makhluk-makhluk
merasa semakin sempit ruang geraknya, gersang jiwanya, kering
air kasih sayang antar sesama. Sehingga sebuah kedamaian hidup
tinggal impian.
Sang Buddha tidak mengajarkan kepercayaan-kepercayaan takhayul,
atau mengikatkan diri kepada kekuatan-kekuatan gaib di luar
diri agar bebas dari penderitaan. Tidak menganjurkan untuk
mengeluh, menuduh, dan menuding sekeliling sebagai sebab semua
penderitaan yang menimpa. Melainkan menunjukkan jalan untuk
mengakhiri penderitaan dengan cara mawas diri, dengan sebuah
perenungan.
Merenung
Hanya delapan huruf, dan jika dirangkai akan menjadi sebuah
kata pendek "merenung". Tetapi merenung, mempunyai
makna sangat dalam, arti sangat panjang, manfaat sangat besar.
Petapa Siddharta Gotama mencapai Penerangan Sempurna, menemukan
Dhamma hukum kebenaran mulia, melalui jalan perenungan.
Sinar Dhamma ibarat seribu kali lebih terang dari terang
cahaya matahari yang hanya membedakan antara kotor atau bersih.
Tetapi terangnya Dhamma bisa untuk membedakan mana baik atau
jahat. Membedakan antara kesenangan dan kebahagiaan. Bagi
seseorang yang jauh dari perenungan intologi wadag dan rohani,
berarti semakin dekat dengan kegelapan batin. Batin yang gelap
adalah batin yang betul-betul tumpul dan tuli, sehingga tidakmampu
lagi medengar suara bisik alam.
Seseorang yang tidak pernah merenung, dan tidak mendengarkan
suara bisik alam, ia akan kehilangan kesederhanaan, kelenturan,
dan kehilangan elastisitas ego. Akan berarti pula kehilangan
daya tahan mental maupun fisik untuk menghadapi gempuran gejolak
emosi, deburan ombak nafsu birahi yang illahi. Sifat dan perilakunya
akan menjadi egois, keras kepala, kering, mudah tersinggung,
tidak kenal lingkungan, karena telah menjadi asing dengan
dirinya sendiri.
Sejak awal ajaran Sang Buddha cenderung pada sikap merenungkan
dahulu terhadap bentuk-bentuk reaksi pikiran yang timbul.
Serta apapun yang terjadi dipahami sebagai sebuah proses dari
akibat yang pasti ada sebab-sebabnya. Meskipun demikian, Sang
Buddha tidak menitikkan pada satu-satunya sebab untuk semua
akibat, baik atau buruk, untung atau rugi, gelap terang, sukses
gagal, diterima atau ditolak. Karena dengan hanya menitikkan
pada satu sebab dari semua akibat, akan kehilangan cara berpikir
dewasa kencana dan menjadi tidakseimbang antara kecerdasan
intelek yang religius, serta sangat terpaksa pad asikap prioritas
atau apriori dalam bertindak.
Kata Buddha, "Siapa saja yang mampu menyatu dalam perenungan
delapan pesan Dhamma tentang: pengertian benar; pikiran benar;
ucapan benar; perbuatan benar; mata pencaharian benar; usaha
benar; perhatian benar; dan konsentrasi benar." Hasilnya
sungguh memberi pencerahan dan kedamaian bagi diri sendiri,
orang lain, mapun lingkungan.
Delapan Pesan Dhamma
Delapan pesan Dhamma yang patut direnungkan itu adalah:
- Pengertian benar, dimaksud pengertian sejati, yaitu
setelah mengetahui dan mengalami sendiri. Artinya melihat
sesuatu apa adanya, tidak hanya apa nampaknya. Banyak hal
menjadi kontra produksi, hingga berakibat konflik individu
mapun sosial, disebabkan oleh kebiasaan melihat sesuatu
hanya apa nampaknya, tidak sampai apa adanya baik atau jelek.
Paling lazim, orang-orang hanya senang melihat foto full
color, daripada foto rontgen. Padahal foto rontgen
justru bisa untuk menyembuhkan penyakit oleh dokter. Sama
halnya orang-orang, paling anti mendengar suara keras, sebaliknya
hanya senang mendengar suara yang halus lemah lembut. Padahal,
suara yang kedengarannya halus, lemah lembut membuat orang
lain hanyut, manggut-manggut, ibarat halusnya lumut, ternyata
di dalamnya menyimpan bakteri berbahaya, dan bikin orang
kepeleset celaka saja. Akan tetapi, meskipun suara kasar,
ibarat kasarnya parut kelapa, hasilnya pasti berguna, sebab
setelah disaring-saring keluar santannya, jika diolah keluar
minyaknya. Pesan Buddha, "Jangan melihat sesuatu hanya
dari satu sisi saja, karena itu hanya kana menjadi sebuah
keputusan. Lihatlah sesuatu itu dari sisi yang berbeda sekalipun
dengan jelas, karena itu hasilnya sebuah kesimpulan. Inilah
pengertian benar yang membawa kedamaian.
- Pikiran benar, 3. Ucapan benar, dan 4. Perbuatan
benar. Jika direnungkan pikiran ibarat air, mempunyai
sifat senang mengalir ke tempat rendah, yang membuat becek
hingga banjir. Hanya air yang ditata alirannya akan memberi
manfaat pad akehidupan. demikian pula pikiran. Pikiran
mengalir melalui Ucapan dan Perbuatan seseorang,
Menurut ukuran stamina normal, ucapan dan perbuatan seseorang
senang mengarah ke hal-hal yang rendah, nggosip,
ngerumpi, membuat isu salah, mengerutu, mengugat,
menghujat, menuduh, menuding, membuat onar, membakar, marah,
menjarah, menghancurkan sendi-sendi kehidupan lahir maupun
batin, dan lain-lain, yang digemari. Maka, hanya pikiran,
ucapan, dan perbuatan badan jasmani, yang sesuai dengan
aturan-aturan kemoralan tata susila, dituntun dengan sopan
santun budi pekerti baik, tepo seliro (Jw). Inilah
pikiran, ucapan, dan perbuatan jasmani yang membawa kedamaian.
- Mata pencaharian benar, dimaksud mata pencaharian
benar menurut Dhamma, adalah semua jenis mata pencaharian
yang tidak mengakibatkan kerugian pihak manapun. Sebaliknya
mendatangkan keuntungan; untuk diri sendiri, orang lain,
untuk diri sendiri dan orang lain, maupun lingkungan. Inilah
mata pencaharian yang membawa kedamaian.
- Usaha benar, tedapat empat usaha benar menurut
Dhamma yang membawa kedamaian. Pertama, berusaha tidak melakukan
kejahatan; kedua, berusaha tidak menjadi provokator timbulnya
sebab-sebab kejahatan. Ketiga, menumbuhkan benih-benih kebajikan,
dan keempat, mengembangkan bentuk-bentuk kebajikan. Dengan
cara menempatkan harga hidup di atas harga diri, harga diri
di atas harga materi. Sehingga setiap membuka usaha selalu
tidak hanya diukur untung / rugi, menang / kalah, tetapi
diperhitungkan kelak akan berdampak baik / buruk untuk diri
sendiri, orang lain, maupun lingkungan jenis usahanya. Inilah
jenis usaha yang membawa kedamaian.
- Perhatian benar, adalah sangat menarik untuk direnungkan.
Hampir semua orang selurugh hidupnya minta diperhatikan
secara rekayasa atau murni alami. Misalnya, berjalan kaki,
cukup berjalan biasa atau minta diusung dan dipayungi. Sehingga
kalau gagal mendapat perhatian akan berubah jiwanya jadi
beringas, seperti orang tidak waras, baru merasa puas. Pesan
Dhamma, perhatikan dengan seksama, setiap orang yang engkau
jumpai pasti mempunyai kelebihan yang tidak engkau miliki.
Pintu-pintu indria itu adalah pintu jendela hatimu, tergantung
engkau ingin mengintip yang baik atau buruk pada orang lain
lewat jendela indriamu. Sehingga engkau tidak risau ketika
pihak lain memberi perhatian atau tidak kepadamu. Dengan
cara inilah yang membawa kedamaian.
- Konsentrasi benar, dimaksud konsentrasi benar menurut
Dhamma adalah kemurnian niat, antusiasme. Apapun
yang murni akan berharga mahal, karena kwalitas unggul masa
pakai bertahan lama. Misalnya, emas murni, kopi murni, bensin
murni. Demikian pula niat yang murni. Betul-betul murni
baik atau jahat, keduanya sama kuat. Pesan Buddha renungkan
dahulu sebelum bertindak, dengan niat yang benar-benar murni
buruk ingin merampas memeras, menumpas lawan, dan membunuh
musuh. Atau niat yang sungguh murni baik, tulus, ikhlas,
bebas dari tuntutan egositas, tidak ingin popularitas,
berbuat baik sekalipun tidak ingin dibalas.
Akan tetapi kebanyakan orang, berbuat sesuatu hanya bertumpu
pada kepentingan sosial, belum sampai pada niat murni demi
kemajuan spiritual. Sehingga apapun yang dilakukan hanya dihitung
atas dasar menang atau kalah, untung atau rugi, tidak sampai
dipertimbangkan baik atau buruk untuk diri sendiri, orang
lain maupun lingkungan. Bahkan terkesan, tidak takut jahat
asal menang dan bisa mendapat keuntungan.
Karena itu, kalau jenis perbuatan yang dilakukan dilandasi
niat murni baik demi kemajuan spiritual, rela mengalah, berani
rugi secara materi, asal tidak sampai melakukan kejahatan.
Purnamasidhi bulan Waisak, adalah saat-saat yang mengingatkan
kita, untuk dapat merenungkan kembali pesan-pesan Dhamma.
Kaum sekolah, orang-orang besar para pahlawan kemanusiaan,
para pembawa misi kedamaian, selalu lebih dahulu merenung
sebelum bertindak mulai berkarya.
Yesus Kristus merenung dan mawas diri di atas bukti Getsemani,
sampai sekian lama hari siang dan malam sebelum turun memberi
terapi damai.
Nabi Muhammad S.A.W. merenung dan mawas diri di dalam Goa
Hira sebelum akhirnya memulai misinya.
Buddha Gotama setelah mencapai Penerangan Sempurna di bawah
Pohon Bodhi, menjalani puasa total, merenung mawas diri secara
utuh intologi wadag dan rohani, selama 7 minggu - 49
hari. (baca Riwayat Hidup Buddha Gotama, disusun oleh Maha
Pandita S. Widyadharma Sasanacariya. Penerbit : Cetiya Vatu
daya. Jl. Kartini VI no. 3. Jakarta. Cetakan ke dua belas
tahun 1999. Hal 41.) Baru kemudian mulai mengajarkan "Dhamma"
membawa "Damai" ke segenap alam semesta.
Merupakan bukti damai, di akhir hayat Sang Buddha Gotama
tidak menderita akibat penyakit akut, tidak ditangkap lawan,
dibunuh musuh, juga tidak mati hilang secara misteri.
Melainkan pada usia delapan puluh tahun, Sang Buddha Gotama
meninggal dengan tenang di bawah pohon Sala kembar. Kota Kusinara,
India, tempat beliau wafat tetap menjadi saksi sejarah hingga
saat ini.
Sesuai ajakan Dhamma, tepat pada detik-detik Purnamasidhi
Waisak, mari kita bersama-sama merenung secara utuh intologi
wadag dan rohani. Merenungkan apa saja yang telah atau akan
kita lakukan ajaran serta anjuran Dhamma, yang membawa kedamaian
pada diri kita sendiri, orang lain, maupun lingkungan.
Akhir kata mari kita renungkan pesan Buddha dalam Kitab Suci
Dhammapada XXV:1. "Cakkhuma samvaro sadhu, sadhu sotena
samvaro, ghanena samvaro sadhu, sadhu jivha samvaro, -
Sungguh baik mengendalikan mata; sungguh baik mengendalikan
hidung; sungguh baik mengendalikan lidah."
Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Sang Tiratana selalu melindungi.
"Selamat Tri Suci Waisak 2546/2002"
Semoga semua makhluk berbahagia.
Waisak, 26 Mei 2002
SANGHA THERAVADA INDONESIA
Dhammasubho Thera
Ketua Umum
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|