|
Manusia Klonal
oleh: Selamat Rodjali
PENDAHULUAN
Pada kesempatan ini, penulis bermaksud mengajak para
pembaca untuk merenungkan satu aspek bioteknologi jika
ditinjau dari segi Buddha Dhamma. Memang dalam menelaah
aspek tersebut banyak sekali istilah Dhamma maupun ilmu
pengetahuan yang akan dijumpai oleh pembaca, namun penulis
berusaha inenggunakannya sesederhana mungkin, sehingga
mudah-mudahan enak 'dicerna.'
Derap perkembangan dan keragaman teknologi (aplikasi
ilmu pengetahuan) dirasakan sangat pesat dan makin canggih.
Manusia telah bertahun-tahun digodog oleh keadaan internal
maupun eksternal. Buah dan motifnya secara estafet diteruskan
dan dikembangkan oleh generasi selanjutnya.
Produk bioteknologi kini sudah mendekati pasar, sementara
komputer sudah memperlihatkan pengaruhnya di berbagai
sektor. Menurut para ekonom dan ilmuwan, dalam dua dasa
warsa mendatang, kedua teknologi di atas, biotek dan
komputer, akan mengubah aktivitas dunia seperti halnya
mekanisasi dan kimia terapan mengubahnya pada awal abad
ini.
Beberapa bioteknologi yang mungkin akan berperan adalah
rekayasa (perakitan) genetik, aplikasi biologi molekuler,
dan perkembangbiakan. Molecular Genetics Inc. di Amerika,
pada tahun 1984 mulai memasarkan antibodi monoclonal
yang bisa mencegah diare tertentu yang membunuh sejuta
sapi Amerika dalam setahun (Kompas, Desember 1986).
Teknologi perkembangbiakan telah diteliti dan dikembangkan
dengan seksama.
Untuk kesempatan ini, penulis hanya sesbatasi satu
aspek biotek yang sedang 'in', terutama di kalangan
pertanian, yiitu teknologi perkembangbiakan (perbanyakan).
TEKNOLOGI KULTUR JARINGAN
Mungkin sebelum memasuki topik utama yang akan dibahas
secara Buddha Dhamma, untuk beberapa saat pembaca diaiak
untuk menelusuri beberapa pandangan yang menyebabkan
pesatnya bidang bioteknologi di -atas mendapat perhatian
para ilmuwan maupun usahawan.
Perbanyakan tanaman dengan setek, okulasi, pemisahan
rumpun, tunas, biji, umbi dan teknik tradisional lain
telah banyak dikenal. Namun, jika secuil jaringan tumbuh
menjadi pohon lengkap dalam jumlah banyak, tentu bukan
hal biasa. Pembudidayaan individu dari sel, jaringan
(kumpulan sel) atau organ (kumpulan jaringan dengan
fungsi tertentu) secara terkendali (bebas hama, cendawan,
virus, bakteri atau mikroba lain) dengan lingkungan
terkendali pula sehingga tumbuh menjadi individu sempurna,
dikenal sebagai teknologi kultur jaringan.
Teknologi kultur jaringan bertolak dari teori sel yang
dikemukakan oleh Matthias Schleiden dan Theodor Schwann
dan sifat totipotensi sel. Sel merupakan penyusun individu
(teori sel) dan sel nampu tumbuh serta berkembang meniadi
individu sempurna dengan organ-organ dan jaringanjaringannya
(totipotensi sel).
Beberapa keuntungan teknologi ini bukanlah sekadar
fotokopi ' individu 'mirip aslinya' dan bebas penyakit,
tetapi juga dapat menghasilkan individu dalam jumlah
besar dengan waktu relatif singkat dan mengatasi masalah
mandul. Selain itu, teknologi ini juga dipakai untuk
seleksi individu unggul, memperoleh senyawa obat-obatan
atau untuk industri atau koleksi dan pelestarian individu
dengan sifat tertentu.
IDE KANUSIA KLONAL DAN KETAKUTAN KAUM "AGAMIS'
(BERAGAMA)
Teknologi kultur jaringan dapat dimanfaatkan untuk
perbanyakan klonal, yaitu perbanyakan (perkembangbiakan)
aseksual yang berasal dari satu individu tertentu untuk
memperoleh keseragaman genetik.
Sampai seiauh ini, teknologi perbanyakan klonal telah
diterapkan pada tanaman secara in vitro (di luar
tubuh tanaman, misal di dalam tabung atau botol gelas).
Keberhasilannya ditentukan oleh kemampuan regenerasi
dari sel meniadi jaringan, jaringan menjadi organ, dan
manipulasi lingkungan tumbuh.
Beberapa ahli yang telah berkecimpung dengan teknologi
ini pernah mempertanyakan, apakah mungkin teknologi
ini diaplikasikan (diterapkan) pada sel, jaringan atau
organ mahluk seperti binatang atau manusia? Mungkin,
setelah munculnya pertanyaan di atas, secara diam-diam
beberapa ilmuwan melakukan eksperimen (percobaan). Namun,
para ilmuwan religius dan para pemuka agama yang juga
mengetahui perkembangan teknologi ini menjadi bimbang
dan dihantui ketakutan yang hebat. Mereka takut, jangan-jangan
satu saat nanti manusia klonal benar-benar ada. Mereka
takut, jangan-jangan manusia klonal ini terjatuh ke
tangan orang tak bermoral. Secuil jaringan, andaikata
dapat tumbuh menadi tangan sempurna atau organ seepurna,
dapat dijadikan 'onderdil' (spare parts) untuk
menggantikan tangan atau organ aseli yang telah rapuh.
Ketakutan ini lebih mencekas mereka yang mempercayai
adanya 'mahluk super power' yang menciptakan dirinya.
Mereka takut kalau penciptanya 'tersaingi' dan -pandangan
yang selama ini dipertahankannya menjadi hancur total,
karena manusia klonal diciptakan oleh manusia dan manusia
klonal-merupakan produk yang mutunya 'bersaing'.
Tentu, sangat menarik andaikata ada satu forum ilmiah
yang dihadiri oleh para pakar berbagai sektor dan para
'pentolan' berbagai agama membabas dan memberikan keterangan
men-genai kemungkinan manusia klonal ini sesuai dengan
prinsip-prinsip yang dianutnya secara terbuka dengan
kebesaran hati.
Ulasan berikutnya, merupakan bagian tulisan yang berlandaskan
Buddha Dhamma di dalam menelaah dan menelusuri pembentukan
materi benda mati (termasuk tanaman) dan benda hidup
termasuk manusia), proses perkembangannya dan faktor-faktor
yang mempengaruhinya di dalam perkembangbiakan. Lalu,
pada akhirnya, dengan mengikuti alur pembahasan tersebut,
para pembaca, khususnya umat Buddha, dapat menjawab
sendiri apakah mungkin manusia klonal itu terjadi!
KEKUATAN PENYEBAB MUNCUL DAN BERKEMBANGNYA MATERI
Buddha Dhamma tidak bermaksud menjawab sebab pertama
munculnya materi (Rupa). Namun, Buddha Dhamma
mengakui bahwa materi itu memang ada dan berkembang
melalui empat cara sesuai dengan kekuatan yang mempengaruhinya.
Menurut kekuatannya, muncul dan berkembangnya materi
dikelompokkan ke dalam empat golongan besar, yaitu :
- Materi yang muncul dan berkembang karena
kekuatan kondisi temperatur (Utujarupa). Materi
tersebut termasuk panas dan dingin, serta semua materi
yang dihasilkan karena kondisi iklim atau musim.
- Materi yang muncul dan berkembang karena kekuatan
nutrisi (Aharaiarupa).
- Materi yang muncul dan berkembang karena kekuatan
pikiran (Cittaiarupa).
- Materi yang muncul dan berkembang karena kekuatan
perbuatan (Kammajarupa).
Mahluk hidup (termasuk manusia) dan benda mati (termasuk
tanaman) memiliki jenis materi yang berbeda walaupun
terdapat beberapa materi dasar yang sama. Kekuatan yang
menyebabkan ouncul dan berkembangnya materi dalam jasmani
makhluk hidup mencakup keempat kekuatan di atas, yaitu
kekuatan kamma, citta, ahara, dan utu
dengan kamma sebagai pendahulu. Sementara itu, materi
benda mati (termasuk tanaman) hanya muncul dan berkembang
akibat kekuatan ahara dan utu.
PERKEMBANGAN MATERI BENDA MATI (TANAMAN) DALAM TEKNIK
KULTUR JARINGAN
Melalui teknik kultur jaringan, sel atau jaringan atau
organ tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan memanipulasi
nutrisi (ahara) dan lingkungan klimat (utu).
Komposisi atau perpaduan dua kekuatan tersebut secara
'seimbang' dapat mengarahkan perkembangan sehingga sel,
atau jaringan atau organ tersebut menjadi individu tanaman
yang sempurna dalam jumlah satu, sedikit atau banyak.
Ahara hasil manipulasi akan berdifusi ke dalam
sel atau jaringan atau organ bereiksi dengan ahara dalam
dan berkombinasi dengan utu membentuk materi-materi
baru dan dengan kekuatan bija niyama (hukum fisik organik),
sel atau jaringan atau organ yang berbanyak diri dan
berkembang tidak akan menyimpang meniadi individu jenis
lain. Jadi, sel-sel atau jaringan atau organ kentang
akan tumbuh dan berkembang dengan sifat-sifat kentang,
dan tidak akan menjadi rambutan atau padi.
CARA MANUSIA LAHIR DAN PERKEMBANGAN JASMANINYA
Beberapa golongan yang menganut pandangan umum yang
berlaku sementara di dunia ini mungkin merasa aneh membaca
uraian cara terlahirnya manusia ditinjau dari pandangan
Buddha Dhamma. Namun, pandangan unik mengenai cara kelahiran
ini, paling sedikit menambah wawasan bagi umat Buddha
yang berhasrat untuk lebih bersifat kritis dan analitis.
Cara kelahiran manusia menurut Buddha Dhamma ada 4
macam :
- Melalui kandungan (Jalabuja)
- Melalui telur (Andaij)
- Melalui kelembaban (Sansedaja)
- Spontan (Opapatika).
Selain mahluk manusia, yang dapat terlahir melalui
keempat cara sesuai itu adalah mahluk binatang, dewa
Catummaharajika, Asurakaya dan mahluk setan (tidak termasuk
setan jenis Nijjhamatanhika).
Nah, sekarang bagaimanakah materi (jasmani) manusia
muncul pada masing-masing jenis kelahiran tersebut dan
materi apa saia yang muncul?
Untuk kelahiran dengan cara Gabbhaseyyaka (melalui
kandungan atau melalui telur), materi yang muncul pada
manusia sewaktu tumimbal lahir (patisandhi kala)
adalah kammajarupa yang terdiri atas tiga kelompok,
yaitu :
- kayadasakakalapa (kelompok jasmani dengan
indera sensitif sentuhan jasmani / kaya pasada
rupa sebagai pemimpin)
- hadayadasakakalapa (kelompok jasmani de-ngan unsur
hati sanubari tempat munculnya 75 jenis kesadaran/hadayardpa
sebagai pemimpin)
- bhavadasakakalapa (kelompok jasmani dengan unsur
kelamin / bhavarupa sebagai pemimpin).
Ketiga kelompok jasmani di atas masing-masing memiliki
7 (sembilan) unsur lain yang mutlak ada, dan 3 unsur
lain sebagai konsekuensi logis :
- jivitardpa 1 (unsur kehidupan)
- avinibbhogarupa 8 (unsur padatan, unsur fluida/kohesi,
unsur panas/temperatur, unsur gerak, unsur obiek penglihatan,
unsur objek bau, unsur obiek rasa dan unsur nutrisi)
- unsur ruangan (paricchedardpa 1)
- unsur material produktivitas (upacayar0pa 1)
- unsur kontinuitas material (santatirapa 1)
Jadi jumlah semua menjadi 15 jenis materi. Bagaimana
dengan dua jenis kelahiran lain?
Untuk manusia yang terlahir dengan melalui kelembaban
atau spontan, materi yang muncul ditambah empat lagi,
yaitu: indera sensitif penglihatan (cakkhupasada
rupa), indera sensitif pendengaran (sotapasada
rupa), indera sensitif penciuman bau (ghanapasada
rupa) dan indera sensitif pengecap rasa (jivhapasada
rupa).
Satu hal yang patut dicatat, bahwa kelompok jasmani
yang muncul saat patisandhi kala merupakan produksi
kamma dan bukan produksi dari citta atau vinnana.
Kadang-kadang materi yang terbentuk sewaktu tumimbal
lahir (patisandhi kala) tidak lengkap seperti
di atas. Unsur kelamin mungkin saia tidak muncul pada
mahluk yang lahir melalui kandungan. Unsur indera sensitif
penglihatan, pendengaran, penciuman, dan unsur kelamin
juga tidak muncul pada yang terlahir melalui kelembaban
atau spontan. Hal ini dapat dipahami mengapa defisiensi
kelompok materi manusia dapat teriadi sewaktu patisandhi
kala, dan dikondisikan oleh kamma. Selama masa kehidupan
(pavatti kala) kelompok indera dan jasmani; lain
dapat berkembang.
Selanjutnya, marilah kita mulai menelusuri perkembangan
materi atau jasmani manusia sejak lahir (patisandhi
kala) dan selanjutnya selama masa hidup (pavatti
kala).
Seperti telah dibahas secara sepintas di muka, materi
atau jasmani manusia niuncul dan berkembang atas interaksi
empat kekuatan yaitu kamma, citta, ahara dan
utu.
Sewaktu tumimbal lahir (patisandhi kala), seperti
telah disebutkan di atas, tiga kelampok besar materi
muncul, salah satunya adalah hadayarapa (unsur
hati sanubari tempat munculnya kesadaran 75). Bersamaan
dengan itu pula dari hadaya rupa ini muncul patisandhi
vinnana (kesadaran tumimbal lahir). Kammajarapa
dan patisandhi vinnana yang muncul ketika patisandhi
kala ini akibat kekuatan 2 paccaya (sebab
kondisi), yaitu kamma paccaya (kondisi perbuatan)
dan upanissaya paccaya (kondisi pendorong yang
kuat). Setelah patisandhi vinnana padam, langsung
disusul dengan munculnya bhavanga citta (kesadaran keberlangsungan
hidup). Sejak bhavanga citta yang pertama inilah
cittaiardpa (materi hasil kesadaran) muncul/terbentuk.
Dengan kekuatan temperatur (utu) dan nutrisi
(ahara) yang terkandung di dalam kammajakalapa
berkombinasi/bereaksi dengan suhu dan nutrisi luar yang
berdifusi, dan selanjutnya berkombinasi pula dengan
cittajarupa, maka akan terbentuklah materi-materi
baru. Selama pavatti kala (masa kehidupan), kekuatan
kamma, citta, utu, dan ahara terus berlangsung
dan berkombinasi dengan kamma sebagai pemimpin, sehingga
muncul materi-materi baru secara kontinyu (terus menerus),
bentuknya semakin jelas. Kelompok-kelompok indera terbentuk
dan berkembang makin sempurna, demikian pula dengan
materi-materi lainnya. Lalu, secara kontinyu pula kekuatan-kekuatan
di atas mengubah bahkan menghancurkan materi-materi
yang telah terbentuk sebelumnya. Jadi selama masa kehidupan
(pavatti kala), yaitu sejak setelah tumimbal
lahir (patisandhi kala), pertumbuhan dan perkembangan
jasmani manusia hanya merupakan proses muncul dan lenyapnya
materi yang tak henti-hentinya bagai aliran air sungai
yang terus berlanjut.
Dari uraian di atas, secara ringkas dapat dikatakan
bahwa kammajarupa muncul sejak patisandhi
kala, cittajarupa muncul sejak bhavanga
citta pertama dalam masa kehidupan ini (pavatti
kala). Utujarupa berlangsung sejak tahap
statis, dan aharajarupa mulai terbentuk akibat
reaksi sejak ahara luar berdifusi.
Sekarang, mungkin para pembaca akan bertanya, apakah
hubungannya dengan kultur jaringan mahkluk hidup dan
manusia klonal?
Sekali lagi, pembiakan secara klonal dengan kultur
jaringan yang selama ini dilakukan dan hingga saat ini
dilakukan adalah dengan memanipulasi lingkungan (utu)
dan nutrisi (ahara). Dengan manipulasi nutrisi
dan lingkungan yang berbeda, pembiakan dapat diarahkan
ke pembentukan sel saja, jaringan saja, batang tanaman
saja, daun saja, akar saja atau tanaman lengkap dalam
jumlah sedikit atau banyak. Bagaimana dengan kultur
jaringan mahluk hidup? Apakah cukup dengan dua kekuatan
di atas?
Satu terobosan teknologi kultur jaringan ini telah diberitakan
pada tahun 1990 bahwa sel otak manusia telah berhasil
dibiakkan selalui teknologi kultur jaringan dengan komposisi
nutrisi dan lingkungan tertontu. Eksperimen tersebut
terjadi di fakultas Kedokteran Universitas John Hopkins,
Baltimore (Kompas, 13 Mei 1990) Dalam tulisan
itu pula disebutkan bahwa transplantasi sel otak baru
pada monyet sudah terbukti menyembuhkan gejala Parkinson.
Namun, agaknya masih terlalu dini untuk menyimpulkan
kemungkinan keberhasilan klonal organ mahluk atau tubuh
mahluk.
Sel-sel dari- jaringan atau organ yang telah ada dapat
saja berbanyak diri dengan kekuatan bija niyama, utu
dan ahara. Namun untuk selanjutnya tumbuh dan berkembang
menjadi organ tubuh atau menjadi tubuh, belum cukup
dengan ketiga hal di atas. Seperti telah diuraikan di
atas, kamma dan citta harus berperan. Sekarang, mampukah
manusia memanipulasi kamma dan citta bagi sel yang menjadi
calon organ atau calon mahluk tersebut? Di dalam Majjhima
Nikaya, Cullakammavibhanga Sutta, dinyatakan, bahwa
mahluk memiliki kammanya, mewarisi kammanya, lahir dari
kammanya, berhubungan dengan kammanya, terlindung oleh
kammanya (Kammassaka manava satta, kammadayada, kammayoni,
kammabandhu, kammapatisarana).
Patisandhi vinnana pada manusia muncul melalui
hadaya vatthu hasil kekuatan kamma. Juga, tergantung
pada hadaya vatthu ini pulalah unsur batin dan unsur
kesadaran batin muncul di alam pancakhandha (yam
nissaya manodhatu manovinnanadhatu ca vattanti pancavokare
tam vatthu'ti pavuccati). Kesadaran panca
indera muncul melalui inderanya masing-masing. Muncul,
tumbuh dan berkembangnya materi atau jasmani atau organ-organ
manusia merupakan kompleks antara batin dan jasmani
itu sendiri dan dipengaruhi oleh empat kekuatan, yaitu
kammal citta, utu, dan ahara, dengan kamma sebagai pemimpin
yang kuat.
Sesuai dengan pernyataan penulis di muka, setelah mengikuti
dan merenungkan uraian di atas, para pembaca berhak
menilai sendiri mengenai oungkin atau tidaknya kemunculan
manusia klonal atau organ manusia yang dibuat secara
klonal.
Satu hal yang perlu ditekankan di sini ialah bahwa
setiap pembaca berhak menentukan penilaiannya masing-masing.
Lalu, pada akhirnya, setiap orang berhak menganalisis
ilmu yang dikuasainya dari sudut pandangan Buddha Dhamma,
dan berhak pula menganalisis Buddha Dhamma dari sudut
pandang ilmu yang dikuasainya. Tidak ada 'dosa' atau
hukuman di dalam menganalisa Dhamma dalam kaitannya
dengan ilmu atau sebaliknya. Semoga Dhamma menjadi berkah
termulia bagi kita semua dalam mengarungi lautan kelahiran
dan kematian.
DAFTAR PUSTAKA
- Baptis t, s.c. 1958. Abhidhamma for the Beginner.
The Colombo Apothecaries Ltd., Colombo, 135p.
- Jayasuriya, W.F. 1988. The Psychology and Philosophy
of Buddhism. Buddhist Missionary Society, Malaysia,
254p.
- Kaharuddin, J . 1985. Kebebasan Mutlak Dalam Buddha
Dhamma. Jakarta, 52 hal.
- Kaharuddin, J. 1986. Kitab Suci Dhammasangani. Yayasan
Dana Pendidikan Buddhis Nalanda, Jakart a, 150 hal.
- Kaharuddip, J. 1989. Abhidhammatthasangaha (jilid
1). Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda, Jakarta,
187 hal.
- Nanamoli (tanpa tahun). The Buddha's Word an K a
m m a. Buddhist Publication Society Inc., Sri Lanka,
50P.
- Narada. 1977. - The Buddha and His Teachings. Buddhist
Missionary Society, Malaysia, 713p.
- Narada. 1979. Abhidhammatthasangaha, A Manual of
Abhidhamma. Yayasan Dhammadipa Arama, Jakarta, 451,p.
- Sangha Theravada Indonesia dan Mapanbudhi. 1989.
Paritta Suci. Yayasan Dhammadipa Arana, Jakarta, 203
hal.
- Thorpe, T.A. 1981. Plant Tissue Culture, Methods
and Applications in Agriculture. Academic Press Inc.,
London, 379p.
- Harian Kompas, 13 mei 1990, Kultur Jaringan Sel
Otak, Telah Berhasil Dilakukan.
Pernah dimuat dalam majalah Pancaran Dharma no.
197.
Diedit kembali oleh Chandadhammo Benny Chandra dan
dimuat atas ijin penulis.
Disusun oleh: Dhamma
Study Group Bogor
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|