 |

KONFERENSI AGUNG SANGHA INDONESIA
PESAN WAISAK 2548
Lebih dari dua ribu lima ratus tahun lalu dunia ini memperoleh
berkah yang sangat istimewa. Kelahiran seorang Bodhisatva
calon Buddha memberi harapan besar bagi kebahagiaan umat manusia
yang sudah lama mengalami penderitaan hidup; Pencapaian Pencerahan
Sempurna Sammasambuddha Gotama membuka kesempatan seluas-luasnya
bagi siapapun juga yang mau mendengar dan mempunyai keyakinan
untuk menghayati Kebenaran Dhamma sebagai cara untuk mengakhiri
penderitaan. Kemangkatan Buddha Gotama meninggalkan teladan
semangat juang mencapai cita-cita kebahagiaan hidup yang sesungguhnya.
Kelahiran, pencapaian Pencerahan Sempurna, serta Kemangkatan
Buddha Gotama itu merupakan tiga peristiwa suci (Trisuci)
Waisak yang diperingati oleh Buddha saat ini.
Demikianlah Kehadiran Buddha membawa kebahagiaan bagi Rakyat
yang berdaulat dan Pemimpin yang bijak. Meskipun Buddha Gotama
telah mangkat, tetapi Ke-buddha-an Beliau selalu hadir dalam
bentuk tuntunan hidup mulia. Apalagi pada saat rakyat dan
bangsa Indonesia sedang melangsungkan pesta demokrasi yang
akan memilih Presiden dan Wakil Presiden, maka sangat diperlukan
pedoman hidup yang dapat dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari
terutama saat kita harus berhadapan dengan berbagai masalah
yang tidak diharapkan terjadi. Rakyat yang berdaulat adalah
rakyat atau masyarakat yang menentukan pilihan untuk memerintah
dirinya sendiri demi memenuhi kepentingan dan kebutuhannya.
Oleh karena itu kita sebagai rakyat Indonesia hendaknya mawas
diri menjaga sikap dan tindak-tanduk agar benar-benar menggunakan
akal-budi-nurani yang tepat, sehingga kita dapat menentukan
pilihan dengan pertimbangan yang bijak. Demikian pula kita
berharap agar pemimpin bangsa yang terpilih nanti dapat benar-benar
mampu menggunakan akal-budi-nuraninya dengan tepat untuk menjadi
pemimpin yang mampu memberi teladan, meningkatkan kemampuan
dan mendorong semangat bagi rakyatnya untuk bersama-sama mengatasi
berbagai persoalan bangsa yang ada.
Saat ini bangsa Indonesia masih harus berjuang untuk menghadapi
berbagai problem kehidupan bangsa yang cukup rumit, permasalahan
demi permasalahan muncul, semua permasalahan tersebut memerlukan
penanganan dari berbagai segi, bukan hanya dari satu segi
semata, baik segi peningkatan keamanan, penegakan hukum, pengadaan
lapangan kerja, dan lain-lain. Bahkan tidak kalah pentingnya
adalah segi peneguhan etik moral spiritual bangsa ini. Oleh
karena itu semoga momentum peringatan Waisak ini dapat mendorong
peningkatan kualitas etik moral spiritual umat Buddha sekalian
agar dapat turut serta berperan dalam menyelesaikan berbagai
permasalahan bangsa.
Konferensi Agung Sangha Indonesia menyampaikan pesan Dhamma
kepada seluruh umat Buddha Indonesia agar :
- Turutlah berperan serta memilih calon Presiden dan calon
Wakil Presiden dalam Pemilu Capres-Cawapres mendatang. Karena
peran serta umat Buddha merupakan kewajiban warga bangsa
yang turut menentukan perkembangan bangsa dan negara tercinta
menuju masa depan yang lebih baik. Pemimpin bangsa pilihan
kita tentu saja diharapkan yang dapat memimpin untuk menyelesaikan
berbagai masalah bangsa yang sedang dihadapi. Sesungguhnya
bangsa kita sendiri yang dapat mengurangi ataupun mengatasi
masalah-masalah yang ada, hanya saja dibutuhkan pemimpin
yang tepat dan bijak untuk itu.
- Hindarilah segala bentuk kekerasan, karena kekerasan
akan menyingkirkan jernihnya hati nurani kemanusiaan. Kekerasan
menjadikan manusia tidak lagi menampakkan sosok makhluk
hidup yang memiliki keindahan perilaku, ucapan dan pemikiran.
Kekerasan tidak akan pernah berakhir dengan kekerasan, kekerasan
berpotensi mengundang kekerasan baru. Oleh karena itu kekerasan
hanya dapat berakhir dengan tanpa kekerasan. Sikap tanpa
kekerasan hendaknya diutamakan dalam menyelesaikan berbagai
permasalahan. Sebagian besar orang tidak mengetahui bahwa
dalam pertengkaran, mereka mengalami kehancuran, tetapi
bagi mereka yang dapat menyadari kebenaran itu, maka semua
pertengkaran akan diakhiri.
- Hormatilah perbedaan dalam hal apapun, sebab perbedaan
merupakan ciri alamiah kehidupan kita. Perbedaan suku, agama,
adat budaya hendaknya jangan dijadikan tolok ukur untuk
menilai baik dan buruknya sesuatu, sebab perbuatanlah yang
dapat dipergunakan untuk menilai sesuatu itu baik atau buruk.
Perbedaan seringkali telah terjadi sejak manusia dilahirkan,
oleh karena itu bukan karena kelahiran, seseorang dikatakan
baik atau buruk, tetapi karena perbuatan, seseorang dikatakan
baik atau buruk.
- Jagalah sikap persaudaraan sesama warga bangsa Indonesia.
Seorang pujangga Buddhis, Mpu Tantular, menyatakan Bhinneka
Tunggal Ika, meskipun kita berbeda dalam berbagai hal tetapi
kita tetap satu. Persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia
dapat dibangun dengan cara mengembangkan solidaritas bangsa
yang bertumpu pada sikap saling melindungi kehidupan, sikap
saling memberi kebutuhan, sikap saling mengindahkan kemoralan,
sikap saling memahami kebijakan.
Konferensi Agung Sangha Indonesia mengucapkan Selamat Waisak
2548/2004 kepada seluruh umat Buddha.
Umat Buddha yang baik akan tercermin dari sikapnya yang mencintai
dan juga dicintai oleh masyarakat, serta berperilaku layaknya
sahabat dalam kebersamaan hidup dengan saudara-saudari umat
Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Konghucu maupun Penghayat
Kepercayaan.
Semoga berkah Kebenaran Tuhan Yang Maha Esa, perlindungan
Tiratana dan kasih sayang para Bodhisatva senantiasa membimbing
kita. Semoga semua makhluk berbahagia.
Jakarta, Waisak 2548, 3 Juni 2004
Pimpinan Sangha-Sangha di Indonesia
SANGHA MAHAYANA INDONESIA
ttd,
Bhiksu Dharmasagaro Mahasthavira
Ketua Umum
SANGHA AGUNG INDONESIA
ttd,
Bhiksu Aryamaitri Sthavira
Wakil Ketua Umum
SANGHA THERAVADA INDONESIA
ttd,
Bhikkhu Dhammasubho Thera
Ketua Umum
Jakarta, Purnama Waisak 2548
Dikeluarkan oleh Sekretariat Jenderal
Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI)
ttd,
Bhiksu Prajnavira Mahasthavira
Sekretaris Jenderal
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
Versi untuk
dicetak (print)
|
 |