 |

Renungan Waisak 2548
PENCERAHAN AGUNG TRI SUCI WAISAK AKHIR
DARI PERSOALAN
AWAL-AWALNYA
Disadari atau tidak, hidup ini merupakan untaian soal-soal
yang hampir tidak diketahui ujung pangkalnya. Meliputi soal-soal
besar, kecil, panjang, pendek, soal baik dan menyenangkan
maupun soal buruk yang tidak menyenangkan. Tetapi yang selalu
menjadi soal baru muncul adalah reaksi pikiran ketika memikirkan
terjadinya soal-soal yang telah lewat, berhadapan dengan soal
yang sedang terjadi, atau membayangkan soal-soal yang mungkin
timbul di waktu-waktu akan datang. Oleh karena pikiran akan
berbeda reaksinya pada saat soal baik dan menyenangkan sedang
muncul, dibanding dengan apabila yang muncul soal-soal tidak
baik dan menyedihkan.
SOAL TAHUN BARU
Sudah dari zaman sangat dahulu setiap memasuki tahun baru
apa saja, apakah Tahun Baru Masehi, Tahun Baru Hijriah, Taun
Baru Imlek, Tahun Baru Saka, Tahun Baru Kemerdekaan Suatu
Bangsa, Tahun Baru Agama-agama, atau kalau secara individu,
memasuki Tahun Baru kelahiran, perkawinan, wisuda, pelantikan,
selalu diberi tanda khusus istimewa berbeda dengan hari-hari,
tanggal, tahun biasa lainnya.
Dimaksud "Tahun Baru" adalah di mana sejak hari,
tanggal, tahun tersebut merupakan tanda titik awal yang membedakan
status dan keadaan dengan sebelumnya. Misalnya, "Tahun
Baru Kemerdekaan" negara tertentu, jelas membedakan status
suatu bangsa bersangkutan yang sebelumnya berstatus sebagai
bangsa terjajah di bawah kekuasaan bangsa lain, sejak merdeka
menjadi bangsa yang mempunyai hak dan kedudukan sejajar sama
dengan bangsa-bangsa lain yang ada di dunia. Negara Republik
Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 sehingga tanggal 17
Agustus adalah "Tahun Baru" sesungguhnya bagi seluruh
bangsa Indonesia tanpa kecuali.
Adapun tahun Buddhis 2548 BE. (Buddhis Era) dengan patokan
menurut penanggalan bulan di langit yaitu Lunar System.
Sejak purnasidhi bulan Waisak 588 SM. di mana Pertapa Siddhata
mencapai Pencerahan Agung, Penerangan Sempurna di bawah pohon
Bodhi, dekat kota Bodh Gaya adalah sebagai titik awal yang
membedakan status manusia biasa sebagai Siddharta Gotama dengan
manusia luar biasa sebagai seorang Samma Sambuddha, sebagai
pendiri Agama Buddha. Jadi, bagi umat-umat penganut Agama
Buddha adalah Tri Suci Waisak "Tahun Baru" yang
sesungguhnya.
Sepanjang zaman setiap memasuki tahun baru apa saja yang
selalu menjadi pertanyaan adalah "apakah soal harus dipersoalkan."
Jawabnya Pecerahan Agung Tri Suci Waisak Akhir Dari Persoalan.
SOAL PIKIRAN
Mengenai soal pikiran ibarat sebongkah bola salju. Bola salju
semakin jauh menggelinding, semakin besar gumpalannya. Begitu
pula soal pikiran, setiap memikirkan soal, semakin menggelinding
jauh jarak yang ditempuh, semakin panjang waktu membahas,
akan semakin besar soal berkembang. Jangankan dengan hitungan
tahun, satu detik pun, entah sudah berapa banyak soal-soal
yang muncul berkembang bersama jalannya pikiran yang seoang
berproses. Pikiran hanya bisa menganalisa tidak bisa membuat
keputusan. Yang bisa memutuskan perasaan clan kesadaran, ya
atau tidak. Sehingga bagi pikiran umum, senantiasa lebih senang
mempersoalkan soal yang sesungguhnya tidak perlu dipersoalkan.
Soal-soal kecil dibesar-besarkan.
Akibatnya banyak manusia terpecah-pecah oleh soal kerukunannya.
Padahal manusia yang seharusnya bisa memecahkan soal, dengan
cara soal-soal besar dikecilkan, soal-soal kasar dihaluskan.
Setelah yang besar menjadi kecil, clan yang kasar menjadi
halus, akan dengan mudah dapat dihapuskan. Kata Buddha, "...orang
bijaksana selalu membuat soal rumit menjadi sederhana, bukan
sebaliknya soal sederhana malah dibuat menjadi rumit."
Inilah yang harus direnungkan.
SOAL HIDUP KAYA ATAU MISKIN
Dalam sejarah kemanusian, hidup kaya selalu menjadi idaman
setiap orang. Akan tetapi hidup miskin serius dianggap sebagai
ancaman. Karena kekayaan dikira mendatangkan kebahagiaan,
sedangkan kemiskinan disamakan dengan sebab utama penderitaan.
Ternyata tidak selalu, kekayaan menjadi jaminan akan kebahagiaan,
sebaliknya kemiskinan menjadi warna asli penderitaan.
Selama ini tidak pernah masing-masing, antara kaya dan miskin
diberi garis batas yang jelas, ukuran pasti seperti apa kekayaan,
kemiskinan, kebahagiaan maupun penderitaan sesungguhnya. Sehingga
banyak orang kaya tetapi tak henti hentinya mengeluh dirinya
dirudung penderitaan sampai tidak pernah bisa senyum. Namun
sebaliknya orang yang dianggap miskin, malah hidupnya lugu,
lugas, waras, bisa senyum manis setiap saat tanpa beban menggelayut
pada dirinya.
Hukum Dhamma memberi garis batas amat jelas dan pasti antara
kaya dan miskin. Sehingga dapat dengan mudah memberi ukuran
tentang jenis kekayaan sekaligus kemiskinan, yaitu; kaya atau
miskin materi, kaya atau miskin ilmu pengetahuan, atau kaya,
miskin kebajikan. Sehingga di tengah-tengah masyarakat dengan
mudah dapat dilihat kumpulan jenis orang-orang kaya tetapi
miskin, atau sebaliknya orang miskin tetapi kaya. Yang lain
benar-benar miskin, di antara yang betul-betul kaya.
Coba kita lihat, ada seseorang yang hanya kaya materi tetapi
bodoh clan miskin kebajikan - ia kikir, pelit, tidak mempunyai
jiwa kemanusiaan. Atau sebaliknya ada seseorang hanya mempunyai
kecerdasan intelek, tetapi miskin materi dan tidak mempunyai
kebajikan, maka ia menjadi sangat egois, tidak pernah puas
dengan keadaan. Selalu cemburu kepada kaum sukses, menghina
kepada yang gagal sengsara. Dan jugs, kalau seseorang hanya
terlalu baik serta kaya materi tetapi miskin kecerdasan intelek,
ia akan mudah tertipu oleh orang lain akibat kebodohannya
sendiri.
Dalam hal kaya atau miskin secara Dhamma, masing-masing pribadi
dipersilakan bebas menentukan pilihan hidupnya, ingin menjadi
orang kaya atau miskin setelah mengerti ukuran pasti. Paling
ideal menjadi orang kaya materi, kaya ilmu pengetahuan, clan
kaya kebajikan seperti Sang Buddha. Inilah yang harus direnungkan.
SOAL UKURAN
Mengenai ukuran, tentang sesuatu ada yang memakai ukuran besar
atau kecil, panjang pendek, tinggi rendah, tetapi yang lain
mengukur dengan baik, buruk, kotor atau bersih. Sehingga mencari
dan memilih sesuatu selalu lebih dulu diukur baik, bersih
atau tidak. Jangankan memilih guru, majikan, calon pasangan
suami/istri, mencari karyawan, pelayan, pembantu rumah tangga,
penjaga gudang sekalipun. Sedangkan mencari gombal, serbet
piring, lap mobil saja, mencari, memilih yang baik dan bersih.
Apa lagi memilih barang-barang berharga lainnya.
Lain lagi dengan, soal pingin menjadi pembesar Yang dimaksud
pembesar, apabila ukurannya paling besar daripada yang lain.
Karena paling besar dari yang lainnya bisa kelihatan jelas
dari semua arah "ini lebih besar daripada itu."
Pendek kata bisa menjadi besar apabila bisa berada di tengah-tengah
kaum kecil. Sang Buddha menjadi bertambah besar karena kedekatannya
dengan semua pihak dan selalu berada di tengah-tengah kaum
kecil.
Di sini yang menjadi soal serius sekarang, tentang keinginannya
menjadi pembesar. Tetapi ingin menjadi pembesar, mencari tempat
duduk atau berdiri malah jauh dengan yang kecil. Yang dipilih
selalu maunya dekat dengan yang besar-besar. Padahal apa saja
kalau besar berdampingan dengan sesama besar, bukan menjadi
paling besar, kelihatannya ini lebih besar sedikit dengan
itu, atau tampak itu kebesaran dari ini. Padahal apa saja
kalau ukuran kebesaran, pasti dipakai tidak enak. Contoh,
baju, sepatu, kopiah, kalau ukuran kebesaran mudah diduga
pasti kedodoran, dipakai tidak enak dan dilihat tidak pantas.
Akan tetapi kebanyakan orang, berbuat sesuatu hanya bertumpu
pada kepentingan besar kecil dengan dalih demi sosial, belum
sampai pada tingkat niat murni baik, bersih lahir batin demi
kemajuan spiritual. Sehingga apapun yang dilakukan hanya dihitung
atas dasar menang atau kalah, untung atau rugi, tidak sampai
dipertimbangan baik atau buruk untuk diri sendiri, orang lain
maupun lingkungan. Bahkan terkesan, tidak takut jahat asal
menang clan bisa mendapat keuntungan. Inilah yang umumnya
tidak pernah direnungkan.
SOAL MERENUNG
Purnamasidhi bulan Waisak, adalah saat-saat yang mengingatkan
kita, untuk dapat merenungkan kembali pesan-pesan Dhamma.
Bahwa kaum sekolar, orang-orang besar para pahlawan kemanusiaan
sejati pembawa misi kedamaian, selalu lebih dahulu merenung
bagaimana memperkecil persoalan yang timbul sebelum bertindak
mulai berkarya.
Buddha Gotama setelah mencapai Pencerahan Agung Penerangan
Sempurna di bawah Pohon Bodhi, menjalani puasa total, merenung
mawas diri secara utuh antologi wadag dan rohani, selama 7
minggu 49 hari. (baca Riwayat Hidup Buddha Gotama, disusun
oleh Maha Pandita S. Widyadharma Sasanacariya. Penerbit :
Citiya Vatu Daya. JI. Kartini VI no. 3. Jakarta. Cetakan ke
duabelas tahun 1999. Hal 41.)
Hasilnya mampu menyelesaikan soal tanpa menimbulkan persoalan
baru. Dengan cara lebih dahulu mencari sebab-sebab soal yang
timbul. Diketahui bawwa setiap soal timbul karena nafsu keinginan.
Dari keinginan timbulah penderitaan. Kapan soal penderitaan
berakhir, pada saat soal keinginan berhenti. Cara ampuh menghentikan
soal keinginan dan penderitaan, melalui jalan tengah. Yaitu
tidak terlalu berfoya-foya, sebaliknya tidak terlalu menyiksa
diri. Terlalu kekanan sama jelek dengan terlalu kekiri. Terlalu
jauh sama jelek dengan terlalu dekat. Terlalu kenyang sama
jelek dengan terlalu lapar. Terlalu optimis sama jelek dengan
terlalu pesimis.
Dengan segala pertimbangan baik buruk, untuk diri sendiri
orang lain maupun lingkungan secara pasti dan aman. Baru kemudian
Sang Buddha mulai mengajarkan Dhamma membawa damai ke segenap
alam semesta.
Merupakan bukti Pencerahan Agung akhir dari persoalan, Sang
Buddha Gotama membawa misi damai sukses tanpa timbul konflik
kemanusiaan. Sampai akhir hayat tidak ditangkap lawan, dibunuh
musuh, juga tidak mati hilang secara misteri. Sang Buddha
Gotama di usia tua tidak menderita akibat penyakit akut, wafat
dengan tenang di bawah pohon Sala kembar dekat kota Kusinara,
India, pada usia 80 tahun 543 SM. Tempat-tempat peninggalan
Buddha menjadi saksi sejarah hingga saat ini.
Sesuai ajakan Dhamma tepat pada detik-detik Purnamasidhi
Waisak, mari kita bersama-sama merenung secara utuh antologi
wadag clan rohani. Merenungkan kembali apa saja yang telah
atau masih akan kita lakukan menurut ajaran serta anjuran
Dhamma. Demi kedamaian pada diri kita sendiri, orang lain,
maupun lingkungan.
Akhir kata, mari kita renungkan pesan Buddha dalam Kitab
Suci Dhammapada XXV:1. "Cakkhuma samvaro sadhu, sadhu
sotena samvaro, ghanena samvaro sadhu, sadhu jivoya samvaro.--Sungguh
baik mengendalikan mata; sungguh baik mengendalikan hidung;
sungguh baik mengendalikan lidah." Agar hidup tidak terlalu
banyak menanggung timbul persoalan.
Selamat Tri Suci Waisak. Semoga semua makhluk berbahagia.
Bhikkhu S. Dhammasubho Thera
Ketua Umum
|
 |