|
Kusala Citta
Kusala citta adalah kesadaran / pikiran yang bersekutu
dengan faktor-faktor akar kusala.
Akar-akar akusala ada 3 jenis, yaitu:
- Alobha = faktor batin tidak serakah / tidak melekat
terhadap objek
- Adosa = faktor batin tidak membenci / tidak menolak
objek
- Amoha = faktor batin bijaksana
KUSALA CITTA YANG MUNCUL PADA MAHLUK YANG MUNGKIN
DICENGKERAM OLEH NAFSU (KAMAVACARA KUSALA CITTA)
Beberapa faktor utama yang membedakan kamavacara
kusala citta, adalah:
- Faktor batin perasaan (vedana)
- Faktor batin kebijaksanaan (nana)
- Faktor spontanitas upaya (sankhara)
Perasaan terdapat 3 jenis, yaitu:
- Perasaan menyenangkan (somanassa vedana)
- Perasaan tidak menyenangkan (domanassa vedana)
- Perasaan netral / bukan menyenangkan juga bukan
tidak menyenangkan
Faktor kebijaksanaan (nana) yang dimaksudkan
di atas adalah kebijaksanaan / pengetahuan akan sebab
akibat, proses alamiah yang terjadi.
Faktor upaya, dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
- Spontan / tanpa upaya (a-sankharika)
- Tidak spontan / dengan upaya tertentu (sa-sankharika)
Dengan kombinasi tiga faktor utama pembeda kamavacara
kusala citta, maka kemungkinan citta / kesadaran
kamavacara kusala yang muncul ada delapan (8)
jenis, yaitu:
| No. |
Disertai perasaan |
Kebijaksanaan |
Spontanitas upaya |
| 1. |
Menyenangkan |
Dengan kebijaksanaan |
Spontan |
| 2. |
Menyenangkan |
Dengan kebijaksanaan |
Tidak Spontan |
| 3. |
Menyenangkan |
Tanpa kebijaksanaan |
Spontan |
| 4. |
Menyenangkan |
Tanpa kebijaksanaan |
Tidak Spontan |
| 5. |
Netral |
Dengan kebijaksanaan |
Spontan |
| 6. |
Netral |
Dengan kebijaksanaan |
Tidak Spontan |
| 7. |
Netral |
Tanpa kebijaksanaan |
Spontan |
| 8. |
Netral |
Tanpa kebijaksanaan |
Tidak Spontan |
Contoh:
- Melihat anaknya terancam bahaya, seorang ibu segera
menolongnya dengan gembira. Saat itu ia menyadari
bahwa itu merupakan kondisi untuk melakukan kusala.
- Melihat anaknya terancam bahaya dan seorang ibu,
karena didorong oleh nasehat temannya sehingga ia
menyadari bahwa kusala itu memang seyogyanya dikembangkan,
maka akhirnya ibu menolong anak tersebut dengan gembira.
- Melihat seorang nenek ingin menyeberang, seorang
anak segera membimbing nenek itu menyeberang dengan
penuh kegembiraan dan anggapan bahwa hal itu memang
semata-mata kewajibannya.
Disusun oleh: Dhamma
Study Group Bogor
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|