|
Mahaggata Citta
I
Bhavana di dalam Buddha Dhamma
Bhavana di dalam Buddha Dhamma mengandung pengertian
pengembangan batin ke arah yang lebih luhur, lebih murni,
lebih bersih, lebih tinggi kualitasnya dengan tujuan
akhir adalah merealisasi Nibbãna, terbebas dari
dukkha secara total.
Di dalam perbendaharaan Buddha Dhamma, dikenal dua
istilah yaitu Samatha Bhavana dan Vipassana
Bhavana.
Samatha bhavana adalah pengembangan batin sehingga
dicapai ketenangan batin karena mengendapnya rintangan
batin.
Vipassana bhavana adalah pengembangan batin
sehingga dicapai kebijaksanaan karena terkikisnya kekotoran
batin.
Seringkali di dalam pengembangan batin dipersoalkan
mana yang terlebih dulu harus dikembangkan, apakah samatha
bhavana ataukah vipassana bhavana. Ada sementara
orang mengharuskan Samatha Bhavana terlebih dulu,
di pihak lain dapat langsung melalui Vipassana Bhavana.
Di dalam Tipitaka, banyak sekali tersebar peranan kedua
hal di atas, namun yang banyak ditemukan adalah apabila
Buddha menganjurkan untuk "pergi bermeditasi"
tidak pernah disebutkan "pergi ber-Vipassana"
namun selalu menggunakan "pergi melakukan Jhana".
Dan tidak pernah disamakan antara istilah Vipassana
dengan teknik-teknik pengembangan perhatian murni.
Vipassana bukanlah teknik meditasi, namun kualitas
batin, 'kemampuan melihat fenomena secara jelas pada
saat ini.' Sedangkan Samatha adalah 'kemampuan
untuk menetapkan batin menjadi tenang pada saat ini.'
Di dalam merealisasi tujuan, merealisasi Nibbãna,
Samatha, dan Vipassana, keduanya harus
dikembangkan, karena keduanya merupakan bagian dari
Jalan, dan keduanya membutuhkan support / dukungan
dari kualitas batin lainnya, membutuhkan teknik latihan.
Oleh karena itu tidaklah perlu mempersoalkan mana yang
lebih dulu, Samatha ataukah Vipassana.
Pengelompokan kekotoran batin
Kekotoran batin (kilesa) dapat dikelompokkan
menjadi 3 (tiga), yaitu:
- Kekotoran batin yang kasar (vittikama kilesa),
yang terekspresi di dalam tindak tanduk jasmani dan
ucapan.
- Kekotoran batin yang sedang (pariyutthana kilesa),
yang terekspresi secara mudah ketika indera terangsang
oleh objek namun tidak muncul di dalam tindak tanduk
jasmani dan ucapan. Kekotoran batin ini muncul di
dalam gejolak batin yang cukup nyata dan dapat diketahui
oleh yang mengalaminya.
- Kekotoran batin yang halus (Anusaya kilesa),
yang hanya dapat diketahui apabila seseorang telah
cukup masak di dalam latihan di dalam Jalan, dan hanya
Arahat yang tidak memilikinya lagi.
Sarana untuk mengendalikan kekotoran batin
- Vittikama kilesa dikendalikan dengan melaksanakan
latihan kemoralan (sila sikkha).
- Pariyutthana kilesa dikendalikan dengan
melaksanakan samatha bhavana hingga mencapai Jhana
(samadhi).
- Anusaya kilesa dikendalikan / dihancurkan
oleh kebijaksanaan (panna).
Cara penekanan / pengendalian / penanganan kekotoran
batin
- Pengendalian vittikama kilesa dengan menggunakan
sila sikkha disebut tadanga pahana,
mengendalikan dengan menghindari melakukan kejahatan
melalui tindak tanduk jasmani dan ucapan.
- Penekanan pariyutthana kilesa dengan menggunakan
jhana disebut vikkhambhana pahana, yaitu mengendalikan
dengan mengendapkan / me-non-aktifkan rintangan batin.
- Penghancuran anusaya kilesa dengan menggunakan
kebijaksanaan (panna) disebut samuccheda
pahana, mengendalikan dengan menghancurkan secara
total.
Tahap-tahap perkembangan konsentrasi dan objeknya
Tahap perkembangan konsentrasi dapat dikategorikan menjadi
3 (tiga) tahap, yaitu:
- Tahap permulaan (khanika samadhi) dengan
objek permulaan (parikamma nimitta). Pada tahap
ini konsentrasi masih sangat mudah buyar, konsentrasi
sesaat, pikiran tidak cukup kuat untuk membayangkan
objek pengamatan dengan baik. Ciri-ciri batin pada
tahap ini adalah belum mengendapnya nivarana
/ rintangan batin.
- Tahap konsentrasi mendekati (upacara samadhi)
dengan objek yang tergambar di dalam batin dengan
cukup jelas (uggaha nimitta) atau objek yang
tergambar di dalam batin sangat jelas dan lebih luhur
kualitasnya (patibhaga nimitta). Ciri-ciri
batin pada tahap ini adalah mengendapnya nivarana
/ rintangan batin.
- Tahap konsentrasi mencerap (appana samadhi)
dengan objek patibhaga nimitta yang seolah telah tercerap
penuh ke dalam batin. Ciri-ciri batin pada tahap ini
adalah mengendapnya nivarana / rintangan batin
dengan mendominasinya faktor-faktor penguat (jhananga)
secara menonjol dan intensif. Pada tahap ini tidak
satupun objek lain yang dapat menginterupsi batin.
Lima rintangan batin (nivarana) dan faktor
penguat (jhananga)
Terdapat lima rintangan batin yang mengganggu tenangnya
batin, dan di dalam latihan dapat dikendalikan dengan
faktor-faktor penguat sehingga dapat menyebabkan batin
menjadi tenang, sebagai berikut:
| Rintangan Batin (nivarana) |
Dikendalikan oleh faktor penguat (jhananga) |
| Kamachanda (kepuasan dalam nafsu indera) |
Ekaggata (faktor pengkonsentrasi batin) |
| Byapada (niat jahat) |
Piti (faktor batin penimbul kegiuran akan
objek) |
| Thina (kemalasan batin) - middha
(kelambanan batin) |
Vitakka (faktor batin pengarah ke objek) |
| Uddhacca (kegelisahan) - kukkucca
(kekhawatiran) |
Sukha (faktor batin penimbul kegembiraan
dalam objek) |
| Vicikiccha (keraguan spektis) |
Vicara (faktor batin penopang memegang
objek) |
| |
|
Ketika mengengalikan rintangan batin, kelima faktor
penguat tersebut tidak bekerja satu demi satu berurutan,
tetapi mereka bekerja bersama sesuai fungsinya di dalam
mengendalikan rintangan batin, sampai rintangan batin
tersebut non aktif.
(bersambung)
Disusun oleh: Dhamma
Study Group Bogor
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|