BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 
[]

Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?

 

[]    
[]

 

Sangha Theravada Indonesia

PESAN WAISAK 2547

Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa

 

Evam bho purisa janahi, Papadhamma asannata
Ma tam lobho adhammo ca, Ciram dukkhaya randhayum
(Dhammapada 248)

Lebih dari dua ribu lima ratus tahun lalu, dunia ini memperoleh berkah yang sangat istimewa. Kelahiran seorang calon Buddha memberi harapan besar bagi kebebasan umat manusia yang sudah lama mengalami penderitaan hidup; Pencapaian Penerangan Sempurna seorang Buddha Gotama membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapapun juga yang mau mendengar dan mempunyai keyakinan untuk menghayati Kebenaran Dhamma sebagai cara untuk mengakhiri penderitaan. Kemangkatan Sammasambuddha Gotama meninggalkan teladan semangat berusaha mencapai cita-cita kebebasan dengan sungguh-sungguh karena pada hakikatnya segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini selalu memiliki corak berubah. Kelahiran, pencapaian Penerangan Sempurna, serta Kemangkatan Buddha Gotama itu merupakan tiga peristiwa suci (Trisuci) Waisak yang diperingati oleh umat Buddha saat ini.

Dunia kehidupan masa lampau lebih dua ribu lima ratus tahun yang lalu pada dasarnya tidaklah berbeda dengan dunia kehidupan masa kini, kehidupan manusia masih juga diliputi kabut kebodohan batin, keserakahan, dan kebencian. Meskipun keadaan zaman sekarang ini diwarnai dengan berbagai kemajuan baik dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi, tetapi kehidupan manusia masih saja diwarnai dengan berbagai penderitaan yang terdapat dalam kekerasan politik, ketimpangan dan kemiskinan ekonomi, ketidakadilan dan penindasan sosial, kemerosotan peradaban budaya. Seolah-olah ajaran kebenaran tidak mampu menyelesaikan berbagai macam penderitaan tersebut. Padahal sesungguhnya ajaran kebenaran Dhamma memuat begitu banyak tuntunan bagi setiap segi perilaku hidup, kesadaran murni, dan kebijaksanaan akal-budi, yang dapat dipergunakan untuk mengakhiri penderitaan batin. Hanya saja tuntunan cuma akan menjadi sebuah wacana belaka apabila manusia masih belum tergugah kesadarannya untuk mencari kebebasan penderitaan dengan cara melenyapkan kebodohan batin, keserakahan, dan kebencian. Justru yang terjadi sekarang ini manusia masih menyukai cara-cara menikmati keserakahan, mengobarkan kebencian, dan memegang kuat-kuat kebodohan batinnya untuk memperoleh kebahagiaan hidup. Kebahagiaan hidup seperti itu dianggap sebagai "kebebasan penderitaan".

Perilaku kekerasan yang terdapat dalam tindakan-tindakan kejahatan dan teror, ancaman dan peledakan bom, bahkan perang kemanusiaan yang terjadi di Timur Tengah dewasa ini sangatlah bertolak belakang dengan harapan hidup semua manusia tanpa kecuali, yaitu memperoleh kebebasan dari penderitaan. Manusia masih saja memiliki kebodohan batin dengan berpandangan bahwasanya menaklukkan dan menghancurkan orang lain yang dianggap musuh merupakan cara untuk memperoleh kesuksesan hidup. Padahal Sang Buddha mengatakan: walaupun seribu kali seseorang dapat menaklukkan seribu musuh dalam satu pertempuran, namun meskipun seseorang hanya dapat menaklukkan dirinya sendiri, maka sesungguhnya ia seorang penakluk yang terbesar. Menaklukkan diri sendiri sesungguhnya lebih baik daripada menaklukkan makhluk-makhluk lain, orang yang telah menaklukkan dirinya sendiri selalu mengendalikan diri. (Dhammapada 103-104).

Perilaku kekerasan janganlah dijadikan sebagai ujud budaya zaman sekarang ini. Kita perlu merenung: semoga semua makhluk berbahagia; sebab pada hakikatnya setiap makhluk hidup, diri kita sendiri maupun orang-orang lain mendambakan kebebasan penderitaan. Jangan karena marah dan benci, mengharap orang lain celaka. Barangsiapa menginginkan kebahagiaan bagi dirinya sendiri dengan cara menimbulkan penderitaan bagi orang lain, maka ia tidak akan terbebas dari kebencian, ia akan terjerat dalam kebencian. Lebih lanjut, Sang Buddha mengatakan dalam kitab suci Dhammapada: Sebagian besar orang tidak mengetahui bahwa dalam pertengkaran mereka akan mengalami kehancuran, tetapi bagi mereka yang dapat menyadari kebenaran ini, maka semua pertengkaran akan diakhiri.

Ditengah-tengah kehidupan sesama saudara kita yang sedang dilanda kesulitan, terutama kesulitan sosial dan ekonomi, hendaknya umat Buddha mengembangkan sikap berpikir, berucap, dan berbuat yang didasari keteguhan keyakinan (Saddha) terhadap Kebenaran Dhamma, menjaga perilaku bermoral (Sila), mengembangkan sikap rela berkorban (Caga), jangan lupa menggunakan kebijaksanaan akal-budi (Panna).

Orang baik, ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak mudah mengendalikan hal-hal yang buruk. Biarlah keserakahan dan kejahatan tidak menyeretmu dalam penderitaan yang tidak berkesudahan. (Dhammapada 248)

 

Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Tiratana, selalu melindungi.

 

Selamat Trisuci Waisak 2547
Semoga semua makhluk berbahagia.

Kota Mungkid, 16 Mei 2003

Stempel STI dan TT Jotidhammo Thera

Jotidhammo Thera
Sekretaris Jendral

 

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]