|
Akusala Citta
Akusala citta adalah kesadaran / pikiran yang mengandung
akusala hetu.
Di dalam Buddha Dhamma dikenal ada 6 hetu (akar),
yaitu:
- Kusala hetu 3: Alobha, Adosa, dan Amoha.
- Akusala hetu 3: Lobha, Dosa, dan Moha.
Pengertian masing-masing hetu di dalam Paramattha
Dhamma:
- Alobha adalah sikap batin yang tidak melekat terhadap
objek.
Catatan: sikap batin tidak melekat terhadap objek
bukan berarti menolak objek.
- Adosa adalah sikap batin yang tidak menolak terhadap
objek.
Catatan: sikap batin tidak menolak terhadap objek
bukan berarti melekat terhadap objek.
- Amoha adalah sikap batin bijaksana / panna.
- Lobha adalah sikap batin yang melekat terhadap
objek.
- Dosa adalah sikap batin yang menolak terhadap objek.
- Moha adalah sikap batin yang tidak bijaksana, tak
dapat membedakan kusala dan akusala, tak dapat berpegang
teguh pada objek serta tak dapat menetapkan hati atas
kebenaran.
Di dalam maha kusala citta, maha vipaka citta,
dan maha kiriya citta, telah dibahas mengenai
peran kusala hetu, yaitu alobha, adosa, dan amoha;
dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:
- Pada saat alobha muncul, pasti adosa juga
muncul bersama (kedua sikap batin ini muncul selalu
muncul bersama di dalam citta yang sama). Sebagai
contoh: pada saat seorang sedang memaafkan (adosa)
pasti saat itu ia tidak melekat (alobha).
- Pada saat alobha dan adosa muncul, belum tentu
disertai Amoha. Sebagai contoh: pada saat seorang
sedang memaafkan (adosa) dan tidak melekat (alobha)
belum tentu berhubungan dengan pengetahuan benar (belum
tentu orang itu mengerti hakekat perbuatannya itu).
- Pada saat pikiran / kesadaran tidak berhubungan
dengan pengetahuan benar, tidaklah berarti
pikiran / kesadaran itu memiliki pandangan keliru.
Di dalam akusala citta, maka hetu yang terlibat
(akusala hetu) berperan dengan prinsip-prinsip,
sebagai berikut:
- Pada saat lobha muncul, pasti adosa tidak muncul
bersama.
- Pada saat lobha muncul, pasti moha muncul bersama.
- Pada saat dosa muncul, pasti moha muncul bersama
Jenis Akusala citta:
- Lobha-mula-citta, yaitu kesadaran / pikiran akusala
yang dipimpin oleh lobha
- Dosa-mula-citta, yaitu kesadaran / pikiran akusala
yang dipimpin oleh dosa
- Moha-mula-citta, yaitu kesadaran / pikiran akusala
yang dipimpin oleh moha
Terdapat delapan jenis lobha-mula-citta , yaitu:
| No. |
Disertai
perasaan
(vedana) |
Persekutuan dengan
Pandangan keliru |
Spontan / Dgn. ajakan |
| 1. |
Senang |
Dengan pandangan keliru |
Spontan |
| 2. |
Senang |
Dengan pandangan keliru |
Dengan ajakan |
| 3. |
Senang |
Tanpa pandangan keliru |
Spontan |
| 4. |
Senang |
Tanpa pandangan keliru |
Dengan ajakan |
| 5. |
Netral |
Dengan pandangan keliru |
Spontan |
| 6. |
Netral |
Dengan pandangan keliru |
Dengan ajakan |
| 7. |
Netral |
Tanpa pandangan keliru |
Spontan |
| 8. |
Netral |
Tanpa pandangan keliru |
Dengan ajakan |
Contoh nomor 1: Dengan perasaan senang dan spontan,
pikiran seorang anak menyebabkan memakan bakso dengan
lahap, dengan pandangan bahwa perbuatannya ini bukan
kamma buruk.
Contoh nomor 3: Dengan perasaan senang dan spontan,
pikiran seorang anak menyebabkan memakan bakso dengan
lahap.
Perhatikan:
- Satu pikiran / kesadaran lobha yang disertai perasaan
senang akan memberikan efek / akibat lebih berat dibandingkan
dengan yang disertai perasaan netral
- Satu pikiran / kesadaran lobha yang bersekutu dengan
pandangan keliru akan memberikan efek / akibat lebih
berat dibandingkan dengan tidak bersekutu dengan pandangan
keliru
- Satu pikiran / kesadaran lobha yang muncul spontan
akan memberikan efek / akibat lebih berat dibandingkan
dengan yang muncul dengan ajakan.
Setelah kita membahas mengenai pikiran / kesadaran
lobha dan jika diperbandingkan dengan pikiran maha
kusala / maha vipaka dan maha kiriya,
maka perlu kita perhatikan beberapa hal sebagai berikut:
- Perasaan senang dapat muncul baik di dalam kusala
citta maupun di dalam akusala citta. Jadi perasaan
senang tidak selalu bersifat kusala.
- Perasaan senang patut dikembangkan apabila menyertai
pikiran / kesadaran kusala, sedangkan perasaan senang
tidak patut dikembangkan apabila menyertai pikiran
/ kesadaran akusala.
- Apabila terpaksa berpikiran lobha, maka harus berupaya
agar kecenderungan pikiran lobha tersebut hanya disertai
perasaan netral, jadi tidak bergembira di dalam berpikiran
lobha.
Contoh kasus: Ketika bangun pagi, terdengar
suara burung bersiul. Amir (bukan nama sebenarnya) tersenyum
mendengar suara burung bersiul tersebut dengan pandangan
bahwa kamma burung tersebut telah menyebabkan burung
tersebut gembira. Namun, Amat (juga bukan nama sebenarnya)
tersenyum mendengar suara burung bersiul tersebut dengan
pandangan betapa senangnya menikmati pagi hari yang
indah ceria itu. Kedua orang itu memiliki pikiran yang
disertai perasaan senang, namun kualitas pikiran / kesadarannya
tersebut berbeda. Amir berpikiran kusala dan
disertai dengan pandangan benar, sedangkan Amat berpikiran
akusala.
Jenis-jenis senyum dan tertawa
Dari perasaan senang, maka mengkondisikan senyuman atau
tertawa. Senyuman atau tertawa dapat dikategorikan ke
dalam beberapa kelompok sesuai dengan tingkatan batin
seseorang, yaitu:
- Sita = senyuman tidak terlihat gigi dari seorang
Buddha
- Hasita = senyuman terlihat gigi, yang mungkin dialami
oleh Arahat, Anagami, Sakadagami, Sotapana dan mahluk
awam
- Vihasita = tertawa dengan suara perlahan dari Anagami,
Sakadagami, Sotapana dan mahluk awam.
- Atihasita = tertawa dengan suara besar dari Sakadagami,
Sotapana dan mahluk awam.
- Apahasita = tertawa sampai badan berguncang dari
mahluk awam.
- Upahasita = tertawa sampai mengeluarkan air mata
dari mahluk awam.
Penyebab yang mengkondisikan lobha-mula-citta:
- Tumimbal lahir dengan kekuatan kamma yang memiliki
lobha sebagai pengiring.
- Meninggal dari alam yang dominan diliputi lobha.
- Selalu dapat mencerap objek yang baik.
- Dapat mengalami objek yang menjadi kesenangannya.
Penyebab yang mengkondisikan pandangan keliru:
- Mempunyai kebiasaan berpandangan keliru
- Suka bergaul dengan mahluk / orang yang selalu
berpandangan keliru.
- Tidak suka belajar Dhamma.
- Suka berpikir pada hal yang keliru.
- Tidak mempertimbangkan objek secara seksama dan
sesuai keadaan yang sesungguhnya.
Disusun oleh: Dhamma
Study Group Bogor
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|