BuddhistOnline.com
»  
MENGENAI KAMI FAQ KONTAK
Index | Ajaran-Dasar | Berita | Dhammadesana | Tanya-Dhamma | Forum | Galeri | Vihara | Dokumen | Sejarah | Link
Dhamma Study Group Bogor
 


Update Terakhir:
Wednesday, September 28, 2005
Masa Pembenahan BuddhistOnline.com

Tuesday, May 24, 2005
Selamat Hari Tri Suci Waisak 2549

Tuesday, May 24, 2005
Renungan Waisak 2549 STI

Friday, May 20, 2005
Tanya Dhamma: Hubungan Deja Vu dan Kamma Masa Lampau

Sunday, May 1, 2005
Benarkah Mahabodhi Vihara Bodh Gaya Dicoret dari Daftar Cagar Budaya Dunia UNESCO?

 

   
[an error occurred while processing this directive]
Kaliyuga
oleh: Selamat Rodjali

 

Dunia saat ini sedang menghadapi ledakan populasi vang sangat hebat sehingga dikhawatirkan bahan pangan akan menjadi sangat terbatas. Thomas Robert Malthus telah lama mengantisipasi (meramal) bahwa pertambahan populasi akan bergerak mengikuti deret ukur, sedangkan pemenuhan kebutuhan primer (pangan) bergerak menurut deret hitung. Hingga saat ini telah dilakukan. berbagai usaha untuk memperiambat lajunya populasi, diiringi pula oleh upaya untuk meningkatkan produktivitas pangan. Dalam melakukan upaya di atas, kreativitas manusia mendapat kondisi yang tepat untuk berkembang, sehingga laju perkembangan teknologi bergerak pesat sekali dan semakin canggih. Namun, sekarang, bagaimanakah kecenderungan tingkat perkembangan spiritual manusianya? Tampaknya peningkatan populasi ini cenderung diiringi oleh penurunan kualitas spiritual manusianya.

Apabila disimak dengan lebih seksama, banyak generasi muda saat ini, baik yang dilahirkan di Indonesia, Amerika, Eropa. Australia atau Asia cenderung memiliki sifat-sifat negatif yang sangat menonjol, seperti serakah, pembenci, bodoh, mementingkan diri sendiri, masa bodoh, tak berperasaan, mudah tersinggung, dan membalas dendam. Sering pula dijumpai sikap kurang (tidak) hormat terhadap orang yang lebih tua, orang tua, dan guru.

Mungkin banyak di antara generasi lebih tua yang masih hidup akan bertanya-tanya, apakah gerangan yang terjadi pada mayoritas generasi muda saat ini? Mengapa mereka bertingkah laku seperti binatang atau setan? Apakah mereka semata-mata dikendalikan oleh seorang datang (personifikasi), 'oknum X' Bagaimana seseorang dapat menielaskan fenomena-fenomena alam seperti di atas? Bagaimanakah seseorang yang berlatar belakang Agama Buddha menjelaskan alasan-alasan yang menimbulkan peristiwa semacam itu pada saat ini?

Masa kehidupan kita saat ini, dalam bahasa yang spesifik dikenal sebagai Kaliyuga, atau 'Jaman Materi'. Manusia yang dilahirkan pada jaman ini umumnya memiliki sifat material oriented, dan memburu kesenangan temporer. Nilai-nilai spiritual seolah-olah tidak cocok lagi bagi mereka. Dengan membuat perbandingan tedhadap masa hidup generasi yang lebih tua, terdapat kecenderungan bahwa generasi Iebih muda saat ini umumnya memiliki masa hidup yang relatif lebib pendek. Banyak di antara mereka yang meninggal dunia karena kecelakaan mendadak, seperti tenggelam, tertabrak kereta api atau kendaraan bermotor, terbakar, ledakan pesawat terbang, atau bahkan bunuh diri.

 

Manusia Kaliyuga

Kita dapat mengamati bahwa manusia dilahirkan dalam lingkungan yang berbeda-beda. disertai dengan perbedaan karakter. Citta terakhir dari kehidupannya yang lampau (cuti-citta) akan disusul oleh citta pertama dalam kehidupannya yang baru (patisandhi-citta). Kecenderungan-kecenderungan yang dimiliki pada waktu yang lampau akan terakumulasi dan berlanjut pada citta berikutnya (Nina van Gorkom, 1979).

Banyak manusia yang lahir pada zaman Kaliyuga ini adalah mereka yang pada jangka waktu yang lama sekali, akibat perbuatan-perbuatan buruknya, telah dilahirkan di alam kehidupan yang menyedihkan, sebagai binatang, mahluk peta, raksasa asura, atau mahluk neraka. Dalam jangka waktu yang lama sekali mereka menetap di alam tersebut. Tentu mereka tidak menetap selamanya. Setelah buah kamma buruknya yang menyebabkan ia terlahir di sana habis, dan karena kamma baiknya meniadi masak berbuah (karena kondisi yang tepat), mereka dilahirkan kembali di alam manusia dalam jumlah yang besar pada jaman materi ini. Manusia-manusia baru ini memiliki sifat-sifat dan pola kelakuan seperti penghuni alam Dugati di atas. Akan tetapi, kita tidak perlu kaget. Mereka semata-mata memperlihatkan sifat-sifat laten dan kecenderungan yang tertumpuk dari alam kehidupannya yang lampau dan muncul kembali pada kehidupanrnya sekarang. Itulah yang membuat beberapa di antara mereka bersikap egois, tak pernah mementingkan kebahagiaan orang lain dan sebagainya.

Setelah mereka hidup sebagai manusia (asalkan mereka hidup cukup lama dan beruntung dapat bergaul dengan orang-orang bijaksana), mereka akan mengerti sifat-sifat dan pola kelakuan manusia, dalam waktu kurang lebih 40 tahun. Kemudian, tibalah waktunya mereka pergi, meninggal dunia. Tidak jarang mereka 'pergi' melalui kecelakaan-kecelakaan seperti yang telah dikemukakan di atas. Masa hidup manusia pada jaman 'Kaliyuga' ini sangat singkat!

 

Cakkavatti-Sihanada Sutta

Lebih dari 2500 tahun yang lalu, Sang Buddha telah memaparkan dengan jelas bagaimana keadaan masa depan nanti. Di dalam Cakkavatti-Sihanada Sutta, kita dapat membaca bahwa akan tiba suatu saat nanti tatkala kondisi-kondisi telah makin memburuk. Masa hidup manusia pada masa tersebut hanya 10 tahun, dan perawan-perawan muda telah siap kawin pada umur lima tahun! Pada masa ini tidak ada lagi rasa hormat terhadap orang tua dan saudara perempuan. Laki-laki akan bertingkah laku seperti binatang, tinggal bersama ibu dan saudara perempuannya sebagai suami isteri. Perzinahan dengan keluarga telah dianggap biasa. Pertengkaran dan perkelahian akan menjadi 'tata tertib' sehari-hari. Laki-laki dan perempuan akan meniadi lebih buruk daripada binatang.

Sungguh beruntung, jaman itu mungkin masih jauh.

 

Manusia yang baik

Peningkatan populasi di dunia yang disertai dengan sifat-sifat manusianya seperti mahluk-mahluk alam rendah telah terjadi di antara kita. Pola-pola kelakuan mereka yang lampau telah muncul walaupun -saat ini mereka- berada dalam bentuk fisik sebagai manusia.

Akan tetapi memang tidak semua manusia demikian. Tentu ada juga anak-anak yang baik yang lahir di antara kita sekarang walaupun hanya sedikit. Pada rahim siapakah mereka dilahirkan? Anak-anak yang baik itu hanya lahir dari ibu yang baik pula. Mahluk-mahluk dari alam dewa akan lahir melalui ibu yang memiliki sifat-sifat tertentu. Pertama, mereka akan lahir dari seorang ibu yang bijaksana (medhavini). Kedua, sang ibu memiliki sila yang baik (silavati). Ketiga, ibu memperlakukan famili dari suami dengan baik (sassu deva). Keempat, ibu adalah seorang yang setia, puas dengan satu suami, dan tidak ada kekasih lain di luar (patibatta).

Bagi wanita (ibu) yang memiliki empat sifat baik tersebut, akan lahir anak-anak yang baik dan pandai (sura honti), dan anak-anak baik tersebut juga merupakan berkah bagi orang tua dan negara tempat mereka dilahirkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Baptist, E.C. 1981. Wheel of Life, 31 Planes of Existence (Rebirth). Buddhist Missionary Society, Kuala Lumpur, 61 p.
  • Van Gorkom, Nina. 1979. Abhidhamma in Daily Life (2nd ed.). Dhamma Study Group Bangkok, Thailand, 259p.

 

Pernah dimuat dalam majalah Pancaran Dharma no. 158.

Diedit kembali oleh Chandadhammo Benny Chandra dan dimuat atas ijin penulis.

 

Kirim Artikel ini ke Teman Anda!

 

>
[]
Copyright © 2000-2003, BuddhistOnline.com. Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian isi halaman ini tanpa ijin tertulis dari BuddhistOnline.com dan mencantumkan sumber dari: BuddhistOnline.com (http://www.buddhistonline.com).
Hosting powered by HostingAnda.com. Designed by mediacyber.com.
[]