BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 


Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?

 

   
[an error occurred while processing this directive]
Manusia Klonal
oleh: Selamat Rodjali

 

PENDAHULUAN

Pada kesempatan ini, penulis bermaksud mengajak para pembaca untuk merenungkan satu aspek bioteknologi jika ditinjau dari segi Buddha Dhamma. Memang dalam menelaah aspek tersebut banyak sekali istilah Dhamma maupun ilmu pengetahuan yang akan dijumpai oleh pembaca, namun penulis berusaha inenggunakannya sesederhana mungkin, sehingga mudah-mudahan enak 'dicerna.'

Derap perkembangan dan keragaman teknologi (aplikasi ilmu pengetahuan) dirasakan sangat pesat dan makin canggih. Manusia telah bertahun-tahun digodog oleh keadaan internal maupun eksternal. Buah dan motifnya secara estafet diteruskan dan dikembangkan oleh generasi selanjutnya.

Produk bioteknologi kini sudah mendekati pasar, sementara komputer sudah memperlihatkan pengaruhnya di berbagai sektor. Menurut para ekonom dan ilmuwan, dalam dua dasa warsa mendatang, kedua teknologi di atas, biotek dan komputer, akan mengubah aktivitas dunia seperti halnya mekanisasi dan kimia terapan mengubahnya pada awal abad ini.

Beberapa bioteknologi yang mungkin akan berperan adalah rekayasa (perakitan) genetik, aplikasi biologi molekuler, dan perkembangbiakan. Molecular Genetics Inc. di Amerika, pada tahun 1984 mulai memasarkan antibodi monoclonal yang bisa mencegah diare tertentu yang membunuh sejuta sapi Amerika dalam setahun (Kompas, Desember 1986). Teknologi perkembangbiakan telah diteliti dan dikembangkan dengan seksama.

Untuk kesempatan ini, penulis hanya sesbatasi satu aspek biotek yang sedang 'in', terutama di kalangan pertanian, yiitu teknologi perkembangbiakan (perbanyakan).

 

TEKNOLOGI KULTUR JARINGAN

Mungkin sebelum memasuki topik utama yang akan dibahas secara Buddha Dhamma, untuk beberapa saat pembaca diaiak untuk menelusuri beberapa pandangan yang menyebabkan pesatnya bidang bioteknologi di -atas mendapat perhatian para ilmuwan maupun usahawan.

Perbanyakan tanaman dengan setek, okulasi, pemisahan rumpun, tunas, biji, umbi dan teknik tradisional lain telah banyak dikenal. Namun, jika secuil jaringan tumbuh menjadi pohon lengkap dalam jumlah banyak, tentu bukan hal biasa. Pembudidayaan individu dari sel, jaringan (kumpulan sel) atau organ (kumpulan jaringan dengan fungsi tertentu) secara terkendali (bebas hama, cendawan, virus, bakteri atau mikroba lain) dengan lingkungan terkendali pula sehingga tumbuh menjadi individu sempurna, dikenal sebagai teknologi kultur jaringan.

Teknologi kultur jaringan bertolak dari teori sel yang dikemukakan oleh Matthias Schleiden dan Theodor Schwann dan sifat totipotensi sel. Sel merupakan penyusun individu (teori sel) dan sel nampu tumbuh serta berkembang meniadi individu sempurna dengan organ-organ dan jaringanjaringannya (totipotensi sel).

Beberapa keuntungan teknologi ini bukanlah sekadar fotokopi ' individu 'mirip aslinya' dan bebas penyakit, tetapi juga dapat menghasilkan individu dalam jumlah besar dengan waktu relatif singkat dan mengatasi masalah mandul. Selain itu, teknologi ini juga dipakai untuk seleksi individu unggul, memperoleh senyawa obat-obatan atau untuk industri atau koleksi dan pelestarian individu dengan sifat tertentu.


IDE KANUSIA KLONAL DAN KETAKUTAN KAUM "AGAMIS' (BERAGAMA)

Teknologi kultur jaringan dapat dimanfaatkan untuk perbanyakan klonal, yaitu perbanyakan (perkembangbiakan) aseksual yang berasal dari satu individu tertentu untuk memperoleh keseragaman genetik.

Sampai seiauh ini, teknologi perbanyakan klonal telah diterapkan pada tanaman secara in vitro (di luar tubuh tanaman, misal di dalam tabung atau botol gelas). Keberhasilannya ditentukan oleh kemampuan regenerasi dari sel meniadi jaringan, jaringan menjadi organ, dan manipulasi lingkungan tumbuh.

Beberapa ahli yang telah berkecimpung dengan teknologi ini pernah mempertanyakan, apakah mungkin teknologi ini diaplikasikan (diterapkan) pada sel, jaringan atau organ mahluk seperti binatang atau manusia? Mungkin, setelah munculnya pertanyaan di atas, secara diam-diam beberapa ilmuwan melakukan eksperimen (percobaan). Namun, para ilmuwan religius dan para pemuka agama yang juga mengetahui perkembangan teknologi ini menjadi bimbang dan dihantui ketakutan yang hebat. Mereka takut, jangan-jangan satu saat nanti manusia klonal benar-benar ada. Mereka takut, jangan-jangan manusia klonal ini terjatuh ke tangan orang tak bermoral. Secuil jaringan, andaikata dapat tumbuh menadi tangan sempurna atau organ seepurna, dapat dijadikan 'onderdil' (spare parts) untuk menggantikan tangan atau organ aseli yang telah rapuh. Ketakutan ini lebih mencekas mereka yang mempercayai adanya 'mahluk super power' yang menciptakan dirinya. Mereka takut kalau penciptanya 'tersaingi' dan -pandangan yang selama ini dipertahankannya menjadi hancur total, karena manusia klonal diciptakan oleh manusia dan manusia klonal-merupakan produk yang mutunya 'bersaing'.

Tentu, sangat menarik andaikata ada satu forum ilmiah yang dihadiri oleh para pakar berbagai sektor dan para 'pentolan' berbagai agama membabas dan memberikan keterangan men-genai kemungkinan manusia klonal ini sesuai dengan prinsip-prinsip yang dianutnya secara terbuka dengan kebesaran hati.

Ulasan berikutnya, merupakan bagian tulisan yang berlandaskan Buddha Dhamma di dalam menelaah dan menelusuri pembentukan materi benda mati (termasuk tanaman) dan benda hidup termasuk manusia), proses perkembangannya dan faktor-faktor yang mempengaruhinya di dalam perkembangbiakan. Lalu, pada akhirnya, dengan mengikuti alur pembahasan tersebut, para pembaca, khususnya umat Buddha, dapat menjawab sendiri apakah mungkin manusia klonal itu terjadi!


KEKUATAN PENYEBAB MUNCUL DAN BERKEMBANGNYA MATERI

Buddha Dhamma tidak bermaksud menjawab sebab pertama munculnya materi (Rupa). Namun, Buddha Dhamma mengakui bahwa materi itu memang ada dan berkembang melalui empat cara sesuai dengan kekuatan yang mempengaruhinya. Menurut kekuatannya, muncul dan berkembangnya materi dikelompokkan ke dalam empat golongan besar, yaitu :

  1. Materi yang muncul dan berkembang karena kekuatan kondisi temperatur (Utujarupa). Materi tersebut termasuk panas dan dingin, serta semua materi yang dihasilkan karena kondisi iklim atau musim.
  2. Materi yang muncul dan berkembang karena kekuatan nutrisi (Aharaiarupa).
  3. Materi yang muncul dan berkembang karena kekuatan pikiran (Cittaiarupa).
  4. Materi yang muncul dan berkembang karena kekuatan perbuatan (Kammajarupa).

Mahluk hidup (termasuk manusia) dan benda mati (termasuk tanaman) memiliki jenis materi yang berbeda walaupun terdapat beberapa materi dasar yang sama. Kekuatan yang menyebabkan ouncul dan berkembangnya materi dalam jasmani makhluk hidup mencakup keempat kekuatan di atas, yaitu kekuatan kamma, citta, ahara, dan utu dengan kamma sebagai pendahulu. Sementara itu, materi benda mati (termasuk tanaman) hanya muncul dan berkembang akibat kekuatan ahara dan utu.


PERKEMBANGAN MATERI BENDA MATI (TANAMAN) DALAM TEKNIK KULTUR JARINGAN

Melalui teknik kultur jaringan, sel atau jaringan atau organ tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan memanipulasi nutrisi (ahara) dan lingkungan klimat (utu). Komposisi atau perpaduan dua kekuatan tersebut secara 'seimbang' dapat mengarahkan perkembangan sehingga sel, atau jaringan atau organ tersebut menjadi individu tanaman yang sempurna dalam jumlah satu, sedikit atau banyak. Ahara hasil manipulasi akan berdifusi ke dalam sel atau jaringan atau organ bereiksi dengan ahara dalam dan berkombinasi dengan utu membentuk materi-materi baru dan dengan kekuatan bija niyama (hukum fisik organik), sel atau jaringan atau organ yang berbanyak diri dan berkembang tidak akan menyimpang meniadi individu jenis lain. Jadi, sel-sel atau jaringan atau organ kentang akan tumbuh dan berkembang dengan sifat-sifat kentang, dan tidak akan menjadi rambutan atau padi.


CARA MANUSIA LAHIR DAN PERKEMBANGAN JASMANINYA

Beberapa golongan yang menganut pandangan umum yang berlaku sementara di dunia ini mungkin merasa aneh membaca uraian cara terlahirnya manusia ditinjau dari pandangan Buddha Dhamma. Namun, pandangan unik mengenai cara kelahiran ini, paling sedikit menambah wawasan bagi umat Buddha yang berhasrat untuk lebih bersifat kritis dan analitis.

Cara kelahiran manusia menurut Buddha Dhamma ada 4 macam :

  1. Melalui kandungan (Jalabuja)
  2. Melalui telur (Andaij)
  3. Melalui kelembaban (Sansedaja)
  4. Spontan (Opapatika).

Selain mahluk manusia, yang dapat terlahir melalui keempat cara sesuai itu adalah mahluk binatang, dewa Catummaharajika, Asurakaya dan mahluk setan (tidak termasuk setan jenis Nijjhamatanhika).

Nah, sekarang bagaimanakah materi (jasmani) manusia muncul pada masing-masing jenis kelahiran tersebut dan materi apa saia yang muncul?

Untuk kelahiran dengan cara Gabbhaseyyaka (melalui kandungan atau melalui telur), materi yang muncul pada manusia sewaktu tumimbal lahir (patisandhi kala) adalah kammajarupa yang terdiri atas tiga kelompok, yaitu :

  1. kayadasakakalapa (kelompok jasmani dengan indera sensitif sentuhan jasmani / kaya pasada rupa sebagai pemimpin)
  2. hadayadasakakalapa (kelompok jasmani de-ngan unsur hati sanubari tempat munculnya 75 jenis kesadaran/hadayardpa sebagai pemimpin)
  3. bhavadasakakalapa (kelompok jasmani dengan unsur kelamin / bhavarupa sebagai pemimpin).

Ketiga kelompok jasmani di atas masing-masing memiliki 7 (sembilan) unsur lain yang mutlak ada, dan 3 unsur lain sebagai konsekuensi logis :

  1. jivitardpa 1 (unsur kehidupan)
  2. avinibbhogarupa 8 (unsur padatan, unsur fluida/kohesi, unsur panas/temperatur, unsur gerak, unsur obiek penglihatan, unsur objek bau, unsur obiek rasa dan unsur nutrisi)
  3. unsur ruangan (paricchedardpa 1)
  4. unsur material produktivitas (upacayar0pa 1)
  5. unsur kontinuitas material (santatirapa 1)

Jadi jumlah semua menjadi 15 jenis materi. Bagaimana dengan dua jenis kelahiran lain?

Untuk manusia yang terlahir dengan melalui kelembaban atau spontan, materi yang muncul ditambah empat lagi, yaitu: indera sensitif penglihatan (cakkhupasada rupa), indera sensitif pendengaran (sotapasada rupa), indera sensitif penciuman bau (ghanapasada rupa) dan indera sensitif pengecap rasa (jivhapasada rupa).

Satu hal yang patut dicatat, bahwa kelompok jasmani yang muncul saat patisandhi kala merupakan produksi kamma dan bukan produksi dari citta atau vinnana.

Kadang-kadang materi yang terbentuk sewaktu tumimbal lahir (patisandhi kala) tidak lengkap seperti di atas. Unsur kelamin mungkin saia tidak muncul pada mahluk yang lahir melalui kandungan. Unsur indera sensitif penglihatan, pendengaran, penciuman, dan unsur kelamin juga tidak muncul pada yang terlahir melalui kelembaban atau spontan. Hal ini dapat dipahami mengapa defisiensi kelompok materi manusia dapat teriadi sewaktu patisandhi kala, dan dikondisikan oleh kamma. Selama masa kehidupan (pavatti kala) kelompok indera dan jasmani; lain dapat berkembang.

Selanjutnya, marilah kita mulai menelusuri perkembangan materi atau jasmani manusia sejak lahir (patisandhi kala) dan selanjutnya selama masa hidup (pavatti kala).

Seperti telah dibahas secara sepintas di muka, materi atau jasmani manusia niuncul dan berkembang atas interaksi empat kekuatan yaitu kamma, citta, ahara dan utu.

Sewaktu tumimbal lahir (patisandhi kala), seperti telah disebutkan di atas, tiga kelampok besar materi muncul, salah satunya adalah hadayarapa (unsur hati sanubari tempat munculnya kesadaran 75). Bersamaan dengan itu pula dari hadaya rupa ini muncul patisandhi vinnana (kesadaran tumimbal lahir). Kammajarapa dan patisandhi vinnana yang muncul ketika patisandhi kala ini akibat kekuatan 2 paccaya (sebab kondisi), yaitu kamma paccaya (kondisi perbuatan) dan upanissaya paccaya (kondisi pendorong yang kuat). Setelah patisandhi vinnana padam, langsung disusul dengan munculnya bhavanga citta (kesadaran keberlangsungan hidup). Sejak bhavanga citta yang pertama inilah cittaiardpa (materi hasil kesadaran) muncul/terbentuk.

Dengan kekuatan temperatur (utu) dan nutrisi (ahara) yang terkandung di dalam kammajakalapa berkombinasi/bereaksi dengan suhu dan nutrisi luar yang berdifusi, dan selanjutnya berkombinasi pula dengan cittajarupa, maka akan terbentuklah materi-materi baru. Selama pavatti kala (masa kehidupan), kekuatan kamma, citta, utu, dan ahara terus berlangsung dan berkombinasi dengan kamma sebagai pemimpin, sehingga muncul materi-materi baru secara kontinyu (terus menerus), bentuknya semakin jelas. Kelompok-kelompok indera terbentuk dan berkembang makin sempurna, demikian pula dengan materi-materi lainnya. Lalu, secara kontinyu pula kekuatan-kekuatan di atas mengubah bahkan menghancurkan materi-materi yang telah terbentuk sebelumnya. Jadi selama masa kehidupan (pavatti kala), yaitu sejak setelah tumimbal lahir (patisandhi kala), pertumbuhan dan perkembangan jasmani manusia hanya merupakan proses muncul dan lenyapnya materi yang tak henti-hentinya bagai aliran air sungai yang terus berlanjut.

Dari uraian di atas, secara ringkas dapat dikatakan bahwa kammajarupa muncul sejak patisandhi kala, cittajarupa muncul sejak bhavanga citta pertama dalam masa kehidupan ini (pavatti kala). Utujarupa berlangsung sejak tahap statis, dan aharajarupa mulai terbentuk akibat reaksi sejak ahara luar berdifusi.

Sekarang, mungkin para pembaca akan bertanya, apakah hubungannya dengan kultur jaringan mahkluk hidup dan manusia klonal?

Sekali lagi, pembiakan secara klonal dengan kultur jaringan yang selama ini dilakukan dan hingga saat ini dilakukan adalah dengan memanipulasi lingkungan (utu) dan nutrisi (ahara). Dengan manipulasi nutrisi dan lingkungan yang berbeda, pembiakan dapat diarahkan ke pembentukan sel saja, jaringan saja, batang tanaman saja, daun saja, akar saja atau tanaman lengkap dalam jumlah sedikit atau banyak. Bagaimana dengan kultur jaringan mahluk hidup? Apakah cukup dengan dua kekuatan di atas?


Satu terobosan teknologi kultur jaringan ini telah diberitakan pada tahun 1990 bahwa sel otak manusia telah berhasil dibiakkan selalui teknologi kultur jaringan dengan komposisi nutrisi dan lingkungan tertontu. Eksperimen tersebut terjadi di fakultas Kedokteran Universitas John Hopkins, Baltimore (Kompas, 13 Mei 1990) Dalam tulisan itu pula disebutkan bahwa transplantasi sel otak baru pada monyet sudah terbukti menyembuhkan gejala Parkinson. Namun, agaknya masih terlalu dini untuk menyimpulkan kemungkinan keberhasilan klonal organ mahluk atau tubuh mahluk.

Sel-sel dari- jaringan atau organ yang telah ada dapat saja berbanyak diri dengan kekuatan bija niyama, utu dan ahara. Namun untuk selanjutnya tumbuh dan berkembang menjadi organ tubuh atau menjadi tubuh, belum cukup dengan ketiga hal di atas. Seperti telah diuraikan di atas, kamma dan citta harus berperan. Sekarang, mampukah manusia memanipulasi kamma dan citta bagi sel yang menjadi calon organ atau calon mahluk tersebut? Di dalam Majjhima Nikaya, Cullakammavibhanga Sutta, dinyatakan, bahwa mahluk memiliki kammanya, mewarisi kammanya, lahir dari kammanya, berhubungan dengan kammanya, terlindung oleh kammanya (Kammassaka manava satta, kammadayada, kammayoni, kammabandhu, kammapatisarana).

Patisandhi vinnana pada manusia muncul melalui hadaya vatthu hasil kekuatan kamma. Juga, tergantung pada hadaya vatthu ini pulalah unsur batin dan unsur kesadaran batin muncul di alam pancakhandha (yam nissaya manodhatu manovinnanadhatu ca vattanti pancavokare tam vatthu'ti pavuccati). Kesadaran panca indera muncul melalui inderanya masing-masing. Muncul, tumbuh dan berkembangnya materi atau jasmani atau organ-organ manusia merupakan kompleks antara batin dan jasmani itu sendiri dan dipengaruhi oleh empat kekuatan, yaitu kammal citta, utu, dan ahara, dengan kamma sebagai pemimpin yang kuat.

Sesuai dengan pernyataan penulis di muka, setelah mengikuti dan merenungkan uraian di atas, para pembaca berhak menilai sendiri mengenai oungkin atau tidaknya kemunculan manusia klonal atau organ manusia yang dibuat secara klonal.

Satu hal yang perlu ditekankan di sini ialah bahwa setiap pembaca berhak menentukan penilaiannya masing-masing. Lalu, pada akhirnya, setiap orang berhak menganalisis ilmu yang dikuasainya dari sudut pandangan Buddha Dhamma, dan berhak pula menganalisis Buddha Dhamma dari sudut pandang ilmu yang dikuasainya. Tidak ada 'dosa' atau hukuman di dalam menganalisa Dhamma dalam kaitannya dengan ilmu atau sebaliknya. Semoga Dhamma menjadi berkah termulia bagi kita semua dalam mengarungi lautan kelahiran dan kematian.


DAFTAR PUSTAKA

  • Baptis t, s.c. 1958. Abhidhamma for the Beginner. The Colombo Apothecaries Ltd., Colombo, 135p.
  • Jayasuriya, W.F. 1988. The Psychology and Philosophy of Buddhism. Buddhist Missionary Society, Malaysia, 254p.
  • Kaharuddin, J . 1985. Kebebasan Mutlak Dalam Buddha Dhamma. Jakarta, 52 hal.
  • Kaharuddin, J. 1986. Kitab Suci Dhammasangani. Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda, Jakart a, 150 hal.
  • Kaharuddip, J. 1989. Abhidhammatthasangaha (jilid 1). Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda, Jakarta, 187 hal.
  • Nanamoli (tanpa tahun). The Buddha's Word an K a m m a. Buddhist Publication Society Inc., Sri Lanka, 50P.
  • Narada. 1977. - The Buddha and His Teachings. Buddhist Missionary Society, Malaysia, 713p.
  • Narada. 1979. Abhidhammatthasangaha, A Manual of Abhidhamma. Yayasan Dhammadipa Arama, Jakarta, 451,p.
  • Sangha Theravada Indonesia dan Mapanbudhi. 1989. Paritta Suci. Yayasan Dhammadipa Arana, Jakarta, 203 hal.
  • Thorpe, T.A. 1981. Plant Tissue Culture, Methods and Applications in Agriculture. Academic Press Inc., London, 379p.
  • Harian Kompas, 13 mei 1990, Kultur Jaringan Sel Otak, Telah Berhasil Dilakukan.

Pernah dimuat dalam majalah Pancaran Dharma no. 197.

Diedit kembali oleh Chandadhammo Benny Chandra dan dimuat atas ijin penulis.

 

Disusun oleh: Dhamma Study Group Bogor

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

>
[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]