[an error occurred while processing this directive] [an error occurred while processing this directive]

[an error occurred while processing this directive]
Update Terakhir:
[an error occurred while processing this directive]

 

   
[an error occurred while processing this directive]

Kusala Citta

 

Kusala citta adalah kesadaran / pikiran yang bersekutu dengan faktor-faktor akar kusala.

Akar-akar akusala ada 3 jenis, yaitu:

  1. Alobha = faktor batin tidak serakah / tidak melekat terhadap objek
  2. Adosa = faktor batin tidak membenci / tidak menolak objek
  3. Amoha = faktor batin bijaksana

 

KUSALA CITTA YANG MUNCUL PADA MAHLUK YANG MUNGKIN DICENGKERAM OLEH NAFSU (KAMAVACARA KUSALA CITTA)

Beberapa faktor utama yang membedakan kamavacara kusala citta, adalah:

  1. Faktor batin perasaan (vedana)
  2. Faktor batin kebijaksanaan (nana)
  3. Faktor spontanitas upaya (sankhara)

Perasaan terdapat 3 jenis, yaitu:

  1. Perasaan menyenangkan (somanassa vedana)
  2. Perasaan tidak menyenangkan (domanassa vedana)
  3. Perasaan netral / bukan menyenangkan juga bukan tidak menyenangkan

Faktor kebijaksanaan (nana) yang dimaksudkan di atas adalah kebijaksanaan / pengetahuan akan sebab akibat, proses alamiah yang terjadi.

Faktor upaya, dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

  1. Spontan / tanpa upaya (a-sankharika)
  2. Tidak spontan / dengan upaya tertentu (sa-sankharika)

Dengan kombinasi tiga faktor utama pembeda kamavacara kusala citta, maka kemungkinan citta / kesadaran kamavacara kusala yang muncul ada delapan (8) jenis, yaitu:

No. Disertai perasaan Kebijaksanaan Spontanitas upaya
1. Menyenangkan Dengan kebijaksanaan Spontan
2. Menyenangkan Dengan kebijaksanaan Tidak Spontan
3. Menyenangkan Tanpa kebijaksanaan Spontan
4. Menyenangkan Tanpa kebijaksanaan Tidak Spontan
5. Netral Dengan kebijaksanaan Spontan
6. Netral Dengan kebijaksanaan Tidak Spontan
7. Netral Tanpa kebijaksanaan Spontan
8. Netral Tanpa kebijaksanaan Tidak Spontan

 

Contoh:

  • Melihat anaknya terancam bahaya, seorang ibu segera menolongnya dengan gembira. Saat itu ia menyadari bahwa itu merupakan kondisi untuk melakukan kusala.
  • Melihat anaknya terancam bahaya dan seorang ibu, karena didorong oleh nasehat temannya sehingga ia menyadari bahwa kusala itu memang seyogyanya dikembangkan, maka akhirnya ibu menolong anak tersebut dengan gembira.
  • Melihat seorang nenek ingin menyeberang, seorang anak segera membimbing nenek itu menyeberang dengan penuh kegembiraan dan anggapan bahwa hal itu memang semata-mata kewajibannya.

 

Disusun oleh: Dhamma Study Group Bogor

 

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

[an error occurred while processing this directive]