BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 
[]

Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?

 

[]    
[]

 

STI

Renungan Waisak 2546/2002

DENGAN TEKAD MAWAS DIRI, KITA WUJUDKAN HIDUP DAMAI

Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa 3x

 

Setiap tahun makna Tri Suci Waisak kembali mengingatkan semua insan, terutama insan Buddhis di mana pun mereka berada. Tiga peristiwa penting yang terkandung di dalam bulan Waisak adalah, Pangeran Siddharta Gotama lahir 623 SM, Pertapa Siddharta Gotama mencapai Penerangan Agung 588 SM, dan Buddha Gotama wafat, Parinibbana 543 SM. Bulan Waisak tahun berikut, setelah Sang Buddha Parinibbana, Tahun Buddhis mulai dihitung satu.

Ajaran Sang Buddha dalam kepentingan masyarakat disebut dan dikenal juga sebagai agama. Di setiap saat Tri Suci Waisak tiba, yang selalu menjadi perenungan tentang ajaran Sang Buddha sebagai agama adalah bahwa umur agama berbeda dengan umur manusia. Perbedaannya, manusia tambah lama umurnya, bertambah tua usianya, semakin lemah kekuatannya, semakin dekat saat kematiannya. Akan tetapi umur agama, tambah lama, tambah tua usia, semakin bertambah kuat, kokoh keberadaannya, semakin banyak pengikutnya, dan semakin luas jangkauan perkembangannya.

Hingga saat ini, ajaran Sang Buddha masih dikenal, bahkan semakin terkenal di berbagai muka bumi belahan dunia. Pesan-pesan Sang Buddha secara rinci ditujukan ke semua mahluk untuk mencapai kedamaian dalam hidupnya. Maka, meskipun Sang Buddha telah meninggalkan dunia dua puluh lima abad yang lampau, namun suara Sang Buddha masih jelas didengar, petunjuknya masih bisa diikuti, perilakunya masih memberi tauladan agung dalam sejarah kemanusiaan di segala zaman.

Tujuan ajaran Buddha mencapai kedamaian dengan cara menghapus penderitaan. Kini ajaran Buddha semakin diminati, oleh karena setiap makhluk pasti tidak ingin dirinya hidup menderita. Sedangkan telah jutaan tahun manusia mencari jawaban pasti kapan penderitaan berakhir. Namun. meskipun telah tak terhitung berapa banyak cara dicurahkan hanya untuk mencari jawaban pasti untuk mengakhiri penderitaan, toh tetap penderitaan tidak mau dilebur dan dikubur begitu saja oleh manusia. Sebab hampir setiap orang selalu memberi jawaban, bahwa penderitaan datang dari luar diri sendiri. Sehingga harus mencari kekuatan dari luar diri sendiri cara mengakhiri penderitaan.

Dari ketergantungan seseorang pada kekuatan di luar diri sendiri, secara tidak disadari akan berakibat semakin melemahkan potensi diri sendiri. Yang sebenarnya potensi diri sungguh luar biasa mengagumkan bilamana seseorang dapat memberdayakan. Hanya karena ketidaktahuan bahwa setiap pribadi memiliki potensi diri, maka banyak orang selalu menyandarkan diri pada kekuatan lain di luar dirinya sendiri. Tidak tahu kalau objek itu pasif, yang aktif subjek. Tidak tahu bahwa barang siapa suka menggantungkan diri kepada yang lain, suatu ketika akan menggantung dirinya sendiri jika tidak ada yang lain. Tidak tahu bahwa siapapun tidak akan merubah dirnya selama diri sendiri tidak mau berubah. Dari ketidaktahuannya itu sehingga menjadi kebiasaan seseorang selalu mencari pelindung dari luar diri sendiri, agar aman tidak diganggu orang lain, tetapi tidak melindungi dirinya sendiri yang lebih sering mengganggu orang lain.

Oleh karena hampir semua orang sangat tidak biasa dengan cara berpikir Buddhis, ajaran Sang Buddha yaitu mawas diri sendiri dengan sebuah perenungan. Kini dunia merana, di muka bumi tempat kita lahir, hidup, dan mati, setiap hari tidak pernah kosong dari tindak kekerasan yang berujung penderitaan. Akibat dari ulah manusia masa kini yang tidak pernah mengawasi dirinya sendiri dengan perenungan, sebaliknya hanya biasa mengawasi diri orang lain disertai tuduhan. Padahal menuduh, mengiri, mengeluh, menuding, hanyalah menambah deretan jumlah masalah muncul. Untuk itu, dari hari ke hari, makhluk-makhluk merasa semakin sempit ruang geraknya, gersang jiwanya, kering air kasih sayang antar sesama. Sehingga sebuah kedamaian hidup tinggal impian.

Sang Buddha tidak mengajarkan kepercayaan-kepercayaan takhayul, atau mengikatkan diri kepada kekuatan-kekuatan gaib di luar diri agar bebas dari penderitaan. Tidak menganjurkan untuk mengeluh, menuduh, dan menuding sekeliling sebagai sebab semua penderitaan yang menimpa. Melainkan menunjukkan jalan untuk mengakhiri penderitaan dengan cara mawas diri, dengan sebuah perenungan.

 

Merenung

Hanya delapan huruf, dan jika dirangkai akan menjadi sebuah kata pendek "merenung". Tetapi merenung, mempunyai makna sangat dalam, arti sangat panjang, manfaat sangat besar. Petapa Siddharta Gotama mencapai Penerangan Sempurna, menemukan Dhamma hukum kebenaran mulia, melalui jalan perenungan.

Sinar Dhamma ibarat seribu kali lebih terang dari terang cahaya matahari yang hanya membedakan antara kotor atau bersih. Tetapi terangnya Dhamma bisa untuk membedakan mana baik atau jahat. Membedakan antara kesenangan dan kebahagiaan. Bagi seseorang yang jauh dari perenungan intologi wadag dan rohani, berarti semakin dekat dengan kegelapan batin. Batin yang gelap adalah batin yang betul-betul tumpul dan tuli, sehingga tidakmampu lagi medengar suara bisik alam.

Seseorang yang tidak pernah merenung, dan tidak mendengarkan suara bisik alam, ia akan kehilangan kesederhanaan, kelenturan, dan kehilangan elastisitas ego. Akan berarti pula kehilangan daya tahan mental maupun fisik untuk menghadapi gempuran gejolak emosi, deburan ombak nafsu birahi yang illahi. Sifat dan perilakunya akan menjadi egois, keras kepala, kering, mudah tersinggung, tidak kenal lingkungan, karena telah menjadi asing dengan dirinya sendiri.

Sejak awal ajaran Sang Buddha cenderung pada sikap merenungkan dahulu terhadap bentuk-bentuk reaksi pikiran yang timbul. Serta apapun yang terjadi dipahami sebagai sebuah proses dari akibat yang pasti ada sebab-sebabnya. Meskipun demikian, Sang Buddha tidak menitikkan pada satu-satunya sebab untuk semua akibat, baik atau buruk, untung atau rugi, gelap terang, sukses gagal, diterima atau ditolak. Karena dengan hanya menitikkan pada satu sebab dari semua akibat, akan kehilangan cara berpikir dewasa kencana dan menjadi tidakseimbang antara kecerdasan intelek yang religius, serta sangat terpaksa pad asikap prioritas atau apriori dalam bertindak.

Kata Buddha, "Siapa saja yang mampu menyatu dalam perenungan delapan pesan Dhamma tentang: pengertian benar; pikiran benar; ucapan benar; perbuatan benar; mata pencaharian benar; usaha benar; perhatian benar; dan konsentrasi benar." Hasilnya sungguh memberi pencerahan dan kedamaian bagi diri sendiri, orang lain, mapun lingkungan.

 

Delapan Pesan Dhamma

Delapan pesan Dhamma yang patut direnungkan itu adalah:

  1. Pengertian benar, dimaksud pengertian sejati, yaitu setelah mengetahui dan mengalami sendiri. Artinya melihat sesuatu apa adanya, tidak hanya apa nampaknya. Banyak hal menjadi kontra produksi, hingga berakibat konflik individu mapun sosial, disebabkan oleh kebiasaan melihat sesuatu hanya apa nampaknya, tidak sampai apa adanya baik atau jelek. Paling lazim, orang-orang hanya senang melihat foto full color, daripada foto rontgen. Padahal foto rontgen justru bisa untuk menyembuhkan penyakit oleh dokter. Sama halnya orang-orang, paling anti mendengar suara keras, sebaliknya hanya senang mendengar suara yang halus lemah lembut. Padahal, suara yang kedengarannya halus, lemah lembut membuat orang lain hanyut, manggut-manggut, ibarat halusnya lumut, ternyata di dalamnya menyimpan bakteri berbahaya, dan bikin orang kepeleset celaka saja. Akan tetapi, meskipun suara kasar, ibarat kasarnya parut kelapa, hasilnya pasti berguna, sebab setelah disaring-saring keluar santannya, jika diolah keluar minyaknya. Pesan Buddha, "Jangan melihat sesuatu hanya dari satu sisi saja, karena itu hanya kana menjadi sebuah keputusan. Lihatlah sesuatu itu dari sisi yang berbeda sekalipun dengan jelas, karena itu hasilnya sebuah kesimpulan. Inilah pengertian benar yang membawa kedamaian.

  2. Pikiran benar, 3. Ucapan benar, dan 4. Perbuatan benar. Jika direnungkan pikiran ibarat air, mempunyai sifat senang mengalir ke tempat rendah, yang membuat becek hingga banjir. Hanya air yang ditata alirannya akan memberi manfaat pad akehidupan. demikian pula pikiran. Pikiran mengalir melalui Ucapan dan Perbuatan seseorang, Menurut ukuran stamina normal, ucapan dan perbuatan seseorang senang mengarah ke hal-hal yang rendah, nggosip, ngerumpi, membuat isu salah, mengerutu, mengugat, menghujat, menuduh, menuding, membuat onar, membakar, marah, menjarah, menghancurkan sendi-sendi kehidupan lahir maupun batin, dan lain-lain, yang digemari. Maka, hanya pikiran, ucapan, dan perbuatan badan jasmani, yang sesuai dengan aturan-aturan kemoralan tata susila, dituntun dengan sopan santun budi pekerti baik, tepo seliro (Jw). Inilah pikiran, ucapan, dan perbuatan jasmani yang membawa kedamaian.
  1. Mata pencaharian benar, dimaksud mata pencaharian benar menurut Dhamma, adalah semua jenis mata pencaharian yang tidak mengakibatkan kerugian pihak manapun. Sebaliknya mendatangkan keuntungan; untuk diri sendiri, orang lain, untuk diri sendiri dan orang lain, maupun lingkungan. Inilah mata pencaharian yang membawa kedamaian.

  2. Usaha benar, tedapat empat usaha benar menurut Dhamma yang membawa kedamaian. Pertama, berusaha tidak melakukan kejahatan; kedua, berusaha tidak menjadi provokator timbulnya sebab-sebab kejahatan. Ketiga, menumbuhkan benih-benih kebajikan, dan keempat, mengembangkan bentuk-bentuk kebajikan. Dengan cara menempatkan harga hidup di atas harga diri, harga diri di atas harga materi. Sehingga setiap membuka usaha selalu tidak hanya diukur untung / rugi, menang / kalah, tetapi diperhitungkan kelak akan berdampak baik / buruk untuk diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan jenis usahanya. Inilah jenis usaha yang membawa kedamaian.

  3. Perhatian benar, adalah sangat menarik untuk direnungkan. Hampir semua orang selurugh hidupnya minta diperhatikan secara rekayasa atau murni alami. Misalnya, berjalan kaki, cukup berjalan biasa atau minta diusung dan dipayungi. Sehingga kalau gagal mendapat perhatian akan berubah jiwanya jadi beringas, seperti orang tidak waras, baru merasa puas. Pesan Dhamma, perhatikan dengan seksama, setiap orang yang engkau jumpai pasti mempunyai kelebihan yang tidak engkau miliki. Pintu-pintu indria itu adalah pintu jendela hatimu, tergantung engkau ingin mengintip yang baik atau buruk pada orang lain lewat jendela indriamu. Sehingga engkau tidak risau ketika pihak lain memberi perhatian atau tidak kepadamu. Dengan cara inilah yang membawa kedamaian.

  4. Konsentrasi benar, dimaksud konsentrasi benar menurut Dhamma adalah kemurnian niat, antusiasme. Apapun yang murni akan berharga mahal, karena kwalitas unggul masa pakai bertahan lama. Misalnya, emas murni, kopi murni, bensin murni. Demikian pula niat yang murni. Betul-betul murni baik atau jahat, keduanya sama kuat. Pesan Buddha renungkan dahulu sebelum bertindak, dengan niat yang benar-benar murni buruk ingin merampas memeras, menumpas lawan, dan membunuh musuh. Atau niat yang sungguh murni baik, tulus, ikhlas, bebas dari tuntutan egositas, tidak ingin popularitas, berbuat baik sekalipun tidak ingin dibalas.

Akan tetapi kebanyakan orang, berbuat sesuatu hanya bertumpu pada kepentingan sosial, belum sampai pada niat murni demi kemajuan spiritual. Sehingga apapun yang dilakukan hanya dihitung atas dasar menang atau kalah, untung atau rugi, tidak sampai dipertimbangkan baik atau buruk untuk diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Bahkan terkesan, tidak takut jahat asal menang dan bisa mendapat keuntungan.

Karena itu, kalau jenis perbuatan yang dilakukan dilandasi niat murni baik demi kemajuan spiritual, rela mengalah, berani rugi secara materi, asal tidak sampai melakukan kejahatan.

Purnamasidhi bulan Waisak, adalah saat-saat yang mengingatkan kita, untuk dapat merenungkan kembali pesan-pesan Dhamma. Kaum sekolah, orang-orang besar para pahlawan kemanusiaan, para pembawa misi kedamaian, selalu lebih dahulu merenung sebelum bertindak mulai berkarya.

Yesus Kristus merenung dan mawas diri di atas bukti Getsemani, sampai sekian lama hari siang dan malam sebelum turun memberi terapi damai.

Nabi Muhammad S.A.W. merenung dan mawas diri di dalam Goa Hira sebelum akhirnya memulai misinya.

Buddha Gotama setelah mencapai Penerangan Sempurna di bawah Pohon Bodhi, menjalani puasa total, merenung mawas diri secara utuh intologi wadag dan rohani, selama 7 minggu - 49 hari. (baca Riwayat Hidup Buddha Gotama, disusun oleh Maha Pandita S. Widyadharma Sasanacariya. Penerbit : Cetiya Vatu daya. Jl. Kartini VI no. 3. Jakarta. Cetakan ke dua belas tahun 1999. Hal 41.) Baru kemudian mulai mengajarkan "Dhamma" membawa "Damai" ke segenap alam semesta.

Merupakan bukti damai, di akhir hayat Sang Buddha Gotama tidak menderita akibat penyakit akut, tidak ditangkap lawan, dibunuh musuh, juga tidak mati hilang secara misteri.

Melainkan pada usia delapan puluh tahun, Sang Buddha Gotama meninggal dengan tenang di bawah pohon Sala kembar. Kota Kusinara, India, tempat beliau wafat tetap menjadi saksi sejarah hingga saat ini.

Sesuai ajakan Dhamma, tepat pada detik-detik Purnamasidhi Waisak, mari kita bersama-sama merenung secara utuh intologi wadag dan rohani. Merenungkan apa saja yang telah atau akan kita lakukan ajaran serta anjuran Dhamma, yang membawa kedamaian pada diri kita sendiri, orang lain, maupun lingkungan.

Akhir kata mari kita renungkan pesan Buddha dalam Kitab Suci Dhammapada XXV:1. "Cakkhuma samvaro sadhu, sadhu sotena samvaro, ghanena samvaro sadhu, sadhu jivha samvaro, - Sungguh baik mengendalikan mata; sungguh baik mengendalikan hidung; sungguh baik mengendalikan lidah."

Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Sang Tiratana selalu melindungi.

 

"Selamat Tri Suci Waisak 2546/2002"

Semoga semua makhluk berbahagia.

 

Waisak, 26 Mei 2002

SANGHA THERAVADA INDONESIA

 

Dhammasubho Thera
Ketua Umum

 

 

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]