BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 


Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?

 

   
[an error occurred while processing this directive]

C i t t a
(Kesadaran / pikiran)

 

Fokus utama analisa kenyataan Buddha Dhamma adalah pengalaman; dan kesadaran / pikiran merupakan unsur pokok di dalam pengalaman, yang mencakup "mengetahui" atau "menyadari" satu objek (arammana).

Sebuah kesadaran / pikiran secara dasariah merupakan sebuah aktivitas atau proses mengetahui atau menyadari satu objek. Jadi, kesadaran / pikiran bukanlah satu agen atau alat yang dimiliki oleh mahluk itu sendiri, namun kesadaran / pikiran lebih merupakan satu aktivitas mengetahui / menyadari satu objek.

Kesadaran yang melihat (kesadaran melihat) memiliki sesuatu yang dapat dilihat sebagai objeknya (objek penglihatan). Kesadaran yang mendengar (kesadaran mendengar) memiliki suara sebagai objeknya (objek pendengaran). Tidak ada satu pun kesadaran / pikiran yang tanpa objek. Bahkan ketika kita sedang tertidur lelap, kesadaran / pikiran mengalami satu objek.

Terdapat berbagai cara mengelompokkan kesadaran / pikiran, salah satu pengelompokan adalah sebagai berikut:

  • Beberapa kesadaran / pikiran adalah kusala citta,
  • Beberapa akusala citta. Kusala citta dan akusala citta merupakan sebab. Mereka dapat memotivasi kusala atau akusala kamma melalui tindak-tanduk jasmani, ucapan maupun pikiran.
  • Beberapa kesadaran merupakan vipaka citta, yaitu kesadaran yang merupakan hasil dari kusala citta atau akusala citta.
  • Beberapa kesadaran / pikiran adalah kiriya citta, bukan kusala citta, bukan akusala citta dan juga bukan vipaka citta, tetapi semata-mata merupakan kesadaran fungsional, kesadaran / pikiran yang berproses semata-mata karena fungsi.

Mengelompokkan kesadaran / pikiran seperti di atas sangat bermanfaat, karena kita tidak dapat mengembangkan kusala di dalam kehidupan kita sehari-hari jika seandainya kita menganggap akusala sebagai kusala atau jika kita menganggap akusala bagi vipaka. Misalnya, ketika kita mengalami mendengar suara (ada aktivitas kesadaran mendengar) kata-kata yang tidak menyenangkan, itu merupakan akusala vipaka, hasil dari akusala kamma yang telah dilakukan. Namun kebencian yang mungkin muncul segera setelah kesadaran mendengar itu bukanlah vipaka citta / pikiran hasil, akan tetapi itu merupakan kemunculan aktivitas akusala citta / pikiran akusala.

Ringkasan
Kesadaran dikelompokan menjadi:

  1. Kesadaran kusala (kusala citta)
  2. Kesadaran akusala (akusala citta)
  3. Kesadaran hasil dari kusala atau akusala (vipaka citta)
  4. Kesadaran fungsional yang bukan kusala, bukan akusala, dan bukan vipaka (kiriya citta)

Ada cara pengelompokan lain, yaitu pengelompokan berdasarkan alam batiniah yang mengalaminya:

  1. Kesadaran yang muncul / ada / berproses pada mahluk yang saat itu rintangan batinnya belum mengendap dan masih dicengkeram oleh nafsu indera (kamavacara citta),
  2. Kesadaran yang muncul / ada / berproses pada mahluk yang pada saat itu rintangan batinnya telah mengendap dengan objek merupakan unsur bermateri (rupavacara citta),
  3. Kesadaran yang muncul / ada / berproses pada mahluk yang pada saat itu rintangan batinnya telah mengendap dengan objek bukan merupakan materi tetapi konsep batiniah (arupavacara citta),
  4. Kesadaran yang muncul / ada / berproses pada mahluk yang batinnya telah mengatasi keduniaan / kesorgaan walaupun hidupnya di dunia / di sorga (lokuttara citta); minimal kesadaran ini tidak lagi mengandung tiga faktor batin yang merupakan belenggu batin.

Pengetahuan akan pengelompokan kesadaran jenis ini dapat membantu membuat seseorang memahami masa depan tumimbal lahir mahluk-mahluk, sehingga ia dapat mengembangkan batinnya sesuai tujuan masa depannya dengan tepat.

Disusun oleh: Dhamma Study Group Bogor

 

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]