|

Renungan Waisak 2549/2005
KELUHURAN BERKAH KESEDERHANAAN SEORANG
BUDDHA
MAKNA KESEDERHANAAN
Hanya sembilan huruf yang kalau dirangkai menjadi satu
kata pendek mudah diucapkan dan enak didengar "sederhana".
Akan tetapi satu kata pendek bila dijabarkan memiliki nilai
sangat tinggi makna sangat dalam bahkan bisa menjadi untaian
cerita sepanjang zaman. Dugaan kuat, secara umum sederhana
hanyalah sesuatu yang mengandung nilai rendah dan berharga
murah. Padahal tidak selalu yang sederhana bernilai rendah
berharga murah. Tak terbayang bila ada sesuatu yang sederhana
justru sungguh sangat luar biasa mahal harganya berikut ini:
Di muka bumi ini tempat kita lahir, tua dan mati, orang-orang
besar para nabi pendiri agama, para pahlawan kemanusiaan,
kaum spiritualis, yang mulia para suciwan. Mereka berbudi
pekerti luhur, di nilai sangat tinggi dan dihargai sangat
mahal justru dari adanya yang sederhana.
Di antara jajaran orang-orang besar sederhana tetapi bernilai
tinggi berharga mahal itu, salah satunya adalah Buddha Gotama.
Berawal pada purnamasidhi bulan Waisak 623 SM.
Siddhartha lahir di bawah teduh rindang pohon Sala Taman
Lumbini, Nepal (sekarang). Tiga puluh lima tahun
kemudian pada purnamasidhi bulan Waisak 588 SM. Petapa Siddhartha
Gotama mencapal Pencerahan Agung
Penerangan Sempurna menjadi Buddha di bawah pohon Bodhi, Bod
Gaya (sekarang).
Pada usia 80 tahun purnamasidhi bulan Waisak 543 SM. Buddha
Cotama wafat--Parinibbana di Kusinara (sekarang). Tempat-tempat
tersebut dengan kesederhanaan menjadi saksi sejarah dan dikunjungi
jutaan manusia hingga saat ini.
Buddha Gotama merupakan salah satu tokoh kemanusiaan menolak
pembunuhan, dan jelas menyatakan anti kekerasan (ahimsa),
diakui orang paling kaya di dunia sejak dua puluh enam abad
lampau, serta sebagai pendiri agama Buddha enam ratus tahun
lebih dulu dari Jesus Kristus pendiri Kristen, dan diperkirakan
seribu tahun lebih tua dan Nabi Muhammad S.A.W. pendiri Islam.
Yang membuat nama besarnya Buddha Gotama bertahan hingga saat
ini dan kesederhanaanNya; cukup dengan selembar kain kuning
untuk menutup tubuhnya, dalam waktu 24 jam hanya makan satu
kali sebelum pukul 12 siang, bertinggal di tempat yang sunyi
jauh dan kemewahan, dekat dengan alam dan menyatu dengan jiwa
"Kemanusiaan-Ku untuk Hidup-Mu"--Cinta kasih universal.
Buddha Gotama bersama Dhamma ajarannya sebagai guru spiritual
dengan kesederhanaannya itu, mengajar penuh welas asih tanpa
pilih kasih; kepada bangsawan ningrat kaum birokrat, raja,
kepala negara, yang luhur gubernur, para menteri, bupati,
sampai kalangan masyarakat--kaum kesrakat rakyat yang amat
melarat. Mereka mendapat perlakuan sama dari Sang Buddha.
Selama empat puluh lima tahun Sang Buddha mengembara ke seluruh
penjuru alam, dari alam para dewa, brahma, alam manusia, sampal
ke alam hewan, makhluk peta dan alam neraka. Sang Buddha guru
para dewa dan manusia, pembimbing semua mahkluk tiada bandingannya
(satta dewa manusanam Buddho bhagavati). Menunjukkan
kesederhanaan Sang Buddha diterima semua kalangan secara damai.
KEKUATAN
Hampir setiap pendapat setuju bahwa sederhana sama dengan
miskin. Sehingga banyak pihak terutama kaum kaya amat takut
dengan sederhana, karena takut miskin. Di sini yang kita maksud
sederhana adalah sikap mental bersahaja dan jenis perilaku
santun, berbudi pekerti luhur, tampil sesuai apa adanya, peka
dan ramah terhadap lingkungan, cepat bertindak positif pada
setiap kejadian, bukan berarti miskin. Dan sikap mental serta
jenis perilaku seperti itu tidak terbatas pada si kaya atau
si miskin.
Pengagum kemewahan dan anti kesederhanaan biasanya tidak
sadar bahwa ternyata pada titik paling akhir hidup bisa bertahan
justru oleh kesederhanaan dan ramah lingkungan. Terbukti ketika
bencana alam menimpa (Tsunami Aceh dll. misalnya) segala bentuk
kemewahan material berharga mahal lenyap. Yang masih bisa
untuk bertahan hidup satu-satunya tinggal kesederhanaan, dan
masih adanya kepedulian lingkungan yang ramah.
Menurut Sang Buddha "Hidup adalah sesuatu paling berharga
dan semua yang ada". Seseorang rela melepaskan apa saja
miliknya demi hidup. Untuk itu, kata Buddha, dalam ukuran
normal bagi yang tidak mau menghargai hidup meskipun kecil,
nilai dirinya menjadi sangat rendah di antara sesama hidup
di dunia. Jadi yang sejak awal, pertengahan hingga akhirnya,
tetap berharga mahal dan mempunyai kekuatan bertahan sepanjang
sejarah kemanusiaan adalah mereka yang mau menghargai hidup
meskipun kecil dan tidak lepas dari kesederhanaannya. Setiap
tahun makna Tri Suci Waisak kembali mengingatkan kita akan
besarnya nilai kesederhanaan yang telah dibuktikan sendiri
oleh Sang Buddha dan diajarkan pada kita.
KELEMAHAN
Kini kita sedang berada dalam keadaan dunia yang serba tidak
pasti, yang melemahkan semangat hidup. Akan tetapi Sang Buddha
mengingatkan bahwa dalnm keadaan dunia yang serba tidak pasti,
ada yang sudah pasti yaitu perubahan, dan diri sendiri yang
pasti bisa merubahnya untuk menyesuaikan dengan keadaan. Kata
Buddha pahami hukum perubahan anicca--segala yang berbentuk
dan bersyarat tidak kekal. Barang siapa mampu menyesuaikan
din dengan perubahan akan berada di dalam suasana hati yang
pasti sejuk aman dan nyaman. Sebaliknya barang siapa menentang
hukum perubahun akan menjadi korban kesombongan sendiri.
Rakyat Indonesia, umat Buddha juga, saat-saat sekarang sedang
bersama-sama mengeluh tentang karena BBM (Bahan Bakar Minyak)
naik harga. Dampaknya semua kebutuhan hidup berubah menjadi
mahal. Keluhan lain tentang berubah; yang semula sahabat menjadi
penghianat, awalnya kawan menjadi lawan, dulu pengasuh seolah-olah
menjadi musuh, dulu masyarakat berperilaku sopan sekarang
berubah menjadi arogan. Kebutuhan hidup sehari-hani yang dulu
senba murah sekarang menjadi serba mahal. Dan yang dituding
sebagai sebab soal selalu pihak lain. Mengeluh lagi dalam
hal kebersamaan dulu bisa saling tolong-menolong sekarang
menjadi saling tolong-menyolong.
Terlalu sibuk mengeluh menuduh dan menuding pihak lain sebagai
sebab semua soal bencana yang menimpa pada dirinya, sehingga
lupa bahwa dirinya pun sesungguhnya juga menjadi sebab utama
bencana buat orang lain maupun lingkungan sekitarnya. Lupa
bahwa dirinya hanya merasa bisa, tetapi tidak bisa merasa.
Dan ke-aku-an-nya juga selalu menuntut kaum lemah harus mau
mengakui kelemahannya, tetapi karena terlalu sombong lupa
akan dirinya yang sesungguhnya juga lebih tidak mau mengakui
kelemahan sendiri. Lupa kalau telah turun temurun setiap pagi
sarapan "singkong ubi" hasil tanam kebun sendiri.
Lupa sejak kapan dan siapa suruh ganti sarapan produk "Mc
Donald-roti" yang harus membeli. Lupa telah berjuta tahun
daun pisang menjadi pembungkus nasi, kenapa sekarang ganti
plastic bahan yang belum lama ada di bumi dan harus membeli.
Lupa semua tergantung diri sendiri, objek pasif, subjek yang
aktif.
KEBANGKITAN
Untuk bangkit, kembali pada diri sendiri dengan kemampuan
yang ada tinggal mau atau tidak mengubah suasana hati yang
gundah-gelisah menjadi sejuk damai. Yang semula menolak membenci
menjadi bisa menerima dan menyayangi. Untuk menyikapi keadaan
yang sedang selalu berubah cara terbaik dengan "jalan
tengah". Ingat terlalu lapar sama jelek dengan terlalu
kenyang sama-sama mematikan. Rubah cara berpikir hidup untuk
makan, menjadi makan untuk hidup.
Kata Buddha "... 0 para siswa, kalian akan mudah puas
dengan makanan, bila makan sebagai kebutuhan bukan keinginan".
Untuk itu hendaknya tidak membiarkan keinginan mengusai pikiran,
tetapi pikiran harusnya mengendalikan keinginan. Dengan demikian
hidup ini ticlak kehilangan netralitas dan akan mampu bertahan
dengan kesederhanaan.
Hilang arti sesungguhnya kesederhanaan, hati jadi bisu, telinga
tuli, otak jadi tumpul jiwa jadi kaku congkak-sornbong-egois,
ingin menang sendiri, dan menjadi pertanda dekat kehancuran,
merosotnya kemoralan, rusaknya nilai spiritual keagamaan,
jatuhnya kekuasaan.
Akhir kata pada detik-detik Purnamasidhi Waisak, secara utuh
anthology wadag dan rohani mari merenungkan kembali apa saja
yang telah atau rnasih akan kita lakukan menurut anjuran Dhamma.
Demi ketahanan mental spiritual keagamaan. Marl kita hayati
pesan Buddha dalam Kitab Suci Dhammapada XXV: 360. "Cakkhuma
samvaro sadhu/ sadhu sotena samvaro/ ghanena samvaro sadhu/
sadhu jivaya samvaro (Sungguh baik mengendalikan mata/
sungguh baik mengendalikan telinga/ sungguh baik mengendalikan
hidung/ sungguh baik mengendalikan lidah". Agar hidup
tidak terlalu banyak menanggung beban persoalan yang berakibat
penderitaan.
Selamat Tri Suci Waisak, Semoga semua makhluk berbahagia.
Bhikkhu S. Dhammasubho Thera
Ketua Umum
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|