|
Kaliyuga
oleh: Selamat Rodjali
Dunia saat ini sedang menghadapi ledakan populasi vang
sangat hebat sehingga dikhawatirkan bahan pangan akan
menjadi sangat terbatas. Thomas Robert Malthus telah
lama mengantisipasi (meramal) bahwa pertambahan populasi
akan bergerak mengikuti deret ukur, sedangkan pemenuhan
kebutuhan primer (pangan) bergerak menurut deret hitung.
Hingga saat ini telah dilakukan. berbagai usaha untuk
memperiambat lajunya populasi, diiringi pula oleh upaya
untuk meningkatkan produktivitas pangan. Dalam melakukan
upaya di atas, kreativitas manusia mendapat kondisi
yang tepat untuk berkembang, sehingga laju perkembangan
teknologi bergerak pesat sekali dan semakin canggih.
Namun, sekarang, bagaimanakah kecenderungan tingkat
perkembangan spiritual manusianya? Tampaknya peningkatan
populasi ini cenderung diiringi oleh penurunan kualitas
spiritual manusianya.
Apabila disimak dengan lebih seksama, banyak generasi
muda saat ini, baik yang dilahirkan di Indonesia, Amerika,
Eropa. Australia atau Asia cenderung memiliki sifat-sifat
negatif yang sangat menonjol, seperti serakah, pembenci,
bodoh, mementingkan diri sendiri, masa bodoh, tak berperasaan,
mudah tersinggung, dan membalas dendam. Sering pula
dijumpai sikap kurang (tidak) hormat terhadap orang
yang lebih tua, orang tua, dan guru.
Mungkin banyak di antara generasi lebih tua yang masih
hidup akan bertanya-tanya, apakah gerangan yang terjadi
pada mayoritas generasi muda saat ini? Mengapa mereka
bertingkah laku seperti binatang atau setan? Apakah
mereka semata-mata dikendalikan oleh seorang datang
(personifikasi), 'oknum X' Bagaimana seseorang dapat
menielaskan fenomena-fenomena alam seperti di atas?
Bagaimanakah seseorang yang berlatar belakang Agama
Buddha menjelaskan alasan-alasan yang menimbulkan peristiwa
semacam itu pada saat ini?
Masa kehidupan kita saat ini, dalam bahasa yang spesifik
dikenal sebagai Kaliyuga, atau 'Jaman Materi'. Manusia
yang dilahirkan pada jaman ini umumnya memiliki sifat
material oriented, dan memburu kesenangan temporer.
Nilai-nilai spiritual seolah-olah tidak cocok lagi bagi
mereka. Dengan membuat perbandingan tedhadap masa hidup
generasi yang lebih tua, terdapat kecenderungan bahwa
generasi Iebih muda saat ini umumnya memiliki masa hidup
yang relatif lebib pendek. Banyak di antara mereka yang
meninggal dunia karena kecelakaan mendadak, seperti
tenggelam, tertabrak kereta api atau kendaraan bermotor,
terbakar, ledakan pesawat terbang, atau bahkan bunuh
diri.
Manusia Kaliyuga
Kita dapat mengamati bahwa manusia dilahirkan dalam
lingkungan yang berbeda-beda. disertai dengan perbedaan
karakter. Citta terakhir dari kehidupannya yang lampau
(cuti-citta) akan disusul oleh citta pertama
dalam kehidupannya yang baru (patisandhi-citta). Kecenderungan-kecenderungan
yang dimiliki pada waktu yang lampau akan terakumulasi
dan berlanjut pada citta berikutnya (Nina van Gorkom,
1979).
Banyak manusia yang lahir pada zaman Kaliyuga ini adalah
mereka yang pada jangka waktu yang lama sekali, akibat
perbuatan-perbuatan buruknya, telah dilahirkan di alam
kehidupan yang menyedihkan, sebagai binatang, mahluk
peta, raksasa asura, atau mahluk neraka. Dalam jangka
waktu yang lama sekali mereka menetap di alam tersebut.
Tentu mereka tidak menetap selamanya. Setelah buah kamma
buruknya yang menyebabkan ia terlahir di sana habis,
dan karena kamma baiknya meniadi masak berbuah (karena
kondisi yang tepat), mereka dilahirkan kembali di alam
manusia dalam jumlah yang besar pada jaman materi ini.
Manusia-manusia baru ini memiliki sifat-sifat dan pola
kelakuan seperti penghuni alam Dugati di atas. Akan
tetapi, kita tidak perlu kaget. Mereka semata-mata memperlihatkan
sifat-sifat laten dan kecenderungan yang tertumpuk dari
alam kehidupannya yang lampau dan muncul kembali pada
kehidupanrnya sekarang. Itulah yang membuat beberapa
di antara mereka bersikap egois, tak pernah mementingkan
kebahagiaan orang lain dan sebagainya.
Setelah mereka hidup sebagai manusia (asalkan mereka
hidup cukup lama dan beruntung dapat bergaul dengan
orang-orang bijaksana), mereka akan mengerti sifat-sifat
dan pola kelakuan manusia, dalam waktu kurang lebih
40 tahun. Kemudian, tibalah waktunya mereka pergi, meninggal
dunia. Tidak jarang mereka 'pergi' melalui kecelakaan-kecelakaan
seperti yang telah dikemukakan di atas. Masa hidup manusia
pada jaman 'Kaliyuga' ini sangat singkat!
Cakkavatti-Sihanada Sutta
Lebih dari 2500 tahun yang lalu, Sang Buddha telah
memaparkan dengan jelas bagaimana keadaan masa depan
nanti. Di dalam Cakkavatti-Sihanada Sutta, kita dapat
membaca bahwa akan tiba suatu saat nanti tatkala kondisi-kondisi
telah makin memburuk. Masa hidup manusia pada masa tersebut
hanya 10 tahun, dan perawan-perawan muda telah siap
kawin pada umur lima tahun! Pada masa ini tidak ada
lagi rasa hormat terhadap orang tua dan saudara perempuan.
Laki-laki akan bertingkah laku seperti binatang, tinggal
bersama ibu dan saudara perempuannya sebagai suami isteri.
Perzinahan dengan keluarga telah dianggap biasa. Pertengkaran
dan perkelahian akan menjadi 'tata tertib' sehari-hari.
Laki-laki dan perempuan akan meniadi lebih buruk daripada
binatang.
Sungguh beruntung, jaman itu mungkin masih jauh.
Manusia yang baik
Peningkatan populasi di dunia yang disertai dengan
sifat-sifat manusianya seperti mahluk-mahluk alam rendah
telah terjadi di antara kita. Pola-pola kelakuan mereka
yang lampau telah muncul walaupun -saat ini mereka-
berada dalam bentuk fisik sebagai manusia.
Akan tetapi memang tidak semua manusia demikian. Tentu
ada juga anak-anak yang baik yang lahir di antara kita
sekarang walaupun hanya sedikit. Pada rahim siapakah
mereka dilahirkan? Anak-anak yang baik itu hanya lahir
dari ibu yang baik pula. Mahluk-mahluk dari alam dewa
akan lahir melalui ibu yang memiliki sifat-sifat tertentu.
Pertama, mereka akan lahir dari seorang ibu yang bijaksana
(medhavini). Kedua, sang ibu memiliki sila yang
baik (silavati). Ketiga, ibu memperlakukan famili
dari suami dengan baik (sassu deva). Keempat,
ibu adalah seorang yang setia, puas dengan satu suami,
dan tidak ada kekasih lain di luar (patibatta).
Bagi wanita (ibu) yang memiliki empat sifat baik tersebut,
akan lahir anak-anak yang baik dan pandai (sura honti),
dan anak-anak baik tersebut juga merupakan berkah bagi
orang tua dan negara tempat mereka dilahirkan.
DAFTAR PUSTAKA
- Baptist, E.C. 1981. Wheel of Life, 31 Planes
of Existence (Rebirth). Buddhist Missionary Society,
Kuala Lumpur, 61 p.
- Van Gorkom, Nina. 1979. Abhidhamma in Daily Life
(2nd ed.). Dhamma Study Group Bangkok, Thailand,
259p.
Pernah dimuat dalam majalah Pancaran Dharma no.
158.
Diedit kembali oleh Chandadhammo Benny Chandra dan
dimuat atas ijin penulis.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|