|
Problema Istilah Baik
dan Buruk / Tidak Baik
(Renungan tentang kusala dan akusala)
PENDAHULUAN
Kata 'baik' dan 'buruk' di dalam bahasa Indonesia memiliki
arti yang luas. Seorang yang bermoral dikatakan baik,
makanan enak disebut makanan yang 'baik'; sebatang kayu
yang berguna dan kuat dikatakan kayu yang baik. Sesuatu
yang baik bagi seseorang mungkin buruk bagi orang lainnya.
Ketika seorang anak mendengarkan nasehat orang tuanya,
dikatakan anak tersebut sangat baik. Namun, ketika anak
tersebut tidak mau memberikan 'contekan' jawaban ujian
kepada temannya, maka temannya yang diberi 'contekan'
menyebutnya sebagai anak yang baik, sementara gurunya
berkata bahwa ia anak yang buruk/tidak baik.
Dalam sebuah jamuan makan para eksekutif, tindakan
yang baik bagi Amir adalah tidak meminum minuman keras,
namun Merry menyebutnya sebagai 'performance
yang buruk' bila tidak ikut serta. Ketika seorang perempuan
hampir hanyut terbawa arus air, seorang Bhikkhu mengambil
keputusan yang menurutnya baik, yaitu menolong wanita
tersebut; di pihak lain, Bhikkhu lain temannya mengatakan
bahwa ia bertindak buruk karena melanggar 'vinaya' (tata
tertib) tentang persentuhan dengan jasmani seorang wanita.
Bila ingin hidup di dunia ini, tindakan baik bagi seseorang
adalah harus terjun di dalam korupsi dan kolusi, namun
itu buruk/tidak baik bagi perkembangan mental bangsa.
Membuat orang yang sedang sekarat menjadi meninggal
adalah tindakan yang baik, agar dia tidak menderita
lebih jauh. Buah pisang yang kehitaman disebut buruk
karena tidak menarik.
Terlalu baik adalah hal yang buruk, menurut sebagian
orang. Beberapa tahun lalu, bahkan ada sekelompok orang
pernah menyatakan bahwa berdana kepada sekelompok bhikkhu
Theravada adalah hal yang buruk / tidak baik, buktinya
terjadi kecelakaan di Ancol, sehingga menyebabkan kematian
beberapa bhikkhu dan umat yang berdana tersebut. "Betapa
membingungkannya dunia ini," kata seorang anak kecil
yang lugu (lucu dan dungu), ketika merenungkan hal itu.
Demikianlah beberapa contoh tentang baik dan buruk /
tidak baik menurut konsep yang umum kita dengar dan
bicarakan. Apakah benar sesuatu yang baik di atas benar-benar
baik dalam artian kusala ? Apakah baik yang kita selalu
sebutkan selalu sama dengan kusala ? Apakah benar sesuatu
yang disebut tidak baik/buruk di atas sebagai akusala?
Apakah tidak baik/buruk selalu sama dengan Akusala ?
Baik yang mana yang disebut kusala dan tidak baik/buruk
yang mana yang disebut akusala? Yang manakah yang seyogyanya
kita kembangkan di dalam pikiran, ucapan dan tindakan
jasmani kita di dalam kehidupan sehari-hari?
Nampaknya perlu satu standar untuk membakukan pengertian
kusala dan akusala guna membedakan dengan baik dan buruk.
Apakah 'baik' itu dan mengapa demikian? Apakah yang
kita sebut 'buruk/tidak baik' itu dan mengapa demikian?
Tanpa mengerti dengan jelas perbedaannya, maka kita
akan terombang-ambing di dalam keraguan skeptis (vicikiccha)
terhadap proses sebab-akibat moral perbuatan (kamma).
Dari contoh di atas, istilah baik dan buruk / tidak
baik, memiliki arti yang banyak sebarannya, tergantung
dari sudut pandangnya, apakah dari sudut pandang arti
ekonomi, arti hedonistik, arti artistik dan sebagainya.
Di dalam sistem bahasa Indonesia, kata-kata baik dan
buruk/tidak baik memiliki arti yang luas dan tidak jelas.
Di dalam renungan 'baik' dan 'buruk/tidak baik' ini,
beberapa hal yang harus diperhatikan di dalam batin,
sebagai berikut:
- Penyelidikan tentang baik dan buruk/tidak baik
di sini ditinjau dari perspektif keselarasan Kamma,
dengan demikian kita menggunakan istilah khusus 'kusala'
dan 'akusala'. Dua kata ini memiliki arti yang unik.
- Kusala dan akusala, di dalam istilah etika Buddha
Dhamma, adalah aspek keselarasan Kamma, dengan demikian
perenungan kita akan kusala dan akusala ini harus
berdasarkan konteks ini, tidak berdasarkan sekumpulan
nilai sosial seperti yang termaktub di dalam istilah
kata 'baik' dan 'buruk/tidak baik.'
- Operasi keselarasan Kamma berkaitan erat dengan
kaidah keselarasan lainnya. Khususnya, dalam hubungan
kehidupan internal seseorang, kammaniyama berinteraksi
dengan cittaniyama (keselarasan pikiran), sementara
secara eksternal berkaitan erat dengan konvensi sosial.
PENGERTIAN KUSALA DAN AKUSALA
Walaupun Kusala dan Akusala kadang-kadang diterjemahkan
sebagai "baik" dan "buruk/tidak baik", namun hal ini
mungkin menyesatkan. Sesuatu yang disebut Kusala tidaklah
selalu dianggap baik, sementara itu beberapa yang mungkin
akusala juga belum secara umum dianggap buruk / tidak
baik. Depresi, melankoli, lamban dan gelisah, misalnya,
walaupun akusala, tidaklah biasa dianggap 'buruk/tidak
baik' seperti yang kita ketahui di dalam istilah Bahasa
Indonesia. Dengan cara yang sama, beberapa tipe kusala,
seperti ketenangan pikiran dan bentuk-bentuk pikiran,
mungkin tidaklah siap diterima di dalam pengertian kata
'baik' di dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kusala
dan akusala dan 'baik' dan 'buruk/tidak baik' tidaklah
harus hal yang sama/identik.
Kusala dan akusala adalah kondisi yang muncul di dalam
batin, menghasilkan sesuatu yang berawal di dalam batin,
dan dari sini mengarah ke aksi luar dan penampilan fisik
/ jasmani. Makna kusala dan akusala, oleh karena itu,
menekankan keadaan, isi dan kejadian batin sebagai dasarnya.
Kusala dapat dikatakan secara harfiah sebagai 'mahir',
'cekatan', 'puas hati', 'bermanfaat',' baik', atau 'kondisi
yang menggeser/terbebas dari penderitaan /kesusahan/kemalangan'.
Akusala didefinisikan di dalam cara yang berlawanan,
sebagai 'tidak mahir', 'tidak cekatan' dan seterusnya.
Berikut ini adalah empat konotasi kusala yang didasarkan
atas buku komentar Buddha Dhamma:
- AROGYA: bebas dari kesakitan; yaitu, batin
bebas dari kesakitan, kebanyakan, secara umum dikenal
sebagai "batin yang sehat", sebagai kondisi atau faktor-faktor
yang mendukung kesehatan mental, menghasilkan batin
yang sehat, tidak bermasalah dan stabil.
- ANAVAJJA: tidak bernoda; batin yang tidak
bernoda atau suram, tetapi bersih, cerah dan terang.
- KOSALASAMBHUTA: berdasarkan kebijaksanaan
atau kemahiran; kualitas batin yang mengandung kebijaksanaan,
atau berbagai kualitas yang muncul dari pengetahuan
dan pengertian akan kebenaran sejati. Hal ini sesuai
dengan ajaran yang menekankan bahwa kondisi kusala
memiliki yoniso-manasikara, pengamatan mendalam dan
jelas, sebagai pendahulunya.
- SUKHAVIPAKA: diliputi kesejahteraan. Kusala
adalah sebuah kondisi yang memproduksi ketenangan.
Ketika kondisi kusala muncul di dalam batin, maka
terdapatlah kesejahteraan alamiah, tanpa perlu lagi
pengaruh luar.
Seperti ketika seseorang yang sangat kuat dan sehat
(aroga), telah mandi dengan segar (anavajja),
dan di sebuah tempat yang aman dan menyenangkan (kosalasambhuta),
kesejahteraan mengikutinya secara alamiah.
Arti dari akusala seyogyanya dimengerti dalam cara
yang berlawanan dengan di atas, yaitu sebagai kondisi
batin yang tidak sehat, berbahaya, didasari kebodohan
batin, dan menghasilkan penderitaan. Hal ini dapat didefinisikan
secara singkat sebagai 'kondisi-kondisi yang menyebabkan
batin merosot baik dalam kualitas maupun efisiensi,
tidak seperti kusala, yang meningkatkan kualitas dan
efisiensi batin.
Untuk kemudahan referensi, kita dapat meringkaskan
berbagai sifat ke dalam kelompok, seperti:
- Stabil (samahita): stabil, konsisten, tidak
berubah, tidak bergoyang.
- Murni (parisuddha) dan bersih (pariyodata):
tidak bernoda, tidak kotor, terang, bercahaya.
- Jelas (pabhassara) dan bebas (seri):
tidak berhambatan, bebas, tidak terikat, luhur.
- Siap bekerja (kammaniya): lentur, ramah,
ringan, jujur, sabar, tidak bias.
- Tenang (santa) dan gembira (sukha):
rileks, tenang, tidak bermasalah, tidak banyak keinginan,
puas hati.
Setelah melihat kualitas batin yang sehat, kita sekarang
dapat memahami kualitas yang diketahui sebagai kusala
dan akusala, apakah mereka secara nyata berpengaruh
terhadap kualitas batin dan bagaimana mereka berpengaruh.
Beberapa contoh kusala, adalah: sati, perhatian
murni, kemampuan memelihara perhatian terhadap objek
apapun atau tugas pikiran yang diemban; metta, cinta
kasih universal; alobha, tidak serakah, tidak
hadirnya kemelekatan (termasuk kemelekatan terhadap
pandangan); panna, pengertian jelas terhadap
hakekat sesungguhnya segala sesuatu; passaddhi,
ketenangan, kedamaian batin; kusalachanda, puas
terhadap kebaikan, keinginan untuk mengetahui dan bertindak
sesuai kebenaran; mudita, simpati terhadap kebahagiaan
pihak lain.
Beberapa contoh akusala, adalah: kamachanda,
keinginan untuk memuaskan nafsu; byapada, keinginan
buruk; thina middha, malas dan lamban batin;
uddhaccakukkucca, gelisah dan khawatir; vicikiccha,
keraguan skeptis; kodha, kemarahan; issa,
cemburu / iri hati; macchariya, kikir.
Ketika terdapat cinta kasih universal (metta),
batin secara alami gembira, senang dan terang. Ini adalah
kondisi yang bermanfaat bagi batin, mendukung kualitas
dan efisiensi pikiran. Oleh karena itu, metta
adalah kusala. Sati, kemampuan batin memperhatikan
segala sesuatu, terhadap tindakan yang tepat, membantu
mencegah munculnya kondisi akusala dan membuat pikiran
bekerja lebih efektif. Oleh karena itu sati adalah
kusala.
KUSALA DAN AKUSALA SEBAGAI KATALIS SATU SAMA LAIN
Satu tindakan keyakinan atau murah hati, kemurnian moral,
atau bahkan pengalaman kebijaksanaan selama meditasi,
yang semuanya merupakan kondisi kusala, dapat menyebabkan
munculnya kesombongan, kebanggaan dan keangkuhan. Kesombongan
dan kebanggaan adalah kondisi akusala. Situasi ini dikenal
sebagai "kusala sebagai perantara bagi akusala." Meditasi,
yang dikembangkan hingga tingkat Jhana (kusala), dapat
membawa ke kemelekatan (akusala). Latihan pengembangan
cinta kasih / metta, pikiran yang berkeinginan baik
dan ramah kepada orang lain, dengan adanya objek yang
diharapkan, dapat menyebabkan munculnya nafsu (akusala).
Hal-hal ini merupakan contoh bagaimana kusala menjadi
perantara bagi akusala.
Kadang-kadang mempraktikkan latihan Dhamma (kusala)
dapat didasari oleh satu hasrat untuk tumimbal lahir
di surga (raga, akusala). Satu tingkah laku baik dan
disiplin dari seorang anak (kusala) dapat didasari oleh
sebuah keinginan untuk memamerkan sesuatu kepada orang
tuanya (akusala); seorang pelajar rajin dalam belajar
(kusala) mungkin berakar dari ambisi (akusala); kemarahan
(akusala), bila dilihat dalam cahaya efeknya yang berbahaya,
dapat membawa ke perenungan bijaksana dan memaafkan
(kusala); takut akan kematian (akusala) dapat mendorong
perenungan diri (kusala). Hal-hal ini merupakan contoh
bagaimana akusala menjadi perantara bagi kusala.
Seorang pemuda, diperingati oleh orang tuanya untuk
tidak bergaul tanpa pandang bulu dengan orang lain,
tidak memperhatikannya dan terjerat ke dalam perbuatan
meminum minuman yang melemahkan kewaspadaan (minuman
keras) oleh teman-temannya. Dalam menyadari situasi
ini, ia menjadi marah dan depresi. Mengingat peringatan
orang tuanya, ia tergerak akan kebaikan hati kedua orang
tuanya (akusala sebagai perantara bagi kusala), namun
sebaliknya hal ini mungkin saja menimbulkan kejengkelan
sehingga membenci kepribadiannya.
PERUBAHAN DARI KUSALA KE AKUSALA, ATAU AKUSALA KE KUSALA,
MUNCUL DEMIKIAN CEPAT SEHINGGA BATIN YANG TIDAK TERLATIH
BIASANYA TIDAK MAMPU MELIHAT PERUBAHAN TERSEBUT.
MENGATASI KEBINGUNGAN AKAN KAMMA DAN KESEPAKATAN
SOSIAL
(Dua hal terpisah, tapi kadang sangat erat kaitannya)
Isu yang menimbulkan kebingungan adalah hubungan antara
kamma dengan konvensi sosial. Dualisme muncul dalam
memandang sifat alamiah "baik" dan "buruk", menimbulkan
pertanyaan seperti, "Apakah baik itu?", "Apakah tidak
baik / buruk itu?" Apakah standar untuk memutuskan antara
baik dan buruk?
Kita sering mendengar orang-orang mengatakan bahwa
baik dan buruk adalah konvensi sosial atau manusia.
Seseorang bertindak di dalam satu kelompok sosial, waktu
atau tempat, mungkin dikatakan baik. Suatu jenis aktivitas
mungkin diterima oleh sekelompok masyarakat tertentu,
namun tidak diterima di masyarakat lainnya. Beberapa
paham mengajarkan bahwa membunuh binatang untuk makanan
tidaklah buruk, namun paham lainnya mengajarkan bahwa
menyakiti mahluk jenis apapun bukan hal yang baik. Beberapa
masyarakat berpegangan bahwa seorang anak seharusnya
memperlihatkan sikap hormat terhadap para orang tua
dan berargumentasi dengan mereka merupakan sikap yang
buruk, namun kelompok masyarakat lain beranggapan bahwa
menghormati seseorang jangan tergantung pada umurnya,
dan bahwa orang-orang seyogyanya menghormati opini /
pandangan orang lainnya.
Untuk mengatakan bahwa baik dan buruk merupakan masalah
preferensi / kesukaan manusia atau kesepakatan sosial
adalah benar hanya untuk konteks tertentu. Baik dan
buruk dari konvensi sosial tidak mempengaruhi atau membosankan
pekerjaan keselarasan kamma, dan tidak seharusnya dikacaukan
dengan bekerjanya kamma. "Baik" dan "buruk / tidak baik"
menurut konvensi sosial harus dimengerti sebagai
konvensi sosial. Sedangkan "baik" dan buruk / tidak
baik", yang diistilahkan dalam naskah Pali sebagai "kusala"
dan "akusala", sangat berkaitan erat dengan kualitas
keselarasan kamma, hal ini harus dimengerti dan diterima
sebagai atribut dari keselarasan kamma. Walaupun
keduanya (konvensi dan kamma) kadang-kadang langsung
berhubungan, namun mereka di dalam kenyataannya merupakan
hal yang terpisah, dan memiliki perbedaan yang jelas.
Sekarang, tibalah saatnya kita siap untuk meringkaskan
standar kita akan baik dan buruk, atau kamma baik dan
kamma buruk, keduanya secara nyata sesuai dengan keselarasan
kamma dan juga dalam hubungannya dengan konvensi sosial,
keduanya secara intrinsik di tingkat kemoralan dan pada
sesuatu yang disebutkan secara sosial:
- Di dalam konteks manfaat langsung atau bahanya,
dengan menanyakan: apakah perbuatan ini bermanfaat
bagi kehidupan dan batin? Apakah mereka mewarnai kualitas
kehidupan apakah mereka menyebabkan kondisi kusala
atau akusala yang meningkat atau makin pudar?
- Di dalam konteks akibat yang bermanfaat atau membahayakan:
Apakah mereka berbahaya atau mendukung manfaat bagi
seseorang?
- Di dalam konteks manfaat atau bahaya bagi kehidupan
sosial: Apakah mereka membahayakan yang lain atau
bermanfaat bagi yang lain?
- Di dalam konteks kehati-hatian, kapasitas perenungan
manusia alamiah: Akankah kamma itu membuka kecaman
terhadap diri sendiri ataukah tidak?
- Di dalam konteks standar sosial: Apakah posisi
aktivitas dalam kaitannya kepada konvensi religius,
tradisi dan adat, termasuk institusi sosial sebagai
hukum dan seterusnya, yang didasarkan perenungan bijaksana
(seperti siasumsikan bagi mereka yang semata-mata
penyembah berhala atau berpandangan salah)?
Dari uraian di atas, para pembaca akan cukup memperoleh
gambaran dan inspirasi untuk perenungan kusala dan akusala
yang sering dikacaukan dengan istilah 'baik' dan 'buruk'
buatan manusia (kesepakatan sosial), sehingga diharapkan
dapat lebih menempatkan proporsi penggunaan istilah
itu secara tepat. Di dalam kesempatan lain, bila kondisi
kita sesuai, uraian yang lebih rinci akan kita renungkan
bersama. Semoga berbahagia !!!
Disusun oleh: Dhamma Study Group Bogor
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|