|
Tiga Momen
oleh: Selamat Rodjali
Tiga peristiwa penting pada bulan Waisak yang diperingati
oleh kita semua, umat Buddha, ialah peristiwa kelahiran
Bodhisatta Siddhattha Gotama, peristiwa pencapaian pencerahan
agung (Penerangan Sempurna) Buddha Gotama, dan Parinibbana
Buddha Gotama. Ketiga peristiwa ini terjadi pada saat
purmama pada bulan Waisak. Masih segar di sanubari kita
beberapa petikan sutta yang sering diulang, yang berkorelasi
dengan tiga momen di atas, sebagaimana berikut ini:
"Akulah yang terkemuka di dunia,
Akulah yang tertinggi di dunia,
Akulah yang teragung di dunia,
Bagiku, tak akan ada lagi tumimbal lahir."
Kata-kata di atas diucapkan beberapa saat setelah kelahiran
Bodhisatta Siddhattha Gotama. Kata-kata pertama yang
diucapkan Buddha Gotama setelah mencapai penerangan
sempurna, ialah :
"Melalui banyak kelahiran dalam samsara siklus
kehidupan
Aku mencari, namun tak awnemukan pembuat rumah ini,
Sungguh menyedihkan kelahiran yang berulang-ulang,
0 pembuat rumah, kau t'lah terlihat!
Kau tak akan membuat rumah lagi;
Semua tiangmu t'lah kurobohkan,
Rakit-rakitmu hancur;
Batin mencapai keadaan tak berkondisi (Nibbana), Tercapailah
akhir dari nafsu keinginan (tanha) "
Petikan sutta yang berkaitan dengan momen ketiga yang
sebenarnya merupakan kata-kata terakhir yang dinyatakan
oleh Buddha Gotama sebelum Parinibbana, ialah :
--'Dengarlah baik-baik, 0 para bhikkhu, nasehatku. Segala
sesuatu yang merupakan perpaduan unsur-unsur akan hancur
kembali; berjuanglah dengan sungguh-sungguh!"
Petikan Sutta di atas tidak asing bagi semua umat Buddha
yang mengakui Buddha Gotama sebagai guru Agungnya. Kata-kata
tersebut merupakan refieksi tiga momen penting kehidupan
beliau. Ketiga momen ini terjadi pada bulan Waisak,
saat purnama: peristiwa kelahiran, Pencerahan Sempurna,
dan Parinibbana.
MOMEN PERTAMA
Andaikata sekarang, seorang awam mengumbar kata-kata:
"Akulah Yang terkemuka di dunia ini" dan seterusnya;
atau bahkan mengaku dirinya sebagai 'guru para dewa
dan manusia' atau sebagai 'Buddha Baru' mungkin hal
ini dinilai sebagai kesombongan semata. Mengapa hal
tersebut tidak layak diucapkan pada zaman materi ini?
Lalu, kapan kata-kata tersebut tepat diucapkan? Oleh
siapa?
Kata-kata yang tertulis dalam petikan sutta di atas
mengandung kebenaran yang tinggi, dan untuk memahaminya,
kita harus paham akan kehidupan dan teladan seorang
Bodhisatta.
Secara literal, Bodhisatta berarti 'makhluk bijaksana'
dan secara tak langsung menyatakan seorang manusia yang
bertekad untuk mencapai penerangan sempurna secara mandiri,
tak peduli berapa banyak kelahiran harus ditempuh. Tekad
untuk menjadi seorang Sammasambuddha, seorang yang mencapai
penerangan sempurna secara mandiri adalah untuk kepentingan
banyak makhluk. Bodhisatta juga bertekad, bahwa ia akan
menolong semua makhluk, sebagai manifestasi dari sepuluh
kesempurnaan (parami) yang dipupuknya sebagai fondasi
bagi tercapainya penerangan sempurma. Parami ini tidak
hanya dipraktekkan dalam satu kehidupan, melainkan secara
kontinyu selama Bodhisatta berada dalam lingkaran tumimbal
lahir, baik sebagai manusia, dewa atau bahkan sebagai
binatang. Perbuatan baiknya ini merupakan praktek yang
paniang, memakan banyak kappa. Setiap saat ia sungguh
bermaksud membawa manfaat dan kebaikan bagi yang lain
dengan sesempurna mungkin.
Seorang manusia yang dikenal sebagai Pangeran Siddhattha,
di dalam kehidupannya yang terakhir sebelum dilahirkan
sebagai manusia, adalah dewa yang tinggal di Tusita
bhumi. Buah kamma baiknya yang menakjubkan yang membuatnya
dilahirkan di alam tersebut. Setelah melalui jangka
waktu yang panjang, akhirnya tibalah waktunya untuk
terlahir sebagai manusia. Kelahiran ini merupakan kelahirannya
yang terakhir karena penerangan sempurna akan dicapainya.
Pangeran Siddhattha dilahirkan dari rahim Ratu Mahamaya
saat purnama di bulan Waisak, ayahnya adalah seorang
raja dari suku Sakya.
Sebagai bayi manusia, ia berbeda dari kebanyakan bayi
lainnya. Pikirannya terang, penuh kewaspadaan, penuh
potensi bagi pengembangan kualitas-kualitas yang menakjubkan.
Walaupun ia dilahirkan sebagai bayi yang baru lahir,
ia telah siap untuk menuju penerangan sempurna!
Sangat jelas bagi kita, mengapa kata-kata di atas diucapkan,
karena ia patut dihomat. "Terkemuka, tertinggi
dan teragung", itulah beliau dan pada deretan manusia
seumurnya, tiada yang menandinginya, dan sejarah ikut
memperkuat dan mempertegas kebesarannya. Kata-kata tersebut
diucapkan oleh seorang pangeran, seorang bayi, kebenarannya
tidak mengandung kesombongan. Beliau sangat sadar bahwa
dalam kehidupannya ini kesempurnaan akan dicapainya,
sehingga dikatakannya: "Bagiku, tak akan ada lagi
tumimbal lahir."
MOMEN KEDUA
Mungkin bagi kebanyakan orang, masih banyaknya tumimbal
lahir tampak sebagai ide yang baik. Mereka menganggap
bahwa hal ini adalah prospek untuk memperbaiki diri.
Namun, apabila kita sadar dan mau melihatnya dengan
mendalam, kelahiran kembali bukan merupakan prospek.
Peluang terbukanya 'pintu' alam menyedihkan sangat besar
bagi kebanyakan manusia karena manusia zaman sekarang
kebanyakan belum mencapai tingkat-tingkat kesucian;
apalagi pada zarnan materi ini, perbuatan amoral (akusala
kamma) sangat pesat berkembang, dan semakin canggih.
Mereka yang meresapi hakekat kehidupan ini menganggap
sungguh menderita berada dalam roda kelahiran dan kematian.
Dengan dilandasi kebodohan dan nafsu keinginan (moha
dan tanha), kedamaian dan kebahagiaan sejati sungguh
sulit diperoleh. Kedamaian dan kebahagiaan sejati (Nibbana)
tidak mungkin dialami hanya dengan percaya tetapi harus
dimenangkan dengan pengembangan kebijaksanaan dan pemurnian
batin.
Pangeran Siddhattha tidak memiliki seorang guru pun
yang mampu menunjukkan jalan merealisasi Nibbana. Namun,
kita semua, umat Buddha khususnya, sangat beruntung
(akibat kamma baik tentunya) karena kita masih mempunyai
tradisi praktek Dhamma dan Vinaya yang merupakan warisan
Buddha Gotama. Jalan untuk mencari 'pembuat rumah ini'
telah ditunjukkan dengan sempurna, berada sangat dekat
dan mengundang untuk dibuktikan. Tentunya bukti akan
diperoleh hanya dengan mempraktikkan jalan tersebut,
tidak bisa dengan berspekulasi atau berteori atau menjadi
'bunglon' terhadap diri sendiri karena menganggap dirinya
intelek. Intelek bukan berarti bijaksana! Juga intelek
bukan berarti tidak dibutuhkan. Intelek hendaknya diimbangi
dengan sifat-sifat batin yang baik, dengan kebijaksanaan.
Apakah 'rumah' ini? dan apakah si 'pembuat'? Rumah
ini berarti kombinasi dari jasmani dan batin (rupa-nama)
yang tersusun sedemikian rupa sehingga kita sering kali
menyebutnya sebagai kepribadian 'ku'. Apakah si 'pembuat'?
Apakah si 'pembuat' berada di luar rumah itu? Andai
si pembuat rumah berada di luar, maka tidak ada kemungkinan
untuk mencapai penerangan sempuma! Si pembuat adalah
nafsu keinginan (tanha), berada di dalam 'rumah' tiap
individu, yaitu keinginan akan kesenangan indera (kaimatanha),
ingin untuk hidup terus (bhavatanha) dan bahkan ingin
memusnakan diri (vibhavatanha). Oleh karena itu, di
dalam kata-kata pertama setelah pencapaian penerangan
sempurna, Sang Buddha menyatakan pekik kemenangan atas
kebodohan dan nafsu keinginan (tanha).
Di dalam rumah dari nama dan rupa yang disusun oleh
tanha, tiang-tiang yang menunjang rumah itu merupakan
kekotoran-kekotoran batin. Kekotoran batin ini telah
dirobohkan. Rakit-rakit yang menyangga atap rumah itu,
yang merintangi masuknya cahaya dan udara segar telah
dihancurkan. Terbukalah rumah itu, tak ada lagi alangan
bagi cahaya mentari 'pencerahan' dan udara segar 'kebenaran
sempurna'.
Batin mencapai keadaan tak berkondisi, demikianlah
Sang Buddha telah mencapai akhir dari 'pencarian' dan
mencapai keadaan tanpa syarat, Nibbana. Semua yang berkondisi
merupakan gabungan yang juga ditunjang oleh berbagai
kondisi. Semua yang merupakan perpaduan tidak pernah
mendatangkan kebahagiaan kekal, tak ada yang dapat diharapkan
darinya. Keadaan yang tak berkondisi, Nibbana, dapat
dialami oleh setiap insan, asalkan mereka mau melaksanakan
'sesuatu'. Tak bisa didoakan! Nibbana hanya dapat dialami
dengan melaksanakan Jalan menuju Nibbana. Nibbana tak
pemah berubah dan merupakan kedamaian dan kebahagiaan
yang tak terkena hukum perubahan (anicca).
Kebahagiaan pencapaian Nibbana bukanlah berarti kebahagiaan
menikmati perasaan senang atau puas. Kebahagiaan pencapaian
Nibbana merupakan refleksi padamnya semua nafsu duniawi
atau surgawi. Nibbana telah direalisasi oleh Buddha
Gotama ketika beliau duduk di bawah pohon 'Bodhi' (Ficus
religiosa) di Buddha Gaya, di India Utara, saat purnama
pada bulan Waisak.
Beliau pemah hidup sebagai pangeran dan pernah pula
hidup dalam kemewahan, namun akhirnya beliau meninggalkan
semuanya, beliau hidup tanpa rumah. Sebelum menjadi
Buddha, beliau pemah melakukan penyiksaan tubuh selama
enam tahun, yang semula dianggap mampu membawa ke 'tujuan'.
Temyata ditemukannya bahwa hal ini tak berfaedah; demikian
pula Pemuasan keterikatan terhadap kemewahan. Kedua
ekstrim ini ditinggalkannya. Beliau bertekad melaksanakan
'Jalan Tengah' dan setelah memulihkan kesehatannya,
beliau duduk di bawah pohon Bodhi, untuk mencari 'Obat
dukkha'. Akhimya, saat purnama pada bulan Waisak, batin-Nya
telah bebas; beliau telah menjadi Buddha, Buddha Gotama,
yang berbeda dengan pertapa Gotama yang duduk di bawah
pohon Bodhi tersebut sebelum momen pencapaian itu. Kebijaksanaannya
telah sempuma.
Kebijaksanaan Buddha Gotama secara alami disertai dengan
kasih sayang yang sempurna. Kasih sayang ini muncul
secara alami di dalam batin-Nya ketika beliau melihat
betapa menyedihkannya kehidupan makhluk-makhluk, semuanya
mencari 'kebahagiaan', namun sungguh sedikit yang dapat
menerima jalan menuju kebahagiaan seiati. Kasih sayangnya
ini juga dapat disimak melalui sejarah selama 45 tahun
beliau menyebarkan ajaran-Nya, baik kepada brahmana,
raja, pertapa atau umat awam. Semua itu dilakukan sampai
menjelang Parinibbana. Semua aiarannya didasari oleh
kebijaksanaan dan kesucian batinnya yang sempurna, yang
telah menembus hakekat sesungguhnya dari segala sesuatu.
Segala sesuatu adalah tanpa inti yang kekal (anatta).
MOMEN KETIGA
Ketika Buddha Gotama berbaring untuk terakhir kalinya
di Kusinara, Beliau masih menyediakan waktu untuk kebaikan
semuanya. Beliau menanyakan kepada para bhikkhu apakah
masih ada yang ingin ditanyakan mengenai ajaran dan
peraturan yang ditetapkan. Namun, para bhikkhu begitu
puas; tak satu pun yang bertanya. Beliau kemudian memberikan
petuah mengenai beberapa hal. Bahkan, beliau sempat
pula mentahbiskan Subhadda.
Sang Buddha berbaring di tubuh sebelah kanannya, kepalanya
dialasi tangan kanannya, kakinya menumpang di atas kaki
yang lain. Tubuhnya dialasi jubah luarnya. Di atasnya
terdapat dua cabang pohon Sala. di antara cabang tersebut
terlihat bulan purnama. Bunga harum bertaburan tersebar
dari kedua pohon Sala ini. Hal ini terjadi pada bulan
Waisak.
Di sekitar Buddha Gotama berkerumun beratus bhikkhu
yang telah mencapai kesempurnaan. Mereka tidak mengalami
stress karena mereka tidak ragu-ragu lagi bahwa semua
yang berkondisi tidak kekal. Bahkan jasmani Sang Buddha
tidak luput dari hukum perubahan, demikian pula tubuh
kita. Namun, para bhikkhu yang belum mencapai kesempurnaan,
mengalami stress', mereka berpikir: "Guru kita
tak akan bersama kita lagi. Demikian cepat cahaya dunia
berlalu!" Untuk menenangkan mereka, Buddha Gotama
mengucapkan kata-katanya yang terakhir, satu nasehat
untuk dipraktekkan: "Dengarlah baik-baik, 0 Para
bhikkhu, nasehatku: segala sesuatu yang merupakan perpaduan
unsur-unsur akan hancur kembali; berjuanglah dengan
sungguh-sungguh.' Setelah mengucapkan kata-kata ini,
beliau tidak mengucapkan apa-apa lagi. Beliau memasuki
perenungan batin yang hanya dapat diketahui oleh mereka
yang telah mengembangkan batinnya dengan baik. Beberapa
saat kemu4ian Beliau Parinibbana. Apakah artinya ini?
Bagaimana seseorang dapat mengetahui seseorang telah
Parinibbana?
Kesunyataan ini tidak dapat diterangkan oleh kata-kata
karena apabila semua 'dhamma' telah hancur, tak ada
lagi kata-kata yang tepat untuk melukiskannya. Hanya
terdapat satu cara untuk mengetahui masalah ini, dan
cara tersebut adalah jalan yang Sang Buddha tempuh.
Oleh karena itu, setiap orang patut melaksanakan petuahnya
sehingga dapat mengalami kesunyataan ini secara mandiri.
Kata-kata terakhir yang diucapkan tidak mustahil berlaku
pula bagi orang awam, karena semua individu merupakan
subjek dari kehancuran. Apabila kita melekat kepada
hal yang merupakan perpaduan, maka kita akan mengalami
penderitaan (dukkha). Memang umumnya kita masih memiliki
kemelekatan terhadap tubuh, namun apakah kita menyadari
betapa berbahayanya kemelekatan ini dan berapa banyak
penderitaan yang akan menyertainya? Sang Buddha mengajarkan
jalan untuk mengikis kemelekatan terhadap segala sesuatu.
Seorang arahat tidak melekat terhadap sesuatu yang berkondisi
(sankhata) juga tidak melekat terhadap Nibbana (asankhata).
Umat Buddha, umumnya, melakukan peringatan tiga momen
ini dengan berupacara dan berbuat baik pada bulan Waisak.
Mereka menghormat Guru Agung mereka. Menghormat Sang
Buddha bukan berarti menghormatinya pada bulan Waisak
saja. Menghormat Sang Buddha berarti melaksanakan ajaran-Nya
dengan baik dan benar (tanpa manipulasi kotor) di dalam
kehidupan sehari-hari selama berada dalam lingkaran
kelahiran dan kematian sehingga akhirnya mengalami atau
merealisasi Nibbana.
BAHAN PUSTAKA UTAMA
- Khantipalo, 1983. Pointing to Dhamma- King Mah-a
Makuta's Academy, BangKok, 272p.
- Khantipalo, 1986. Buddhism Explained. Mahamkut Rajavidyalaya,
Bangkok, 240p.
- Sangha Theravada Indonesia. 1985. Dhammapada. Yayasan
Dhammadipa Arama, Jakarta, 215 hal.
- Widyadhanna, S. 1986. Riwayat Hidup Buddha Gotama.
Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda Jakarta, 269
hal.
Pernah dimuat dalam majalah Pancaran Dharma no.
167 tahun 1989.
Diedit kembali oleh Chandadhammo Benny Chandra dan
dimuat atas ijin penulis.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|