BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 


Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?

 

   
[an error occurred while processing this directive]

 

Apakah Kamma dan Anatta Kontradiksi?

 

Pertanyaan di atas seringkali muncul pada pendatang baru yang mulai belajar Buddha Dhamma. Mereka berpikir: "Apabila tidak ada aku/diri (anatta), termasuk jasmani dan batin, bagaimana mungkin terdapat perbuatan (kamma)? Siapa yang melakukan perbuatan (kamma)? Siapa yang menerima hasil (vipaka) perbuatan? Keraguan di atas ternyata tidak hanya dijumpai saat ini tetapi juga pada jaman Sang Buddha.

Marilah kita mengamati ceritera berikut:
Misalkan para pembaca dan penulis berdiri bersama di tepi sebuah sungai, mengamati airnya yang sedang mengalir. Air mengalir pada area yang hampir datar, sehingga alirannya itu sangat lambat. Tanah pada area tersebut berwarna merah, menyebabkan air itu kemerahan. Sungai itu mengalir melalui banyak area yang populasinya padat di mana orang-orang telah lama membuang sesuatu yang tidak bermanfaat ke dalamnya, di tambah kotoran industri yang terlimpah ke dalam aliran air itu oleh sejumlah besar pabrik-pabrik yang dibangun. Oleh karena itu, air tersebut hampir tidak dihuni oleh sebagian besar binatang. Di dalamnya tidak banyak ikan, udang dan sebagainya. Dalam satu kata, air yang kita perhatikan itu kemerahan, kotor, terpolusi, jarang penghuninya. Semua ciri-ciri itu secara bersamaan merupakan ciri-ciri khusus air itu. Beberapa ciri ini mungkin mirip dengan sungai lain, namun sejumlah total ciri-ciri ini unik bagi aliran air tersebut.

Sekarang kita diinformasikan bahwa aliran air ini dinamakan sungai Ciliwung. Orang yang berbeda menggambarkannya dengan cara yang berbeda pula. Beberapa orang mengatakan bahwa sungai Ciliwung kotor dan tidak memiliki banyak ikan. Beberapa lainnya mengatakan bahwa sungai Ciliwung mengalir sangat lambat. Sedangkan yang lainnya mengatakan bahwa sungai Ciliwung berwarna kemerahan.

Berdiri di tepi sungai, tampak pada kita bahwa air yang kita amati itu sesungguhnya lengkap dengan sendirinya. Atribut-atribut bagi sungai itu, seperti berwarna kemerahan, kotor dan sebagainya, semuanya disebabkan oleh berbagai faktor yang mengkondisikan, seperti: aliran air kontak dengan tanah merah. Ditambah, air yang kita amati itu secara konstan mengalir. Air yang kita lihat pertama tidak lagi di sini, dan air yang kita amati saat ini akan berlalu dengan cepat. Demikian pula, sungai itu memiliki sifat unik (khas), yang tidak tampak berubah selama faktor-faktor yang mengkondisikannya belum tampak berubah (padahal berubah setiap saat secara kontinyu).

Namun kita diberitahukan bahwa itu adalah sungai Ciliwung, mereka mengatakan bahwa sungai Ciliwung kotor, dan sedikit ikannya. Secara sepintas, kita tidak dapat melihat "sungai Ciliwung" selain dari air yang mengalir itu. Ditambah lagi, mereka menceritakan kepada kita bahwa sungai Ciliwung memotong tanah merah yang dilaluinya, yang menyebabkan airnya berwarna merah. Hampir seolah-olah sungai Ciliwung ini melakukan sesuatu terhadap tanah merah itu, dan menyebabkan tanah merah itu "menghukum" sungai itu sehingga airnya menjadi merah.

Kita dapat dengan jelas melihat bahwa air itu merupakan subyek dari proses sebab dan akibat yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mengkondisikan; air mencebur ke tanah merah dan tanah merah itu larut ke dalam air merupakan salah satu kondisi sebab, akibatnya air itu berwarna merah. Kita tidak dapat menemukan "tubuh" yang melakukan sesuatu atau menerima akibatnya. Kita sesungguhnya tidak dapat melihat sungai Ciliwung di manapun. Air yang mengalir di depan kita segera mengalir pergi, air yang lebih dulu terlihat tidak lagi di sini. Air yang baru secara konstan segera menggantikan kedudukan air yang telah mengalir. Kita dapat mendefinisikan air itu hanya dengan menggambarkan faktor-faktor yang mengkondisikannya dan kejadian-kejadian yang muncul sebagai akibat faktor kondisi tersebut, yang menyebabkan ciri-ciri seperti yang kita amati. Apabila terdapat sungai Ciliwung yang nyata dan tidak berubah, tidaklah mungkin bagi aliran air itu untuk berjalan menurut berbagai faktor penentunya. Akhirnya kita melihat bahwa sungai Ciliwung ini berlebihan dan tak berguna. Kita dapat berbicara tentang air itu tanpa direpotkan dengan "sungai Ciliwung" ini. Dalam hakekat yang sesungguhnya tidak ada sungai Ciliwung lagi.

Seraya waktu berlalu, kita mengadakan perjalanan ke sebuah kota baru. Dengan berkehendak menceriterakan air yang kita telah lihat pada waktu yang lewat kepada orang-orang di kota ini, kita menemukan kesulitan. Kemudian kita memanggil seseorang yang menceriterakan kepada kita bahwa air itu dikenal sebagai sungai Ciliwung. Mengetahui hal ini, kita dapat menghubungkan pengalaman kita dengan lancar, dan orang-orang dapat mendengarkan dengan penuh perhatian dan ketertarikan. Kita memberitahukannya bahwa sungai Ciliwung memiliki air yang kotor, tidak banyak ikan, terpolusi dan berwarna merah.

Pada saat itu kita menyadari dengan jelas bahwa 'sungai Ciliwung' ini dan hal-hal yang terjadi yang kita gambarkan itu, hanyalah sebuah konvensi bahasa yang digunakan bagi kemudahan dalam berkomunikasi. Apakah konvensi sungai Ciliwung ada ataupun tidak, dan apakah kita menggunakannya ataupun tidak, tidaklah menentukan aktivitas aliran air itu. Aliran air itu berlangsung sebagai proses reaksi keterkaitan sebab akibat. Kita dapat membedakan dengan jelas antara konvensi dan kondisi sesungguhnya.

Sekarang kita dapat mengerti dan menggunakan konvensi pembicaraan dengan mudah. Segala sesuatu yang secara konvensi kita ketahui sebagai orang, yang kita beri nama, dan mengenai misalnya 'aku' dan 'kamu', dalam kenyataannya merupakan aliran kejadian yang kontinyu dan terkait, tersusun dari faktor-faktor penentu yang tak terhingga yang terkait, seperti sungai itu. Mereka adalah subyek kejadian yang tidak terhingga, diarahkan oleh penentu-penentu yang berhubungan, baik dari aliran kejadian di dalam maupun di luar. Ketika suatu rekasi tertentu terjadi dalam suatu sebab, maka akibat dari reaksi itu muncul, menyebabkan perubahan-perubahan dari aliran kejadian-kejadian. Kondisi-kondisi yang kita hubungkan itu adalah kamma (perbuatan) dan vipaka (hasil), hanya merupakan permainan sebab akibat di dalam suatu aliran kejadian tertentu. Mereka secara sempurna dapat berfungsi di dalam aliran itu tanpa perlu nama atau konvensi, atau kata 'aku' dan 'kamu', apakah sebagai pemilik atau pelaku dari perbuatan, ataukah sebagai penerima hasil perbuatan itu. Namun untuk kemudahan berkomunikasi di dalam dunia sosial, kita menggunakan konvensi nama bagi aliran kejadian tertentu, seperti Tuan Amin dan sebagainya. Setelah menerima konvensi itu, kita juga menerima tanggung jawab bagi aliran kejadian, menjadi pemilik, pelaku aktif dan pasif dan menerima hasil atau akibatnya. Akan tetapi apakah kita menggunakan konvensi atau tidak, apakah kita menerima label atau tidak, aliran kejadian itu sendiri tetap berfungsi, dikendalikan oleh sebab dan akibat. Oleh karena itu, hal yang penting, kita harus mengerti perbedaan antara konvensi dan kondisi yang sesungguhnya, di mana keduanya harus dipergunakan secara terpisah sesuai konteks pembicaraannya sehingga kita tidak dibingungkan oleh kedua hal itu.

Konvensi merupakan penemuan manusia yang berguna dan praktikal. Problema akan muncul ketika manusia bingung akan konvensi dan hakekat sesungguhnya. Hakekat sesungguhnya tidak membingungkan, karena berfungsi terpisah dari keinginan manusia; jadi segala problema sepenuhnya merupakan kesalahan manusia.

Kalau seseorang bertanya: "Apabila 'bukan aku' yang melakukan kamma, maka 'aku' yang mana (siapa) yang menerima hasil kamma?" Bagian pertama dari kalimat di atas dibicarakan menurut pengetahuan akan kenyataan, tetapi bagian kedua dari kalimat di atas dibicarakan menurut persepsi kebiasaan orang itu (konvensi). Secara alamiah keduanya tidak akan cocok.

Dengan demikian jelas bagi kita, dalam hakekat yang sesungguhnya, kamma dan Anatta tidak kontradiksi dan tak dapat dipisahkan. Kamma berproses karena tidak ada Atta (aku/diri).

Disusun oleh: Dhamma Study Group Bogor

 

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]