![[]](images/space.gif) |

PESAN WAISAK 2547
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa
Evam bho purisa janahi, Papadhamma asannata
Ma tam lobho adhammo ca, Ciram dukkhaya randhayum
(Dhammapada 248)
Lebih dari dua ribu lima ratus tahun lalu, dunia ini memperoleh
berkah yang sangat istimewa. Kelahiran seorang calon Buddha
memberi harapan besar bagi kebebasan umat manusia yang sudah
lama mengalami penderitaan hidup; Pencapaian Penerangan Sempurna
seorang Buddha Gotama membuka kesempatan seluas-luasnya bagi
siapapun juga yang mau mendengar dan mempunyai keyakinan untuk
menghayati Kebenaran Dhamma sebagai cara untuk mengakhiri
penderitaan. Kemangkatan Sammasambuddha Gotama meninggalkan
teladan semangat berusaha mencapai cita-cita kebebasan dengan
sungguh-sungguh karena pada hakikatnya segala sesuatu yang
terjadi dalam hidup ini selalu memiliki corak berubah. Kelahiran,
pencapaian Penerangan Sempurna, serta Kemangkatan Buddha Gotama
itu merupakan tiga peristiwa suci (Trisuci) Waisak yang diperingati
oleh umat Buddha saat ini.
Dunia kehidupan masa lampau lebih dua ribu lima ratus tahun
yang lalu pada dasarnya tidaklah berbeda dengan dunia kehidupan
masa kini, kehidupan manusia masih juga diliputi kabut kebodohan
batin, keserakahan, dan kebencian. Meskipun keadaan zaman
sekarang ini diwarnai dengan berbagai kemajuan baik dalam
bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi, tetapi
kehidupan manusia masih saja diwarnai dengan berbagai penderitaan
yang terdapat dalam kekerasan politik, ketimpangan dan kemiskinan
ekonomi, ketidakadilan dan penindasan sosial, kemerosotan
peradaban budaya. Seolah-olah ajaran kebenaran tidak mampu
menyelesaikan berbagai macam penderitaan tersebut. Padahal
sesungguhnya ajaran kebenaran Dhamma memuat begitu banyak
tuntunan bagi setiap segi perilaku hidup, kesadaran murni,
dan kebijaksanaan akal-budi, yang dapat dipergunakan untuk
mengakhiri penderitaan batin. Hanya saja tuntunan cuma akan
menjadi sebuah wacana belaka apabila manusia masih belum tergugah
kesadarannya untuk mencari kebebasan penderitaan dengan cara
melenyapkan kebodohan batin, keserakahan, dan kebencian. Justru
yang terjadi sekarang ini manusia masih menyukai cara-cara
menikmati keserakahan, mengobarkan kebencian, dan memegang
kuat-kuat kebodohan batinnya untuk memperoleh kebahagiaan
hidup. Kebahagiaan hidup seperti itu dianggap sebagai "kebebasan
penderitaan".
Perilaku kekerasan yang terdapat dalam tindakan-tindakan
kejahatan dan teror, ancaman dan peledakan bom, bahkan perang
kemanusiaan yang terjadi di Timur Tengah dewasa ini sangatlah
bertolak belakang dengan harapan hidup semua manusia tanpa
kecuali, yaitu memperoleh kebebasan dari penderitaan. Manusia
masih saja memiliki kebodohan batin dengan berpandangan bahwasanya
menaklukkan dan menghancurkan orang lain yang dianggap musuh
merupakan cara untuk memperoleh kesuksesan hidup. Padahal
Sang Buddha mengatakan: walaupun seribu kali seseorang dapat
menaklukkan seribu musuh dalam satu pertempuran, namun meskipun seseorang hanya dapat menaklukkan dirinya sendiri, maka sesungguhnya ia seorang
penakluk yang terbesar. Menaklukkan diri sendiri sesungguhnya
lebih baik daripada menaklukkan makhluk-makhluk lain, orang
yang telah menaklukkan dirinya sendiri selalu mengendalikan
diri. (Dhammapada 103-104).
Perilaku kekerasan janganlah dijadikan sebagai ujud budaya
zaman sekarang ini. Kita perlu merenung: semoga semua makhluk
berbahagia; sebab pada hakikatnya setiap makhluk hidup, diri
kita sendiri maupun orang-orang lain mendambakan kebebasan
penderitaan. Jangan karena marah dan benci, mengharap orang
lain celaka. Barangsiapa menginginkan kebahagiaan bagi dirinya
sendiri dengan cara menimbulkan penderitaan bagi orang lain,
maka ia tidak akan terbebas dari kebencian, ia akan terjerat
dalam kebencian. Lebih lanjut, Sang Buddha mengatakan dalam
kitab suci Dhammapada: Sebagian besar orang tidak mengetahui
bahwa dalam pertengkaran mereka akan mengalami kehancuran,
tetapi bagi mereka yang dapat menyadari kebenaran ini, maka
semua pertengkaran akan diakhiri.
Ditengah-tengah kehidupan sesama saudara kita yang sedang
dilanda kesulitan, terutama kesulitan sosial dan ekonomi,
hendaknya umat Buddha mengembangkan sikap berpikir, berucap,
dan berbuat yang didasari keteguhan keyakinan (Saddha) terhadap
Kebenaran Dhamma, menjaga perilaku bermoral (Sila), mengembangkan
sikap rela berkorban (Caga), jangan lupa menggunakan kebijaksanaan
akal-budi (Panna).
Orang baik, ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak mudah mengendalikan
hal-hal yang buruk. Biarlah keserakahan dan kejahatan tidak
menyeretmu dalam penderitaan yang tidak berkesudahan. (Dhammapada
248)
Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Tiratana, selalu
melindungi.
Selamat Trisuci Waisak 2547
Semoga semua makhluk berbahagia.
Kota Mungkid, 16 Mei 2003
Jotidhammo Thera
Sekretaris Jendral
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|