[an error occurred while processing this directive] [an error occurred while processing this directive]

[an error occurred while processing this directive]
Update Terakhir:
[an error occurred while processing this directive]

 

   
[an error occurred while processing this directive]

Akusala Citta

 

Akusala citta adalah kesadaran / pikiran yang mengandung akusala hetu.

Di dalam Buddha Dhamma dikenal ada 6 hetu (akar), yaitu:

  1. Kusala hetu 3: Alobha, Adosa, dan Amoha.
  2. Akusala hetu 3: Lobha, Dosa, dan Moha.

 

Pengertian masing-masing hetu di dalam Paramattha Dhamma:

  1. Alobha adalah sikap batin yang tidak melekat terhadap objek.
    Catatan: sikap batin tidak melekat terhadap objek bukan berarti menolak objek.
  2. Adosa adalah sikap batin yang tidak menolak terhadap objek.
    Catatan: sikap batin tidak menolak terhadap objek bukan berarti melekat terhadap objek.
  3. Amoha adalah sikap batin bijaksana / panna.
  4. Lobha adalah sikap batin yang melekat terhadap objek.
  5. Dosa adalah sikap batin yang menolak terhadap objek.
  6. Moha adalah sikap batin yang tidak bijaksana, tak dapat membedakan kusala dan akusala, tak dapat berpegang teguh pada objek serta tak dapat menetapkan hati atas kebenaran.

 

Di dalam maha kusala citta, maha vipaka citta, dan maha kiriya citta, telah dibahas mengenai peran kusala hetu, yaitu alobha, adosa, dan amoha; dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Pada saat alobha muncul, pasti adosa juga muncul bersama (kedua sikap batin ini muncul selalu muncul bersama di dalam citta yang sama). Sebagai contoh: pada saat seorang sedang memaafkan (adosa) pasti saat itu ia tidak melekat (alobha).
  2. Pada saat alobha dan adosa muncul, belum tentu disertai Amoha. Sebagai contoh: pada saat seorang sedang memaafkan (adosa) dan tidak melekat (alobha) belum tentu berhubungan dengan pengetahuan benar (belum tentu orang itu mengerti hakekat perbuatannya itu).
  3. Pada saat pikiran / kesadaran tidak berhubungan dengan pengetahuan benar, tidaklah berarti pikiran / kesadaran itu memiliki pandangan keliru.

 

Di dalam akusala citta, maka hetu yang terlibat (akusala hetu) berperan dengan prinsip-prinsip, sebagai berikut:

  1. Pada saat lobha muncul, pasti adosa tidak muncul bersama.
  2. Pada saat lobha muncul, pasti moha muncul bersama.
  3. Pada saat dosa muncul, pasti moha muncul bersama

 

Jenis Akusala citta:

  1. Lobha-mula-citta, yaitu kesadaran / pikiran akusala yang dipimpin oleh lobha
  2. Dosa-mula-citta, yaitu kesadaran / pikiran akusala yang dipimpin oleh dosa
  3. Moha-mula-citta, yaitu kesadaran / pikiran akusala yang dipimpin oleh moha

 

Terdapat delapan jenis lobha-mula-citta , yaitu:

No. Disertai perasaan
(vedana)
Persekutuan dengan Pandangan keliru Spontan / Dgn. ajakan
1. Senang Dengan pandangan keliru Spontan
2. Senang Dengan pandangan keliru Dengan ajakan
3. Senang Tanpa pandangan keliru Spontan
4. Senang Tanpa pandangan keliru Dengan ajakan
5. Netral Dengan pandangan keliru Spontan
6. Netral Dengan pandangan keliru Dengan ajakan
7. Netral Tanpa pandangan keliru Spontan
8. Netral Tanpa pandangan keliru Dengan ajakan

Contoh nomor 1: Dengan perasaan senang dan spontan, pikiran seorang anak menyebabkan memakan bakso dengan lahap, dengan pandangan bahwa perbuatannya ini bukan kamma buruk.

Contoh nomor 3: Dengan perasaan senang dan spontan, pikiran seorang anak menyebabkan memakan bakso dengan lahap.

Perhatikan:

  1. Satu pikiran / kesadaran lobha yang disertai perasaan senang akan memberikan efek / akibat lebih berat dibandingkan dengan yang disertai perasaan netral
  2. Satu pikiran / kesadaran lobha yang bersekutu dengan pandangan keliru akan memberikan efek / akibat lebih berat dibandingkan dengan tidak bersekutu dengan pandangan keliru
  3. Satu pikiran / kesadaran lobha yang muncul spontan akan memberikan efek / akibat lebih berat dibandingkan dengan yang muncul dengan ajakan.

 

Setelah kita membahas mengenai pikiran / kesadaran lobha dan jika diperbandingkan dengan pikiran maha kusala / maha vipaka dan maha kiriya, maka perlu kita perhatikan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Perasaan senang dapat muncul baik di dalam kusala citta maupun di dalam akusala citta. Jadi perasaan senang tidak selalu bersifat kusala.
  2. Perasaan senang patut dikembangkan apabila menyertai pikiran / kesadaran kusala, sedangkan perasaan senang tidak patut dikembangkan apabila menyertai pikiran / kesadaran akusala.
  3. Apabila terpaksa berpikiran lobha, maka harus berupaya agar kecenderungan pikiran lobha tersebut hanya disertai perasaan netral, jadi tidak bergembira di dalam berpikiran lobha.

Contoh kasus: Ketika bangun pagi, terdengar suara burung bersiul. Amir (bukan nama sebenarnya) tersenyum mendengar suara burung bersiul tersebut dengan pandangan bahwa kamma burung tersebut telah menyebabkan burung tersebut gembira. Namun, Amat (juga bukan nama sebenarnya) tersenyum mendengar suara burung bersiul tersebut dengan pandangan betapa senangnya menikmati pagi hari yang indah ceria itu. Kedua orang itu memiliki pikiran yang disertai perasaan senang, namun kualitas pikiran / kesadarannya tersebut berbeda. Amir berpikiran kusala dan disertai dengan pandangan benar, sedangkan Amat berpikiran akusala.

 

Jenis-jenis senyum dan tertawa
Dari perasaan senang, maka mengkondisikan senyuman atau tertawa. Senyuman atau tertawa dapat dikategorikan ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan tingkatan batin seseorang, yaitu:

  1. Sita = senyuman tidak terlihat gigi dari seorang Buddha
  2. Hasita = senyuman terlihat gigi, yang mungkin dialami oleh Arahat, Anagami, Sakadagami, Sotapana dan mahluk awam
  3. Vihasita = tertawa dengan suara perlahan dari Anagami, Sakadagami, Sotapana dan mahluk awam.
  4. Atihasita = tertawa dengan suara besar dari Sakadagami, Sotapana dan mahluk awam.
  5. Apahasita = tertawa sampai badan berguncang dari mahluk awam.
  6. Upahasita = tertawa sampai mengeluarkan air mata dari mahluk awam.

 

Penyebab yang mengkondisikan lobha-mula-citta:

  1. Tumimbal lahir dengan kekuatan kamma yang memiliki lobha sebagai pengiring.
  2. Meninggal dari alam yang dominan diliputi lobha.
  3. Selalu dapat mencerap objek yang baik.
  4. Dapat mengalami objek yang menjadi kesenangannya.

 

Penyebab yang mengkondisikan pandangan keliru:

  1. Mempunyai kebiasaan berpandangan keliru
  2. Suka bergaul dengan mahluk / orang yang selalu berpandangan keliru.
  3. Tidak suka belajar Dhamma.
  4. Suka berpikir pada hal yang keliru.
  5. Tidak mempertimbangkan objek secara seksama dan sesuai keadaan yang sesungguhnya.

 

Disusun oleh: Dhamma Study Group Bogor

 

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

>
[an error occurred while processing this directive]