BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 
[]

Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?

 

[]    
[]

 

Sangha Theravada Indonesia

Renungan Waisak 2548

PENCERAHAN AGUNG TRI SUCI WAISAK AKHIR DARI PERSOALAN

 

AWAL-AWALNYA
Disadari atau tidak, hidup ini merupakan untaian soal-soal yang hampir tidak diketahui ujung pangkalnya. Meliputi soal-soal besar, kecil, panjang, pendek, soal baik dan menyenangkan maupun soal buruk yang tidak menyenangkan. Tetapi yang selalu menjadi soal baru muncul adalah reaksi pikiran ketika memikirkan terjadinya soal-soal yang telah lewat, berhadapan dengan soal yang sedang terjadi, atau membayangkan soal-soal yang mungkin timbul di waktu-waktu akan datang. Oleh karena pikiran akan berbeda reaksinya pada saat soal baik dan menyenangkan sedang muncul, dibanding dengan apabila yang muncul soal-soal tidak baik dan menyedihkan.

 

SOAL TAHUN BARU
Sudah dari zaman sangat dahulu setiap memasuki tahun baru apa saja, apakah Tahun Baru Masehi, Tahun Baru Hijriah, Taun Baru Imlek, Tahun Baru Saka, Tahun Baru Kemerdekaan Suatu Bangsa, Tahun Baru Agama-agama, atau kalau secara individu, memasuki Tahun Baru kelahiran, perkawinan, wisuda, pelantikan, selalu diberi tanda khusus istimewa berbeda dengan hari-hari, tanggal, tahun biasa lainnya.

Dimaksud "Tahun Baru" adalah di mana sejak hari, tanggal, tahun tersebut merupakan tanda titik awal yang membedakan status dan keadaan dengan sebelumnya. Misalnya, "Tahun Baru Kemerdekaan" negara tertentu, jelas membedakan status suatu bangsa bersangkutan yang sebelumnya berstatus sebagai bangsa terjajah di bawah kekuasaan bangsa lain, sejak merdeka menjadi bangsa yang mempunyai hak dan kedudukan sejajar sama dengan bangsa-bangsa lain yang ada di dunia. Negara Republik Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 sehingga tanggal 17 Agustus adalah "Tahun Baru" sesungguhnya bagi seluruh bangsa Indonesia tanpa kecuali.

Adapun tahun Buddhis 2548 BE. (Buddhis Era) dengan patokan menurut penanggalan bulan di langit yaitu Lunar System. Sejak purnasidhi bulan Waisak 588 SM. di mana Pertapa Siddhata mencapai Pencerahan Agung, Penerangan Sempurna di bawah pohon Bodhi, dekat kota Bodh Gaya adalah sebagai titik awal yang membedakan status manusia biasa sebagai Siddharta Gotama dengan manusia luar biasa sebagai seorang Samma Sambuddha, sebagai pendiri Agama Buddha. Jadi, bagi umat-umat penganut Agama Buddha adalah Tri Suci Waisak "Tahun Baru" yang sesungguhnya.

Sepanjang zaman setiap memasuki tahun baru apa saja yang selalu menjadi pertanyaan adalah "apakah soal harus dipersoalkan." Jawabnya Pecerahan Agung Tri Suci Waisak Akhir Dari Persoalan.

 

SOAL PIKIRAN
Mengenai soal pikiran ibarat sebongkah bola salju. Bola salju semakin jauh menggelinding, semakin besar gumpalannya. Begitu pula soal pikiran, setiap memikirkan soal, semakin menggelinding jauh jarak yang ditempuh, semakin panjang waktu membahas, akan semakin besar soal berkembang. Jangankan dengan hitungan tahun, satu detik pun, entah sudah berapa banyak soal-soal yang muncul berkembang bersama jalannya pikiran yang seoang berproses. Pikiran hanya bisa menganalisa tidak bisa membuat keputusan. Yang bisa memutuskan perasaan clan kesadaran, ya atau tidak. Sehingga bagi pikiran umum, senantiasa lebih senang mempersoalkan soal yang sesungguhnya tidak perlu dipersoalkan. Soal-soal kecil dibesar-besarkan.

Akibatnya banyak manusia terpecah-pecah oleh soal kerukunannya. Padahal manusia yang seharusnya bisa memecahkan soal, dengan cara soal-soal besar dikecilkan, soal-soal kasar dihaluskan. Setelah yang besar menjadi kecil, clan yang kasar menjadi halus, akan dengan mudah dapat dihapuskan. Kata Buddha, "...orang bijaksana selalu membuat soal rumit menjadi sederhana, bukan sebaliknya soal sederhana malah dibuat menjadi rumit." Inilah yang harus direnungkan.

 

SOAL HIDUP KAYA ATAU MISKIN
Dalam sejarah kemanusian, hidup kaya selalu menjadi idaman setiap orang. Akan tetapi hidup miskin serius dianggap sebagai ancaman. Karena kekayaan dikira mendatangkan kebahagiaan, sedangkan kemiskinan disamakan dengan sebab utama penderitaan. Ternyata tidak selalu, kekayaan menjadi jaminan akan kebahagiaan, sebaliknya kemiskinan menjadi warna asli penderitaan.

Selama ini tidak pernah masing-masing, antara kaya dan miskin diberi garis batas yang jelas, ukuran pasti seperti apa kekayaan, kemiskinan, kebahagiaan maupun penderitaan sesungguhnya. Sehingga banyak orang kaya tetapi tak henti hentinya mengeluh dirinya dirudung penderitaan sampai tidak pernah bisa senyum. Namun sebaliknya orang yang dianggap miskin, malah hidupnya lugu, lugas, waras, bisa senyum manis setiap saat tanpa beban menggelayut pada dirinya.

Hukum Dhamma memberi garis batas amat jelas dan pasti antara kaya dan miskin. Sehingga dapat dengan mudah memberi ukuran tentang jenis kekayaan sekaligus kemiskinan, yaitu; kaya atau miskin materi, kaya atau miskin ilmu pengetahuan, atau kaya, miskin kebajikan. Sehingga di tengah-tengah masyarakat dengan mudah dapat dilihat kumpulan jenis orang-orang kaya tetapi miskin, atau sebaliknya orang miskin tetapi kaya. Yang lain benar-benar miskin, di antara yang betul-betul kaya.

Coba kita lihat, ada seseorang yang hanya kaya materi tetapi bodoh clan miskin kebajikan - ia kikir, pelit, tidak mempunyai jiwa kemanusiaan. Atau sebaliknya ada seseorang hanya mempunyai kecerdasan intelek, tetapi miskin materi dan tidak mempunyai kebajikan, maka ia menjadi sangat egois, tidak pernah puas dengan keadaan. Selalu cemburu kepada kaum sukses, menghina kepada yang gagal sengsara. Dan jugs, kalau seseorang hanya terlalu baik serta kaya materi tetapi miskin kecerdasan intelek, ia akan mudah tertipu oleh orang lain akibat kebodohannya sendiri.

Dalam hal kaya atau miskin secara Dhamma, masing-masing pribadi dipersilakan bebas menentukan pilihan hidupnya, ingin menjadi orang kaya atau miskin setelah mengerti ukuran pasti. Paling ideal menjadi orang kaya materi, kaya ilmu pengetahuan, clan kaya kebajikan seperti Sang Buddha. Inilah yang harus direnungkan.

 

SOAL UKURAN
Mengenai ukuran, tentang sesuatu ada yang memakai ukuran besar atau kecil, panjang pendek, tinggi rendah, tetapi yang lain mengukur dengan baik, buruk, kotor atau bersih. Sehingga mencari dan memilih sesuatu selalu lebih dulu diukur baik, bersih atau tidak. Jangankan memilih guru, majikan, calon pasangan suami/istri, mencari karyawan, pelayan, pembantu rumah tangga, penjaga gudang sekalipun. Sedangkan mencari gombal, serbet piring, lap mobil saja, mencari, memilih yang baik dan bersih. Apa lagi memilih barang-barang berharga lainnya.

Lain lagi dengan, soal pingin menjadi pembesar Yang dimaksud pembesar, apabila ukurannya paling besar daripada yang lain. Karena paling besar dari yang lainnya bisa kelihatan jelas dari semua arah "ini lebih besar daripada itu." Pendek kata bisa menjadi besar apabila bisa berada di tengah-tengah kaum kecil. Sang Buddha menjadi bertambah besar karena kedekatannya dengan semua pihak dan selalu berada di tengah-tengah kaum kecil.

Di sini yang menjadi soal serius sekarang, tentang keinginannya menjadi pembesar. Tetapi ingin menjadi pembesar, mencari tempat duduk atau berdiri malah jauh dengan yang kecil. Yang dipilih selalu maunya dekat dengan yang besar-besar. Padahal apa saja kalau besar berdampingan dengan sesama besar, bukan menjadi paling besar, kelihatannya ini lebih besar sedikit dengan itu, atau tampak itu kebesaran dari ini. Padahal apa saja kalau ukuran kebesaran, pasti dipakai tidak enak. Contoh, baju, sepatu, kopiah, kalau ukuran kebesaran mudah diduga pasti kedodoran, dipakai tidak enak dan dilihat tidak pantas.

Akan tetapi kebanyakan orang, berbuat sesuatu hanya bertumpu pada kepentingan besar kecil dengan dalih demi sosial, belum sampai pada tingkat niat murni baik, bersih lahir batin demi kemajuan spiritual. Sehingga apapun yang dilakukan hanya dihitung atas dasar menang atau kalah, untung atau rugi, tidak sampai dipertimbangan baik atau buruk untuk diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Bahkan terkesan, tidak takut jahat asal menang clan bisa mendapat keuntungan. Inilah yang umumnya tidak pernah direnungkan.

 

SOAL MERENUNG
Purnamasidhi bulan Waisak, adalah saat-saat yang mengingatkan kita, untuk dapat merenungkan kembali pesan-pesan Dhamma. Bahwa kaum sekolar, orang-orang besar para pahlawan kemanusiaan sejati pembawa misi kedamaian, selalu lebih dahulu merenung bagaimana memperkecil persoalan yang timbul sebelum bertindak mulai berkarya.

Buddha Gotama setelah mencapai Pencerahan Agung Penerangan Sempurna di bawah Pohon Bodhi, menjalani puasa total, merenung mawas diri secara utuh antologi wadag dan rohani, selama 7 minggu 49 hari. (baca Riwayat Hidup Buddha Gotama, disusun oleh Maha Pandita S. Widyadharma Sasanacariya. Penerbit : Citiya Vatu Daya. JI. Kartini VI no. 3. Jakarta. Cetakan ke duabelas tahun 1999. Hal 41.)

Hasilnya mampu menyelesaikan soal tanpa menimbulkan persoalan baru. Dengan cara lebih dahulu mencari sebab-sebab soal yang timbul. Diketahui bawwa setiap soal timbul karena nafsu keinginan. Dari keinginan timbulah penderitaan. Kapan soal penderitaan berakhir, pada saat soal keinginan berhenti. Cara ampuh menghentikan soal keinginan dan penderitaan, melalui jalan tengah. Yaitu tidak terlalu berfoya-foya, sebaliknya tidak terlalu menyiksa diri. Terlalu kekanan sama jelek dengan terlalu kekiri. Terlalu jauh sama jelek dengan terlalu dekat. Terlalu kenyang sama jelek dengan terlalu lapar. Terlalu optimis sama jelek dengan terlalu pesimis.

Dengan segala pertimbangan baik buruk, untuk diri sendiri orang lain maupun lingkungan secara pasti dan aman. Baru kemudian Sang Buddha mulai mengajarkan Dhamma membawa damai ke segenap alam semesta.

Merupakan bukti Pencerahan Agung akhir dari persoalan, Sang Buddha Gotama membawa misi damai sukses tanpa timbul konflik kemanusiaan. Sampai akhir hayat tidak ditangkap lawan, dibunuh musuh, juga tidak mati hilang secara misteri. Sang Buddha Gotama di usia tua tidak menderita akibat penyakit akut, wafat dengan tenang di bawah pohon Sala kembar dekat kota Kusinara, India, pada usia 80 tahun 543 SM. Tempat-tempat peninggalan Buddha menjadi saksi sejarah hingga saat ini.

Sesuai ajakan Dhamma tepat pada detik-detik Purnamasidhi Waisak, mari kita bersama-sama merenung secara utuh antologi wadag clan rohani. Merenungkan kembali apa saja yang telah atau masih akan kita lakukan menurut ajaran serta anjuran Dhamma. Demi kedamaian pada diri kita sendiri, orang lain, maupun lingkungan.

Akhir kata, mari kita renungkan pesan Buddha dalam Kitab Suci Dhammapada XXV:1. "Cakkhuma samvaro sadhu, sadhu sotena samvaro, ghanena samvaro sadhu, sadhu jivoya samvaro.--Sungguh baik mengendalikan mata; sungguh baik mengendalikan hidung; sungguh baik mengendalikan lidah." Agar hidup tidak terlalu banyak menanggung timbul persoalan.


Selamat Tri Suci Waisak. Semoga semua makhluk berbahagia.

Bhikkhu S. Dhammasubho Thera
Ketua Umum

 

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

Versi untuk dicetak (print)

 

[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]