|
Wayang Orang
oleh: Selamat Rodjali
Terlepas dari pernah atau tidaknya seseorang menyaksikan
pementasan wayang orang, sebagian besar di antara kita
telah sering mendengar istilah wayang orang. Pementasan
wayang orang mengikuti alur cerita yang sudah diatur
dan merupakan satu skenario yang terencana serta mapan
(selama pementasan berlangsung, alur cerita tidak menyimpang
dari ketentuan). Pementasan umumnya dilakukan di suatu
tempat yang memadai, misalnya di halaman yang cukup
luas atau di suatu tempat yang sering disebut panggung.
Tak sedikit manusia yang menganggap dirinya dan kehidupannya
ibarat wayang orang yang bermain mengikuti 'skenario'
yang telah ditentukan si pembuat (anggaplah 'dalang
X') di atas panggung. Keadaan ini telah berlangsung
lama. Sejak saat itu pula tidak sedikit pertanyaan-pertanyaan
dan jawaban muncul untuk menelanjangi misteri 'wayang
orang'. Kecanggihan ilmu-ilmu biologi, sastra, bahasa,
sosial, psikologi, teknik, bioteknotogi dan sebagainya
belum mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan
memuaskan. Pro dan kontra terjadi, efeknya pun nyata.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang tidak asing, namun
cukup membuat kepala pusing 'tujuh keliling.'
Menurut kebenaran tertinggi (Paramattha Dhamma)
apakah sebenarnya wayang orang itu? Siapa dan di mana
pembuatnya? Darimana datangnya wayang itu? Dan kemana
ia pergi? Dan satu lagi yang cukup penting, apa akibatnya
andaikata seseorang salah memandang wayang orang itu?
Gabungan materi dan batin
Menurut Paramattha Dhamma, wayang orang adalah
perpaduan materi dan batin, gabungan fenomena materi
dan batin. Tak lebih dan tidak kurang. Tiada satu makhluk
pun yang membuat wayang ini. la muncul karena adanya
sebab. la lenyap karena sebabnya telah dipadamkan. Di
dalam wayang orang tidak terdapat satu inti yang kekal.
Menurut Buddha Dhamma, jiwa, ego, dan kepribadian semata-mata
istilah konvensional dan tak mengandung sesuatu yang
kekal di dalamnya. Tidak ada alasan untuk mempercayai
bahwa di dalam wayang orang ada satu roh yang kekal
yang datang dari surga atau yang diciptakan dan dapat
berpindah ke surga atau ke neraka abadi setelah kematian.
Segala sesuatu yang muncul di dunia ini atau di dunia
lain tidak ada yang kekal. Namun, manusia umumnya mirip
anak-anak yang ingin menggenggam sebuah pelangi. Bagi
anak-anak, pelangi adalah sesuatu yang nyata; tetapi
apabila pengetahuan mereka telah berkembang, mereka
akan mengetahui bahwa pelangi hanyalah ilusi yang diakibatkan
oleh gelombang cahaya tertentu dan titik-titik air yang
terus berubah. Mencari jiwa yang kekal di dalam wayang
orang sama saia dengan mencari barang di satu ruang
yang gelap dan kosong. Orang bodoh tidak menyadari bahwa
usahanya itu sia-sia. Memang sungguh sulit untuk membuat
mereka mengerti akan kehampaan pencariannya.
Kepercayaan akan roh kekal dan makhluk pencipta telah
begitu kuat berakar di dalam pikiran manusia. Mereka
tidak dapat membayangkan mengapa Sang Buddha menolak
pandangan seperti itu. Bahkan, mereka seringkali 'shock'
atau 'gelisah' dan mencoba mengungkapkan emosinya ketika
mereka mendengar bahwa Sang Buddha menolak konsep-konsep
tersebut. Inilah uniknya Buddha Dhamma!
Beberapa 'ahli' yang tertarik akan beberapa aspek Buddhisme
mencoba pula untuk menyisipi pandangan tertentu ke dalarn
Buddha Dhamma, narnun jauh sebelum itu, Sang Buddha
telah menyadarinya. Sang Buddha menyatakan :
"Segala sesuatu yang berkondisi adalah tidak kekal,
Segala sesuatu yang berkondisi tidak memuaskan, Segala
sesuatu yang berkondisi atau tidak berkondisi tidak
mempunyai inti yang kekal / tanpa kepemilikan."
Telah disebutkan di atas bahwa wayang orang merupakan
perpaduan batin dan jasmani (materi). Bagian batin dari
perpaduan tersebut (namakkhandha) adalah fenomena
yang mengalami objek. Bagian materi (rupakkhandha)
tidak mengalami objek. Andai jasmani ini disakiti, maka
yang merasakan nyeri bukanlah badan wayang itu, melainkan
sang batin. Apabila wayang orang lapar, perutnya tidak
merasakan kelaparan, tetapi lagi-lagi sang batin yang
merasa. Batin tidak dapat memakan makanan seperti pisang
goreng untuk menghilangkan rasa laparnya. Batin dan
faktor-faktornya membuat badan wayang itu memakan/mencicipi
pisang goreng. Dengan demikian, wayang tersebut, baik
batinnya maupun badannya tidak memiliki kekuatan yang
berdiri sendiri dan kekal terpisah. Yang satu tergantung
dari yang lain; yang satu menuniang yang lain. Batin
dan jasmani muncul karena kondisi dan segera lenyap.
Hal ini terjadi pada setiap saat kehidupan wayang orang.
Dengan mempelaiari dan mengalami kesunyataan ini, kita
akan memperoleh pandangan terang terhadap :
a. apa wayang orang itu dan apa kita itu sebenarnya
b. apa yang kita temui di sekeliling kita
c. bagaimana dan mengapa kita mengadakan reaksi terhadap
sesuatu yang berada di dalam atau di luar kita
d. apa yang seharusnya kita capai sebagai tujuan spiritual
kita.
Untuk memperoleh pandangan terang terhadap sifat kehidupan,
kita harus menyadari bahwa hidup ini semata-mata ilusi
atau fatamorgana, hanya rangkaian proses dari meniadi
dan hancur atau muncul dan lenyap. Apapun yang terbentuk,
muncul karena sebab-sebab dan syarat-syarat.
Etemalisme dan nihilisme
Seseorang yang menolak pandangan bahwa wayang orang
merupakan perpaduan batin dan jasinani yang senantiasa
berubah dan yang menganggap bahwa di dalam wayang orang
terdapat inti individu yang kekal dan terpisah akan
terjatuh ke dalam pandangan nihilis dan eternalis.
Apabila seseorang tidak melihat muncul dan lenyapnya
batin dan jasmani, maka seseorang akan jatuh ke dalam
pandangan salah eternalis (sassata ditthi). Ketika
wayang orang meninggal, seseorang mungkin menganggap
bahwa batin orang itu masih tetap saina di dalam kehidupan
berikutnya. Para penganut etemalisme menganggap bahwa
wayang orang dapat hidup abadi dengan memelihara roh
kekal agar bersatu dengan 'makhluk agung' (supreme
being) tertentu. Sassata ditthi ini masih
tetap ada di dalam dunia moderen seperti sekarang. Hal
ini akibat nafsu keinginan para wayang orang untuk memperoleh
'kekekalan.'
Sebaliknya, apabila seseorang gagal melihat bahwa badan
yang hancur segera digantikan dengan yang baru selama
kondisi masih ada, dan kesadaran (batin) yang lenyap
segera disusul dengan kesadaran berikutnya, maka orang
tersebut akan jatuh ke dalam pandangan salah nihilis
(uccheda ditthi). Uccheda ditthi umum
dijumpai pada wayang orang yang berkecimpung di dunia
materi. Mereka mencari kenikmatan hidup sebanyak mungkin
dengan cara apa saia dengan beranggapan bahwa mumpung
masih hidup ('aji mumpung') karena setelah mati tidak
ada apa-apa lagi. Mereka tidak mengerti bahwa kesadaran
kematian (cuti citta) segera disusul dengan kesadaran
tumimbal lahir (patisandhi citta) dari kehidupan
selanjutnya. Patisandhi citta itu merupakan kesadaran
yang berbeda yang berada di dalam kehidupan yang berbeda-beda.
lbarat susu yang berubah menjadi keju; keju bukanlah
susu, namun keju berasal dari susu. Para wayang orang
mungkin tidak berpandangan salah (bukan berarti mereka
berpandangan benar), namun mereka mungkin memiliki keraguan
akan kehidupan yang akan datang. Mereka tidak yakin
apakah cuti citta dari kehidupan ini segera disustd
oleh patisandhi citta dari kehidupan yang akan datang.
Mungkin pula secara teori mereka mengerti, namun mereka
belum menghancurkan paham, 'atta'. Mereka mungkin berontak
melawan kematian dan memiliki ketakutan bahwa akan terdapat
'aku' yang lenyap setelah kematian.
Agen luar.... tak berdaya
Telah diulas di atas bahwa wayang orang tidak diciptakan
oleh satu agen luar tertentu dan tingkah lakunya di
dalam 'pentas' tidak ditentukan dan tidak mengikuti
'skenario' sang dalang. Bagi yang melihat, yang pandai
dan bijaksana, memandang wayang orang sebagai sesuatu
yang muncul karena kondisi. Dikondisikan oleh kebodohan
batin (avijja), maka munculah bentuk-bentuk kamma
(sankhara); dikondisikan oleh bentuk-beatuk kamma
(sankhara) maka muncullah kesadaran (vinnana);
dikondisikan oleh kesadaran (vinnana) maka munculah
batin dan jasmani (nama rupa); dikondisikan oleh
adanya batin dan jasmani (nama-rupa) maka muncullah
enam landasan indera (salayatana); dikondisikan
oleh adanya enam landasan indera (salayatana)
maka muncullah kontak (phassa); dikondisikan
oleh phassa maka muncullah perasaan (vedana);
dikondisikan oleh perasaan (vedana) maka muncullah
nafsu keinginan (tanha); dikondisikan oleh nafsu
keinginan (tanha) maka muncullah kemelekatan
(upadana); dikondisikan oleh kemelekatan (upaana)
maka muncullah penjelmaan (bhava); dikondisikan
oleh penjelmaan (bhava) maka terjadilah kelahiran
(jati); dikondisikan oleh kelahiran (jati)
maka terjadilah ketuaan (jara) dan kematian (marana).
Selama kebodohan batin (avijja) dan nafsu keinginan
(tanha) belum dihancurkan, maka wayang arang
masih tetap bermain di atas pentas kehidupan dan kematian.
Sekarang, para cendikiawan, yang telah berhati-hati
mengumpulkan data, telah sampai pada kesimpulan bahwa
ide-ide pencipta dan mitos penciptaan harus dianggap
sebagai evolusi imajinasi manusia yang dimulai dengan
salahnya pengertian mereka akan fenomena alam. Salah
pengertian ini berakar dari ketakutan dan kebodohan
manusia primitif. Bahkan, saat ini masih banyak manusia
(termasuk sebagian umat Buddha) yang tetap mempertahankan
interpretasi salah tersebut.
Apabila wayang orang muncul karena agen luar, maka
wayang itu milik agen luar tersebut. Menurut Buddha
Dhamma, wayang orang bertanggung jawab atas segala sesuatu
yang - dilakukannya di atas pentas' kehidupan. Wayang
orang ada di sini karena perbuatannya sendiri. la muncul
bukan karena hukuman atau hadiah dari agen luar. la
muncul sesuai dengan perbuatan baik dan perbuatan buruknya.
Toleransi antar wayang orang
Memang validitas suatu kepercayaan tergantung pada
kapasitas pengertian dan kematangan spiritual wayang
orang yang menilainya. Apabila berbagai pengikut ide-ide
non-Buddhisme bermaksud cekcok atau menghukum praktek-praktek
dan kepercayaan lain hanya untuk membuktikan sahih atau
tidaknya ide-ide mereka, dan apabila mereka ingin menaburkan
benih kebencian kepada pengikut pandangan lain dikarenakan
perbedaan 'ism' itu, maka sesungguhnya mereka menciptakan
ketidakharmonisan yang dahsyat di antara umat beragama.
Sebagai warga negara yang baik, dan sebagai. wayang
orang yang bijaksana, apapun perbedaan pandangan keagamaan
yang dimiliki, kita tidak boteh mengurangi semangat
bertoleransi, bersabar dan saling pengertian. Sudah
menjadi kewajiban kita semua untuk menghormati kepercayaan
lain walaupun kita sulit untuk berakomodasi. Toleransi
dibutuhkan untuk kepentingan kehidupan yang damai dan
harmonis.
Lebih dari dua ribu lima ratus tahun, di seluruh dunia,
umat Buddha telah melaksanakan dan memperkenalkan Buddha
Dhamma dengan damai tanpa perlu mengadopsi ide-ide aneh
dan tidak masuk nalar. Juga, sudah selayaknya apabila
cara tersebut tetap dilaksanakan tanpa menghancurkan
atau mengganggu pengikut pandangan lain.
Oleh karena itu, demi menghormati para pengikut pandangan
lain, perlu disebutkan bahwa usaha untuk menyisipi 'konsep-konsep'
non-Buddhisme ke dalam Buddha Dhamma tidaklah perlu!
Biarlah umat Buddha tetap memegang kepercayaannya, mempertahankan
dan melaksanakan Buddha Dhamma yang sejati.
DAFTAR PUSTAKA
- Dhammananda, K.S. 1987. What Buddhists Believe (Expanded
and Revised Edition), Buddhist Missionary Society,
Kuala Lumpur, 328p.
- Kaharuddin, J. 198i. Kamus Buddha Dhamma. 'Edisi
Nirainayanara P., Tangerang, 216 hal.
- Rahula, Y. (tanpa tahun). The Way to Peace and Happiness.
Gunasekera Trust, Sri Lanka, 99p.
- Tim Penterjemah Kitab Suci Sutta Pitaka, 1988. Sutta
Pitaka, jilid I Digha Nikaya. C.V. Lovina IMah, Jakarta,
214 hal.
- Van Gorkom, N. 1979. Abhidhamma in Daily Life. Gunasekera
Trust, Sri Lanka, 259p.
- 1988. Illusions (paper). Vienna, 10p.
Pernah dimuat dalam majalah Pancaran Dharma no.
168.
Diedit kembali oleh Chandadhammo Benny Chandra dan
dimuat atas ijin penulis.
Kirim
Artikel ini ke Teman Anda!
|